<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792</id><updated>2011-12-17T16:14:06.214-08:00</updated><title type='text'>Khirzul Alim Muhammad</title><subtitle type='html'>sebuah karya persembahan untuk sahabat-sahabat seperjuanganku..."Tangan terkepal dan maju ke muka"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>45</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-5389894380946255127</id><published>2009-06-10T11:21:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T11:25:32.727-07:00</updated><title type='text'>RESUME; METODE ETNOGRAFI JAMES P. SPRADELY</title><content type='html'>&lt;strong&gt;RESUME;  METODE ETNOGRAFI &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;James P. Spradley&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sosial dan praktik budaya yang kian beragam saat ini semakin mengukuhkan eksistensi paradigma kualitatif diberbagai lini disepanjang keilmuan di dunia akademik. Kemampuannya menghasilkan produk analisis yang mendalam sejalan dengan alur dan settingnya, diakui sebagai paradigma yang patut diperhitungkan dalam rangka melohat, mengatahui dan menghadirkan refleksi bagi kajian Sosiologi pada konteks zamannya. Apakah teori-teori Sosiologi itu mampu eksis dan melebur dengan konteks sosial masyarakat sekitar? Serta mampukah teori-teori sosiologi itu menjawab problematika sosial yang ada hingga sekarang?. Jawabannya tentunya kita akan melakukan koreksi berbagai macam teoritis dengan salah satu jalan adalah model-model penelitian kualitatif yang sekarang digandrungi oleh segenap ilmuan. Beberapa metode penelitian berbasis paradigma kualitatif ini--analisis wacana, studi kasus, semiotik dan etnografi – kini mulai dilirik para ilmuwan maupun peneliti baik mahasiswa yakni sosiologi lebih khususnya sosiologi fishum yang menurut kami lebih condong pada kualitatif, entah itu etnografi, studi kasus dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian etnografi yang akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini--merupakan salah satu metode penelitian kualitatif. Dalam kajian sosiologi, Etnografi digunakan untuk meneliti kelompok atau komunitas relasi--interaksi manusia atau masyarakat berkaitan dengan perkembangan sosial dan budaya tertentu yang didasarkan atas kajian-kajian danm teori yang dianut dan dipakai, misalnya penelitian mengenai anak-anak jalanan, pengamen dan lain sebagainya. Metode penelitian etnografi dianggap mampu menggali informasi secara mendalam dengan sumber-sumber yang luas. Dengan teknik “observatory participant”, etnografi menjadi sebuah metode penelitian yang unik karena mengharuskan partisipasi peneliti secara langsung dalam sebuah masyarakat atau komunitas sosial tertentu. Yang lebih menarik, sejatinya metode ini merupakan akar dari lahirnya ilmu antropologi yang kental dengan kajian masyaraktnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tidak seberuntung analisis wacana, studi kasus dan semiotik, selama ini belum banyak buku-buku khusus yang membahas metode penelitian etnografi, khususnya di Indonesia. Pun metode ini juga belum terlalu banyak diadaptasi oleh para peneliti dalam kajian komunikasi, sosiologi dan keilmuan lain– walaupun diakui sumbangsihnya dalam menyediakan refleksi mengenai masyarakat dan perkembangan budaya masyarakat terhitung tidak sedikit. Beberapa keunikan dan fenomena yang mengikuti eksistensi metode penelitian etnografi dalam sosiologi ini membuat penulis meliriknya sebagai salah satu metode yang laik dikenalkan, dikembangkan dan dirujuk dalam penelitian. Untuk itu, dengan mengacu pada beberapa referensi buku, kami mencoba akan memetakan  secara ringkas (resume) metode penelitian etnografi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Metode Etnografi – James Spradley&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah panjang etnografi secara harafiah, etnografi berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau sekian tahun. Etnografi, baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian, dianggap sebagai asal-usul ilmu antropologi. Dalam buku “Metode Etnografi” ini, James Spardley mengungkap perjalanan etnografi dari mula-mula sampai pada bentuk etnografi baru. Kemudian dia sendiri juga memberikan langkah-langkah praktis untuk mengadakan penelitian etnografi yang disebutnya sebagai etnografi baru ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada proses kemunculannya Etnografi (akhir abad ke-19). Etnografi mula-mula dilakukan untuk membangun tingkat-tingkat perkembangan evolusi budaya manusia dari masa manusia mulai muncul di permukaan bumi sampai ke masa terkini. Tak ubahnya analisis wacana, mereka – ilmuwan antropologi pada waktu itu – melakukan kajian etnografi melalui tulisan-tulisan dan referensi dari perpustakaan yang telah ada tanpa terjun ke lapangan. Namun, pada akhir abad ke-19, legalitas penelitian semacam ini mulai dipertanyakan karena tidak ada fakta yang mendukung interpretasi para peneliti. Akhirnya, muncul pemikiran baru bahwa seorang antropolog harus melihat sendiri alias berada dalam kelompok masyarakat yang menjadi obyek kajiannya. &lt;br /&gt;Beranjak pada Etnografi Modern yakni sekitar tahun 1915-1925. Dipelopori oleh antropolog sosial Inggris, Radclifffe-Brown dan B. Malinowski, etnografi modern dibedakan dengan etnografi mula-mula berdasarkan ciri penting, yakni mereka tidak terlalu mamandang hal-ikhwal yang berhubungan dengan sejarah kebudayaan suatu kelompok masyarakat (Spradley, 1997). Perhatian utama mereka adalah pada kehidupan masa kini, yaitu tentang the way of life masayarakat tersebut. Menurut pandangan dua antropolog ini tujuan etnografi adalah untuk mendeskripsikan dan membangun struktur sosial dan budaya suatu masyarakat. Untuk itu peneliti tidak cukup hanya melakukan wawancara, namun hendaknya berada bersama informan sambil melakukan observasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut lagi, Ethnografi Baru Generasi Pertama kurang lebih 1960-an. Berakar dari ranah antropologi kognitif, “etnografi baru” memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana masyarakat mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan kemudian menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan. Analisis dalam penelitian ini tidak didasarkan semata-mata pada interpretasi peneliti tetapi merupakan susunan pikiran dari anggota masyarakat yang dikorek keluar oleh peneliti. Karena tujuannya adalah untuk menemukan dan menggambarkan organisasi pikiran dari suatu masyarakat, maka pemahaman peneliti akan studi bahasa menjadi sangat penting dalam metode penelitian ini. “Pengumpulan riwayat hidup atau suatu strategi campuran, bahasa akan muncul dalam setiap fase dalam proses penelitian ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup berhenti sampai disitu, Etnografi baru generasi kedua. Inilah metode penelitian hasil sintesis pemikiran Spardley yang dipaparkan dalam buku “Metode Etnografi” ini. Secara lebih spesifik, Spardley mendefinisikan budaya – sebagai yang diamati dalam etnografi – sebagai proses belajar yang mereka gunakan untuk megintepretasikan dunia sekeliling mereka dan menyusun strategi perilaku untuk menghadapinya. Dalam pandangannya ini, Spardley tidak lagi menganggap etnografi sebagai metode untuk meneliti “Other culture”, masyarakat kecil yang terisolasi, namun juga masyarakat kita sendiri, masyarakat multicultural di seluruh dunia. Pemikiran ini kemudian dia rangkum dalam “Alur Penelitian Maju Bertahap” yang terdiri atas lima ,prinsip, yakni: Peneliti dianjurkan hanya menggunakan satu teknik pengumpulan data; mengenali langkah-langkah pokok dalam teknik tersebut., misalnya 12 langkah pokok dalam wawancara etnografi dari Spardley.; setiap langkah pokok dijalankakn secra berurutan; praktik dan latihan harus selalu dilakukan; memberikan problem solving sebagai tanggung jawab sosialnya, bukan lagi ilmu untuk ilmu dan cukup belajar dan mengkaji teori-teori dibangku kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, inti dari “Etnografi Baru” Spardley ini adalah upaya memperhatikan makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami melalui kebudayaan mereka. Dalam melakukan kerja lapangan, etnografer membuat kesimpulan budaya manusia dari tiga sumber: (1) dari hal yang dikatakan orang, (2) dari cara orang bertidak, (3) dari berbagai artefak yang digunakan. Namun, dalam buku ini, Spradley memfokuskan secara khusus pembuatan keksimpulan dari apa yang dikatakan orang. Wawancara etnografik dianggap lebih mampu menjelajah susunan pemikiran masyarakat yang sedang diamati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai metode penelitian kualitatif, etnografi dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu. Spradley mengungkapkan beberapa tujuan penelitian etnografi, sbb: pertama, untuk memahami rumpun manusia. Dalam hal ini, etnografi berperan dalam menginformasikan teori-teori ikatan budaya; menawarkan suatu strategi yang baik sekali untuk menemukan teori grounded. Sebagaii contoh, etnografi mengenai anak-anak dari lingkungan kebudayaan minoritas di Amerika Serikat yang berhasil di sekolah dapat mengembangkan teori grounded mengenai penyelenggaraan sekolah; etnografi juga berperan untuk membantu memahami masyarakat yang kompleks. Kedua, etnografi ditujukan guna melayani manusia. Tujuan ini berkaitan dengan prinsip ke lima yang dikemukakan Spradley di atas, yakni meyuguhkan problem solving bagi permasalahan di masyarakat, bukan hanya sekadar ilmu untuk ilmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa konsep yang menjadi fondasi bagi metode penelitian etnografi ini. Pertama, Spradley mengungkapkan pentingnya membahas konsep bahasa, baik dalam melakukan proses penelitian maupun saat menuliskan hasilnya – dalam bentuk verbal. Sesungguhnya adalah penting bagi peneliti untuk mempelajari bahasa setempat, namun, Spredley telah menawarkan sebuah cara, yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan etnografis. Konsep kedua adalah informan. Etnografer bekerja sama dengan informan untuk menghasilkan sebuah deskripsi kebudayaan. Informan merupakan sumber informasi; secara harafiah, mereka menjadi guru bagi etnografer (Spradley, 1997: 35). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa dari buku yang ditulis Spradley ini mengungkap tentang langkah-langkah melakukan wawancara etnografis – sebagai penyari kesimpulan penelitian dengan metode etnografi. Langkah pertama adalah menetapkan seorang informan. Ada lima syarat yang disarankan Spradley untuk memilih informan yang baik, yaitu: (1) enkulturasi penuh, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak dikenal, (4) waktu yang cukup, (5) non-analitis. Langkah kedua adalah melakukan wawancara etnografis. Wawancara etnografis merupakan jenis peristiwa percakapan (speech event) yang khusus (ibid, hal. 71). Tiga unsur yang penting dalam wawancara etnografis adalah tujuan yang eksplisit, penjelasan dan pertanyaannya yang bersifat etnografis. Langkah selanjutnya adalah membuat catatan etnografis. Sebuah catatan etnografis meliputi catatan lapangan, alat perekam gambar, artefak dan benda lain yang mendokumentasikan suasana budaya yang dipelajari. Langkah ke empat adalah mengajukan pertayaan deskriptif. Pertanyaan deskriptif mengambil “keuntungan dari kekuatan bahasa untuk menafsirkan setting” (frake 1964a: 143 dalam Spradley, 1991: 108). Etnografer perlu untuk mengetahui paling tidak satu setting yang di dalamnya informan melakukan aktivitas rutinnya. Langkah ke lima adalah melakukan analisis wawancara etnografis. Analisis ini merupakan penyelidikan berbagai bagian sebagaimana yang dikonseptualisasikan oleh informan. Langkah ke enam, yakni membuat analisis domain. Analisis ini dilakukan untuk mencari domain awal yang memfokuskan pada domain-domain yang merupakan nama-nama benda. Langkah ketujuh ditempuh dengan mengajukan pertanyaan struktural yang merupakan tahap lanjut setelah mengidentifikasi domain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah selanjutnya adalah membuat analisis taksonomik. Langkah ke sembilan yakni mengajukan pertanyaan kontras dimana makna sebuah simbol diyakini daoat ditemukan dengan menemukan bagaimana sebuah simbol berbeda dari simbol-simbol yang lain. Langkah ke sepuluh membuat analisis komponen. Analisis komponen merupakan suatu pencarian sistematik berbagai atribut (komponen makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya. Langkah ke sebelas menemukan tema-tema budaya. Langkah terakhirnya yakni menulis sebuah etnografi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Spradley ini memberi pemetaan historis yang jelas mengenai metode penelitian etnografi selain mamberi gambaran mengenai langkah-langkahnya. Dengan cerdas, Spradley memaparkan bahwa etnografi baru bukan hanya dapat diadaptasi sebagai metode penelitian dalam antropologi melainkan dapat digunakan secara luas pada ranah ilmu yang lain. Penulis meletakkan pemikiran Spradley ini di bagian awal dengan maksud agar kita memperoleh pemahaman awal mengenai metode etnografi yang masih murni, umum, yang berasal dari akarnya, yakni ilmu antropologi. Berikut, penulis akan menyajikan pemikiran-pemikiran lain mengenai metode penelitian etnografi dalam ranah kajian ilmu yang lebih spesifik, ilmu komunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode etnografi yang diuraikan dalam buku ini adalah tipe metode yang bersumber pada ethnoscience, atau yang dikenal sebagai etnografi baru. Bila etnografi modern, yang dipelopori oleh Radcliffe-Brown dan Malinowski, berusaha mengarahkan kajian etnografi pada upaya generalisasi, yakni penyusunan kaidah-kaidah umum tentang masyarakat (melalui komparasi antara organisasi internal masyarakat dan sistem sosial), maka etnografi baru justru berusaha menemukan keunikan' dari suatu masyarakat, yakni persepsi dan organisasi pikiran dari masyarakat atas fenomena material yang ada di sekelilingnya. Oleh karenanya, objek kajian antropologi tidak lagi berkenaan dengan fenomena material, melainkan dengan cara fenomena tersebut diorganisasikan di dalam pikiran (mind) manusia. Singkatnya, lantaran budaya berada di dalam pikiran manusia, dan bentuknya adalah organisasi pikiran tentang fenomena material, maka tugas etnografi adalah menemukan dan menggambarkan organisasi pikiran tersebut. Dengan acuan perspektif yang demikian itu, di dalam buku ini Spradley melukiskan empat tipe analisis etnografis, yakni analisis domain; analisis taksonomik; analisis komponen; dan analisis tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjuran serupa juga disampaikan oleh James P. Spradley di dunia etnografi. Menurutnya, cara terbaik untuk belajar etnografi adalah dengan melakukan etnografi. Dan, agar proses tersebut bisa berjalan secara sistematis, terarah, dan efektif, Spradley melengkapinya dengan suatu panduan metode yang khas, yang disebutnya The Developmental Research Sequence, yang didasarkan pada lima prinsip, yaitu teknik tunggal, identifikasi tugas, maju bertahap, penelitian orisinal, dan problem-solving. Kemudian, dengan menggunakan pendekatan etnosemantik, Spradley mengajak para (calon) etnografer untuk menekuni dua belas langkah pokok yang dapat digunakan sebagai panduan dalam teknik wawancara etnografis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tingkatan kebutuhan yang paling praktis, buku ini cukup tepat untuk digunakan sebagai buku panduan perihal cara melakukan entografi selangkah demi selangkah. Oleh karenanya, buku ini sangat dianjurkan sebagai buku acuan bagi para peneliti etnografi pemula. Di samping itu, untuk kepentingan kajian komparasi dan pengembangan lebih lanjut mengenai metode penelitian, buku ini juga relevan untuk digunakan sebagai referensi pembanding jika pun bukan sebagai referensi utama bagi kalangan etnografer berpengalaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-5389894380946255127?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/5389894380946255127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=5389894380946255127&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5389894380946255127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5389894380946255127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/06/resume-metode-etnografi-james-p.html' title='RESUME; METODE ETNOGRAFI JAMES P. SPRADELY'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-7283693762504753787</id><published>2009-06-10T11:16:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T11:21:16.631-07:00</updated><title type='text'>PROPOSAL METODE PENELITIAN KUANTITATIF; KOMUNITAS DISKUSI  SEBAGAI GHIRAH PERUBAHAN MAHASISWA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;A. Latar Belakang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Universitas Islam Negeri (UIN), yang dulu dikenal dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga adalah satu dari sekian perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki tradisi diskusi yang kuat. Realitas itu tidak bisa dilepaskan dari menjamurnya komunitas-komunitas diskusi di pojok-pojok kampus.”demikian marakknya kajian-kajian diskusi, dulu kita kesulitan mencari area yang bebas dari kerumunan-kerumunan mahasiswa” ujar Muhammad Shodiq  sambil mengenang masa lalunya &lt;br /&gt;Namun seiring dengan perputaran waktu komunitas-komunitas diskusi itu kian meredup bahkan menuju titik kepunahan. Hal ini bisa kita buktikan oleh minimnya kajian-kajian diskusi di pojok-pojok kampus saat ini. Saat ini kita jarang menemukan mahasiswa duduk membentuk lingkaran membahas, berdealektika, adu argumentasi serta mendiskusikan diskursus-diskursus suatu disiplin keilmuan atau memperpincangkan seputar realitas kebangsaan. Kalaupun ada, saat ini keberadaan komunitas diskusi bisa dihitung dengan jari. Padahal dulu kampus UIN Sunan Kalijaga sesak dengan kelompok-kelompok diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan fenomena menarik dan sekaligus permasalahan krusial yang mesti diperhatikan oleh elemen-elemen kampus, entah itu mahasiswa, karyawan, dosen, terlebih birokrat kampus mulai; tidak lain adalah jajaran Rektorat serta staf-stafnya karena beliaulah orang yang paling bertanggung jawab atas maju tidaknya out put UIN Sunan Kalijaga. Fenomena ini tidak bisa kita biarkan begitu saja, apalagi kita apatis. Permasalahan ini adalah permasalahan serius oleh karenanya kita mesti segara mencari penawar dari “krisis komunitas” ini. Kalau tidak, maka krisis komunitas akan terus berlangsung secara turun temurun yang pada akhirnya akan menjadi bongkahan karang yang sulit kita hancurkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin semua mahasiswa sama-sama mengidealkan terciptanya iklim kampus yang akademis-ilmiah. Mahasiswa sudah bosan dengan aktifitas-aktifitas dan kebungkaman yang tanpa arti, tanpa makna dan esensi filosofis. Mahasiswa juga telah bosan dengan main stream berfikir bahwa ilmu pengetahuan hanya kita dapatkan dibangku kulia  (kampus) apalagi hanya dari dosen. Lebih dari itu mahasiswa sangat jengkel dengan model pengajaran monoton (sistem ceramah) guru dikelas. Kita mengiginkan ruang-ruang dealektika yang lebih fleksibel, enjoy, alami serta mengasikkan. Menjamurnya kembali komunitas-komunitas diskusi merupakan jawaban dari sekian impian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat, bangunan-bangunan yang begitu megah pasaca konversi IAIN ke UIN dan mall-mall seperti halnya Carrefour, Saphir Square, Grand Stock Well dan banyak lagi yang lain merupakan salah satu indikasi atau motif meredupnya komunitas-komunitas diskusi yang ada. Tak heran model-model bangunan, life style yang semakin memanjakan mahasiswa menjadikan mahasiswa lebih asyik menikmati dan berbelanja dengan fasilitas-fasilitas mall yang ada disekelilingnya (baca; UIN). Belum lagi mahasiswa yang bisa dikatan kurang mampu ketika itu IAIN kini harus berganti juga pasca konversi ke UIN. Mahaiswa IAIN dulu yang rata-rata berasal dari menengah kebawah secara garis besar kini semakin berubah dengan beberapa style-style pakaian dan model-model rambut yang identik dengan zaman modern-posmodern yang telah mejangkint disekitarnya. Pada era antara 80-90an mahasiswa yang ber-rambut gondrong masih banyak ditemui di kampus IAIN Sunan Kalijaga yang sekarang UIN. Namun, sekarang sudah hampir tidak ada lagi disepanjang mata memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Rumusan Masalah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasar atas uraian latar belakang di atas, maka dapat disusun rumusan penelitian ini sebagai berikut:&lt;br /&gt;1 Motif apa saja yang mempengaruhi meredupnya komunitas diskusi di UIN Sunan Kalijaga?&lt;br /&gt;2 Seputar apakah komunitas-komunitas diskusi itu berdialektika?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Proses belajar kepada dinamika sosial untuk menciptakan mahasiswa yang sadar akan realita kehidupannya untuk selalu progres dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.&lt;br /&gt;b. Memberikan pengetahuan dan merangsang nalar intelektual mahasiswa agar  berfikir dan berperilaku secara kritis-partisipatif.&lt;br /&gt;c. Meningkatkan wawasan dan pemahaman terhadap dialektika gagasan-gagasan mahasiswa.&lt;br /&gt;d. Mempertajam kritis-intelektualitas dalam memahami Visi dan Misi komunitas diskusi mahasiswa.&lt;br /&gt;e. Memahami peran dan fungsi mahasiswa sebagai kaum intelektual terdidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Tinjauan Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arbi Sanit,  ada lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka dengan permasalahan kemasyarakatan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan.  Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda. Kelima, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu ada dua bentuk sumber daya yang dimiliki mahasiswa dan dijadikan energi pendorong gerakan mereka. Pertama, ialah Ilmu pengetahuan yang diperoleh baik melalui mimbar akademis atau melalui kelompok-kelompok diskusi dan kajian. Kedua, sikap idealisme yang lazim menjadi ciri khas mahasiswa .  Dilain pihak ada dua bentuk sumber daya yang dimiliki mahasiswa dan dijadikan energi pendorong gerakan mereka. Pertama, Ilmu pengetahuan yang diperoleh baik melalui mimbar akademis atau melalui kelompok-kelompok diskusi dan kajian. Kedua, sikap idealisme yang lazim menjadi ciri khas mahasiswa.  Kedua potensi sumber daya tersebut ‘digodok’ tidak hanya melalui kegiatan akademis didalam kampus, tetapi juga lewat organisasi-organisasi ekstra universitas yang banyak terdapat di hampir semua perguruan tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Definisi Operasional&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa sebagai insan terdidik yang mempunyai pandangan kritis terhadap segala problematika kehidupan sosial masyarakat merupakan sebuah tanggungjawab besar yang harus ia jalankan. Tak cukup hanya sekedar kritis saja tentunya untuk melakukan sebuah perubahan sosial yang di inginkan seluruh elemen masyarakat demi terciptanya sistem atau tatanan yang tepat sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat di lihat, sejarah Indonesia modern telah menunjukkan bahwa generasi muda yang diwakili oleh mahasiswa hampir selalu tampil sebagai penentu perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan bangsa. Setelah Indonesia merdeka, tampaknya gerakan kaum muda itu analog dengan perjuangan intelektual yang terjadi pada awal abad 20, dari tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Perubahan yang terjadi senantiasa ditentukan oleh kalangan muda kampus; mahasiswa.&lt;br /&gt;Diskusi mahasiswa yang ada di kampus-kampus merupakan bentuk dari implementasi dan refleksi diri mahasiswa di bidang ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari bangku perkuliahan dan langsung diimplementasikan dalam bentuk riil sebuah diskusi dan pembacaan terkait isu-isu ataupun kebijakan yang dilakukan pemimpinnya guna menuntut perbaikan, mengkritisi dan menolak segala bentuk kebijakan sistem yang di bangun atas dasar kepentingan dan keinginan yang tidak jelas serta mengkungkung kreatifitas serta aktifitas mahasiswa dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F. Kerangka Teori&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Teori Interaksinisme Simbolik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut Joel M. Charon, setidaknya ada tiga model pemikiran yang sangat mempengaruhi Mead, yaitu: filsafat pragmatisme, darwinisme, dan behaviorisme.  Dari filsafat pragmatisme, setidaknya ada empat ide dasar yang nantinya juga menjadi pondasi dasar perspektif interaksionisme simbolik, yaitu: (1) segala sesuatu yang bersifat riil bagi kita selalu tergantung pada intervensi aktif kita sendiri, maksudnya, manusialah yang menginterpretasikan segala sesuatu; (2) pengetahuan bagi manusia selalu dikaitkan dengan situasi dan dinilai berdasarkan kegunaannya; (3) obyek yang kita alami dalam situasi tertentu selalu didefinisikan menurut kegunaannya bagi kita; dan (4) memahami manusia harus disimpulkan dari apa yang ia lakukan.  Dari keempat ide tersebut setidaknya kita bisa menilai seberapa penting filsafat pragmatisme bagi perspektif interaksionisme simbolik yang memang menempatkan interpretasi sebagai poin penting dalam memahami perilaku manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita coba untuk merunut ide-ide awal dari para tokoh utama perspektif ini, seperti Mead, Cooley, Thomas, dan Park, yang kemudian disintesiskan oleh Blumer sebagai pencetus istilah interaksionisme simbolik hingga munculnya generasi penerus seperti Manford Kuhn melalui mazhab Iowa-nya  serta Erving Goffman lewat dramaturginya, setidaknya ada beberapa istilah kunci yang perlu untuk kita pahami terlebih dahulu sebelum kita bisa menggambarkan lebih jauh bagaimana perspektif ini bekerja. Beberapa istilah kunci tersebut berkenaan dengan definisi tentang makna simbol, diri (self), interaksi sosial, dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari nama perspektif ini saja kita bisa memahami sejauh mana urgensi simbol mempengaruhi seluruh konsep dasar dan cara kerja perspektif ini. Oleh karena itu, definisi tentang simbol perlu untuk kita kaji lebih jauh. Definisi tentang simbol yang dianut oleh perspektif ini tercermin dari ide-ide Mead yang kemudian dielaborasi lebih jauh oleh tokoh-tokoh sesudahnya, termasuk Blumer sendiri. Simbol dalam perspektif ini didefinisikan sebagai objek sosial yang digunakan untuk merepresentasikan apapun yang disepakati untuk direpresentasikan.  Bisa dikatakan, sebagian besar tindakan manusia merupakan simbol, karena ditujukan untuk merepresentasikan sesuatu melebihi kesan pertama yang kita terima, seperti orang akan tersenyum ketika menyukai lawan bicaranya, atau seseorang menyalakan lampu sinyal mobil untuk menunjukkan bahwa ia akan berbelok. Begitu juga dengan obyek lainnya. Bunga, misalnya, ia bisa menjadi simbol tetapi bisa juga bukan merupakan simbol. Ketika bunga digunakan sebagai obat-obatan atau untuk campuran makanan, maka ia bukanlah simbol. Tetepi apabila bunga digunakan untuk menyatakan rasa cinta pada orang lain maka ia menjadi simbol. Definisi tentang simbol seperti ini membawa kita pada tiga premis dasar dalam perspektif interaksionisme simbolik,sebagaimana yang diungkapkan oleh Blumer, yaitu: (1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang dimiliki oleh sesuatu tersebut bagi mereka; (2) makna dari sesuatu tersebut muncul dari interaksi sosial seseorang dengan yang lainnya; dan (3) makna tersebut disempurnakan melalui sebuah proses interpretasi pada saat seseorang berhubungan dengan sesuatu tersebut.  Dari ketiga premis yang dilontarkan oleh Blumer ini, bisa kita simpulkan bahwa kedudukan makna simbol sangatlah urgen, sebab ia menjadi dasar bagi manusia untuk melakukan suatu tindakan. Disamping itu, hal ini juga mengindikasikan begitu pentingnya ketiga istilah kunci lainnya dalam memahami perspektif interaksionisme simbolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah kunci kedua yaitu definisi tentang diri (self). Dalam perspektif interaksionisme simbolik, secara sederhana “self”didefinisikan sebagai suatu objek sosial dimana aktor bertindak terhadapnya. Maksudnya, kadangkala aktor atau individu bertindak terhadap lingkungan yang berada di luar dirinya, namun terkadang ia juga melakukan tindakan yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Dengan menjadikan “diri” sebagai obyek sosial, seseorang mulai melihat dirinya sendiri sebagai obyek yang terpisah dari obyek sosial lain yang ada di sekelilingnya karena dalam berinteraksi dengan yang lain, ia ditunjuk dan didefinisikan secara berbeda oleh orang lain, semisal: “kamu adalah mahasiswa”, atau “kamu adalah mahasiswa yang pintar.” Hal ini tentu saja mengindikasikan bahwa “diri” akan selalu didefinisikan dan didefinisikan kembali dalam interaksi sosial sesuai dengan situasi yang dihadapi.  Dengan demikian, persoalan tentang penilaian dan identitas diri juga sangat terkait dengan situasi bagaimana seseorang harus mendefinisikan dan mengkategorikan dirinya. Salah satu contoh kongkret perubahan yang radikal tentang bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri terlihat jelas melalui studi Goffman tentang institusi penjara, tempat dimana para tahanan “dipaksa” untuk memanipulasi dunia personalnya melalui serangkaian isolasi, degredasi, maupun penghinaan diri sehingga ia harus mendefinisikan kembali konsep tentang dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah ketiga yang perlu kita perhatikan disini adalah konsep tentang interaksi sosial. Dalam perspektif interaksionisme simbolik, interaksi sosial didefinisikan berkenaan dengan tiga hal: tindakan sosial bersama, bersifat simbolik, dan melibatkan pengambilan peran.  Contoh yang sederhana untuk menggambarkan interaksi sosial adalah permainan catur. Ketika seseorang menggerakkan sebuah biji catur, seringkali ia sudah memiliki rencana untuk menggerakkan biji catur berikutnya. Namun, ketika pihak lawan merespon dengan menggerakkan biji tertentu, maka ia akan berupaya untuk menginterpretasikan langkah lawannya, mencoba untuk memahami makna dan maksud dari langkah pihak lawan dan kemudian berupaya untuk bisa menentukan langkah terbaik yang harus diambil, meski langkah tersebut berbeda dengan rencana sebelumnya. Dari contoh sederhana ini nampak jelas bahwa dalam interaksi sosial kita belajar tentang orang lain dan berharap sesuatu dari orang tersebut melalui pengambilan peran atau memahami situasi melalui perspektif orang lain untuk selanjutanya memahami diri, apa yang kita lakukan, dan harapkan. Oleh karena itu, interpretasi menjadi faktor dominan dalam menentukan tindakan manusia. Tidak seperti kebanyakan teoritisi psikologis yang melihat tindakan manusia berdasarkan pendekatan rangsangan dan respon, akan tetapi, setelah manusia menerima respon maka ia akan melakukan proses interpretasi terlebih dahulu sebelum menentukan tindakan apa yang harus diambil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah keempat yang cukup mendasar dalam perspektif interaksionisme simbolik adalah konsep tentang masyarakat. Sejalan dengan konsep-konsep dasar sebelumnya, yang lebih menekankan pada pentingnya individu dan interaksi, perspektif ini lebih melihat masyarakat sebagai sebuah proses, dimana individu-individu saling berinteraksi secara terus-menerus. Blumer sendiri menegaskan bahwa masyarakat terbentuk dari aktor-aktor sosial yang saling berinteraksi dan dari tindakan mereka dalam hubungannya dengan yang lain.  Jadi jelas, bahwa masyarakat merupakan individu-individu yang saling berinteraksi, saling menyesuaikan tindakan satu dengan lainnya selama berinteraksi, serta secara simbolik saling mengkomunikasikan dan menginterpretasikan tindakan masing-masing. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa masyarakat merupakan produk dari individu yang dipandang sebagai aktor yang bersifat aktif dan selalu berproses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;G. Hipotesis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, bisa disimpulkan disini bahwa interaksionisme simbolik sebagai suatu perspektif melalui empat ide dasar. Pertama, sismbolik interaksionisme lebih memfokuskan diri pada interaksi sosial, dimana aktivitas-aktivitas sosial secara dinamik terjadi antar individu. Dengan memfokuskan diri pada interaksi sebagai sebuah unit studi, perspektif ini telah menciptakan gambaran yang lebih aktif tentang manusia dan menolak gambaran manusia yang pasif sebagai organisme yang terdeterminasi. Kedua, tindakan manusia tidak hanya disebabkan oleh interaksi sosial akan tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi yang terjadi dalam diri individu. Ketiga, fokus dari perspektif ini adalah segala bentuk tindakan yang dilakukan pada waktu sekarang, bukan pada masa yang telah lampau. Keempat, manusia dipandang lebih sulit untuk diprediksi dan bersikap lebih aktif, maksudnya, manusia cenderung untuk mengarahkan dirinya sendiri sesuai dengan pilihan yang mereka buat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;H. Sample&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adapun sample dalam penelitian ini adalah Mahasiswa angkatan 2003, 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008 yang berjumlah 27 orang siswa. Dengan rencian : &lt;br /&gt;- Sample Mahasiswa angkatan 2003: 2 orang &lt;br /&gt;- Sample Mahasiswa angkatan 2004: 3 orang&lt;br /&gt;- Sample Mahasiswa angkatan 2005: 4 orang&lt;br /&gt;- Sample Mahasiswa angkatan 2006: 5 orang&lt;br /&gt;- Sample Mahasiswa angkatan 2007: 6 orang&lt;br /&gt;- Sample Mahasiswa angkatan 2008: 7 orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. Tempat Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini mengambil tempat di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sekitar Depan Gedung Multy Purpose dan halaman parkir Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;J. Metode Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Metode penelitian ini adalah deskriptif korelatif, yakni jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, seberapa eratnya hubungan tersebut, serta berarti atau tidaknya hubungan itu (Arikunto,2002). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;K. Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;- Wersely, Peter, Pengantar Sosiologi sebuah Pembanding, Jilid 2, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1992 &lt;br /&gt;- Sarwono, Sarlito Wirawan, Psikologi Sosial Psikologi Kelompok Terapan, Balai Pustaka, Jakarta, 2001.&lt;br /&gt;- Nawawi, H. Hadari, Mimi H. Martini, Penelitian Terapan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005.&lt;br /&gt;- Drs. Mardarlis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan proposal, Bunga Aksara, Jakarta, 2006&lt;br /&gt;- Nasution, Prof. Dr. S. Metode Research Penelian Ilmiah, Bumi Aksara, Jakarta, 2006&lt;br /&gt;- Berger, Peter L. Invitation to Sociology (New York: Anchor Books, 1963), hlm.106. &lt;br /&gt;- Goffman, Erving Asylums: Essays on the Social Situation of Mental Patients and other Inmates (New York: Anchor Books, 1961), hlm.14-60. &lt;br /&gt;- Blumer, Herbert Symbolic Interactionism: Perspective and Method (New Jersey: Prentice Hall, 1969&lt;br /&gt;- Karim, M Rusli, HMI MPO dalam Kemelut Modernisasi Politik di Indonesia, 1997&lt;br /&gt;- Sanit, Arbi Pergolakan Melawan Kekuasaan Gerakan Mahasiswa Antara Aksi Moral dan Politik, 1999.  &lt;br /&gt;- Rahmat, Andi dan Muhammad Najib, Perlawanan dari Masjid Kampus, 2001&lt;br /&gt;- Rahmat, Andi dan Muhammad Najib, Perlawanan dari Masjid Kampus, 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-7283693762504753787?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/7283693762504753787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=7283693762504753787&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/7283693762504753787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/7283693762504753787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/06/proposal-metode-penelitian-kuantitatif.html' title='PROPOSAL METODE PENELITIAN KUANTITATIF; KOMUNITAS DISKUSI  SEBAGAI GHIRAH PERUBAHAN MAHASISWA'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-6715466392229753410</id><published>2009-06-10T11:12:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T11:16:45.420-07:00</updated><title type='text'>SOSIOLOGI PEMBANGUNAN; DAMPAK INDUSTRIALISASI TERHADAP NASIP PETANI</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industrialisasi merupakan bentuk kecil dari modernitas akibat dari dinamika dunia. Bagaiamana tidak, Indonesia yang dulu kokoh dan kuat dalam hal pangan berdasar atas sistem agraria dan laut yang seharusnya menjadi kebutuhan pokok kerja warganya bergeser, beralih pada pekerja buruh pabrik dan TKI. Sampai saat ini pun buruh dan TKI belum jelas nasibnya dan pemerintah terkesan tutup mata. Hal itu didasari atas maraknya protes dan tuntutan demonstran 1 Mei 2008 (May Day) kemarin. Mereka hanya ingin hasil kerjanya pada kaum-kaum borjuis dianggap, dihargai sepantasnya demi sejahteranya seluruh buruh di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak industrialisasi menyebabkan tuntutan kehidupan yang lebih tinggi dalam proses mempertahankan hidup. Jelas nantinya menggeser sedikit, banyak daya nalar dan berpikir masyarakat. Masyarakat yang dulu nyaman dengan bertani sebagai pekerjaan pokok kadang harus rela melihat generasinya (anaknya) ogah mengikuti jejak langkahnya. Iming-iming kota besar dengan bebagai macam fasilitas industri, gaji yang agak lumayan besar. Akibatnya, fakumnya pertanian yang menjadi sumber pokok Indonesia (agraria) harus merelakan pemudanya bersimpuh lutut pada kaum-kaum borjuis yang terus dengan angkuhnya memeras tenaga. Imbasnya Indonesia menjadi pemasok TKI paling besar, Malaysia, Arab Saudi, Brunei dan lain-lain, lihat (suarapembaruan.com dan www.tempointeraktif.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal ini berbanding terbalik. Padahal pemerintah Indonesia pernah bertekad untuk mencapai swasembada beras dalam tempo lima tahun ketika Repelita I dimulai pada tahun 1969. Negara tidak berhasil mencapai tujuan ini, namun swasembada beras menjadi tujuan implisit dan eksplisit dalam semua kebijakan pertanian Indonesia sampai tujuan tersebut dicapai 15 tahun kemudian pada tahun 1984, 1994 dan tahun kemarin 2008. Misi ini sesungguhnya merupakan misi yang sangat berat bagi Indonesia, yang relatif mudah direncanakan namun jauh lebih rumit dan sukar dalam pencapaiannya.&lt;br /&gt;Untuk mengerti pentingnya pencapaian swasembada beras, perlu diketahui kedudukan khusus beras dalam menu, budaya, dan politik Indonesia. Beras adalah bahan makanan pokok bagi orang Indonesia. Berbagai bahan makanan lain pengganti beras pernah dianjurkan oleh pemerintah, namun rakyat tidak menyukainya. Ketika harga beras melonjak sampai pada titik dimana konsumsinya harus dikurangi, penduduk menjadi kekurangan gizi dan kelaparan. Beras adalah pusat dari semua hubungan pertalian sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBAHASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita industrialisasi nasional adalah menciptakan kemakmuran bagi seluruh rakyat, dalam pengertian; kebutuhan barang dan jasa tercukupi, masyarakat punya daya beli, karena penghasilan yang layak disertai produktivitas tinggi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang maju secara adil dan merata. Berdiri sejajar dengan itu, industrialisasi juga bermakna membangun ketahanan ekonomi nasional, sehingga kedaulatan sebagai negara-bangsa nyata terwujud. Gambaran tersebut seharusnya tidak lantas mengisolir perekonomian nasional sebagaimana kerap dicurigai sebagian kalangan. Kerja sama dengan negeri-negeri lain di seluruh dunia, tentu sangat penting sehingga perlu dipererat. Namun kerja sama tersebut bukan dalam bentuk hubungan yang eksploitatif tapi, hubungan yang setara dan saling memajukan. Bahkan, apabila kedaulatan dan kemajuan berhasil dicapai, akan semakin membuka potensi kita memajukan negeri-negeri terbelakang lain yang saat ini masih senasib. &lt;br /&gt;Makna praktis industrialisasi adalah memajukan tenaga produktif menjadi lebih modern, dapat diakses secara massal, dan tinggi kualitas. Tanpa kemajuan tenaga produktif, negeri ini tidak akan punya ketahanan ekonomi menghadapi gempuran neoliberalisme. Tanpa ketahanan ekonomi, kedaulatan negeri ini - terutama kedaulatan rakyatnya - berhenti sebatas cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan program industrialisasi nasional secara konkret, baik rangkaian transaksi maupun variabel-variabelnya, bukan perkara sederhana. Sebabnya, transaksi dan variabel industrialisasi merupakan peta jalan, menuju cita-cita industrialisasi nasional yang berhubungan dengan rincian dalam aspek mikro maupun makro ekonomi sebagaimana pertanian yang menjadi khas pencaharian penduduk Indonesia. Tapi, di sini saya coba mengurai dalam batasan secara umum, dengan berangkat dari apa yang ada, serta menghadirkan apa yang seharusnya sudah ada tapi belum ada, dalam syarat sebagai negeri modern dan berkeadilan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel kerja pokok yang saling berhubungan dalam batasan tersebut: pertama, bagaimana program industrialisasi nasional dapat melindungi lahan pertanian dan faktor lingkungan, sehingga tidak semakin hancur karena pencemaran limbah-limbah pabrik yang merusak. Kedua, bagaimana program industrialisasi nasional dapat mengambil-alih atau melakukan proses transfer kepemilikan atas sumber daya produksi vital, energi, teknologi dan ilmu pengetahuan, yang masih dikontrol oleh korporasi asing ke dalam kontrol negara (meski tidak harus berbentuk BUMN, melainkan lewat pengetatan kebijakan ekonomi); ketiga, bagaimana program industrialisasi nasional dapat menciptakan dan mengembangkan sumber daya produksi baru tentunya tnpa meninggalkan pertaniain (agraria) sebagai tonggak pencaharian penduduk pada umumnya. Pada tahap awal (sumber daya produksi baru tersebut), diciptakan dan dikembangkan menurut kebutuhan memajukan sektor-sektor produksi vital yang masih tertinggal dari segi teknologi dan sistem produksi seperti, tanaman pangan, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Mungkin bagi sebagian pembaca, persoalan imperialisme atau neoliberalisme sebagai bentuk mutakhir imperialisme, sudah sering ditelaah. Namun, pengantar pada dua sub judul berikut sengaja ditampilkan untuk mengerucutkan masalah.&lt;br /&gt;Menilik pada sejarah kehadirannya, seluruh industri termaju di Indonesia saat ini tidak berdiri di atas kebutuhan ekonomi dalam negeri, melainkan atas permintaan dan kebutuhan ekspansi modal asing. Bila dibandingkan, sistem yang berjalan sekarang hanya kelanjutan dari sistem ekonomi kolonial, yang sempat terinterupsi sejenak di masa revolusi kemerdekaan dan separuh masa pemerintahan nasionalis Soekarno. Latar belakang sebagai negeri yang perekonomiannya bergantung pada asing ini, membawa kerawanan yang sudah diramalkan sedari awal. Padahal rata-rata adalah agraria mata pencahariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir 1960-an sampai dekade 1970-an, industri tambang menjadi primadona dengan sebagian besar hasil eksploitasi dibawa ke luar negeri, baik barang dagangan maupun akumulasi keuntungannya. Pada dekade 1980-an industri manufaktur mulai berkembang, sebagai akibat kebijakan deregulasi pada sektor finansial. Deregulasi sendiri merupakan hasil desakan ekspansi finance capital yang dispekulasikan atau diutangkan di beberapa negeri berkembang—karena akumulasi keuntungan sudah tidak dapat diinvestasikan lagi pada sektor produktif di negeri-negeri asal (kapitalis maju). Peran finance capital ini, selain melahirkan pembangunan jalan raya, pelabuhan, bendungan, infrastruktur lainnya, dan industri manufaktur, juga melahirkan praktek rente besar-besaran. Selain oleh utang luar negeri, praktek rente juga kian disuburkan oleh kredit-kredit yang begitu mudahnya dikeluarkan oleh bank-bank dalam negeri. Utang-utang tersebut, kini menjadi jerat atau dijadikan instrumen untuk mengendalikan kebijakan ekonomi sesuai kehendak korporasi internasional. Selain itu masih harus dibayar oleh negara dengan pemotongan terhadap hak-hak rakyat akan jaminan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal yang masuk dalam bentuk utang dan spekulasi tadi, baik pada sektor pertambangan, manufaktur maupun yang sekedar berputar di pasar modal, tidak memberi landasan bagi industri yang mandiri, dan tanpa arah strategis yang jelas. Sampai saat ini, Indonesia masih harus membeli bahan baku setengah jadi hasil olah teknologi dari luar. Contohnya, hasil pertambangan bauksit masih harus dikirim ke Jepang untuk dapat diolah menjadi alumunium, dan banyak contoh lainnya. Mesin-mesin juga masih didatangkan dari luar, karena investasi yang masuk tidak berkepentingan memroduksi mother machine (induk mesin/mesin pencetak mesin). Satu-satunya perusahaan di Indonesia yang pernah memiliki induk mesin adalah PT. Texmaco Engeneering, namun tidak berlangsung lama karena bangkrut (dibangkrutkan?). Ketergantungan lainnya adalah terhadap pasar (dengan semboyan: orientasi ekspor), sementara seringkali kebutuhan dalam negeri belum terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penetrasi modal demikian, sektor pertanian menjadi sasaran praktek eksploitasi kota terhadap desa. Saat industri manufaktur tumbuh pesat pada dekade 80-an dan 90-an awal, tenaga produktif pertanian sama sekali tidak berkembang. Industri hanya menyentuh sektor pertanian sebagai pasar, sehingga proyek-proyek di pedesaan pun dilakukan semata untuk memuluskan tujuan tersebut. Bila dilihat sekilas, pembangunan infrastruktur jalan raya, bendungan, pengenalan terhadap bibit dan pupuk jenis baru, tampak menguntungkan masyarakat desa. Namun, karena tujuannya bukan untuk memajukan pertanian maka, dampak yang dihasilkan pun merugikan dalam jangka panjang. Misalnya, dampak penggunaan pupuk pada kesuburan tanah, dsb. Ciri lain industri yang tumbuh saat itu adalah rendah teknologi sehingga, tidak membutuhkan tenaga kerja yang berketerampilan. Bidang pendidikan menerima ekses lanjutan dengan lemahnya perkembangan ilmu pengetahuan serta sistem pendidikan yang sama sekali tidak mengembangkan cara berpikir kritis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan dalam perkembangan tenaga produktif (teknologi dan sumber daya manusia), mengakibatkan rendahnya produktivitas serta penghasilan yang diterima buruh. Sebagai contoh, industri manufaktur menengah dan besar, hanya mempekerjakan empat juta tenaga kerja atau sekitar empat persen dari total 91 juta tenaga kerja. Perusahaan yang mempekerjakan 500 buruh ke atas mempekerjakaan sepertiga dari (kurang lebih 30 juta) tenaga kerja, memproduksi 80 persen dari nilai tambah manufaktur. Sementara dua pertiga (60 juta) tenaga kerja berada di perusahaan menengah dan kecil, yang mempekerjakan antara 5 sampai 99 buruh, serta industri rumah tangga yang mempekerjakan 1-4 buruh. Dua kategori yang disebut terakhir ini hanya menghasilkan nilai tambah manufaktur sebesar 5-6 persen. Sedangkan masalah penghasilan, menurut data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, 85 persen buruh berpenghasilan di bawah 2 juta rupiah per bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kebijakan ini bekerja sama dan berperan penting dalam kemajuan pembangunan sektor pertanian Indonesia. Kemajuan ke arah swasembada beras tidaklah gampang. Impor beras yang dilakukan beberapa tahun belakangan ini telah banyak memberatkan para petani. Keterpurukan sektor pertanian di lndonesia bisa dikatakan dimulai ketika pemerintah Orde Baru mempraktikkan program pertanian yang berorientasi kepada “Ideologi Revolusi Hijau” tahun 1970-an hingga 1980-an. Pada masa itu, petani dipaksa bekerja dengan program pertanian modern yang penuh dengan tambahan kimiawi yang merendahkan kualitas kesuburan tanah untuk jangka panjang. Para petani dipaksa bertanam dengan menggunakan sarana produksi pupuk, obat hama, benih, dan lain sebagainya yang dipasarkan oleh beberapa perusahaan MNC/TNC yang mendapatkan lisensi pemerintah. Penggunaan saprodi produk perusahaan MNC/TNC tersebut harus dibeli petani dengan harga mahal dari tahun ke tahun. Akibatnya, biaya produksi pertanian selalu melambung dan tidak terjangkau oleh petani domestik. lronisnya harga jual produk pertanian terutama beras, dikontrol dan dibuat murah harganya oleh pemerintah.&lt;br /&gt;Pemerintah juga sering melakukan praktik dagang menjelang pelaksanaan kebijakan ekonomi yang kontroversial. Stok beras di pasaran dibuat langka baru kemudian harga naik, akhirnya masyarakat dipaksa memahami impor beras yang akan dilakukan oleh pemerintah. Impor beras yang dilakukan oleh pemerintah berdampak dua hal yakni:&lt;br /&gt; Menurunkan motivasi kerja para petani karena hasil kerja kerasnya akan kalah berkompetisi dengan beras impor di pasaran.&lt;br /&gt; Memperpuruk tingkat pendapatan petani domestik yang rendah menjadi sangat rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada motivasi ekonomi-politik yang sebenarnya disembunyikan di balik logika bisnis impor beras. Impor beras merupakan bentuk kebijakan ekonomi-politik pertanian yang mengacu kepada kepentingan pasar bebas atau mazhab neo-liberalisme. Kebijakan lmpor beras adalah pemenuhan kesepakatan AOA (Agreement on Agriculture) WTO yang disepakati oleh Presiden Soeharto tahun 1995 dan dilanjutkan pemerintahan penerusnya sampai sekarang. Butir-butir kesepakatan AOA terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Kesepakatan market access (akses pasar) komoditi pertanian domestik. Pasar pertanian domestik di Indonesia harus dibuka seluas-luasnya bagi proses masuknya komoditi pertanian luar negeri., baik beras, gula, terigu, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;2. Penghapusan subsidi dan proteksi negara atas bidang pertanian. Negara tidak boleh melakukan subsidi bidang pertanian, baik subsidi pupuk atau saprodi lainnya serta pemenuhan kredit lunak bagi sektor pertanian.&lt;br /&gt;3. Penghapusan peran STE (State Trading Enterprises) Bulog, sehingga Bulog tidak lagi berhak melakukan monopoli dalam bidang ekspor-impor produk pangan, kecuali beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak pemenuhan kesepakatan AOA WTO sangat menyedihkan bagi kondisi pertanian lndonesia semenjak 1995 hingga sekarang ini. Sektor pertanian di lndonesia mengalami keterpurukan dan kebangkrutan. Akibat memenuhi kesepakatan AOA WTO, lndonesia pernah menjadi negara pengimpor beras terbesar di dunia pada tahun 1998 sebesar 4,5 juta ton setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, beberapa kalangan aktivis gerakan petani di lndonesia menyebutkan merosotnya produksi beras nasional semenjak tahun 1985 dikarenakan problem warisan struktural pertanian masih melekat dalam kehidupan petani. Di antaranya, semakin banyak petani yang berlahan sempit (menjamumya petani gurem) dan tidak adanya kemajuan teknologi pertanian yang berorientasi ekologis. Menurut sebuah studi oleh Peter Timmer pada tahun 1975, ”Konsep kepemilikan lahan rata-rata memang agak kabur pada tingkat mikro karena adanya perbedaan besar dalam hal penggunaan dan kualitas lahan. Namun demikian, fakta yang perlu ditekankan adalah bahwa lebih dari dua pertiga populasi usaha tani hanya memiliki kurang dari setengah hektar lahan untuk bercocok tanam, bahkan mungkin kurang dari sepertiga hektar lahan” (Timmer 1975, hal.198, dalam Prawiro 1998, hal. 175).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan struktural di Indonesia juga dikemukakan oleh Geertz pada penelitiannya di tahun 1963, yang membawa pada gagasan ’shared poverty’ (kemiskinan yang ditanggung bersama). Pekerjaan dan pendapatan dari sektor pertanian dibagi-bagi kepada anggota keluarga, atau desa, sehingga semua mendapat pekerjaan dan makanan, namun tetap miskin. Geertz secara pesimis menyimpulkan bahwa barangkali tidak mungkin untuk memperbaiki pertanian Indonesia secara signifikan. Karena, tanpa mengubah struktur sosial secara besar-besaran, ”Setiap usaha untuk mengubah arah perkembangannya, misalnya menabur pupuk diatas lahan pertanian di Jawa yang sangat sempit, irigasi modern, cocok tanam padat karya dan diversifikasi tanaman, hanya akan menumbuhkan satu hal: paralisis” ( Geertz 1963, hal. 146, dalam Prawiro 1998, hal. 176).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survei LSM KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria) tahun 2003 menyatakan bahwa tingkat pendapatan petani Indonesia yang memiliki luas sawah 0,5 hektar kalah dibandingkan dengan upah bulanan buruh industri di kota besar. Para petani yang memiliki tanah/sawah 0,5 hektar untuk sekali musim tanam memerlukan biaya produksi sebanyak Rp. 2,5 juta, termasuk biaya sarana produksi, upah pekerja, pemeliharaan, dan lain-lain. Sementara itu, hasil dari produksi beras/padi sawah seluas 0,5 hektar yang dijual, setelah sebagian dijadikan stok logistik rumah tangga, hanya menghasilkan Rp. 3,5 juta hingga Rp. 4 juta. Jadi, keuntungan bersih hanya Rp. 1 juta sampai Rp. 2 juta, yang jika dibagi tiga bulan maka rata-ratanya hanya mendapatkan laba Rp.700ribu/bulan. Jika impor beras dilakukan dan harga beras petani semakin anjlok, dapat dibayangkan berapa keuntungan yang akan didapatkan oleh para petani negeri ini. Padahal, Presiden SBY adalah seorang doktor pertanian yang pernah menulis tesis tentang revitalisasi pertanian dengan beberapa kesimpulan, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Untuk membangun kembali pertanian maka intervensi asing semacam IMF dan World bank harus dinetralisasikan dari bidang pertanian.&lt;br /&gt;2. Pemerintah perlu mengorientasikan kebijakan fiskalnya untuk mendukung sektor pertanian.&lt;br /&gt;3. Pemerintah perlu memfasilitasi pengembangan pertanian yang berorientasi kepentingan petani. Namun sayangnya keyakinan atau ide cerdas SBY dalam disertasinya berbalik dengan realitas kebijakan ekonomi-politik pertanian yang direncanakan dan diimplementasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan pemerintah saat ini tidak mendukung berkembangnya sektor pertanian dalam negeri. Indonesia telah mengarah ke negara industri, padahal kemampuanya masih di bidang agraris. Misalnya, kedudukan Pulau Jawa sebagai sentra penghasil padi semakin kehilangan potensi karena industrialisasi dan pembangunan perumahan. Konversi tata guna lahan ini merupakan salah satu pemicu merosotnya pertanian Indonesia yang menjadi sumber penghidupan 49 persen warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sejumlah faktor yang selama ini menjadi pemicu utama terpuruknya sektor pertanian, diantaranya :&lt;br /&gt;1. Dari segi sarana dan prasarana, tidak ada dana pemeliharaan infrastruktur pertanian, tidak ada pembangunan irigasi baru, dan pencetakan lahan baru tidak berlanjut.&lt;br /&gt;2. Dalam hal bebasnya konversi lahan pertanian, pihak pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten tidak disiplin menjalankan pemerintahan dengan mengizinkan pengubahan fungsi pertanian pada industrialisasi yang kadang pula kurang strategis bagi ketahanan negara.&lt;br /&gt;3. Dari sisi kebijakan dan politik, penerapan otonomi daerah membuat sektor tanaman pangan terabaikan. Para politikus membuat kebijakan demi partai, bukan untuk kebijakan pangan rakyat. Keadaan semakin buruk dengan tidak adanya keamanan dan stabilitas yang seharusnya dijalankan aparat penegak hukum. (http://www.kompas.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Analisis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bergesernya pemikiran masyarakat tentang bagaimana cara mempertahankan hidup untuk memenuhi kebutuhan pangan menjadi titik pokok bahasan kali ini. Hal ini disebabkan modernisasi dan industrialisasi yang terus menggerogoti indonesia. Meski memang modernisasi Barat didahului oleh komersialisasi dan industrialisasi, sedangkan di negara non-Barat, modernisasi didahului oleh komersialisasi dan birokrasi. Jadi, modernisasi dapat dilihat terlepas dari industrialisasi-di Barat modernisasi disebabkan oleh industrialisasi, sedangkan dikawasan lain modernisasi menyebabkan industrialisasi. Yang jelas, baik modernisasi maupun industrialisasi menyangkut unsur penting pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan ekonomi tak dapat terjadi terlepas dari industrialisasi, dan industrialisasi ini senantiasa menjadi bagian integral dari modernisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisis ini, para petani yang dulunya banyak dan mampu menghasilkan hasil panen yang baik harus rela sebagian tanah yang ia miliki dijual kepada kaum-kaum borjuis. Bahkan tidak menuntut kemungkinan birokrasi dalam menentukan kebijkakan seolah-olah dengan bebasnya konversi lahan pertanian dengan bebas. Padahal, sejak awal adanya kaum borjuis ingin memonopoli dan menindas serta mengeksploitasi besar-besaran negeri ini. Tak dielakkan lagi, kemudian muncullah kapitalisme yang jelas hanya ingin mengeksploitasi dan merusak Indonesia sebagai lahan subur dunia, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Belum lagi penciptaan mitos pasar-global yang selalu menghantui rakyat dan sistem perekonomian Indonesia. Kenyataan ini dilihat dalam kurun waktu yang cukup begitu singkat pada tahun ’90-an tanah persawahan yang dulu luasnya berhektar-hektar menyempit akibat dibangunnya pabrik-pabrik industri yang dalam taken kontraknya jelas-jelas kurang begitu menguntungkan pemerintah dan penduduk setempat terutama. Meskipun sekrang sedangn marak-maraknya perbincangan tentang nasionalaisasi aset-aset bangsa dan perjelas pembagian labanya.&lt;br /&gt;Masalahnya adalah di negara-negara berkembang seperti Indonesia, masyarakat, termasuk dunia bisnis, justru sering menghendaki campur tangan pemerintah, walaupun dalam retorika, mereka menghendaki deregulasi. Antara deregulasi dan intervensi sering sangat kabur batas-batasnya. Sebagai contoh PP No.20/1994 yang dinilai bertentangan dengan UU PMA No.1/1967. Di satu pihak peraturan itu memang lebih memperlancar masuknya modal asing dan penanaman modal umumnya. Di lain pihak hal itu mengandung campur tangan pemerintah atau yang menguntungkan grup-grup bisnis besar tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum itu, pada tahun '60-an pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kemerosotan sehingga menimbulkan krisis politik pada tahun 1965-1966. Higgins, ekonom yang pernah bekerja di Indonesia, juga menyebut perekonomian Indonesia hingga pertengahan ’60-an sebagai the chronic droup-out, belajar dari pengalaman itu pemerintah Orde Baru mengundang kembali modal asing untuk melaksanakan industrialisasi lewat UU No.1/1967. segera setelah membuka pintu kepada modal asing, pemerintah Orde Baru juga memberi kesempatan kepada modal dalam negeri untuk melaksanakan tugas yang sama melalui UU No.1/1968. Sebagaimana di duga dan telah di sadari, misalnya oleh Menteri EKUIN pada waktu itu, Sri Sultan H.B IX, pemodal dalam negeri yang telah siap adalah pengusaha non-pribumi. Sekali lagi, industrialisasi semasa Orde Baru mengahadapi ganjalan baru dalam sistem pemilikan. Pada dasawarsa ’80-an menjadi jelas bahwa golongan etnis inilah yang mendominasi perekonomian. Monopoli dan oligopoli dipersoalkan. Ini di ikuti dengan identifikasi gejala konglomerasi. Sebagian besar aset industri dan perusahaan-perusahaan besar pada awal ’90-an ternyata berada di tangan golongan etnis tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilikan pribadi modern ini sesuai dengan negara modern, yang pelan-pelan dibeli oleh orang-orang yang mempunyai milik dengan cara perpajakan--telah jatuh semuanya ke dalam tangan orang-orang ini lewat hutang nasional, dan kehadiran negara itu telah menjadi tergantung sepenuhnya kepada kredit komersial, yang diberikan kepada negara oleh para pemiliki-pemilik, yaitu kaum borjuis, sebagaimana tercerminkan oleh naik turunnya dana negara di bursa saham. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya di Jepang pada awal tahun-tahun modernisasinya hasil pajak tanah merupakan bagian terbesar dari seluruh hasih pajak, yang bagi pemerintah Jepang merupakan biaya untuk usaha modernisasinya. Pada tahun 1868 bagian itu adalah 68, 7 % dan pada tahun 1877 83,2%. Sementara itu ini berarti, mahwa petani di Jepang harus memikul korban yang berat untuk modernisasi yang dipaksakan itu. Ini terbukti dari kenyataan, bahwa selama periode 1868-1912 telah terjadi 210 kali pemberontakan petani. Dilihat dalam lingkup masyarakat pedesaan sendiri mungkin modernisasi itu dipandang sebagai suatu yang tidak menyenangkan, yang maunya sedapat mungkin hendak dihindari, atau sebagai sesuatu yang terpaksa harus diterima, suatu yang merugikan kehidupan dan tata cara sendiri. Belum lagi para pemimpin negara yang feodalis terus menggerogoti tanah rakyat dengan segenap kekuasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilain pihak pandangan tentang kota-kota besar mengakibatkan daya pikir pemuda yang sekarang terkesan hura-hura (hedonis) belaka menjadi indikasi cukup signifikan dalam dunia pertanian. Mereka (pemuda) menganggap bahwa bekerja di kota lebih-lebih Jakarta sebagai kota metroplitan, di pabrik industri merupakan sebuah kebanggaan yang mahal harganya. Akibatnya sangat jelas mereka melakukan perpindahan dari desa ke kota (urbanisasi) hanya untuk mencari pekerjaan dikota dan berharap dengan mudah mendapatkannya. Dalam pandangan ini, mungkin industrilisasi sebagai kepentingan para pemimpin/kaum-kaum borjuis untuk mengkosongkan lahan pertanian, membeli dengan uang yang ia miliki dan mengeruk habis/eksplotasi sumber daya alam di Indonesia, sebagai gantinya iming-iming gaji dan kahidupan kota yang hedonis belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu dimungkinkan oleh adanya uang. ”Barang siapa memiliki uang satu sen maka ia berdaulat (sejauh satu sen) atas seluruh manusia; memerintah para juru masak agar menyajikan santapan baginya, memerintah para bijak-cendikia untuk memberinya pelajaran, memerintah para raja untuk menjaganya--sejauh satu sen.” Carlyle dan Marx sepakat bahwa misteri uang, yakni transendensinya, sebagaimana terungkap melalui pakaian yang menandai perbedaan kelas dan perbedaan kekuasaan, menyangga tatanan sosial. Keduanya sama-sama berpendapat bahwa berbelanja untuk menjaga penampilan adalah sesuatu yang perlu, meskipun Karl Marx, tidak seperti Carlyle, mengangap keperluan semacam itu teramat sangat irasional. (Dalziel Duncan, Hugh, 1997)&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang seolah-olah mengusir penduduk dari pedesaan, dan engganya untuk menjadi petani sehingga pertanian fakum tanpa orang. Ada faktor-faktor yang menyebabkan hal semacam itu, diantara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Daya tarik ekonomi dari kota (industri), orang berharap akan mendapat pekerjaan di sana dan dengan demikian mendapat uang. Bagi banyak orang ini suatu keharusan, karena di desa-desa tidak ada mata pencaharian lagi atau tidak ada kesempatan untuk mencari uang. Orang-orang mencari perbaikan nasib di kota atau mencari kesempatan kerja yang dipandang lebih sesuai dengan pendidikannya di sekolah. Bertani menjadi hal yang dianggap level rendah, tidak sesuai dengan pendidikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pekerjaan yang lebih sesuai dengan pendidikan, ialah usaha untuk mengangkat posisi sosialnya dengan cara pergi ke kota dan bekerja di pabrik sana. Pendidikan modern menciptakan pola nilai dan pola harapan baru. Anggapan kehidupan kotalah yang sesuai dengan pendidikannya itu. Akibatnya pertanian fakum tanpa perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kota-kota itu merupakan daya tarik, karena fasilitas pendidikan di situ di nilai lebih baik dari pada di pedesaan. Dilain pihak orang tua yang ingin agar anaknya dapat memanfaatkan kesempatan baru untuk naik status sosialnya, ketika pindah ke kota. Daya tarik itu juga dapat timbul karena adanya fasilitas-fasilitas sosial lainnya, kemudian daya nalar anak akan terbiasa dengan kehidupan serta fasilitas di kota dan enggan kembali ke desa untuk meneruskan dan memberdayakan bidang agraria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Kota merupakan daya tarik sebagai pusat kesenangan dan hiburan dan sebagai tempat dimana orang dapat mencari pengalaman baru dalam bayangan suasana hangat dan meriah. Jelas daya tarik yang satu ini, kelap-kelip lampu kota hedonisitas kehidupan malam kota, hura-hura pemuda membuat miring pikiran pemuda, akhirnya kehidupan di desa dan menjadi petani merupakan hal yang dianggap menurunkan martabatnya sebagai pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Life style dan gengsi yang menjadi tren pemuda membuat fakumnya penerus pertanian bagi proses agraria negeri ini. Merupakan imbas dari adanya industrialisasi yang disebabkan oleh modernisasi yang merebak di desa-desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Iming-iming atau tawaran gaji yang dianggap cukup menggiurkan dari pihak industri (pabrik) untuk menjadi buruh yang sampai saat ini tidak jelas diperhatikan nasibnya. Belum lagi pembagian kerja dan jabatan dalam produksi pabrik-pabrik industri yang nantinya akan menyebabkan stratifikasi antara orang yang atas dan bawah berdasar atas kepetingan-kepentingan semata. Menurut Marx, kelas-kelas akan timbul apabila hubungan-hubungan produksi melibatkan suatu pembagian tenaga kerja yang beraneka ragam, yang memungkinkan terjadinya surplus produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan industrialisasi terus berjalan, berdasar logika industrialisme maka masyarakat industri akan mengikuti pola-pola tertentu sejalan dengan kebutuhan sistem industrial. Beberapa ciri yang lebih umum dari masyarakat industri adalah: 1) terjadinya kemerosotan pengaruh dan kewibawaan lembaga-lembaga keagamaan serta pemisahan urusan politik, ekonomi dan keduaniawian umumnya dengan masalah agama yang bersifat pribadi, 2) tumbuhnya masyarakat kota dengan perilaku yang mengikuti budaya kota, 3) masyarakat mudah bergerak dan berubah menurut tempat dan jenis pekerjaan, 4) proses politik menjadi semakin demokratis, 5) pecahnya ikatan kekeluargaan dan kekerabatan dan ikatan-ikatan primodial lainnya yang digantikan dengan ikatan-ikatan baru, dan 6) pudarnya hubungan-hubungan tatap muka, kebersamaan, alami, akrab atau paguyuban (gemeinshaft) digantikan dengan hubungan patembayan (gesellshaft) yang didasarkan kepada kepentingan dan konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah jelas kiranya, bahwa beberapa faktor di atas merupakan indikator yang menunjukkan adanya beberapa efek atau dampak yang kurang baik bagi pertanian dalam hal ini petani sebagai subyek. Pertanian harus sangat diperhatikan oleh negara dengan sistem agraria menggunakan konsep yang jelas dan yang paling penting adalah demi terciptanya kesejahteraan rakyat indonesia. Sebagaimana laut pun merupakan lahan yang sangat bagus untuk tetap terus menjadi perhatian pemerintah dalam memakmurkan rakyatnya ini. Indonesia sebagai negara yang mempunyai sumber daya alam yang sangat besar semestinya mampu mensejahteraan rakyatnya dan harus tetap melindungi tumpah darahnya, demi tercapai harapan-harapan bangsa dan negara sesuai pembangunan nasional yang direncanaka. Semoga tetap semangat Indonesiaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENUTUP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan kompleks di atas nasib pertanian dan kesejahteraan petani pun menurun drastis baik dari produk penghasilan, pemuda-pemudanya maupun orang tua mereka. Tidak mempunyai penerus yang menghidupkan sawah atau ladanganya. Lama kelamaan tanah yang ia punya akan dijual dan kaum borjuis yang akan mengambil alih. Berbagai cara memperdaya, membius masyarakat dan meraup seganap keuntungan dengan skala besar. Kepentingan-kepentingan yang konspiratif dilakukan oleh para birokrasi pemerintahan guna mengeruk keuntungan besar dengan adanya lahan kosong yang ingin dijual oleh petani tersebut. Selanjutnya kemiskinan yang terus mengintai rakyat indonesia.&lt;br /&gt;Maka industrialisasi merupakan hal yang seyogyanya dihindari [industrialisasi boleh ada, namun harus jelas bagaimana mensejahterakan (take and give) negara maupun buruh/pegawainya, sesuai UMK (upah minimum kerja), UMR (upah minimum regional) dan yang terpenting bukan orang-orang asing yang menguasainya, agar aset negara tidak dimonopoli dan di eksploitasi, serta para petani masih tetap eksis tanpa ada intervensi dari pihak industri maupun pabrik setempat. Bagi kalangan pekerja tradisional maupun modern seperti halnya petani, imbasnya jelas seperti di atas mulai dari hasil produksi, lahan pertanian menyempit, kekurangan penerus, sampai harga yang mengalami kongkalikong. Hal di atas bukan untuk pribadi tentunya, melainkan untuk kehidupan bangsa, negara, generasi selanjutnya dan kekuatan pangan di negeri Indonesia yakni agraria dan tentunya mampu bersaing tingkat global.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lauer, Robert H., 2003, Perspektif Tentang Perubahan Sosial, Rineka Cipta, Jakarta&lt;br /&gt; Prof. Dr. Schoorl, J.W 1982, Modernisasi; Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Sedang Berkembang, Gramedia, Jakarta, &lt;br /&gt; www.suarapembaruan.com&lt;br /&gt; Prof Dr Bachtiar, Wardi MS., 2006, Sosiologi Klasik, Rosdakarya, Bandung,&lt;br /&gt; www.suaramerdeka.com&lt;br /&gt; Dalziel Duncan, Hugh, 1997, Sosiologi Uang, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,&lt;br /&gt; www.tempointeraktif.com&lt;br /&gt; Ba Yunus, Ilyas-Ahmad, Farid 1996, Sosiologi Islam dan Masyarakat Kontemporer, Mizan, Bandung, &lt;br /&gt; Dr. Nasikun, 2007, Sistem Sosial Indonesia, Rajawali Perss, Jakarta, &lt;br /&gt; M. Dawam Raharjo, 1999, Masyarakat Madani: Agama, Kelas Menengah dan Perubahan Sosial, LP3ES, Jakarta, &lt;br /&gt; Geertz, Clifford (1963), Agricultural Involution: The Process of Ecological Change in Indonesia, Berkeley: University of California Press.&lt;br /&gt; Anthony Giddens, 1986, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern, UI-Press, Jakarta,&lt;br /&gt; Ritzer, George - Goodman, Douglas J., 2004, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media, Jakarta.&lt;br /&gt; Departemen Penerangan 1969, vol. 2a, hal. 10&lt;br /&gt; Prawiro, R. (1998), “Pergulatan Indonesia Membangun Ekonomi: Pragmatisme dalam Aksi”, Jakarta: PT Elex Media Komputindo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-6715466392229753410?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/6715466392229753410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=6715466392229753410&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/6715466392229753410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/6715466392229753410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/06/sosiologi-pembangunan-dampak.html' title='SOSIOLOGI PEMBANGUNAN; DAMPAK INDUSTRIALISASI TERHADAP NASIP PETANI'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-2102966340711954100</id><published>2009-06-10T11:07:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T11:12:12.273-07:00</updated><title type='text'>GERAKAN SOSIAL; GERAKAN MAHASISWA DAN PERGOLAKANNYA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mahasiswa, tentunya tak lepas dari gerak-geriknya sebagai insan kritis-terdidik dalam menanggapi sekian problem sosial-kemasyarakatan, baik sistem kenegaraan, problem kebangsaan sampai pada public policy (kebijakan publik). Dan tentunya hal ini menjadi sangat menarik untuk dibicarakan jika kita berbicara mahasiswa, karena mahasiswa adalah predikat yang amat "eksklusif". Disebut eklsusif karena mahasiswa adalah sosok yang istimewa dipandang dari sudut apapun dan dari manapun serta mempunya cerita yang istimewa mahasiswa dari masa ke masa, baik di Negara maju maupun di Negara berkembang layaknya negeri kita ini, Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara Indonesia sendiri, mahasiswa mempunyai peranan sangat penting dalam mengawal masyarakat, memotifasi masyarakat dan bahkan mampu merubah sejarah kebangsaan dan perjalanan demokrasi di bumi Nusantara ini. Sebut saja peristiwa tumbangnya Orde Lama 1966, Peristiwa Lima Belas Januari (Malari) 1974, NKK/BKK 1978, pencabutan NKK/BKK 1990 dan runtuhnya rezim Orde Baru sebagai tonggak Reformasi 1998. Catat saja bagaimana peranan mahasiswa mampu merubah wajah perpolitikan saat itu yaitu dengan Gerakan-gerakan politik moral. Jauh beberapa tahun kebelakang kita mengenal angkatan gerakan kemahasiswaan dengan segala momentum sejarah kebangsaan di tanah air. Tak heran kemudian, keberadaan gerakan mahasiswa dalam konstelasi sosial politik di negeri ini tak bisa dipandang sebelah mata. Diakui atau tidak, torehan sejarah keberadaan gerakan mereka menjadi salah satu kekuatan yang selalu dipertimbangkan oleh berbagai kelompok kepentingan (interest group) terutama pengambil kebijakan, yakni birokrat. Taruhlah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sebagai organisasi mahasiswa yang yang tentunya tak lepas dari sumber gerakan mahasiswa itu sendiri. Karena kita tahu bahwa organisasi tersebut jelas memiliki ideologi masing-masing dengan berdasar atas kesepakatan bersama sebagai sebuah organisasi mahasiswa. Meskipun pada sisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa sekarang ini gerakan mahasiswa mengalami polarisasi dan kecenderungan terhadap partai politik dalam entitas dan kelompok-kelompok tertentu yang berbeda, bahkan acapkali bertentangan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A.   Sekilas Sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia(Era Reformasi)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Mahasiswa Tahun 1998 (era Reformasi)&lt;br /&gt;Ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR dan gerakan mahasiswa mencapai klimaksnya pada tanggal 12 Mei 1998 Soeharto tumbang dari kursi kepresidenannya. Sebelumnya, hal ini di diawali dengan terjadi krisis moneter di pertengahan tahun 1997. harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Mahasiswa pun mulai gerah dengan penguasa Orde Baru, tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa. Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto (dikenal dengan sebutan jalur ABG (ABRI, Birokrat, dan Golkar) dalam pemerintahannya) melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini di antaranya: Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung. Gerakan ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Gerakan Mahasiswa Islam Ekstra Kampus&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah disebutkan di atas, gerakan mahasiswa atau yang koordinir beberapa organisasi mahasiswa seperti HMI, PMII, KAMMI dan IMM merupakan organisasi atau sebuah wadah gerakan bagi mahasiswa diluar lingkungan kampus. Organisasisi ini hingga sekarang masih eksis dalam dunia monitoring, kaderisasi, pengawalan, motivasi dan sebagai organisasi atau gerakan control terhadap public policy (kebijakan public) birokrasi maupun tindakan-tindakan yang dianggap mengganggu stabilitas sosial-masyarakat. Tak heran kemudian organisasi ekstra kampus ini dilirik oleh berbagai pihak, karena secara gagasan dan organisatoris pun terlihat baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arbi Sanit,  ada lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka dengan permasalahan kemasyarakatan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda. Kelima, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilain pihak ada dua bentuk sumber daya yang dimiliki mahasiswa dan dijadikan energi pendorong gerakan mereka. Pertama, Ilmu pengetahuan yang diperoleh baik melalui mimbar akademis atau melalui kelompok-kelompok diskusi dan kajian. Kedua, sikap idealisme yang lazim menjadi ciri khas mahasiswa.  Kedua potensi sumber daya tersebut ‘digodok’ tidak hanya melalui kegiatan akademis didalam kampus, tetapi juga lewat organisasi-organisasi ekstra universitas yang banyak terdapat di hampir semua perguruan tinggi. Diantara organisasi itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)&lt;br /&gt;HMI lahir ditengah-tengah suasana revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan, yaitu pada 5 Februari 1947 di kota Yogyakarta. Lafran Pane dan kawan-kawan merasa prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang terpecah-pecah dalam berbagai aliran keagamaan dan politik serta jurang kemiskinan dan kebodohan. Oleh karena itu dibutuhkan langkah-langkah strategis untuk mengambil peranan dalam berbagai aspek kehidupan. Kemudian didirikanlah wadah perkumpulan mahasiswa Islam yang memiliki potensi besar bagi terbinanya insan akademik, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, HMI telah banyak melahirkan kader-kader pemimpin bangsa. Hampir di sepanjang pemerintahan Orde Baru selalu ada mantan kader HMI yang duduk di kabinet. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran signifikan HMI dalam keikutsertannya menumbangkan Orde Lama serta menegakkan Orde Baru. Selain itu, sebagai ormas mahasiswa Islam yang independen dan bergerak dijalur intelektual, tidak jarang HMI melahirkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam kontemporer di Indonesia. Beberapa kader HMI bahkan sering melontarkan wacana pemikiran Islam yang mengundang kontroversi. Misalnya saja wacana sekulerisasi agama yang diungkapkan Nurcholish Madjid melalui slogannya yang terkenal “Islam Yes, Partai Islam No!.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)&lt;br /&gt;Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya mendirikan sebuah organisasi sebagai wadah pergerakan angkatan mudanya dari kalangan mahasiswa yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pada perkembangannya di petengahan tahun 1972 PMII secara struktural menyatakan diri sebagai organisasi independen, terlepas dari ormas apa pun, termasuk dari sang induknya, NU  dalam Musyawarah Besar di Munarjati Malang 14 Juli 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pergerakan mahasiswa 1998, menjelang peristiwa jatuhnya Soeharto, PMII bersama kaum muda NU lainnya telah bergabung dengan elemen gerakan mahasiswa untuk mendukung digelarnya people’s power dalam menumbangkan rezim Soeharto. Sikap ini telah jauh mendahului sikap resmi kiai senior NU yang lebih konservatif yakni senantiasa menjaga kedekatan dengan pusat kekuasaan untuk membela kepentingan pesantren. Di jalur intelektual PMII banyak mengembangkan dan mengapresiasikan gagasan-gagasan baru, misalnya mengenai hak asasi manusia, gender, demokrasi dan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)&lt;br /&gt;Ketika situasi nasional mengarah pada demokrasi terpimpin yang penuh gejolak politik di tahun 1960-an, dan perkembangan dunia kemahasiswaan yang terkotak-kotak dalam bingkai politik dengan meninggalkan arah pembinaan intelektual, beberapa tokoh angkatan muda Muhammadiyah seperti Muhammad Djaman Alkirdi, Rosyad Soleh, Amin Rais dan kawan-kawan memelopori berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta pada tanggal 14 Maret 1964.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah sifat dan gerakan IMM sama dengan Muhammadiyah yakni sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar. Ide dasar gerakan IMM adalah; Pertama, Vision, yakni membangun tradisi intelektual dan wacana pemikiran melalui intelectual enlightement (pencerahan intelektual) dan intelectual enrichment (pengkayaan intelektual). Strategi pendekatan yang digunakan IMM ialah melalui pemaksimalan potensi kesadaran dan penyadaran individu yang memungkinkan terciptanya komunitas ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Value, ialah usaha untuk mempertajam hati nurani melalui penanaman nilai-nilai moral agama sehingga terbangun pemikiran dan konseptual yang mendapatkan pembenaran dari Al Qur’an. Ketiga, Courage atau keberanian dalam melakukan aktualisasi program, misalnya dalam melakukan advokasi terhadap permasalahan masyarakat dan keberpihakan ikatan dalam pemberdayaan umat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)&lt;br /&gt;KAMMI terbentuk dalam rangkaian acara FS LDK (Forum Sillaturahmi Lembaga Da’wah Kampus) Nasional X di Universitas Muhammadiyah Malang tanggal 25-29 Maret 1998. Setidaknya ada dua alasan terbentuknya KAMMI, pertama, sebagai ekspresi keprihatian mendalam dan tanggung jawab moral atas krisis dan penderitaan rakyat yang melanda Indonesia serta itikad baik untuk berperan aktif dalam proses perubahan. Kedua, untuk membangun kekuatan yang dapat berfungsi sebagai peace power untuk melakukan tekanan moral kepada pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya bersama elemen gerakan mahasiswa lainnya, KAMMI melakukan tekanan terhadap pemerintahan Orde Baru melalui gerakan massa. Dalam pandangan KAMMI, krisis yang terjadi saat itu adalah menjadi tanggung jawab pemimpin dan pemerintah Indonesia sebagai pengemban amanah rakyat. Karena itu untuk memulai proses perubahan tersebut mesti diawali dengan adanya pergantian kekuasaan. Rezim Orde Baru dengan segala macam kebobrokannya, harus diganti dengan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tidak kuat menahan desakan rakyat, akhirnya Soeharto dengan terpaksa meletakkan jabatannya. Namun bagi KAMMI, proses reformasi di Indonesia belumlah selesai, masih membutuhkan proses yang panjang. Lewat Muktamar Nasional KAMMI yang pertama, 1-4 Oktober 1998, KAMMI memutuskan diri berubah dari organ gerakan menjadi ormas mahasiswa Islam. Peran utamanya adalah untuk menjadi pelopor, pemercepat dan perekat gerakan pro-reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Organisasi; Mahasiswa Islam dalam Pergulatan Teologis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal berdirinya, sebagian organisasi mahasiswa Islam ada yang terlahir dari kelompok sosial keagamaan dengan identitas yang jelas. Misalnya saja IMM yang terang-terangan mengusung nama Muhammadiyah, dan PMII meski secara struktural independen, namun masih memiliki ikatan kultural yang erat dengan NU. Sedangkan organisasi mahasiswa yang lain, HMI dan KAMMI, tidak secara jelas membawa identitas kelompok keagamaan tertentu, malah mereka cenderung menjadi kelompok keagamaan tersendiri. Dari sini kemudian berkembanglah corak wacana dan strategi perjuangan yang berbeda-beda. Perbedaan ini muncul akibat beragamnya metode pendekatan teologis, sebagai basis ideologi yang mereka bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan berpikir yang telah menjadi kultur sehari-hari di dunia akademis, telah mengundang sebagian besar mahasiswa Islam untuk merumuskan kembali paradigma teologi yang telah ada. Hampir semua sepakat bahwa paradigma teologi umat Islam saat ini merupakan hasil formulasi ulama klasik. Meski mengalami pembaharuan beberapa kali, tapi tidak banyak perubahan mendasar dalam paradigma teologi itu. Terlebih lagi tuntutan perubahan mengharuskan umat Islam menyusun kembali paradigma yang baru.&lt;br /&gt;Pemikiran teologi dalam masyarakat Islam bersumber dari ajaran aqidah yang dijelaskan dalam Al Qur’an dengan inti kepercayaan pengesaan Tuhan (tauhid) dan pengakuan atas kerasulan Muhammmad (Muhammad Rasulullah). Pemikiran teologi tentang Allah merupakan sebuah keyakinan terhadap adanya realitas transedental yang tunggal dan menuntut adanya aplikasi ketaatan pada tataran aksi. Oleh karenanya wujud nyata dari perilaku dan kepribadian umat Islam merupakan cerminan yang tidak dapat dipisahkan dari landasan teologisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan telaah keagamaan, mahasiswa Islam mengadopsi beberapa pemikir-pemikir Islam kontemporer, baik tokoh pemikiran Islam di Indonesia seperti Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Nurcholish Madjid, Jalaluddin Rakhmat dan lainnya, sampai tokoh dunia Islam yang cukup berpengaruh saat ini, diantaranya Hassan Hanafi, Mohammad Arkoun, Yusuf Qardlawi, M. Abed Aljabiri, Fazlur Rahman dan masih banyak lagi. Ketajaman analisis dan disiplin dalam mempergunakan metode, membuat para tokoh tersebut dikagumi banyak kalangan mahasiswa Islam. Sampai kemudian pemikiran mereka menjadi referensi utama bagi gerakan mahasiswa Islam, bahkan tidak jarang dikritisi dan dianalisis secara mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri, Fachry Ali dan Bahtiar Effendy  menyatakan tentang tipologi gerakan intelektualisme Islam neo-modernisme. Gerakan pemikiran neo-modernisme merupakan gerakan pemikiran Islam yang muncul di Indonesia sekitar tahun 1970-an. Gerakan ini lahir dari tradisi modernisme Islam yang terdahulu dan telah cukup mapan di Indonesia. Akan tetapi ia memakai pendekatan yang lebih khas dari sisi konsepsi maupun aplikasi ide-ide. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurcholish Madjid merupakan tokoh gerakan intelektual ini. Dengan cerdas ia memadukan cita-cita liberal dan progresif dengan keimanan yang saleh. Melalui konsep rasionalitas, Cak Nur, sapaan akrabnya, menyatakan arti pentingnya untuk menelusuri dan memahami pengetahuan manusia yang relatif dan terbatas. Hal ini menyangkut persoalan hubungan kedudukan antara agama dan akal yang telah lama menjadi bahan perdebatan para teolog sejak dulu. Karena pengetahuan manusia yang terbatas itulah maka kebenaran yang bersifat mutlak tidak dapat dicapai oleh manusia.&lt;br /&gt;Selanjutnya Cak Nur menawarkan satu bentuk teologi inklusif, dimana inti ketajaman teologi ini adalah kesadaran teologis yang mensyaratkan adanya ruang kebebasan berpikir sebagai wujud komitmen ketauhidan seseorang. Ruang kebebasan inilah yang menjadi substansi bagi pembaharuan dan kemajuan dalam Islam. Sikap keterbukaan untuk mau menerima kebenaran dan perbedaan dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMI Dipo telah menjadikan pemikiran neo-modernisme ini sebagai referensi utama bagi pemahaman teologinya. Lewat pemikiran-pemikiran Cak Nur yang juga mantan ketua PB HMI inilah konsep Islam Keindonesiaan ditawarkan oleh kader-kader HMI. &lt;br /&gt;Lain halnya dengan PMII, ormas mahasiswa Islam ini lebih mengembangkan teologi yang lebih radikal bila dipandang oleh sebagian besar umat Islam pada umumnya. Pada mulanya PMII memakai doktrin teologi Aswaja (ahlussunnah wal jama’ah) sebagi doktrin resmi yang dipakai NU dan masyarakat Islam Indonesia pada umumnya. Doktrin teologi Aswaja lebih banyak berbicara mengenai takdir manusia yang telah ditentukan Allah, dan kedudukan manusia sebagai makhluk. Namun akhir-akhir ini tradisi kritik yang berkembang di PMII tidak hanya menggugat kemapanan (status quo) struktur sosial, ekonomi dan politik yang ada, tapi termasuk doktrin teologi Aswaja. PMII dengan berani menggulirkan perlunya pembacaan kembali konsep Aswaja tersebut. &lt;br /&gt;Dewasa ini terdapat loncatan perubahan yang cukup menyolok dikalangan kader-kader PMII. Sebagai angkatan muda NU, mereka sebagian besar berasal dari kalangan tradisional, kelompok masyarakat yang sering diidentikkan dengan konservatifisme sosial lewat apresiasi yang rendah terhadap hal-hal baru. Mereka juga dikenal dengan keterbelakangan kultural karena orientasi hidup mereka dipercayai hanya sebatas penerapan dan pemeliharaan nilai-nilai lama yang teguh dipegangi dan diyakini. Pandangan ini mulai bergeser ketika PMII kini memiliki pandangan intelektual yang lebih terbuka, peka dan peduli terhadap masalah keagamaan dan kehidupan sosial. Konsekuensi dari keterbukaan ini bagi PMII adalah sikap menerima perbedaan, akomodatif, dan toleran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi berpikir kritis terhadap segala macam bentuk kemapanan yang ada, telah membawa PMII untuk melakukan kajian terhadap kondisi kehidupan sosial, termasuk kebekuan-kebekuan yang dialami agama. Doktrin-doktrin ajaran agama saat ini, menurut PMII, sudah tidak relevan lagi dengan perubahan jaman. Karena ajaran agama yang ada telah tercerabut dari keaslian akar tradisi masyarakat. Ajaran agama tidak tertanam dalam kesadaran masyarakat. Untuk itu perlu dilakukan tafsir ulang terhadap doktrin-doktrin ajaran agama, bahkan sampai keakar-akarnya yaitu dimensi teologis. &lt;br /&gt;Pada tataran teologis PMII lebih memandang bahwa semua agama akan bermuara pada satu titik yang sama yakni Tuhan. Terdapatnya agama-agama yang berbeda merupakan suatu bentuk keanekaragaman jalan atau cara yang mengandung makna kebenarannya sendiri-sendiri, dan keanekaragaman ini merupakan fitrah yang dikehendaki Tuhan. Yang terpenting bagi agama saat ini adalah harus membawa kemanfaatan nyata bagi kesejahteraan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Baso, salah seorang senior di PB PMII mengungkapkan suatu gagasan mengenai kritik wacana agama. Kritik agama Baso adalah Islam sebagai sistem kultur dan ideologi. Titik perhatiannya diarahkan pada kritik nalar atau cara-cara berpikir yang secara sistemik membentuk pola pikir penganutnya secara sadar maupun tidak sadar. Lebih lanjut Baso mencontohkan kebekuan tradisi pembaharuan dalam pemikiran tokoh-tokohnya, baik itu pada diri Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, maupun dalam pemikiran Abdurrahman Wahid. Makna “Islam Liberal” dalam pemikiran Nurcholish Madjid, hanya berhenti pada tingkat wacana. Gagasan tersebut tidak bisa diterjemahkan secara praksis dalam kehidupan umat di lapisan bawah.&lt;br /&gt;Berbeda lagi dengan IMM, ormas mahasiswa Islam yang satu ini tidak bisa lepas begitu saja dari pengaruh kultur yang ada di Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, tentu saja tidak bisa lepas dari agama sebagai landasan teologis dalam berpikir, bertindak dan berinovasi. Aspek teologis ini penting karena dari sinilah Muhammadiyah melancarkan purifikasi agama atau pemurnian tauhid dari segala bentuk praktek keagamaan yang berbau takhayyul, bid’ah dan khurafat. Dengan langkah ini sebenarnya Muhammadiyah ingin melangkah ke arah praksis, yaitu memperbaharui pola pikir umat yang lebih “membumi”, tidak mistis dan metafisis semata. &lt;br /&gt;Pada konteks historis, dulu pemahaman teologis semacam ini sangat hidup dan dinamis di Muhammadiyah, sehingga seringkali “gebrakan kultural” yang dilakukan Muhammadiyah cukup mengesankan. Namun saat ini, citra Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan dan Islam modernis telah memberikan “kepuasan” tersendiri yang secara tidak disadari telah “memanjakan” Muhammadiyah dalam kemapanan wacana keagamaannya. Azyumardi Azra  mengkritik pemahaman keagamaan Muhammadiyah yang monolistik (salafiyah). Padahal kecenderungan keagamaan masyarakat semakin pluralistik. Menurut Azra, selama ini Ulama Muhammadiyah hanya dialokasikan di tempat periferal dan marginal, yaitu di Majelis Tarjih, yang hanya menekuni dan menjawab persoalan-persoalan teknis hukum Islam (fiqhiyyah) untuk merespons perkembangan modern. Kalaupun ada di kalangan Muhammadiyah yang kritis terhadap pemerintah, itu biasanya muncul dari kalangan santri intelektual. Jarang sekali yang dikenal sebagai Ulama melakukan fungsi kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Muhammadiyah telah mengalami kebekuan dalam mengkontruksi wacana teologinya. Muhammadiyyah terlalu disibukkan dengan aktivitas amal usahanya yang secara tidak langsung mendorong formalisasi agama. &lt;br /&gt;Kondisi semacam ini berimbas pada IMM secara langsung. Krisis wacana yang dialami kader-kader IMM kemudian berakibat pada semakin banyaknya mereka yang menyibukkan diri di amal usaha Muhammadiyah. Meski begitu, tetap saja ada kelompok minoritas kreatif yang tekun melakukan rekontruksi wacana teologi serta relevansinya dengan tantangan umat Islam dan Bangsa Indonesia saat ini. Salah satunya adalah Fajar Riza Ul Haq kader muda Ketua Pimpinan Cabang IMM Sukoharjo. Fajar dengan fasih berbicara tentang kelemahan teologi inklusifnya Nurcholish Madjid yang berhenti pada tataran wacana tidak membumi dalam bentuk praksis pembebasan. Mengutip Farid Esack, tokoh Islam Afrika Selatan, Fajar  menyatakan perlunya menggeser teologi inklusif kearah teologi pluralis yang liberatif terhadap kaum tertindas. Bangunan epistimologi teologi pluralis adalah meyakini setiap agama mempunyai jalan keselamatan sendiri-sendiri, jadi menghargai pluralitas teologi agama-agama. Sayangnya wacana ini belum berkembang di sebagian besar pemikir-pemikir Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMMI yang dilahirkan oleh para aktivis Lembaga Dakwah Kampus memiliki corak pergerakan yang khas. Jaringan mereka sangat luas dan telah ada hampir diseluruh Perguruan Tinggi di Indonesia. Tidak mengherankan jika pada usia yang masih muda KAMMI di puji banyak kalangan sebagai ormas mahasiswa Islam tersolid saat ini. Kehadiran massa dalam jumlah besar di setiap aksinya, memperkuat daya tekan KAMMI dalam mendukung gerakan reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tataran teologis KAMMI memiliki doktrin pemahaman yang cukup kuat bahwa Islam sebagai suatu sistem yang total (kaffah) merupakan solusi terbaik dalam menjawab tantangan kemanusian. Bagi KAMMI, Islam tidak hanya berbicara mengenai pribadi individu, tapi Islam juga mengatur juga tentang hubungan sosial. Karena itu kemenangan Islam dalam keyakinan KAMMI adalah suatu keniscayaan.  &lt;br /&gt;Tradisi pendekatan wacana yang berkembang di KAMMI adalah upaya pencarian keabsahannya gerakannya melalui teks-teks suci. Hampir di setiap kali muncul wacana pemikiran KAMMI akan selalu diikuti sumber pembenarannya dari teks Al Qur’an dan Hadits. Pembacaan terhadap teks-teks suci tersebut telah memberikan semangat juang (ghiroh) tersendiri bagi KAMMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Analisis; Relasi Politik dan Gerakan Mahasiswa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui relasi politik gerakan mahasiswa terhadap kondisi sosial politik yang berlangsung, tidak bisa dilepaskan dari tesis Clifford Geertz tentang politik aliran. Aliran menurut Clifford Geertz  ditandai oleh beberapa ciri. Pertama, aliran adalah suatu gerakan sosial yang kemudian mengalami kristalisasi menjadi pengelompokan politik. Kedua, walaupun suatu aliran didefinisikan secara ideologis, namun biasanya ia dijiwai oleh cita-cita moral yang lebih luas. Ketiga, walaupun mengalami kristalisasi menjadi suatu pengelompokan politik, sebuah aliran biasanya dikelilingi oleh sebuah organisasi sukarela yang terikat secara resmi maupun tidak resmi dengan pengelompokan politik yang menjadi pusatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipologi Geertz ini kemudian dikembangkan oleh Herbeth Feith dan Lance Castle  yang membagi pemikiran politik Indonesia waktu itu ke dalam lima golongan: marxisme, Sosialisme Demokrat, Nasionalisme Radikal, Islam (terdiri dari modernisme Islam dan tradisionalisme Islam) dan tradisionalisme Jawa. Tipologi ini kemudian berkembang tidak hanya pada wilayah kultural tetapi juga wilayah politik yaitu mempengaruhi afiliasi pemilih waktu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Geertz, afiliasi pemilih juga berdasarkan pada pengelompokan budaya ini. Kelompok santri kebanyakan berafiliasi ke NU dan Masyumi, abangan sebagian ke PKI, priyayi lebih banyak berafiliasi ke PNI. Basis aliran ini kemudian berkembang menjadi ideologi politik aliran yaitu Islam, nasionalis, komunis dan sosialis meskipun kelompok terakhir jumlahnya sangat kecil. Pemilu pertama tahun 1955 membuktikan dari sekian banyak partai yang muncul, empat partai besar sebagai pemenang dan semuanya mengambl tipologi Geertz sebagai basis ideologi mereka yaitu nasionalis diwakili PNI, Islam dengan Masyumi dan NU, Komunis dengan PKI dan Sosialis dengan PSI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan pemilu 1999 menunjukkan gejala yang hampir sama meskipun tidak seratus persen. Bahkan ada kecenderungan pada sebagian partai untuk menghidupkan fenomena politik tahun 1955. Ada sisi menarik dari dalam hal afiliasi politik yang sifatnya cenderung ideologis. Suara NU dan PNI tidak mungkin beralih ke partai- partai yang identik dengan Masyumi (PBB, PK atau PAN) sementara suara Masyumi juga tidak beralih ke partai-partai yang identik dengan NU, PNI atau PKI (PDI P, PKB dan PRD). Kecenderungan ideologis ini tidak lepas dari tubuh Islam yang terbagi dalam dua kutub: modernis dan tradisionalis. NU mewakili tradisionalis dan Masyumi mewakili kutub modernis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bentuk pemikiran ini selalu berbenturan dalam hampir semua hal termasuk dalam bidang syariah. Kutub tradisionalis mengental dalam organisasi Nahdlotul Ulama, sementara Kutub modernis diwakili organisasi Muhammadiyah. Muhammadiyah sendiri merupakan organisasi reformis yang kehadirannya dimaksudkan untuk menjernihkan keyakinan umat Islam dari berbagai bentuk takhyul, bid’ah dan khufarat. Bagi Muhammadiyah, keyakinan umat telah banyak terkontaminasi dngan masuknya praktik peribadatan yang berbau Hindhu-Budha-Jawa. Sementara kelahiran NU salah satu latar belakangnya adalah untuk menyelamatkan tradisi. Dalam hal ini, NU merasa keyakinannya dalam menjalankan ibadah terusik dengan hadirnya Muhammadiyah. Dari sinilah muncul berbagai ketegangan dan bahkan konflik yang sampai sekarang ada. &lt;br /&gt;Kondisi gerakan mahasiswa Islam saat ini juga terjebak dalam polarisasi dan fragmentasi yang tidak jauh berbeda dengan politik aliran Geertz, meski dalam beberapa hal mengalami beberapa metamorfose. Organisasi massa mahasiswa Islam lahir dengan dipayungi kelompok politik yang dominan waktu itu, atau sebagai underbow partai. PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) lahir dari generasi muda NU (Nahdlatul Ulama), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) lahir dibidani kelompok Islam modernis Masyumi. Selanjutnya, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang jelas berasal dari Muhammadiyah. Sementara, keberadaan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) pada praktik politik selanjutnya juga tidak bisa dilepaskan dari PK (Partai Keadilan) yang sekarang PKS (partai keadilan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap selanjutnya, polarisasi lebih tajam terlihat pada kalangan Islam modernis yang diwakili HMI, IMM dan KAMMI dengan kalangan Islam tradisionalis secara kultur saja yang diwakili PMII. Hal ini dapat dicermati lebih rinci terutama pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Beberapa waktu menjelang lengsernya Gus Dur dan pada awal-awal pemerintahan Megawati, terdapat friksi antar ormas Islam yang lebih disebabkan karena alasan ideologis. Memang berkembang berbagai rumor di seputar pro dan kontra turunnya Gus Dur, seperti permasalahan kesehatan Gus Dur, kapabilitas managerial ataupun konstitusi. Namun apabila ditelisik mendalam, turunnya Gus Dur semata terjadi karena konflik ideologis yang sekian lama terpendam.&lt;br /&gt;Meskipun naiknya Gus Dur dengan bantuan poros tengah yang terdiri dari PPP, PAN, PBB, PK, namun aspirasi dan kepentingan kelompok poros tengah relatif diabaikan. Apabila ditelurusi, tentu saja hal ini bukan hal yang baru. NU atau dalam hal ini PKB jelas tidak mungkin berafiliasi dengan kelompok modernis terutama poros tengah. NU lebih mudah bergandengan tangan dengan kalangan abangan seperti dengan PDI P. &lt;br /&gt;Fenomena yang sama juga terjadi pada ormas mahasiswa Islam. PMII lebih mudah bekerja sama dengan kelompok kiri dibandingkan dengan ormas Islam lainnya. Hal seperti ini sering terjadi seperti pada waktu pro kontra penurunan Gus Dur. PMII bekerja sama dengan ormas kiri seperti PRD, PMKRI untuk mendukung atau pro Gus Dur tetap menjadi presiden. Sementara, kelompok yang kontra Gus Dur seperti HMI, IMM, dan KAMMI secara serentak, bersama menuntut Gus Dur mundur. Hal senada juga diungkapkan oleh kelompok modernis yang lain seperti HMI, dan IMM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya mereka sama-sama memiliki keyakinan bahwa kapasitas dan kapabilitas Megawati diragukan. Sedangkan alasan lainnya adalah asumsi yang selama ini terbukti bahwa kekuasaan itu cenderung korup, sebagaimana adagium Lord Acton. Sebagai organisasi yang independen, ormas Islam modernis lebih menitikberatkan perjuangannya pada kepentingan rakyat karena selama ini rakyat selalu berada dalam posisi yang tertindas padahal dalam konteks demokrasi, mereka adalah pemegang kekuasaan tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kita tahu bahwa baik sebelum dan pasca reformasi 98 hampir seluruh kader organisasi mahasiswa diangkat untuk menjadi birokrat dan politisi. Artinya bahwa orientasi yang ditelurkan oleh para senior-organisasi mencerminkan sebuah legitimasi akan menjadi birokrat dan politisi bagi junior-juniornya diorganisasi. Misal Akbar Tanjung, Yusuf Kalla, Amien Rais, Muhaimin Iskandar, Lukman Edy, Tiffatul Sembiring dan masih banyak lagi para senior-senior gerakan mahasiswa ada disana. Karena hal ini memang wajar jika terjadi. Sikap-sikap politik dan strategi pun cenderung menonjolkan poilitik dalam aplikasi kesehariannya. Baik dalam proses suksesi kepengurusan dan konflik yang terjadi pasca susksesi itu. Tak heran tentunya. Memang dalam proses gerakan seperti ini berbagai macam kepentingan tertarik dengan sekian hal yang muncul dari generasi ini sebagai kaum muda yang dianggap cukup kompeten untuk melanjutkan estafet baik politik maupun birokrasi. Partai politik tentunya menawarkan bahkan menjanjikan jabatan strategis di partai dan track karirnya pun akan semakin meningkat ketika ia dipercaya untuk membidanginya. Tak butuh banyak waktu untuk meraihnya jika afliasi politik dan relasi politiknya jelas diorganisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anonim, 1999. Agenda Ikatan, DPD IMM Jawa Tengah.&lt;br /&gt; Ali, Fachry dan Bahtiar Effendy, 1986. Merambah Jalan Baru Islam: Perkembangan Pemikiran Islam Masa Orde Baru. Bandung: Mizan.&lt;br /&gt; Azra, Azyumardi, 2000. Islam Subtantif: Agar Umat Tidak Jadi Buih. Bandung: Mizan.&lt;br /&gt; Modul Pelatihan Kader Dasar PMII, first edition, soshum&lt;br /&gt; Feith, Herbert &amp; Lance Castle, 1996. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965. Jakarta: LP3ES.&lt;br /&gt; Modul BIMTES dan TryOut PMII UIN Sunan Kalijaga, 2003&lt;br /&gt; Huda, Nurul, PMII Kader Minoritas Progresif. Suara Merdeka, 31/06/2001 &lt;br /&gt; Kleden, Ignas, 1988. Rencana Monografi: Paham Kebudayaan Clifford Geertz. Jakarta: LP3ES.&lt;br /&gt; Karim, M Rusli, 1997, HMI MPO dalam Kemelut Modernisasi Politik di Indonesia, Bandung: Mizan.&lt;br /&gt; Larrain, Jorge, 1996. Konsep Ideologi. Yogyakarta: LKPSM.&lt;br /&gt; Rahmat, Andi dan Muhammad Najib, 2001. Perlawanan dari Masjid Kampus. Surakarta: Purimedia.&lt;br /&gt; Salim HS, Hairus, dan Muhammad Ridwan, 1999. Kultur Hibrida: Anak Muda NU di Jalur Kultural. Yogyakarta: LKiS.&lt;br /&gt; Sanit. Arbi, 1999. Pergolakan Melawan Kekuasaan Gerakan Mahasiswa Antara Aksi Moral dan Politik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar&lt;br /&gt; Surur, Bahrus, 2001, Teologi Amal Saleh: Membongkar Logika Sosial Pada Nalar Kalam Muhammadiyah, Jurnal INOVASI, No. 3 Th. X/2001.&lt;br /&gt; Riyadi, Dr. Ali, Dekonstruksi tradisi, kaum muda NU merobek tradisi,&lt;br /&gt; http://sejarah-komsat.blogspot.com/&lt;br /&gt; http://id.www.wikipedia.org.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-2102966340711954100?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/2102966340711954100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=2102966340711954100&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/2102966340711954100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/2102966340711954100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/06/gerakan-sosial-gerakan-mahasiswa-dan.html' title='GERAKAN SOSIAL; GERAKAN MAHASISWA DAN PERGOLAKANNYA'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-7928739244849206413</id><published>2009-06-10T11:03:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T11:07:03.509-07:00</updated><title type='text'>SOSIOLOGI AGAMA; SEKULAR-SEKULARISASI-SEKULARISME</title><content type='html'>&lt;strong&gt;1. Pengertian dan Sejarah Sekular, Sekularisasi, Sekularisme&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sekular seringkali kita pahami sebagai ajaran yang menakutkan, sehingga kita harus menghindari ajaran sekular, mengingat ajarannya yang radikal yang dapat menggulingkan keimanan seseorang serta dapat membuat orang meninggalkan ajaran-ajaran agama yang ia imani. Istilah sekular sudah di kenal oleh golongan agamawan atau cendikiawan sejak puluhan tahun yang lalu. Tidak terkecuali Islam, agam Islam juga mempunyai pemahaman sendiri terkait dengan sekular, walau porsi pemahaman serta pengimplementasian dalam kehidupan sehari-hari sangat jauh berdeda dengan orang barat (Kristen). Sebab Islam dan Kristen mempunyai perbedaan yang sangat mendasar baik sebagai agama maupun sebagai suatu peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada berbagai alasan mengapa paham Sekular muncul dikalangan orang barat pada saat itu, namun yang paling mendasar adalah problem trauma sejarah. Dalam perjalanan sejarahnya orang barat mengalami masa yang pahit, yang mereka sebut zaman kegelapan. Pada saat itu gereja mendominasi semua hal yang berkaitan dengan masyarakat baik dari sector ekonomi, budaya, politik dll. Mereka juga mengklaim sebagai institusi resmi wakil Tuhan dimuka bumi ini. Bersamaan dengan itulah gereja memanfaatkan kekuatannya melakukan tindakan brutal yang tidak manusiawi. Berangakat dari itulah para cendikiawan, masyarakat pada umumnya ingin melepaskan diri dari belenggu gereja pada saat itu. Maka timbullah paham sekular yang secara tidak langsung menentang ajaran agama Kristen yang di intervensi gereja saat itu.&lt;br /&gt;Dalam pemahami sekular, sekularisasi, maupun sekularisme, paling tidak kita akan mempunyai dua pijakan yakni, Islam atau barat (Kristen). Sebagaimana yang sudah tertulis di atas bahwa Islam dan Kristen berbeda, oleh sebab itu kita perlu memisahkan antarkeduanya dalam memahami ajaran sekular, sekularissasi, ataupun sekularisme, supaya tidak terjadi kerancuan atau benturan dalam memahaminya.&lt;br /&gt;Namun sebelum kita beranjak jauh membahas sekular, sekularisasi, atau sekularisme, alangkah baiknya terlebih dahulu kita mengetahui apa sekular itu baik dari segi bahasa maupun dari segi istilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah sekular diartikan sebagai bersifat duniawi atau kebendaan, bukan bersifat keagamaan atau kerohanian, sehingga sekularisasi berarti membawa ke arah kecintaan kepada kehidupan dunia. Norma-norma tidak perlu didasarkan pada ajaran agama. Sementara dalam ensiklopedi Indonesia, kata sekularisasi diartikan (latin: saeculum; waktu, abad, generasi, dunia) suatu proses yang berlaku sedemikian rupa, sehingga orang atau masyarakat yang bersangkutan semakin berhaluan dunia, dalam arti terlepas dari nilai-nilai atau norma-norma yang dianggap kekal dan sebagainya (1984: 3061).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekular diadopsi dari kata latin “seaculum”, yang mempunyai arti dua konotasi waktu dan lokasi: yakni waktu menunjukkan masa sekarang, sedang loksi menunnjuk kepada pengertian dunia. Artinya sekurlar adalah semua hal yang berakitan dengan dunia sekarang, peristiwa apa yang tetjadi dan berkembang di dunia ini. &lt;br /&gt;Sedang konotasi ruang dan waktu yang dibawa dalam konsep sekular ini secara historis dibawa dari pengalaman dan kesadaran yang terlahirkan dari peleburan tradisi Gracco-Roman dan tradisi Yahudi dalam Kristen Barat, peleburan dari unsur yang saling berselisih dari dari pandangan dunia Hellenik dan Yahudi yang digabung dalam kekrisstenan dengan sengaja, inilah yang kemudian di kenal para theologi dan cendikiawan Kristen sebagai problematik. Mereka menganggap apa yang terjadi pada saat itu adalah pembohongan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekularisasi didefinisikan pembebasan manusia, pembebasan dari agama, metafisika. Menurut paham sekularisasi, manusia harus terlepas dari pengerian relegius-semu. Penganut ini menginginkan manusia agar tidak terlena dengan dogma agama yang membuat manusia menjadi utopis dalam memandang hidup yang serba nyata ini dengan doktrin yang membuat mereka para penganutnya terlena oleh ajaran agama. Sekularisasi tidak hanya melingkupi aspek-aspek kehidupan sosial dan politik, namun juga menjalar keranah kultural. Itu artinya paham sekularisasi ingin membebaskan manusia yang terbelenggu oleh jerat agama, mitos-mitos yang selama ini mengikatnya, paham ini menginginkan mausia berada di atas pikirannya sendiri. Jadi, paham sekularisme intinya adalah pemisahan agama dari kehidupan. Dari doktrin ini melahirkan ide liberalisme yakni kebebasan: kebebasan beragama “freedom of believe” kebebasan berpendapat freedom of opinion” kebebasan kepemilikan “freedom of ownership” dan kebebasan berperilaku atau berekspresi “personal freedom”, pluralisme, relativitas kebenaran, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekularisasi juga didefinisikan sebagai pengakuan wewenang ilmu pengetahuan dan penerapanya dalam membina kehidupan duniawi. Dan terus berproses dan berkembang menuju kesempurnaannya. Paham ini adalah paham keduniawian, paham ini mengatakan bahwa kehidupan duniawi ini adalah mutlak dan terakhir. Tiada lagi kehidupan sesudahnya kita semua, yang hidup ini adalah makhluk sekuler, artinya kita sekarang masih berada di dalam alam sekuler duniawi karena belum pindah ke alam akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Pandangan dan Pikiran Tokoh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sekular, Sekularisasi, maupun sekularisme dewasa ini bukan hanya dikenal orang barat, melainkan sekarang sudah masuk di kalangan kaum muslimin, namun seperti yang telah dibahas di atas bahwasanya sekular dan teman-temannya itu bukanlah merupakan produk dari Islam. Orang muslim atau para tokoh ulama’nya mempunyai berbagai pendapat terkait dengan Sekular. Pendapat yang ekstrim mengatakan paham sekular secara mutlak tidak diterima di dalam Islam, sebab paham Sekular ini dapat menimbulkan keraguan atau skeptis terhadap ajaran agama Islam. Pendapat yang lain mengatakan cara berfikir sekular sah-sah saja dipelajari, karena itu merupakan pendalaman daripada ajaran agama tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad al-Naquib al-Attas. Ia mengkaji masalah sekularisasi secara holistik, dalam arti ingin menjembatani pemikir Barat dan Muslim. Menurutnya, Islam tidak sama dengan Kristen. Karenanya, sekularisasi yang terjadi pada masyarakat Kristen Barat berbeda dengan yang terjadi pada masyarakat Muslim.&lt;br /&gt;Mengawali pendapatnya tentang sekularisasi, al-Attas membedakan antara pengertian sekular yang mempunyai konotasi ruang dan waktu, yaitu menunjuk pada pengertian masa kini atau dunia kini. Selanjutnya, sekularisasi didefinisikan sebagai pembebasan manusia dalam agama dan metafisika atau terlepasnya manusia dari agama dan metafisika atau terlepasnya dunia dari pengertian religius (dalam istilah weber), pembebasan alam dari noda-noda keagamaan, sekularisme yang menunjukkan pada suatu ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, menurut al-Attas, Islam menolak penerapan apapun mengenai konsep-konsep sekular, sekularisasi maupun sekularisme, karena semua itu bukan milik Islam dan berlawanan dengannya dalam segala hal. Dengan kata lain, Islam menolak secara total manifestasi dan arti sekularisasi baik eksplisit maupun implisit, sebab sekularisasi bagaikan racun yang bersifat mematikan terhadap keyakinan yang benar (iman).&lt;br /&gt;Dimensi terpenting dari sekularisasi, menurut al-Attas, sebagaimana pendapat Harvey Cox, adalah desakrisasi atau penidak keramatan alam. Dimensi inilah yang tidak diterima oleh kalangan Kristen Barat. Sedangkan Islam menerima pengertian tersebut dalam arti mencampakkan segala macam tahayul, kepercayaan animistis, magis serta tuhan-tuhan palsu dari alam. Pengertian Islam tentang keramatan alam ini adalah pengertian wajar tanpa mendatangkan sekularisasi bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun disini perlu dibedakan antara Sekularisasi dengan Sekularisme. Menurut pendapat Cox “Sekularisasi mengimplikasikan proses sejarah, hampir pasti tak mungkin  diputar kembali. Masyarakat perlu dibebaskan dari kontrol agama dan pandangan hidup metafisik yang tertutup (closed metaphysical worldviews). Jadi, intinya, sekularisasi adalah perkembangan yang membebaskan (a liberating development). Sebaliknya, sekularisme adalah nama sebuah ideologi. Ia adalah sebuah pandangan hidup baru yang tertutup yang fungsinya sangat mirip dengan agama. Selain itu, lanjut Cox, sekularisasi itu berakar dari kepercayaan Bible. Pada taraf tertentu, ia adalah hasil otentik dari implikasi kepercayaan Bible terhadap sejarah Barat. Oleh sebab itu, sekularisasi berbeda dengan sekularisme, yaitu idiologi (isme) yang tertutup”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pandangan para cendekiawan muslim Indonesia pun berbeda-beda dalam mendefinisikan sekularisme dan sekularisasi. Nurcholish Madjid, misalnya, melihat sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme (ideologi), tetapi bentuk perkembangan yang membebaskan (liberating development). Proses pembebasan ini diperlukan umat Islam karena akibat perjalanan agamanya, mereka tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya islami itu, yakni mana yang transendental dan mana yang temporal. Oleh karena itu, sekularisasi menjadi suatu keharusan bagi umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Nurcholish Madjid, sekularisasi memperoleh maknanya dalam desakralisasi segala sesuatu selain hal-hal yang benar-benar bersifat ilahiyah (transendental), sehingga sekularisasi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk mengukhrowikannya. Dalam artian ini, konsep sekularisasi Nurcholish Madjid digunakan untuk membedakan bukan untuk memisahkan persoalan duniawi dan ukhrowi. Dengan kata lain, Nurcholish Madjid mencoba memberikan penafsiran baru mengenai peristilahan tersebut, yakni sarana untuk membumikan ajaran Islam (Islamisasi atau pentauhidan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya, pengertian tersebut digunakan pada istilah sosiologi sebagaimana pendapat Talcott Parsons, Harvey Cox dan Robert N. Bellah yang lebih merujuk pada pengertian pembebasan masyarakat dari belenggu tahayul dalam beberapa aspek kehidupan. Jadi, sekularisasi tidak berarti penghapusan orientasi keagamaan dalam norma-norma dan nilai-nilai kemasyarakatan, akan tetapi seperti pendapat Bellah adalah devaluasi radikal. Oleh karena itu, Nurcholish Madjid juga mengajukan konsep-konsep seperti sekularisasi, desakralisasi dan rasionalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan itu juga, Nurkholis Majid menambahkan “ Pembedaan antara “sekularisasi” dan “sekularisme” semakin jelas jika dianalogikan dengan pembedaan antara rasionalisasi dan rasionalisme. Seorang Muslim harus bersikap rasional, tetapi tidak boleh menjadi pendukung rasionalisme. Rasionalitas adalah suatu metode guna memperoleh pengertian dan penilaian yang tepat tentang suatu masalah dan pemecahannya. Rasionalisasi adalah proses penggunaan metode itu. Analoginya, lanjut Nurcholish, sekularisasi tanpa sekularisme, yaitu proses penduniawian tanpa paham keduniawian, bukan saja mungkin, bahkan telah terjadi dan terus akan terjadi dalam sejarah. Sekularisasi tanpa sekularisme adalah sekularisasi terbatas dan dengan koreksi. Pembatasan dan koreksi itu diberikan oleh kepercayaan akan adanya Hari Kemudian dan prinsip Ketuhanan. Sekularisasi adalah keharusan bagi setiap umat beragama, khususnya ummat Islam”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menggulirkan gagasan sekularisasinya, Nurcholish mencari justifikasi dari ajaran-ajaran Islam. Ia, misalnya, menyatakan, gagasan sekularisasi dapat dijustifikasi dari dua kalimat syahadat, yang mengandung negasi dan afirmasi. Menurut tafsirannya, kalimat syahadat menunjukkan bahwa manusia bebas dari berbagai jenis kepercayaan kepada tuhan-tuhan yang selama ini dianut, kemudian mengukuhkan kepercayaan kepada Tuhan yang sebenarnya. Dan Islam dengan ajaran&lt;br /&gt;Tauhidnya yang tidak kenal kompromi itu, telah mengikis habis kepercayaan animisme. Ini bermakna dengan tauhid, terjadi proses sekularisasi besar-besaran pada diri seorang Animis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia ditunjuk sebagai khalifah Tuhan di bumi karena manusia memiliki intelektualitas, akal pikiran, atau rasio. Dengan rasio inilah, manusia mengembangkan diri dan kehidupannya di dunia ini. Oleh karena itu terdapat konsistensi antara sekularisasi dan rasionalisasi. Kemudian, terdapat pula konsistensi antara rasionalisasi dan desakralisasi. Nurcholish melanjutkan argumentasinya, di dalam Islam ada konsep "Hari Dunia" dan "Hari Agama". Hari agama ialah masa di mana hukum-hukum yang mengatur hubungan antara manusia tidak berlaku lagi, sedangkan yang berlaku ialah hubungan antara manusia dan Tuhan. Sebaliknya, Pada Hari Dunia yang sekarang kita jalani ini, belum berlaku hukum-hukum akhirat. Hukum yang mengatur perikehidupan ialah hukum-hukum kemasyarakatan manusia.&lt;br /&gt;Nurcholish melanjutkan argumentasinya, bahwa kalimat Basmallah (Atas nama Tuhan), juga menunjukkan bahwa manusia adalah Khalifah Tuhan di atas bumi. Selain itu, al- Rahman menunjukkan sifat kasih Tuhan di dunia ini (menurut ukuran-ukuran duniawi), sedangkan al-Rahim menunjukkan sifat Kasih itu di akhirat (menurut norma-norma ukhrawi). Penghayatan nilai/ spiritual keagamaan bukanlah hasil kegiatan yang serba rasionalistis. Demikian pula sebaliknya, masalah-masalah duniawi tidak dapat didekati dengan metode spiritualistis. Keduanya mempunyai bidang yang berbeda, meskipun antara iman dan ilmu itu terdapat pertalian yang erat.&lt;br /&gt;Sebelum Nurcholish menjustifikasi bahwa akar sekularisasi ada dalam ajaran Islam, Harvey Cox sebelumnya juga sudah berpendapat bahwa akar sekularisasi ada di dalam ajaran- ajaran Bible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum muslimin menjadi sekularis. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecendrungan untuk meng-ukhrawi-kannya. Dengan demikian, kesediaan mental untuk selalu menguji dan menguji kembali kebenaraan suatu nilai dihadapkan kenyataan material, moral atapun hitoris, menjadi sifat kaum muslimin.&lt;br /&gt;Sekularisme dimaksudkan untuk lebih memantapkan tugas duniawi manusia sebagai khalifa Allah di dunia. Fungsi sebagai khalifah Allah itu memberikan ruang bagi adanya kebebasan manusia untuk menetapkan dan memilih sendiri cara dan tindakan-tindakan dalam rangka perbaikan hidupnya di atas bumi ini, dan sekaligus memberikan pembenaran bagi adanya tanggung jawab manusia atas perbuatan-perbuatan itu dihadapan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan sekularisme dan sekularisasi sebagai paham dan proses. Sekularisasi tanpa sekularisme, yaitu proses penduniawian tanpa paham keduniawian, bukan saja mungkin bahwa telah terjadi dan akan terus terjadi dalam sejarah. Sekularisasi tanpa sekularisme adalah sekularisasi terbatas dan dengan koreksi. Pembatasan dan koreksi itu diberikan oleh kepercayaan akan adanya hari kemudian dan prinsip ketuhanaan.&lt;br /&gt;Namun karena gempuran kritik yang begitu gencar terhadap istilah sekularisasi itupun ditinjau kembali oleh Nurcholis madjid. Dalam tulisannya, “sekularisasi ditinjau kembali” Nurcholis mengatakan terhadap perbedaan istilah “sekular” sekularisasi dan sekularisme itu, maka adalah bijaksana untuk tidak mengunakan istilah-istilah tersebut dan mengantikannya dengan istilah-istilah teknis lain yang lebih tepat dan netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, subtansi pemikiran Nurcholis Madjid adalah ia ingin menempatkan hal-hal yang sifatnya dunia yang profan pada tempatnya dan yang sifatnya keakhiratan atau kaitannya dengan masalah teologis juga pada tempatnya. Namun tampaknya ia kesulitan dalam menemukan istilah yang tepat sehingga menimbulkan reaksi yang bertubi-tubi.&lt;br /&gt;Dengan beberapa pandangan di atas sudah sangat jelas, bahwasanya orang yang mendalami suatu agama kita harus berproses agar kemantapan dalam menjalankan ajaran-ajran agama yang dianut ditak mentah, sekular merupakan jalan alternatif ntuk menuju apayang kita harapakan, dalam hal ini keteguhan iman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berfikir Sekular menurut saya bukan seperti halnya yang orang secara umum mendefinisikannya, artinya berfikir Sekular menurut saya meletakkan sesuatu pada tempatnya. Contoh, dalam agama Islam mengenal yang namanya kiai sebagai pewaris nabi Muhammad s.a.w itu benar. Namun akan menjadi salah ketika kiayi tersebut tidak bisa disentuh, artinya kebanyakan masyarakat terutama sekali masyarakat tradisional mengagung-ngagungkan kiayianya sehingga ia menjaga jarak, tidak bisa duduk bersama untuk diskusi mempelajari agama. Jadi paham sekular menurut saya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan tidak ubahnya sebagai sebuah keadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Madjid, Nurcholish. 1989. Islam kemoderenan dan keindonesiaan. Bandung: Mizan.&lt;br /&gt;• Madjid, Nurchlish.2000. Islam doktrin dan peradaban. Jakarta: Paramadina.&lt;br /&gt;• http://swaramuslim.net&lt;br /&gt;• Nata, Abuddin. 2005. Tokoh-tokoh pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Grafindo.&lt;br /&gt;• http://www.insistnet.com&lt;br /&gt;• Syed Muhammad Naquid Al-Attas, 1981, Islam dn Sekularisme, Pustaka, Bandung. &lt;br /&gt;• http://www.geocities.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-7928739244849206413?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/7928739244849206413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=7928739244849206413&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/7928739244849206413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/7928739244849206413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/06/sosiologi-agama-sekular-sekularisasi.html' title='SOSIOLOGI AGAMA; SEKULAR-SEKULARISASI-SEKULARISME'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-1079322607770377255</id><published>2009-06-10T11:00:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T11:03:38.708-07:00</updated><title type='text'>Rekonstruksi Pendidikan Indonesia; Model Standar Kelulusan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Rekonstruksi Pendidikan Indonesia; Model Standar Kelulusan&lt;br /&gt;Solusi atau Problem?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan hal menarik dan tak pernah habis untuk dibahas serta dikomentari. Berbagai macam problem yang muncul akibat kebijakan-kebijakan dan sistem pendidikan yang diterapkan menjadi titik yang urgen dan tentunya menarik untuk dibahas. Pembangunan pendidikan yang bertujuan memajukan taraf hidup anak bangsanya harus didasarkan pada pembangunan serius pendidikan bangsanya yang berorientasi pada jangka panjang. Namun, hal demikian sudah barang tentu memerlukan pembacaan, kritikan terkait pendidikan yang ideal, relevan dan cocok/tepat sasaran bagi kepentingan bangsa dan masyarakatnya. Pembangunan pendidikan negeri ini tak mungkin secara terus-menerus mengimpor model-model pendidikan bangsa lain, atau dalam bahasa lain mencontoh dari negara lain. Memang tidak ada salahnya meniru hal yang baik dan apalagi sudah jelas wujud keberhasilannya. Disisi lain pendidikan negeri ini harus bertumpu, berdasar pada local wisdom dari masing-masing kultur dan karakteristik yang tumbuh di dalam daerah, atau masyarakat itu sendiri. Tak lain hal ini untuk mengembangkan dan memajukan pendidikan Indonesia agar lebih menghargai kearifan lokal dan lebih inovatif model pendidikannya tanpa ada plagiasi dari negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kultur Indonesia jelas sangat berbeda dengan kultur yang dibangun atau berkembang di Eropa dan Amerika. Semestinya hal ini menjadi kontemplasi ulang pemerintah dalam mengkaji dan mengambil kebijakan. Agar kegagalan-kegalan yang telah terjadi dari setiap kebijakan yang diambil tidak terkesan coba-coba. Hal ini bisa dilihat bahwa setiap pergantian Mendiknas kurikulum (’94-KBK-KTSP) yang sudah mengakar dalam masyarakat dengan sangat terpaksa harus dirubah dan disesuaikan dengan peraturan Mendiknas. Belum lagi aturan-aturan UAN dengan standar kelulusan yang disalah satu pihak memberatkan pelajar SLTP dan SMA. Pendidikan bukan ajang untuk coba-coba. Problem pendidikan merupakan problem serius yang menjadi keharusan pemerintah untuk diselesaikan secara bijaksana dalam menerapkan aturan yang dibangun, karena pendidikan merupakan hal krusial yang tentunya dapat mempengaruhi komponen-komponen bangsa ini. Jika pendidikan suatu negeri itu bagus maka baguslah elemen-elemen bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Pokok Bahasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Reformasi pendidikan nasional secara mendasar melalui tata aturan perundang - undangan telah dimulai mulai sejak tahun 1999, yaitu sejak lahirnya Undang - Undang (UU) Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang mencantumkan bahwa pendidikan merupakan hak asasi manusia. Sementara itu, Undang - Undang Dasar 1945 Amandemen II Tahun 2000 menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak asasi manusia, sedangkan UUD 1945 Amandemen IV tahun 2002 telah mengamanatkan bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang - kurangnya dua puluh persen (20%) dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan.  Hal demikian benar adanya, namun itu semua (20% anggaran pendidikan) akan dipenuhi pemerintah pada 2009 nanti. Jadi masyarakat harus tetap terus bersabar untuk menikmati hak jaminan anggaran pendidikan negerinya sendiri. Berbagai macam kemajuan pendidikan Indonesia yang dicapai hampir membius kalangan pelajar dan pendidik. BOS (bantuan operasional sekolah) yang dicanangkan pemerintah bisa dibilang lumayan berhasil dalam mengentas dan mengurangi tingkat putus sekolah serta beban biaya generasinya. Selama kurun waktu 2005 - 2007, kata Mendiknas, program bantuan operasional sekolah (BOS) misalnya, telah membebaskan 70,3 persen murid SD/MI dan SMP/MTs dari pungutan biaya operasional. Sementara itu, lanjut Mendiknas, pada 2007 telah berhasil ditingkatkan kualifikasi akademik 81.800 guru hingga S1/D4 dan 8.540 dosen hingga S2/S3, serta sertifikasi bagi 147.217 guru di berbagai daerah. &lt;br /&gt;Namun hal ini tidak cukup untuk membangun pendidikan Indonesia. Sistem yang dijalankan harus sesuai dengan kemampuan masing-masing sekolah serta relevan dengan skill yang dimilki anak didik. Artinya standar yang dipakai berdasar atas keadaan dan sarana dan prasarana yang ada serta yang telah tersedia dilingkungannya. Aneh jika standar kelulusan siswa baik tingkat lanjut maupun tingkat menengah harus semua diglobalkan (pukul rata) sementara sarana dan prasarana baik teknologi, informasi dan tenaga pengajar kurang mumpuni atau minim pengalaman serta kwalitas. Padahal kita selalu dituntut untuk mengkaji ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus menerus melaju demikian cepat dan memperkuat arus globalisasi yang semakin deras memasuki berbagai sektor kahidupan. Derasnya arus globalisasi mendorong manusia memasuki arena pertarungan di atas gelombang pasang globalisasi, karena demikian itulah seorang dituntut memiliki berbagai bekal ilmu dan wawasan pengetahuan yang luas. Kompetensi intelektual dan ketrampilan skill yang dilandasi profesionalisme, kejelian melihat peluang dan keberanian mengambil sikap.  Bisa dibayangkan tentunya jika standar kelulusan diberlakukan sementara penunujang pendidikan kurang bahkan tidak terpenuhi. Hal yang patut ditanggapi serius pemetintah sebagai instansi yang dianggap representatif dalam regulasi dan kebijakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain sejak adanya rekonstruksi sistem kurikulum  pendidikan Indonesia dari ’94 ke KBK (kuriulum berbasis kompetensi) atau Kurikulum 2004, adalah kurikulum dalam dunia pendidikan di Indonesia yang mulai diterapkan sejak tahun 2004 walau sudah ada sekolah yang mulai menggunakan kurikulum ini sejak sebelum diterapkannya. Secara materi, sebenarnya kurikulum ini tak berbeda dari Kurikulum 1994, perbedaannya hanya pada cara para murid belajar di kelas. Dalam kurikulum terdahulu, para murid dikondisikan dengan sistem caturwulan. Sedangkan dalam kurikulum baru ini, para siswa dikondisikan dalam sistem semester. Dahulu pun, para murid hanya belajar pada isi materi pelajaran belaka, yakni menerima materi dari guru saja. Dalam kurikulum 2004 ini, para murid dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan IPTek tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas, meski sesungguhnya antar siswa saling berkompetisi. Jadi di sini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, namun meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. Dalam kegiatan di kelas, para siswa bukan lagi objek, namun subjek. Dan setiap kegiatan siswa ada nilainya. Namun sejak tahun ajaran 2006/2007, diberlakukan kurikulum baru yang bernama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang merupakan penyempurnaan Kurikulum 2004   yang kemudian memunculkan standar kelulusan Ujian Nasional bagi pelajar lanjutan (SLTP) dan pelajajar menengah (SMA) membuat carut marut pendidikan dan cukup menjadikan momok bagi siswa-siswi yang merasa kekurangan media atau sarana memadahi dari pemerintah. Tak jarang terlaksananya Ujian Nasional menjadikan siswa-siswi mencari jalan singkat untuk menempuh kelulusan. Yang terjadi kongkalikong pihak sekolah dengan pihak lain demi lulusnya anak didik mereka. Untuk kasus kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional seperti dilaporkan, di antaranya oleh Kompas (Jumat, 25 April 2008, halaman 15), kecurangan terjadi di Deli Serdang, Sumatera Utara. Hal ini berbuntut pada ditangkapnya enam belas guru dan seorang kepala sekolah ditangkap. Mereka dipergoki mengubah jawaban 284 siswa peserta, tanpa diminta oleh siswa-siswi tersebut. Kejadian itu baru diketahui polisi setelah ujian naisional (UN) hari kedua tingkat SMA usai hari Rabu siang. Dari keterangan yang ada, para guru sepakat membetulkan jawaban soal UN siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Mereka menilai mata pelajaran tersebut sulit sehingga perlu membantu siswa. Dari keterangan para guru, ide untuk membantu siswa itu berasal dari kepala sekolah.  Karena jika anak didik mereka tidak lulus maka pihak sekolah harus bersiap malu dengan keadaan yang terjadi di anak didiknya, nama baik sekolah dipertaruhkan disana. Namun disisi lain dengan adanya standar kelulusan itu peluang besar bagi sekolah berstandar nasional untuk berlomba-lomba meraih prestasi merupakan hal posistif yang patut disadari pula, pantas dan maklum kiranya jika hal itu terjadi, karena mereka dilengkapi dengan sarana dan prasarana memadahi. Hal yang sangat jelas tentunya bagi rekonstruksi pendidikan di Indonesia dengan lebih mempertimbangkan berbagai aspek yang ada, karena acap kali UN di gelar ada sebuah upaya yang akn ditempuh guna meluluskan targetan sekolah atau anak didik dan kiranya menjadi sebuah PR (pekerjaan rumah) besar bagi pemerintah. Karena di setiap tahunnya pasti ada kasus-kasus yang muncul pasca terselenggaranya UN dengan standar kelulusannya. Data menurut Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah menerima sekitar 26 laporan dugaan kecurangan pelaksanaan ujian nasional (UN) untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang berasal dari berbagai provinsi di Tanah Air. Laporan dugaan kecurangan UN SLTA 2007 diperoleh antara lain dari Bandung (Jabar), Jakarta, Padang (Sumbar), Jember dan Ngawi-Jatim. Kasus-kasus tersebut kini tengah diselidiki secara intensif oleh Tim Itjen Depdiknas.  Tak pelak jika hal-hal demikian selalu menjadi momok bagi siswa atau pun pengajar juga pemerintah tentunya sebagai pengambil kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai sistem kurikulum yang diagendakan pemerintah, muncul kurikulum baru alih-alih sebagai bentuk upaya rekonstruksi pendidikan modern. KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan) merupakan model baru rekonstruksi pendidikan Indonesia. Melihat dari seringnya pemerintah melakukan perubahan sistem pendidikan tak jarang membuat komentar praktisi-praktisi pendidikan. Bahwa anak didik terkesan sebagai percobaan pemerintah dalam kebijakannya. Hal ini yang nantinya akan dikhawatirkan sebagai ajang munculnya statement miring dari masyarakat dan juga tak jarang membingungkan pengajar dalam memanage cara mengajar anak didiknya. Karena agenda yang dulu belum selesai (KBK) muncul agenda sistem baru yang juga tak kalah rumit dan membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam wujud kurikulum itu sendiri tak lepas dari berbagai macam elemen-elemn yang terkumpul di dalamnya. Dalam kurikulum ada berbagai macam komponen yang terkandung didalamnya, tidak semena-mena tentunya kurikulum itu dibuat sebagai acuan dalam pendidikan. Tidak cukup sebagai kumpulan matakuliah saja tentunya kurikulum itu. Kurikulum meliputi aspek isi, metode, orientasi, komposisi dan sistem evaluasi.  Aspek-aspek dari masing-masing komponen inilah yang harus menjadi titik pokok pemerintah dalam memikirkan pembangunan atau untuk merekonstruksi pendidikan Indonesia agar lebih tepat sasaran dan lebih berkembang serta maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Tawaran Solusi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tak pantas dan merupakan etika keilmuan bahwa tak cukup hanya dengan kritik saja, tapi harus ada upaya perubahan paling tidak sebuah tawaran gagasan atau ide yang dihasilkan. Sebagai sebuah bahan referensi untuk mewujudkan pendidikan negeri yang diinginkan. Masyarakat Indonesia yang besar dan tersebar di berbagai pulau yang demikian luas, tidak bisa masalah pendidikan diatasi dengan cara-cara konvensional seperti sekarang ini. Untuk itu perlu ada keberanian melaksanakan perubahan dengan cara sebagai berikut.&lt;br /&gt;Pertama, melaksanakan perubahan pendidikan dengan cara pendidikan massal dalam hal kecanggihan teknologi informasi (TI) atau information communication technology (ICT) dalam menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. Pemerintah perlu meningkatkan peran pendidikan jarak jauh dengan menggunakan TI dan ICT ini.&lt;br /&gt;Kedua, kearifan lokal masing-masing daerah atau otonomi daerah harusnya menjadi prioritas dalam meningktakan mutu pendidikan didaerahnya yang kemudian tumbuh berkembang sesuai atuaran yang telah ada. Karena hanya merekalah yang mampu menyelesaikan problemnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal ini, pemerintah perlu belajar ke India atau China. Walaupun negara besar tersebut masih setingkat kita, soal penyelesaian pendidikan melalui TI atau ICT, mereka jauh lebih maju. Dengan cara ini pemerataan menikmati pendidikan bagi semua warga negara akan meningkat dan masalah pendidikan dalam maupun luar sekolah bisa diatasi. Dengan cara ini jumlah orang yang melek huruf (bisa membaca) bisa meningkat dan cara ini akan bisa memperkecil angka HDI (human development indeks) karena jumlah angka mereka yang buta huruf merupakan komponen dari perhitungan HDI.&lt;br /&gt;Ketiga, penuhi segala kebutuhan pendidikan baik sarana dan prasarana yang ada sesuai standar yang dikeluarkan pemerintah. Artinya tidak ada timpang tindih antara kebijakan dan fasilitas (tenaga penagajar, ruang kondusif dan nyaman) dimasing-masing sekolah. Supaya proses KBM (kegiatan belajar mengajar) dapat terealiasasi dengan baik dan tepat. Jika hal ini tidak mampu dipenuhi oleh pemerintah maka tak layak pemerintah menuntut kebijakannya dipenuhi oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Keempat, ciptakan kurikulum yang memuat, memotivasi berbagai macam skill yang dimiliki oleh pelajar. Memang KTSP bentuk dari agenda mengembangkan kreatifitas dan skill anak didik, namun bagaimana KTSP itu mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi anak didik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, semangat kerja keras perlu ditumbuhkan berdasarkan filosofi budaya luhur Ki Hajar Dewantara yang kita punyai: sing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani. Untuk mewujudkan pendidikan yang tepat sasaran dan tentunya mampu memberiakn inspirasi anak didik untuk belajar giat, berdedikasi tinggi untuk negeri, dan mampu memecahkan problem yang dihadapi bangsa dan negaranya. Sebagai tanggungjawabnya terhadap tanah air dan sekaligus sebagai generasi masadepan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Vedi R. Hafidz dan Daniel Dakidhae, Ilmu Sosial dan kekuasaan di Indonesia, Equinox, Jakarta; 2006&lt;br /&gt;- Buku Panduan Pembinaan dan Pengembangan Kegiatan Kemahasiswaan, UIN Suka  tahun 2006&lt;br /&gt;- http://www.depdiknas.go.id&lt;br /&gt;- http://indonesiasaram.wordpress.com&lt;br /&gt;- KOMPAS Jumat, 25 April 2008, hal.15&lt;br /&gt;- http://www.eramuslim.com&lt;br /&gt;- http://id.wikipedia.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-1079322607770377255?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/1079322607770377255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=1079322607770377255&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1079322607770377255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1079322607770377255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/06/rekonstruksi-pendidikan-indonesia-model.html' title='Rekonstruksi Pendidikan Indonesia; Model Standar Kelulusan'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-5522526025905747194</id><published>2009-06-10T10:49:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T10:55:11.454-07:00</updated><title type='text'>MADZAB FRANKFURT I; (Max Horkheimer, Theodor W. Adorno dan Herbert Marcuse)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;A. Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di berbagai belahan dunia, berbagai macam teori-teori muncul dari pemikir-pemikir hebat pada zamannya. Mulai dari Auguste Comte, Hegel, Marx, Weber, Parson hingga generasi-generasi penerus mereka. Tak hayal kemudian, pendidikan dan daya nalar brilian yang dimiliki memberikan nilai tersendiri bagi masing-masing penerusnya. Institute-institute ataupun pendidikan formal yang mendidik mereka malahirkan pemikir-pemikir hebat. Mazhab Frankfurt salah satu contohnya yang kemudian menjadi sebuah rujukan teoritis keilmuan diberbagai belahan dunia, diajarkan dan dipejari mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazhab Frankfurt ini melahirkan beberapa pemikir hebat sebagai generasi penerus sekaligus pencetus gagasan baru didunia keilmuan. Horkheimer, Theodor Adorno dan Herbert Marcuse yang juga kemudian diteruskan oleh Habermas dalam kancah keilmuan komunikasi. Bagaimana Mazhab ini muncul dan bagaimana perkembangannya?  Dan bagaimana pula pemikiran-pemikiran tokoh-tokohnya? Untuk lebih lebih jelasnya beberapa uraian dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. SEJARAH MADZHAB FRANKFRUT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Istilah “Madzhab Frankfrut” (die Frankfruter Schule) digunakan menunjukkan untuk menunjukkakn sekelompok  sarjana yang bekerja pada institute for Sozialforschung (lembaga untuk penelitian sosial) di Frankfrut am Main. Lembaga ini di dirikan pada 03 februari tahun 1923 oleh Felix J. Weil, anak seorang pedagang gandum yang kaya raya dan sarjana dalam ilmu politik, dengan bantuan ayahnya. Maksudnya ialah membentuk sebuah pusat penelitian social yang independent dan yang mempunyai dasar finansial sendiri, untuk dapat menyelidiki beberapa persoalan social yang entah karena apa tidak di tangani oleh pusat penelitian pada waktu, seperti misalnya sejarah gerakan kaum buruh dan asal-usul antisemitisme. Oleh karenanya Instute penelitian ini tidak mau tergantung pada Universitas Frankfrut, yang pada saat itu masih muda, biarpun beberapa anggotanya mengajar di universitas tersebut. Kebanyakan anggotanya merasa simpati kepada Marxisme dan beberapa di antaranya menjadi anggota partai komunis Jerman, sehingga oleh mahasiswa Institut Penelitian ini dijuluki sebagai Café Marx (Cafe = warung kopi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Institut penelitian Sosial di Frankfrut mencapai sebuah periode keemasan, ketika Max Horkheimer menjadi direkturnya pada tahun 1930, Horkheimer mendirikan suatu majalah baru, Zeitschrift fur Sozialforschung (Majalah/jurnal penelitian social), yang menjadi salah satu majalah terkemuka dalam bidangnya. Sudah sejak prmulaannya, Institut penelitian di Frankfrut mengumpulkan sarjana-sarjana dari berbagai pelbagai bidang keahlian, supaya berbagai persoalan yang menyangkut masyarakat dapat di pelajari dari berbagai segi ilmiah. Keahlian Horkheimer sendiri adalah filsafat social. Di antara rekan-rekan terdekatnya seperti: Fedrich Pollock (ekonomi), Leo Lowenthal (sosiologi kesusastraan), Walter Benjamin (ilmu kesusastraan), Theodor W.Adorno ( musikologi, filsafat, psikologi, sosiologi), Erich Fromm (psikoanalisis), dan Herbet Marcuse (filsafat). Marcuse di terima dalam Institut Penelitian, sehingga banyak artikel-artikel dalam majalahnya mampu di pandang sebagai buah diskusi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah sejak timbulnya nasional-sosialisme, Horkheimer dan kawan-kawannya mengeritik dan menentang aliran politik ini. Apalagi, kebanyakan anggota Institut Penelitian keturunan yahudi. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa Institut Penelitian ini di tutup atas perintah pemerintahan nasional-sosialis, ketika Hitler mulai berkuasa pada tahun 1933. Sudah beberapa tahun sebelumnya Horkheimer menerka akan terjadi perkembangan serupa dan karenanya telah mendirikan beberapa cabang di luar negeri, yaitu di London, Jenewa, dan Paris. Setelah mereka mengungsi dari Jerman, majalahnya di terbitkan di Paris sampai tahun1940.  Tidak lama kemudian menjadi jelas bahwa Prancis pun tidak selamanya aman untuk melanjutkan pekerjaan Instit Penelitian. Pada tahun 1943 Horkheimer berangkat ke  Amerika Serikat untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan disana dan dengan gembira ia menerima tawaran rektor Colombia University di New york, agar Institut Penelitian akan bermukim di kampus universitas tersebut. Pada tahun yang sama hamper semua anggota Institut Penelitian pindah ke New york. Mereka dapat meneruskan pekerjaannya dengan tenang, antara lain karena modal yayasan pada waktu itu sudah di selamatkan ke luar negeri, sehingga tidak mungkin disita oleh pemerintah nasional-sosialis. Di New york pusat penelitian mereka beroprasi di bawah International Institut of reseach.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tahun 1949 dan 1950 Horkheimer, Adorno, dan Pollock pulang ke Jerman. Institut fur Sozialforshchung di Frankfrut   di bangun kembali dan-lain dari pada zaman sebelum perang-berafiliasi  dengan universitas. Sekembalinya di tanah air, Lembaga Penelitian mencapai puncak pengaruhnya dalam kalangan intelektual khususnya pada mahasiswa. Dalam tahun 60-an pemikiran Lembaga penelitian terutama menjadi sumber inspirasi bagi Sozialisticher Deutscher Studentenbund (SDS) ini berlangsung sampai kira-kira tahun 1967, ketika SDS mulai menerima kekerasan sebagai cara beraksi. Ketika itu terjadi perpecahan antara aktivis-aktivis  mahasiswa dan pemimpin–pemimpin Madzhab Frankfrut. Setelah kembalidari Amerika, Horkheimer dan Adorno di angkat sebagai profesor di universitas. Malah Horkheimer dipilih sebagai rector universitas pada tahun 1951 (biarpun ia tetap memegang kewarganegaraan Amerika). Marcuse, Lowenthal, dan Fromm tinggal di Amerika. Di antara sarjana-sarjana muda yang bergabung dengan Madzhab Frankfrut setelah institut Penelitian bermukim lagi di Frankfrut, boleh disebut juga Jurgen Habermas dan Alfred Schmidt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Filsafat yang di praktekkan dalam Madzhab Frankfrut di kenal sebagai “teori kritis”. Kalau kita ingin menentukan kedudukan teori kritis dalam rangka sejarah filsafat, maka terutama tiga factor harus dikemukakan: teori kritis secara khusus di pengaruhi di pengaruhi oleh Hegel, Marx, dan Freud. Yang di kenal agak umum ialah peranan filsafat Karl Marx dalam pemikiran para anggota Madzhab Frankfrut, sampai-sampai ajaran mereka tidak jarang di tunjukkan dengan nama “neomarxisme”.&lt;br /&gt;Tetapi oleh pengikut-pengikut Madzhab Frankfrut Marx di pandang dengan cara lain dari pada yang lazim di buat pada waktu itu.  Untuk interpretasi baru itu yang lain memainkan peranan penting adalah karya Karl Korsch Marxismusund Philosophie (19230) (Marxisme dan filsafat). Korsch berkaitan erat dengan Institut Penelitian pada tahun-tahun pertama berdirinya. Karyanya yang di sebut tadi dimuat dalam Archif fur Geschichte des Sozialismus und der Arbeiterbewegung, publikasi yang di pimpin oleh Carl Grunberg, direktur Institut Penelitian sebelum Horkheimer. Berdasarkan antara lain karya Korsh ini, para anggota Institut Penelitian mengerti Marx dalam hubungan erat dengan filsafat Hegel. Mereka lebih mengutamakan dan menekankan pemikiran Hegelian dari pada pemikiran Marx. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah sejak tahun-tahun pertama berdirinya Institut Penelitian, Horkheimer dan berebapa rekannya menaruh minat akan Psikoanalisis Freud, sebab dari Psikoanalisis mereka harapkan banyak   bantuan lagi bagi penyelidikan maslah-masalah social. Horkheimer memelihara kontak pribadi dengan beberapa ahli Psikoanalisis di Frankfrut dan sejak nomer pertama majalah Zeitschrift fur Sozialforschung Erich Fromm memberikan sumbangan artikel tentang Psikoanalisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horkheimer mendukung terbentuknya “Institut Psikoanalisis di Frankfrut (Institut Freudian pertama yang secara resmi berhubungan denga suatu universitas), sehingga Sigmund Freud sendiri menulis dua surat kepadanya untuk mengucapkan rasa syukurnya. Tetapi percobaan untuk mengintegrasikan psikoanalisis Freud dalam pandangan marxistis tentang masyarakat baru di lontarkan sungguh-sungguh, ketika ErichcFromm menjadi anggota penuh Lembaga Penelitian sesudah perpindahannya ke Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. FASE-FASE TEORI KRITIS MAZHAB FRANKFURT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Fase-fase Pertama, pembentukan aliran tahun1923-1933 Direktur pertama lembaga itu adalah Carl Grunberg, seorang ekonom dan sejarahwan sosial. Grunberg berhasil mengarahkan kajian teoritis Aliran Frankfurt lebih berorintasi empiris. dan menekankan pentingnya pendekatan ekonomi maupun dalam mengkaji fenomena-fenomena sosial.&lt;br /&gt;- Fase Kedua, fase pengungsian anggota Aliran Frankfurt ke Amerika Utara, fase pengungsian anggota Aliran Frankfurt ke Ameika Utara pada tahun 1933-1950. Dimasa pengungsian ini, gagasan-gagasan teori kritis Neo-Hegelian mulai dijadikan dasar pemikiran kegiatan berbagai lembaga Frankfurt. Horkhemeir menjadi direktur pada fase ini. Dialah yang melakukan re-orientasi teoritis dan pendekatan yang kemudian menjadikan kajian-kajian teoritis para pendahulunya.&lt;br /&gt;- Fase Ketiga, perkembangan aliran Frankfurt mulai pada awal 1950 sampai 1973. pada fase ini, pengaruh aliran ini mulai memudar dengan meninggalnya Adorno tahun 1969 dan Horkheimer tahun 1973. Dengan kematian dua tokoh terkemuka praktis aliran Frankfurt terhenti. Aliran itu tidak lagi berperan dalam dunia pemikiran sosial.tidak lagi berperan dalam dunia pemikiran social. Dan fase selanjutnya diteruskan oleh Habermas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. ASUMSI DASAR MADZHAB KRITIS FRANKFURT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Kritis terhadap masyarakat. Teori Kritis mempertanyakan sebab. Teori Kritis mempertanyakan sebab-sebab yang mengakibatkan penyelewengan-penyelewengan dalam masyarakat. Struktur masyarakat yang rapuh ini harus diubah.Struktur masyarakat yang rapuh ini harus diubah.&lt;br /&gt;- Kritis berpikir secar historis, artinya berpijak pada proses masyarakat yang historis. Dengan kata lain teori kritis berakar pada suatu situasi pemikiran dan situasi sosial tertentu, misalnya material-ekonomis.&lt;br /&gt;- Teori kritis tidak menutup diri dari kemungkinan jatuhnya teori dari kemungkinan jatuhnya teori dalam suatu bentuk ideologis yang dimiliki oleh struktur dasar  masyarakat. Inilah yang terjadi pada pemikiran filsafat modern. Menurut Madzhab Frankfurt, pemikiran tersebut telah berubah menjadi ideologi kam kapitalis. Teori harus memiliki kekuatan, nilai dan kebebasanuntuk mengkritik dirinya sendiri dan menghindari kemungkinan untuk menjadi ideologi.&lt;br /&gt;- Teori kritis tidak mmisahkan teori dar praktek, pengetahuan dari tindakan, serta rasio teoritis dari rasio praktis. Perlu digarisri rasio praktis. Perlu digarisbawahi bahwa rasio praktis tidak boleh dicampuradukkan dengan rasio instrumental yang hanya memperhitungkan alat atau sarana semata. Madzhab Frankfurt menunjukkan bahwa teori atau ilmu yang bebas nilai adalah palsu. Teori kritis harus selalu melayani transformasi praktis masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. RIWAYAT HIDUP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1) MAX HORKHEIMER (1895-1973)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Zuffenhausen, dekat kota Stuttgart. Ayahnya adalah pengusaha tekstil yang kaya raya dan Max di harapkan menjadi penggantinya. Tetapi setelah mencari pengalaman di bidang bisnis, baik di Jerman maupun di luar negeri , ia memutuskan akan belajar Filsafat. Ia mengikuti kuliah di universitas Munchen, Freiburg, dan Frankfrut. Untuk pertama kalinya perhatiannya tarik oleh filsafat, ketika ia membaca buku Schopenhauer Aphorismenzur Lebensweisheit (pepatah-pepatah tentang kebijaksanaan hidup). Dan di kemudian hari  Schopenhauer tetap akan memainkan peranan penting dalam pemikirannya. Sesudah perang dunia I, ia mulai mempelajari karya-karya Karl Marx. Apa yang terjadi di eropa selama perang (1914-18) dan juga revolusi Rusia (1917) telah meyakinkan dia bahwa filusuf harus memperhatikan masyarakat dan persoalan-persoalannya lebih dahulu dari pada individu saja. Apalagi, Marxisme dianggapnya suatu ajaran yang sangat berguna untuk mencari jalan keluar dari masalah-masalah yang di hadapi Jerman sehabis perang. Bersama marx, ia berpendapat bahwa masyarakat yang lebih baik hanya dapat di wujudkan oleh Revolusi. Dan juga ia mempertahankan keyakinannya bahwa di Jerman pada saat itu (periode sesudah Perang dunia ke I) suatu Revolusi yang diadakan oleh kaum buruh bersama intelektual sebenarnya dapat menjatuhkan nasional-sosialisme, biarpun pada kenyataanya bukan itulah yang terjadi. Sebab, kita tahu bahwa rezim Hitler di jatuhkan oleh penggabungan antara tiga negara besar, yaitu dua kapitalistis dan satu komunitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1922 Horkheimer menjadi doctor filsafat yang pertama dari Universitas Frankfrut dengan sebuah disertasi tentang Kant, di bawah bimbingan Hans Cornelius, filsuf neokantian, dan profesor di Frankfrut yangpengaruhnya sangat mendalam atas diri Horkheimer. Tiga tahun kemudian ia menerbitkan bukunya yang pertama yang di bawakan sebagai Habilitationsschrift di Frankfrut, berjudul Kants Kritik der Urteiskraft als Bindeglied zwischen theoretischer und praktischer philosophie (1925) juga di bawah bimbingan Cornelius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2) THEODOR W. ADORNO&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Frankfrut pada tahun 1903.Ayahnya, Wiesngrund, adalah seorang pedagang anggur, keturunan Yahudi. Ibunya di kenal sebagai seorang penyanyi ternama sebelum nikah. Sejak kecilnya Theodor di liputi suasana musik dan pada muda nya ia belajar sosiologi, filsafat, dan musik. Ia mengenal Horkeimer sejak mereka bersama ikut seminar Prof. Cornelius tentang Husserl (1922). Mereka menjadi sahabat untuk seumur hidup dan akan bekerjasama dalam bidang intelektual sebagaimana jarang terdapat dalam sejarah pemikiran. Ia  mendapat gelar “doctor filsafat” atas dasar sebuah disertasi tentang fenomenologi Husserl. Lalu dia berangkat ke Wina untuk memperdalam pengetahuannya tentang musik (pada Eduard Steuerman dan Alban Berg). Sesudah tiga tahun disana, ia kembali lagi ke Frankfrut dan mempersiapkan Habilitationsschrift tentang Kierkegaard: Konstruktion des Aesthetischen (1933). Ia menulis beberapa artikel untuk Zeitschrift fur Sozialforschung tentang sosiologi musik, tetapi baru pada tahun 1938 (di Amerika Serikat) ia menjadi anggota Lembaga Penelitian Sosial secara resmi. Dalam tahun 40-an Horkheimer dan Adorno mulai bekerjasama dalam menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berbeda dengan Horkheimer, Adorno mempunyai kesan bahwa nasional-sosialisme merupakan suatu gejala yang cepat akan lewat dan agak lama ia tinggal di Jerman. Sejak tahun 1934 ia berada di Oxford, Inggris, dan akhirnya beremigrasi juga ke Amerika Serikat, dimana antara lain ia bekerja dalam rangka Princenton Radio Reseach Project yang dipimpin oleh sosiolog Paul lazarsfeld, juga seorang emigran dari Jerman. Disana bersama dengan Horkheimer ia menulis buku Dialektik der Aufklarung (1947) (Dialektika Pencerahan). Karya yang menjadi masyhur dalam kalangan paling luas ialah The Authoritarian Personality (1950), yang di tulis oleh Adorno dan bekerjasama dengan Else Frenkel-Brunswik, Daniel J. Levinson, dan R. Nevitt Sanford. Studi tentang kepribadian otoriter ini dilatarbelakangi pengalamannya dengan fasisme di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tahun 1949 Adorno pulang ke Jerman untuk mendirikan kembali Institut Penelitian Sosial bersama sahabatnya, Horkheimer, dan serentak juga menjadi Profesor di Universitas Frankfrut. Jika Horkheimer mencapai umur pension pada tahun 1958, Adorno menggantikannya sebagai direktur Institut Penelitian Sosial di Frankfrut, sampai saat kematiannya pada tahun 1969.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3) HERBERT MARCUSE (1898-1979)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lahir pada 19 Juli 1898 di Berlin, Marcuse dibesarkan yang nyaman di atas kelas menengah Yahudi lingkungan.  Dalam 1916, pada ketinggian Perang Dunia I, ia dipaksa untuk menyelesaikan Gimnasium Nya (yakni, SMA swasta) studi di masa percepatan program agar dirancang menjadi Imperial German Army. Setahun kemudian, ia bergabung dengan Partai Sosial Demokrat (partai sosialis Jerman).  Dengan kekalahan dari Jerman pada 1918, bergabung dengan pemberontakan Marcuse bertahap oleh para pekerja dan tentara untuk memprotes pemerintah pengelolaan bencana perang dan runtuh dari ekonomi Jerman.  Beliau menjabat sebentar di Soldier's Council di Berlin. Yang didirikan di Republik Weimar setelah mengalahkan Kaiser yang gagal untuk memecahkan masalah politik dan ekonomi yang diciptakan oleh perang.  Marcuse diri dari politik sehari-hari yang revolusioner upheavals dan terdaftar di Universitas Humboldt di Berlin.  Dia segera ditransfer ke dia studi di Universitas Freiberg untuk belajar dengan unggulan existentialist filsuf Jerman Martin Heidegger. Di antara tahun 1920 dan 1932, dia pindah kiri di kalangan intelektual.  Di antara teman-temannya orang Jerman kritikawan Walter Benjamin filsuf dan Max Horkheimer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1932, ia bergabung dengan Marxist-dipengaruhi Lembaga Penelitian Sosial di Universitas Frankfurt.  Tahun berikutnya yang datang ke pihak Nazi kuasa dan ditutup Institute, kemudian ia pindah ke Amerika Serikat dan kembali dibuka di Universitas Columbia di New York City. Selama tahun 1940-an, Marcuse, seperti sejumlah lainnya emigran Jerman intelektual, bekerja untuk beberapa badan intelijen Amerika Serikat.  Setelah dia meninggalkan layanan pemerintah, ia mengajar di Columbia, Harvard, Brandeis, dan University of California, baik di San Diego dan Santa Cruz kampus. Awal pada akhir 1930an, Marcuse menjadi tertarik pada hubungan kebebasan dan kebahagiaan.  Dalam sebuah karangan yang disebut "Pada hedonisme" (1938), ia mengembangkan argumen bahwa tanpa kebebasan untuk memenuhi kebutuhan satu dan bertindak untuk mencapai pemenuhan diri, sebenarnya kebahagiaan itu mustahil. Jika kebebasan tidak mungkin karena kondisi sosial dan ekonomi, maka kondisi tersebut harus diubah dalam rangka mencapai peningkatan kebahagiaan dan kebebasan. &lt;br /&gt;Herbert Marcuse (1898-1979) mulai dikenal luas sebagai seorang filosof, sosiolog, dan aktivis politik sejak tahun 1960an di Amerika Serikat. Bahkan oleh beberapa media ia dijuluki sebagai "father of the New Left" karena sikap menentangnya terhadap kehidupan masyarakat kapitalis. Hal ini terlihat khususnya dari pemikiran sintesis Marcuse atas teori Marx dan Sigmund Freud yang dia rumuskan pada 1955 dalam bukunya, Eros and Civilization, dan One-Dimensional Man pada tahun 1964. Herbert Marcuse dilahirkan di Berlinpada tahun 1898 dalam asuhan sebuah keluarga Yahudi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memenuhi tugas wajib militernya di Jerman pada Perang Dunia I, dia lantas pergi ke Freiburguntuk menyelesaikan studinya. Marcuse mendapatkan gelar Ph. D pada tahun 1922, lantas ia berkarir dalam bidang penerbitan di Berlin, namun tak lama kemudian dia kembali ke Freiburg pada tahun 1928 untuk belajar Filsafat bersama Martin Heidegger yang kemudian membawanya menjadi salah seorang pemikir paling berpengaruh di Jerman. Artikel Marcuse diterbitkan pertama kali pada tahun 1928, artikel tersebut merupakan pemikiran sintesis Marcuse tentang fenomenologi, eksistensialisme, dan Marxisme. Pemikiran Sintesis inilah yang nantinya akan dipakai kembali oleh beberapa filosof Marxis lain seperti Jean-Paul Sartre dan Maurice Merleau-Ponty, begitu juga oleh para mahasiswa dan kaum intelektual gerakan New Left di Amerika Serikat. Meski Marcuse tidak pernah kembali tinggal di Jerman, dia mendapatkan kedudukan sebagai guru besar di Frankfurt School, bersama-sama dengan Max Horkheimer dan Theodor Adorno. Pada tahun 1940 dia memublikasikan Reason and Revolusion, sebuah buku yang membahas tentang dialektika antara pemikiran Hegel dan Marx. Selama Perang Dunia II ia bekerja untuk U.S. Office of War Information (OWI), sebuah proyek pemerintah Amerika Serikat yang berhubungan dengan propaganda anti-Nazi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1943 dia dipindahkan ke Office of Strategic Services (OSS) yang salah satu misinya adalah penelitin tentang Nazi dan Denazifikasi. Setelah itu pada 1945, Marcuse dipekerjakan dalam Department of State Amerika Serikat sampai 1951 sebagai Kepala Urusan Eropa, kemudian dia berhenti setelah kematian istrinya yang pertama pada tahun yang sama.  Pada 1952 dia mulai berkarir sebagai pengajar ahli dalam bidang politik, karir pertamanya yaitu di Columbia dan Harvard University. Kemudian ia berpindah ke Brandeis University dari tahun 1958 sampai 1965. Di Universitas inilah Marcuse mendapatkan gelar professornya dalam bidang filsafat dan politik. Lantas ia berpindah ke University of California,San Diego, hingga akhir hayatnya. Selain tercatat sebagai salah satu anggota mazhabFrankfurt, Marcuse juga merupakan teman sekaligus kolaborator sosiolog dan sejarawan Barrington Moore Jr dan filosof politik Robert Paul Wolff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F. PEMIKIRAN TOKOH MAZHAB FRANKFURT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Max Horkheimer&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Horkheimer sebagai tokoh yang dianggap menetapkan prinsip-prinsip dasar Frankfurt School dalam melakukan kritik epistemology dan kritik peradaban industrial (Bullock dalam Ahmad Suhelmi, 1999: 276) yang kemudian memunculkan sebuah tulisan berjudul Traditionelle und Kritiche Theory (teori tradisional dan teori kritis) yang dipaparkannya pada tahun 1937 dan dilatarbelakangi oleh kegagalan perjuangan kelas pekerja di Jerman dan Soviet. Horkheimer membedakan teori kritis dan teori tradisional yang ditandai oleh perbedaan tegas antara pengamat dengan subyek kajian.&lt;br /&gt;Dalam berpikir teoritis tradisional, asal-usul fakta obyektif khusus, penerapan praktis dari system konseptual untuk memahami fakta-fakta, dan peran beberapa system tindakan, semuanya diterima sebagai eksternal dari berpikir teoritis itu sendiri.&lt;br /&gt;Alienasi ini, yang menemukan ungkapan dalam terminology filsafat karena pembedaan nilai-penelitian, pengetahuan-tindakan, dan sifat-sifat berlawanan yang lain, melindungi ketegangan dimana kita telah tunjukan dan sediakan sebagai kerangka jaminan untuk aktifitas mereka (Horkheimer dan Paul Connerton, 1976: 219).&lt;br /&gt;Kemudian Horkheimer menyatakan posisi teori kritis sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Kesadaran berpikir tentang dirinya disederhanakan penemuan hubungan yang berjalan antara posisi intelektual dan lokasi social mereka.&lt;br /&gt;b. Struktur sikap kritis, karena sebagian kemauan menembus cara tindakan social yang berlaku, tidak lebih tertutup berhubungan dengan disiplin social, kemudian memahami ini lebih dari ilmu alam.&lt;br /&gt;c. Realitas obyektif yang diberikan persepsi dipahami sebagai produk dimana secara prinsip harus di bawah kendali manusia, sehingga dimasa depan setidak-tidaknya akan menjadi fakta terkendali, dan realitas-realitas ini kehilangan waktu faktualitas yang murni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horkheimer juga menyatakan bahwa teori-teori filosofis dan ilmu social yang menyatakan diri murni deskriptif, sesungguhnya tidak menggambarkan murni seperti itu, tetapi sekaligus membenarkan. Artinya, kata deskriptif bukan sekedar menunjukkan penggambaran, melainkan juga menunggalkan evaluasi tersembunyi yang juga bisa dikatakan sebagai ideologis. Dengan demikian, obyektifitas ilmu social dan filasafat bersifat semu, sebab dibelakangnya tersembunyi kepentingan-kepentinagn struktur kekuasaan untuk tidak diganggu gugat. Obyektifitas itu perlu dirobek (Franz Magnis Suseno dalam FX Mudji Sutrisno dan F. Budi Haadiman (editor), 1992: 148). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Theodor W. Adorno&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam karyanya bersama Horkheimer berjudul Dialectic of Enlightenment, Adorno berusaha memberikan analisis konseptual tentang bagaimana Pencerahan, yang pada mulanya ditujukan untuk mengamankan kebebasan dari ketakutan dan otoritas manusia, berubah menjadi beberapa bentuk dominasi politik, sosial, dan budaya dimana manusia kehilangan individualitas dan masyarakat kehilangan makna kemanusiaan. Analisis ini diberikan dengan penjelasan tentang motif konseptual dari proses rasionalisasi masyarakat--dalam konteks Weberian--dimana dominasi kapitalis merupakan bahaya terbesar yang muncul darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep sosiologi yang diformulasikan Adorno dimulai dengan usaha untuk memahami kaitan antara musik dan masyarakat. Pada terbitan pertama jurnal yang dipublikasikan Institut Penelitian Sosial Frankfurt, Adorno menulis essay berjudul On the Social Situation of Music, yang memaparkan beberapa temuan-temuan sosiologis. Essay ini penting karena analisis musik adalah awal dari refleksi sosiologis Adorno, yang bertujuan untuk menyingkap kandungan sosiologis dalam tekstur karya estetis. Hal ini berlanjut dengan penemuan apa yang disebut mediasi sosial, yang berarti kesalingterpengaruhan antara yang universal dan partikular; masyarakat dan individu.&lt;br /&gt;Objek sentral dalam teori kritis Adorno adalah hubungan saling keterpengaruhan antara pertentangan-pertentangan dalam masyarakat sebagai sebuah totalitas dan bentuk konkrit kehidupan subjek-subjek dalam masyarakat. Teori kritis diorientasikan pada ide tentang masyarakat sebagai subjek, dengan individu sebagai pusat. Sebuah teori menjadi ”kritis” dengan menegasikan ketidakadilan, egoisme, dan alienasi yang dihasilkan oleh kondisi sosial dibawah ekonomi kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya pemikiran Adorno sekaligus juga Hoekheimer dalam Cultural Studies yang telah dinyatakan secara terang-terangan dan tegas dalam judul essai mereka ‘Industri Kebudayaan-Pencerahan Sebagai Pembohong Massal’ (The Culture Industry-Enlightenment As Mass Deception) (Adorno dan Horkheimer, 1979). Mereka berpendapat bahwa produk cultural adalah komoditas yang dihasilkan oleh industry kebudayaan yang meski demokratis, individualistis dan beragam, namun pada kenyataannya otoriter, konfortmis dan sangat terstandardisasi. Jadi, kebudayaan membubuhkan stempel yang sama atas berbagai hal. Film, radio dan majalah menciptakan suatu system yang seragam secara keseluruhan untuk semua bagian’ (Adorno dan Horkheimer, 1979; 120). Keragaman produk industry kebudayaan adalah suatu ilusi untuk ‘sesuatu yang disediakan bagi semua orang sehingga tak seorang pun bisa lari darinya’ (Adorno dan Horkheimer, 1979; 123).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adorno (1941) memandng music pop, khususnya jazz, sebagai suatu polesan, miskin dengan orisinalitas dan tidak memerlukan terlalu banyak usaha oleh audiennya. Bagi Adorno, tujuan music standar adalah reaksi standard an penegasan atas kehidupan bagaimana adanya. Ini bukan Cuma soal makna yang tersembunyi, namun soal penstrukturan psikis manusia secara konformis. Adorno mengganti istilah ideology (sebagai ide) dengan psikologi Freudian saat menyatakan industry kebudayaan, bersama dengan keluarga, memproduksi ‘kelemahan ego’ dan ‘kepribadian otoriter’&lt;br /&gt;Sebaliknya, seni kritis Adorno tidak berorientasi pada pasar dan menantang standar logika masyarakat yang ter-reifikasi. Menurut Adorno, contohnya adalah music atonal (tanpa nada) Schoenberg, yang menurutnya, memaksa kita berpikir tentang cara baru dalam melihat dunia ini. Kita bisa mencatat bahwa kritik yang ditemukan ini benar-benar soal bentuk ketimbang isi, khusunya aliran non-realisme dan sifat ‘asing’ seni yang memberikan inspirasi melalui ‘negatifitas utopis’-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Herbert Marcuse &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya One Dimensional Man, Marcuse melalui kacamata Marx dan Freud mencoba untuk menganalisis akar-akar fenomena masyarakat kapitalis yang merupakan akar dari adanya budaya konsumerisme. Secara garis besar Marcuse mengatakan dalam tesisnya bahwa segala kehidupan dalam masyarakat kapitalis diarahkan kepada satu tujuan, yaitu peningkatan sistem kapitalisme. Dengan demikian ia berpendapat mustahil ada ruang untuk bernafas bagi tumbuhnya pemikiran lain di luar kapitalisme. Maka Marcuse sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat industri modern merupakan masyarakat yang tidak sehat, berdimensi satu, represif (menindas, menekan), totaliter (menyeluruh, menguasai segala-galanya). Apa yang Marcuse sampaikan dalam tesisnya tersebut memang bukanlah isapan jempol belaka. Di banyak negara, khususnya negara miskin seperti Indonesia, budaya konsumerisme begitu mewabah dan merasuk hingga ke lapisan akar rumput. Melalui fenomena multi-media—iklan TV misalnya—orang terpropaganda hingga kehilangan kontrol terhadap pikirannya atas apa yang layak dan tidak layak untuk dikonsumsi. Semua orang, baik yang masuk dalam kategori kelas menengah ke atas maupun kelas sosial menengah ke bawah, berbondong-bondong untuk menyerbu pusat-pusat perbelanjaan, tanpa mempertimbangkan sifat dan motivasi konsumsi. Kiranya inilah salah satu dari sekian banyak fenomena yang melandasi pemikiran Marcuse, bahwa orang telah berpikir dalam satu dimensi, konsumsi dan konsumsi, tanpa mengindahkan derajat kelayakan dan hirarki kebutuhan. Sisi lain dari masyarakat kapitalis adalah represif. Marcuse mengatakan bahwa sistem ekonomi-sosial kapitalisme merupakan sistem yang menindas dan menekan. Kalau dulu penindasan dan penekanan itu diterapkan dalam bentuk perbudakan—yang dalam bahasa Marx—oleh kaum borjuis terhadap kaum proletar, namun pada masa sekarang bentuknya semakin diperlembut. Pertama-tama dibentuklah suatu image akan adanya sebuah sistem sosial ekonomi yang kaya, maju, nyaman dan enak. Hal ini semakin dipoles dengan kian cepatnya laju pertumbuhan produksi yang dari hari ke hari wajib untuk menciptakan kebutuhan baru bagi masyarakatnya. Sebenarnya kebutuhan yang dimaksud di sini lebih bersifat semu, konsumtif. Hadir banyak alat propaganda yang luar biasa dahsyatnya, menghipnotis masyarakat untuk menjadi boros dan menghambur-hamburkan uangnya demi sesuatu yang tidak perlu dengan tanpa disadarinya. Inilah yang Marcuse sebut sebagai “perbudakan sukarela”. Pola sistem masyarakat industri modern juga bersifat totaliter. Totalitarianisme yang diterapkan di sini tidak tanggung-tanggung. Bukan hanya lini sosial dan ekonomi, namun budaya dan pemikiran masyarakat juga diubah agar sesuai dengan tujuan utama; yaitu peningkatan keuntungan. Maka dalam system kapitalisme, setiap orang secara individu diasingkan dari akar budayanya. Atau dalam bahasa yang lebih kasar terjadi sebuah “Brain Washing” yang kemudian diisi dengan nilai-nilai yang dianjurkan oleh sistem kapitalisme. Totalitarianisme itu juga terlihat dari penggunaan bidang seni dan sastra yang hanya dipakai sebagai alat pendukung untuk menyokong orde yang mapan sehingga semakin mendulang keuntungan yang berlipat-lipat. Pengalaman Marcuse dalam dua babak perang dunia, juga menyisakan banyak penderitaan yang tak mudah ia lupakan. Perang—dalam istilah Marcuse—merupakan salah satu dari bentuk pola budaya konsumerisme yang paling kasar dan paling sadis yang diciptakan oleh masyarakat industri modern. Industri senjata, menurutnya, bukan merupakan satu bentuk usaha untuk menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM), namun semata-mata untuk kelangsungan bisnis dan untuk kepentingan pengerukan kekayaan belaka. Pemaduan dan pencampuradukan antara kemakmuran dan ancamanperang, serta kehancuran umat manusia, merupakan satu contoh dari strategi sistem kapitalisme untuk melangsungkan keuntungan dan melanggengkan pengaruhnya. Dalam hal pendidikan, sistem masyarakat industri modern juga tak lupa untuk mencoba-coba dan berkotor tangan di dalamnya. Lihat saja di Indonesia misalnya, segala lini disiplin ilmu yang diajarkan seoalah tertuju pada satu; sebagai sarana pendukung dan penyokong cita-cita kaum kapitalis. Maka tidak heran jika Filsafat dewasa ini, di Indonesia, sudah tidak lagi kritis bahkan banyak ditinggalkan dan dianggap sebagai momok pemikiran, padahal seharusnya filsafat lebih bersifat analitis kritis dan solutif. Tentu saja Marcuse tidak tinggal diam atas fenomena tersebut. Ia menawarkan beberapa jalan keluar agar orang dapat terbebas dari jeratan pengaruh yang tidak sehat tersebut. Pertama, Marcuse menyatakan bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan sudah saatnya untuk direnggut dari penyalahgunaan sebagai alat kepentingan dominasi “establishment” untuk menemukan dan mewujudkan kemungkinan-kemungkinan bentuk kehidupan yang lebih manusiawi. Atau dalam bahasa lain, lawanlah teknologi dan ilmu pengetahuan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sama, seperti pembuatan iklan “gemar berhemat” misalnya. Kedua, menciptakan kesadaran yang “Aesthetic Ethos” yang menyaratkan bahwa unsur-unsur estetis seperti seni musik, seni lukis, seni teater, menjadi suatu kerangka kehidupan. Karena dengan adanya dimensi estetis dalam suatu masyarakat akan terwujud masyarakat yang bebas dan matang dalam menentukan pilihan, salah satunya dalam aktivitas konsumsi. Ketiga, menciptakan dorongan biologis untuk pembebasan. Yang dimaksud Marcuse di sini adalah pembalikan kehendak dan minat untuk menentang dominasi penindasan kerja, misalnya menolak kerja lembur. Karena pada hakikatnya, kerja lembur merupakan salah satu “perbudakan sukarela” yang hanya bertujuan untuk mencapai keuntungan yang sebesar besarnya dengan biaya pengeluaran sekecil-kecilnya. Keempat, mengubah gaya hidup mewah yang telah dijargonkan oleh sistem kapitalisme sebagai simbol dari kesejahteraan. Peningkatan hasil pendapatan industrial yang ditopang oleh prinsip produksi dengan tujuan untuk menciptakan kebutuhan baru dapat dilawan dengan menerapkan pola hidup sederhana. Sederhana di sini bukan dimaksudkan sebagai gaya hidup asketis, namun lebih dimaksudkan sebagai pola konsumsi yang sesuai dengan kebutuhan yang sebenar-benarnya (pola konsumsi matang) dan bukan kebutuhan yang palsu maupun yang artifisial. Kelima, mengubah gaya hidup kuantitatif menjadi gaya hidup kualitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- BERTENS, K. 2002, Filsafat Barat kontemporer Inggris-Jerman, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.&lt;br /&gt;- Lechte, J. 2001, 50 Filsuf Kontemporer; dari strukturalisme sampai Postmodernitas, A. Gunawan Admiranto, Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;- Sutrisno,  FX Mudji dan F. Budi Haadiman (editor). 1992, para filsuf penentu gerak zaman, cet I Yogyakarta, Kanisius.&lt;br /&gt;- Dwi Susilo K. Rachmad. 2008, 20 Tokoh Sosiologi modern, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media.&lt;br /&gt;- http://translate.google.co.id - http://www.theory.org.uk/&lt;br /&gt;- Agger, Ben. 2003, Teori Sosial Kritis, Kritik Penerapan Dan Implikasinya, Kreasi Wacana, Yogyakarta&lt;br /&gt;- Jay, Martin. 2005, Sejarah Mazhab Frankfurt, imajinasi dialektis dalam perkembangan teori kritis, Kreasi Wacana, Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-5522526025905747194?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/5522526025905747194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=5522526025905747194&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5522526025905747194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5522526025905747194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/06/madzab-frankfurt-i-max-horkheimer.html' title='MADZAB FRANKFURT I; (Max Horkheimer, Theodor W. Adorno dan Herbert Marcuse)'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-3479559584020746417</id><published>2009-06-10T10:45:00.001-07:00</published><updated>2009-06-10T10:49:00.339-07:00</updated><title type='text'>Islam dan Budaya Lokal; Menyingkap Tradisi Upacara Tingkepan di Tuban Jawa Timur</title><content type='html'>&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah tradisi mengandung pengertian tentang adanya kaitan masa lalu dengan masa sekarang. Ia menunjuk kepada sesuatu yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan wujudnya masih ada hingga sekarang. Oleh karena itu tradisi tidak menjadikan jenuh untuk dikaji dan diteliti oleh berbagai pihak. Namun adanya tradisi tentu tidak lepas dari ajaran-ajaran atau faham-faham kebudayaan dan keagamaan yang berkembang pada waktu itu. Proses dan pergulatan di dalamnya pastilah ada. Tradisi tidak selamanya stagnan dan flugtuatif. Tradisi bisa saja terus berkembang dan sangat mungkin mengalami pergeseran makna dan bentuk ritual kebiasaannya, besar dan kecilnya bentuk pergeseran itu, karena tradisi diwarisi oleh generasi yang terus berkembang dalam kontek kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain bahwa, tradisi tidak hanya diwariskan tetapi ia juga dikonstruksi atau invented yang juga ditunjukan untuk menamkan nilai-nilai dan norma-norma melalui pengulangan (repetition), yang secara otomatis mengacu kepada kesinambungan masa lalu. Dan tentunya tak salah kemudian proses kesinambungan itu terwujud dalam sebuah Akulturasi, asimilasi bahkan sampai pada Islamisasi kebudayaan yang ada dalam masyarakat tertentu. &lt;br /&gt;Artinya, munculnya istilah Islamisasi merupakan sebuah bukti adanya pergolakan diranah interaksi dan proses sosialisasi kebudayaan ataupun penyampaian dalam kontek kepercayaan serta keyakinan tertentu pada masyarakat itu sendiri. Bagaimana masyarakat berpikir, bersinggungan langsung dan kemudian menerima kebudayaan serta kepercayaan itu dengan sadar dan apa adanya. Karna memang Islam hadir merupakan sebuah upaya untuk melakukan penyebaran diseluruh jagad raya ini. Tak jarang masyarakat menolak dan tidak menghiraukannnya. Namun karena Islam dengan konteks ajaran keagamaan yang membumi dan berbaur dengan keadaan kebudayaan sekitar maka ia dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat sekitar. Dan sampai sekarang pun ia senantiasa berbaur, berinteraksi langsung dengan masyarakat sehingga ia tetap eksis dilingkungan sekitarnya. &lt;br /&gt;Sebagaimana Tuban dan Lamongan sebagai sebuah peradaban pesisir Jawa yang dihinggapi Islam dalam proses penyebarannya. Tak heran kemudian beberapa kebudayaan yang kemudian tercampur bahkan bergeser yang semula ke Hindu-Hinduan sekarang bergeser lebih kepada Islam seagai sebuah ajaran yang membumi dan kontekstual pada kebudayaan sekitar. Seperti manganan, sesajen, meminang dan ritual-ritual lain seperti sedekah laut dan upacara kehamilan seperti tingkepan  di Tuban dan yang akan kita bahas pada halaman selanjutnya adalah tingkepan dalam tradisi masyarakat Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBAHASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Tuban Selayang Pandang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah kisah, tatkala itu Raden  Arya Dandang Wacana sedang membuka tanah yang masih berupa hutan bambu yang bernama Papringan,  tanpa diduga – duga sebelumnya  muncullah sebuah keajaiban  dengan keluarnya air yang dalam istilah  jawa disebut  (meTu) dan (Banyune), dan  jika dirangkaikan menjadi Tuban. Peristiwa itu oleh Raden Arya Dandang Wacana dijadikan sebagai tonggak sejarah dalam memberi nama tanah  tersebut dengan nama Tuban,  dan selanjutnya kita kenal dengan nama Kabupaten Tuban.  Sementara itu sejarah pemerintahan Kabupaten Tuban diawali pada jaman Majapahit, tepatnya ketika peristiwa agung pelantikan Ronggolawe  untuk menjadi adipati Tuban Pertama  oleh  Raja Majapahit Raden Wijaya. Peristiwa pelantikan itu dilaksanakan pada tanggal  12 Nopember 1293, yang pada akhirnya oleh Pemerintah Kabupaten Tuban tanggal 12 Nopember  dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Tuban. &lt;br /&gt;Kabupaten Tuban adalah salah satu kabupaten yang berada pada ujung barat wilayah Propinsi Jawa Timur. Berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Blora (Prop. Jateng) di sebelah Barat, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lamongan dan sebelah Utara adalah Laut Jawa. Secara administrasi Kabupaten Tuban terbagi dalam 20 kecamatan yang terdiri dari 328 desa/kelurahan.  Luas wilayah Kabupaten Tuban 183.994.561 Ha, dan wilayah laut seluas 22.068 km2. Letak astronomi Kabupaten Tuban pada koordinat 111o 30' - 112o 35 BT dan 6o 40' - 7o 18' LS. Panjang wilayah pantai 65 km. Ketinggian daratan di Kabupaten Tuban bekisar antara 0 - 500 mdpl. Sebagian besar wilayah Kabupaten Tuban beriklim kering dengan kondisi bervariasi dari agak kering sampai sangat kering yang berada di 19 kecamatan, sedangkan yang beriklim agak basah berada pada 1 kecamatan. &lt;br /&gt;Struktur geologi Kabupaten Tuban berada pada cekungan Jawa Timur Utara dengan bentangan dari Semarang sampai Surabaya. Sebagian besar Kabupaten Tuban termasuk dalam Zona Rembang dengan struktur batuan endapan yang umumnya berupa batuan karbonat, sehingga domnasi perbukitan yang ada adalah perbukitan Kapur. Ditinjau dari segi litologi batuan sedimen yang ada di Kabupaten Tuban kaya akan bahan tambang galian Golongan C (pasir silica, dolomit, phospat, clay, ball clay dan trass)dan ada juga yang berupa golongan A.&lt;br /&gt;Dalam kontek pariwisata Tuban mempunyai banyak tempat pariwisata seperti Goa Akbar, Pantai Boom, Masjid Agung, Makam Sunan Bonang, Goa Putri Asih dan banyak lagi yang lain. Beberapa kebudayaan pun banyak yang unik dan langka di Tuban salah satunya adalah tradisi perempuan meminang laki-laki. Tradisi ini sangat menarik dan unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Tuban; Upacara Tingkepan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tingkepan merupakan upacara kehamilan yang juga biasa disebut mitoni atau upacara kehamilan tujuh bulan. Upacara tingkepan upacara utama sehingga seringkali dibuat besar-besaran terutama bagi kehamilan pertama. Kehamilan kedua, ketiga dan seterusnya hanya dengan brokohan  saja atau upacara sederhana.&lt;br /&gt;Yang penting di dalam upacara ini membaca Al-Quran yakni Surat Maryam dan Yusuf. Pembacaan Al-Quran (Surat Maryam dan Yusuf) mangandung makna permintaan. Surat Maryam mengandung makna, jika nanti bayi yang dilahirkan perempuan, maka bayi yang dilahirkan akan memilki kesucian seperti kesucian Maryam. Sedangkan Surat Yusuf dimaksudkan agar jika bayi yang dilahirkan laki-laki, maka ia diharapkan akan menjadi seperti Nabi Yusuf A.S. selain itu juga ada semacam bacaan lain yang harus dibaca pada ritual tingkepan ini seperti Barzanji atau Berjanjenan dengan harapan bahwa bayi yang akan dilahirkan kelak memilki sifat-sifat luhur sebagaimana isi kandungan kitab Barzanji, yaitu pujian terhadap akhlakul karimah Nabi Muhammad SAW. Prosesi upacara ini ada yang sangat sederhana dan ada pula yang sangat kompleks. Upacara tingkepan sederhana, kebanyakan biasanya dilakukan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, baik yang berlatar belakang petani maupun nelayan.&lt;br /&gt;Jika hamil pertama, upacara itu antara lain dengan melakukan rujakan, yang terdiri dari serabut kelapa muda (cengkir) dicampur dengan gula merah, jeruk dan ditempatkan di dalam takir yang terbuat dari daun pisang yang dililiti janur  muda, biasanya dua takir. Dua takir lainnya berisi nasi uduk yang atasnya diberi bahan-bahan memasak seperti: terasi, terong dua iris, lombok plumpung merah dua biji, tauge secukupnya, mentimun dua iris, brambang dan bawang secukupnya, dua biji ikan asin (gereh), daging masak beberapa iris dan dua buah udel-udelan. Kemudian ditambah tujuh telur, bucu pitu, dalam posisi yang ditengah besar dan dikelilingi oleh enam buah bucu lainnya kecil-kecil. Dua tampah punar, polo pendem (ubi gembili, sawek tales, ganyong, telo dan sebagainya). Selain itu juga terdapat dua wadah terbuat dari bungkusan daun pisang yang terdiri dari kembang tujuh rupa, yaitu kembang melati, gading, kenanga, empon-empon, mawar dan matahari. Bunga-bunga ini disebut sebagai kembang setaman. Ditambah lagi dengan bubur putih merah dan dua kelapa muda (cengkir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Prosesi Tingkeban, Kalangan Masyarakat Menengah ke Bawah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kesederhanaan upacara ini dapat dilihat dari prosesinya yang sederhana. Pertama, Pak Modin (di Jogja istilahnya Kaum) maksud dan tujuan upacara sesuai dengan pesanan yang punya hajat, atau shahibul hajat. Dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah dan al-ikhlas sebanyak tiga kali, surat al-alaq dan surat an-Nas masing-masing sekali. Selanjutnya seluruh peserta upacara membaca Surat Maryam dan Surat Yusuf masing-masing sekali. Seluruh kegiatan bacaan ini menghabiskan waktu sekitar 30-45 menit. Keudian acar dilanjutkan dengan barzanji. Pak Modin dengan suara yang khas dengan lagu atau nada-nada membaca shalawatan, yang dilanjutkan dengan bacaan syair-syair barzanji, yang berisi silsilah nabi dan sejarah nabi, dan ditutup dengan bacaan sifat-siafat nabi. Acara ini ditutup dengan doayang dipimipin oleh Pak atau Mbah Modin.&lt;br /&gt;Seluruh bahan mulai dari tumpeng, takir, cengkir (kelapa muda) dan lain-lain ditempatkan ditengah-tengah dan dibagikan kepada peserta secara merata selanjutnya dimasukan ke dalam tas kresek (plastik besar) yang berisi berkat . Sebagai pertanda akan pulang, maka mabah Modin mengucapkan bacaan Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad . Sembari bersalaman dengan tuan rumah, mereka mengatakan; kabul kajate (semoga hajat.keinginannya tercapai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Prosesi Tingkeban, Kalangan Elite Masyarakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang kaya, upacara tingkepan juga menjadi persoalan yang kompleks. Kerumitan upacara ini menandakan yang melakukan adalah kaum elite, berstatus sosial tinggi. Upacara dimulaia pada pukul 4 sore, tentu saja setealah semua peralatan upacara selesai. Upacara dimulai dengan memohon doa restu atau sungkeman. Bapak dan ibu dari kedua belah pihak duduk di kursi ruang tamu dan kedua pelaku upacara berada dalam posisi membungkuk mengahadap pasangan orang tua.tanpa sepatah kata pun dari pelaku upacara atau pelaku cukup mendekatkan muka ke lutut orang tua, dan orang tua mengeluspundak anak dan menantunya, maka acara sungkeman pun selesai. Pelaku upacara menggunakan jarik panjang dan baju khas Jawa untuk acara sungkeman. Acara pun dilanjutkan dengan ganti pakaian baru, yang terdiri dari kain kebaya yang dililitkan sebatas dada bagian atas. Kemudian dimandikan dengan kembang tujuh rupa . Mulanya yang memandikan kedua orang tua, selanjutnya mertua dan terakhir suami. Ganti kain panjang pun dilakukan sebanyak tujuh kali dan dimandikan sebanyak tujuh kali pula. Acara dilanjutkan dengan memasukan kelapa muda (cengkir) kedalam pakaian oleh suaminya.cengkir itu pun dijatuhkan (dibanting). Jika cengkir pecah menandakan bayi yang akan dilahirkan nanti adalah perempuan dan jika cengkir tadi tidak pecaha maka bayi yang dilahirkan itu laki-laki. Tidak cukup sampai disitu, setelah ganti pakaian kering, acara dilanjutkan dengan dodolan dawet duwet kereweng . Kemudian malam harinya baru dilakukan upacara tingkepan dengan membaca Surat Maryam dan Yusuf dan dilanjutkan dengan dzibaan. Acara pun ditutup dengan doa. Dikalangan orang kaya, yang tidak menggunakan prosesi upcara rumit seperti itu biasanya cukup mengadakan pengajian besar-besaran yang disebut sebgai pengajian walimatul hamli atau perayaan kehamilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Analisis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari pertama, bermacam-macam bahan yang dipersiapkan untuk melakukan ritual upacara tingkepan ini sangat bermacama-macam jenis. Mulai dari janur, polo pendem, cengkir, kembang tujuh rupa, dawet dan lain sebagainya, menjadikan penasaran dan alasan untuk mengetahui secara detail apa sebenarnya yang diinginkan dan diharpkan akan semua itu. Menurut analisis yang penulis ketahui dan beberapa sumber referensi bahwa;&lt;br /&gt;Pada catatan di atas bahwa tingkepan didominasi oleh jumlah angka dua dan tujuh. Angka dua melambangkan dua jenis kelamin yakni laki-laki dan perempuan, yang salah satunya akan dilahirkan. Sedangkan angka tujuh melambangkan usia kandungan si jabang bayi. Tidak hanya itu punar dan polopendem melambangkan hasil bumi, selain itu bucu melambangkan cita-cita yang tinggi dan luhur yang digantungkan setinggi langit. Kembang setaman atau kembang tujuh rupa melambangkan suka cita atau juga masa kehamilan, sedangkan bagi orang kaya seperti mandi tujuh kali, ganti baju tujuh kali merupakan lambang masa kehamilan yakni ketujuh bulan. Dawet melambangkan rezeki yang melimpah dan dan uang pecahan genting melambangkan jenis koin emas yang berwarna menyala. Selanjutnya bubur putih merah melambangkan sperma laki-laki dan darah perempuan yang telah menyatu. Sedangkan kelapa muda melambangkan CengKir (kencenge pikir) atau keteguhan cita. &lt;br /&gt;Seluruh rangkaian upacara di atas diharapkan sekaligus terkait dengan masa krusial yang dihadapi oleh bayi, yaitu saat menerima catatan amal dan garis nasibnya, apakah bahagia atau sengsara. Jadi melalui upacara tingkepan tersebut diharapkan bahwa bayi yang dilahirkan akan memperoleh kebahagiaan dunia akhirat bukan kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Syam, Nur, Dr. 2005, Islam Pesisir, LkiS, Yogyakarta,&lt;br /&gt; www.tuban.org&lt;br /&gt; Geertz, Cliford, 1981, Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-3479559584020746417?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/3479559584020746417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=3479559584020746417&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3479559584020746417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3479559584020746417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/06/islam-dan-budaya-lokal-menyingkap.html' title='Islam dan Budaya Lokal; Menyingkap Tradisi Upacara Tingkepan di Tuban Jawa Timur'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-6899194888681538403</id><published>2009-06-10T10:41:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T10:59:14.097-07:00</updated><title type='text'>Proposal; Metodologi Penelitian Sosial</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mempotret Gerakan Mahasiswa&lt;br /&gt;Sebagai Agent of Social Change&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Latar Belakang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diskursus mengenahi gerakan mahasiswa sebagai agent of social change sudah lama menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir sepanjang tahun di setiap perguruan tinggi di Indonesia. Mahasiswa sebagai insan terdidik yang mempunyai pandangan kritis terhadap segala problematika kehidupan sosial masyarakat merupakan sebuah tanggungjawab besar yang harus ia jalankan. Tak cukup hanya sekedar kritis saja tentunya untuk melakukan sebuah perubahan sosial yang di inginkan seluruh elemen masyarakat demi terciptanya sistem atau tatanan yang tepat sasaran.&lt;br /&gt;Hal ini dapat di lihat, sejarah Indonesia modern telah menunjukkan bahwa generasi muda yang diwakili oleh mahasiswa hampir selalu tampil sebagai penentu perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan bangsa. Setelah Indonesia merdeka, tampaknya gerakan kaum muda itu analog dengan perjuangan intelektual yang terjadi pada awal abad 20, dari tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Perubahan yang terjadi senantiasa ditentukan oleh kalangan muda kampus; mahasiswa.&lt;br /&gt;Fenomena yang kita temukan sepertinya menunjukkan posisi gerakan mahasiswa yang menyilang kekuasaan para penguasa itu, telah menjadi kekuatan koreksi yang membawakan hati nurani masyarakat yang ditindas oleh orientasi kekuasaan yang telah disalahgunakan bagi kepentingan pribadi-pribadi pemegang kekuasaan itu yang bukan lagi berorientasi pada kepentingan kemajuan bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan-gerakan mahasiswa yang terjadi di kampus-kampus merupakan bentuk dari implementasi dan refleksi diri mahasiswa di bidang ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari bangku perkuliahan dan langsung implementasikan dalam bentuk riil sebuah gerakan konkrit dengan berbagai macam diskusi dan pembacaan terkait isu-isu ataupun kebijakan yang dilakukan pemimpinnya guna menuntut perbaikan, mengkritisi dan menolak segala bentuk kebijakan sistem yang di bangun atas dasar kepentingan dan keinginan yang tidak jelas serta mengkungkung kreatifitas serta aktifitas mahasiswa dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan yang dilansir/dianggap menindas akan dengan cepat di respon oleh aktivis-aktivis organisasi yang ada di kampus-kampus semisal HMI, PMII, IMM, KAMMI, GMNI, SMI dan lain-lain, baik itu kebijakan kampus, maupun kebijakan yang bersifat nasional. Hal inilah yang menjadi sebuah motivasi gerakan mahasiswa untuk melakuakan kritik, penolakan dan gerakan perubahan sosial yang sesuai keadaan/realitas yang ada pada masyarakat serta memihak pada rakyat. Kenaikan harga BBM semisal memicu adanya gerakan perlawanan mahasiswa sebagai sebuah tanggungjawab kehidupannya sebagai insan intelektual yang mempunyai rasa kritis dan empati tinggi bagi masyarakat sebagai agen perubahan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dilihat lebih jauh, bahwa gerakan mahasiswa telah memberikan konstribusi bagi Nusa dan Bangsa. Fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa mahasiswa senantiasa terus melakukan gerakan perlawanan terhadap penguasa otoriter dan represif Orde Baru. Hal demikian merupakan bentuk tanggungjawabnya sebagai insan intelektual yang memiliki cita-cita tinggi sebagai agen perubahan sosial yang mempunyai pandangan luas dan responsif terhadap berbagai macam problem masyarakat yang terjadi. Ini tidak lepas dari perkembangan sejarah Indonesia yang selalu diwarnai dengan belenggu krisis multidimensi serta sikap lalim penguasanya. Hal mendasar munculnya gerakan mahasiswa didasari atas sikap kritisnya terhadap kebijakan yang dianggap menindas dan juga maraknya praktek-praktek ketidakadilan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki. Mahasiswa menjadikan dirinya sebagai perpanjangan tangan rakyat dalam menyampaikan aspirasi rakyat kepada penguasa. Dalam situasi yang demikian itu gerakan perlawanan mahasiswa sebagai agent of social change memang dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi vis a vis penguasa. Begitu banyaknya forum-forum diskusi yang diadakan, telah menghasilkan pula pelbagai tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks kepeduliannya dalam merespon masalah-masalah sosial politik yang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan. Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya. &lt;br /&gt;Dengan demikian, segala ragam bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa lebih merupakan dalam kerangka melakukan koreksi atau kontrol atas perilaku-perilaku politik penguasa yang dirasakan telah mengalami distorsi dan jauh dari komitmen awalnya dalam melakukan serangkaian perbaikan bagi kesejahteraan hidup rakyatnya. Oleh sebab itu, peranan gerakan mahasiswa sebagai egen perubahan sosial menjadi begitu penting dan berarti tatkala berada di tengah masyarakat. Saking begitu berartinya, sejarah perjalanan sebuah bangsa pada kebanyakkan negara di dunia telah mencatat bahwa perubahan sosial (social change) yang terjadi hampir sebagian besar dipicu dan dipelopori oleh adanya gerakan perlawanan mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arbi Sanit,  ada lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka dengan permasalahan kemasyarakatan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan.  Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda. Kelima, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu ada dua bentuk sumber daya yang dimiliki mahasiswa dan dijadikan energi pendorong gerakan mereka. Pertama, ialah Ilmu pengetahuan yang diperoleh baik melalui mimbar akademis atau melalui kelompok-kelompok diskusi dan kajian. Kedua, sikap idealisme yang lazim menjadi ciri khas mahasiswa .  Kedua  potensi sumber daya tersebut ‘digodok’ tidak hanya melalui kegiatan akademis didalam kampus, tetapi juga lewat organisasi-organisasi ekstra universitas yang banyak terdapat di hampir semua perguruan tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia terdapat banyak organisasi mahasiswa ekstra universitas atau sering dinamakan ormas mahasiswa, yang cukup menonjol, yaitu HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan lain-lain. Kesemuanya menarik untuk dikaji karena sama-sama membawa label Islam sebagai identitas organisasinya, namun memiliki corak wacana dan strategi perjuangan yang khas. Sejarah telah mencatat peranan yang amat besar yang dilakukan gerakan mahasiswa selaku prime mover terjadinya perubahan politik pada suatu negara. Secara empirik kekuatan mereka terbukti dalam serangkaian peristiwa penggulingan, antara lain seperti : Soekarno di Indonesia tahun 1966, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985, Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998. Akan tetapi, walaupun sebagian besar peristiwa pengulingan kekuasaan itu bukan menjadi monopoli gerakan mahasiswa sampai akhirnya tercipta gerakan revolusioner. Namun, gerakan mahasiswa lewat aksi-aksi mereka yang bersifat massif politis telah terbukti menjadi katalisator yang sangat penting bagi penciptaan gerakan rakyat dalam menentang kekuasaan tirani sudah cukup berhasil menyadarkan masyarakat akan arti kebebasan dan partisipasi, walau gagal menyadarkan arti kemerdekaan dan kemandirian. &lt;br /&gt;Dan jika kita tinjau ulang keberadaan gerakan mahasiswa di negeri ini dalam konstelasi sosial politik tak bisa dipandang sebelah mata. Keberadaan mereka menjadi salah satu kekuatan yang selalu dipertimbangkan oleh berbagai kelompok kepentingan (interest group) terutama pengambil kebijakan . Dan disadari atau tidak bahwa peran gerakan mahasiswa telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap perubahan yang terjadi di Indonesia, inilah yang kemudian disebut sebagai gerakan mahasiswa agent of social change (agen perubahan sosial). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah perjalanan bangsa pasca kemerdekaan Indonesia, tidak bisa disangkal lagi mahasiswa merupakan salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan. Tumbangnya Orde Lama tahun 1966, Peristiwa Lima Belas Januari (MALARI) tahun 1974, dan terahir pada runtuhnya Orde Baru tahun 1998 adalah tonggak sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Sepanjang itu pula mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi perlawanan dan bersikap kritis membela kebenaran dan keadilan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Tujuan Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Proses belajar kepada fakta sosial, perilaku sosial dan dinamika sosial untuk menciptakan masyarakat yang sadar akan realita kehidupannya untuk selalu progres dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.&lt;br /&gt;b. Memberikan pengetahuan dan merangsang nalar intelektual masyarakat agar  berfikir dan berperilaku secara kritis dan partisipatif-revolusioner.&lt;br /&gt;c. Meningkatkan wawasan dan pemahaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan, kemasyarakatan dan kebangsaan dalam berdemokrasi sesuai konteks dinamika bangsa.&lt;br /&gt;d. Membentuk jiwa dan mempertajam kritis-intelektualitas dalam memahami Visi dan Misi dari gerakan mahasiswa. &lt;br /&gt;e. Memahami peran, fungsi dan gerakan mahasiswa sebagai agen perubahan sosial.&lt;br /&gt;f. Memahami atau menggali otensitas peran dan fungsi mahasiswa yang paling ideal dalam konteks saat ini.&lt;br /&gt;g. Media transformasi intelektual dalam kancah akademik demi terciptanya mahasiswa yang sadar realitas dan memiliki dedikasi tinggi dalam merespon gejala yang terjadi di dalam maupun di luar kampus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Pertanyaan Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Selain sebagai insan akademis yang terdidik, apa peran/fungsi yang substansial sebagai mahasiswa?&lt;br /&gt;b. Indikasi apa yang mendorong mahasiswa untuk melakukan gerakan sosial?&lt;br /&gt;c. Kesuksesan apa yang pernah dicapai oleh gerakan mahasiswa sebagai agent of social change?&lt;br /&gt;d. Perubahan sosial bagaimanakah yang di inginkan oleh gerakan mahasiswa?&lt;br /&gt;e. Kenapa setiap kebijakan yang keluar dari pemimpin hampir semuanya dikritisi oleh gerakan mahasiswa?&lt;br /&gt;f. Benarkah gerakan mahasiswa sebagai agent of social change (agen perubahan sosial)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Rencana Penelitian (time schedule) Sementara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempermudah langkah-langkah penelitian dan agar lebih sistematis dalam proses pencarian/pengumpualn data maka rencana penelitian (time schedule) sementara ini sangat perlu untuk dibuat, yakni sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Untuk 2 hari pertama tahap pencarian (membaca referensi, mencari sumber-sumber tertulis dan media) dan mengetahui masalah urgen yang melatar belakangi.&lt;br /&gt;- Hari ke-3 dan 4, menulis pokok-pokok pikiran atau  pendapat ilmuan secara sistematis mengenahi penelitian terkait. &lt;br /&gt;- Kemudian hari ke-5 dan 6/terakhir digunakan untuk menganalisis data yang telah ada dan disesuaiakan dengan pertanyaan yang telah dibuat penelitian sehingga urutan-urutan penelitian yang di iniginkan selesai dengan baik dan sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Model Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Model penelitian ini bersifat eksploratif (mengungkapkan) atau eksplanatif yakni menjelaskan/memaparkan obyek penelitian, artinya setiap permasalahan atau informasi dan data dalam obyek penelitian yang ada selalu di angkat dan di analisis sesuai fakta yang telah ada dan berdasar atas referensi yang dipakai penelitian, sehingga tentunya tidak ada keberpihakan dan justifikasi (baik dan buruk) obyek penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Rum Aly, Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter, Kompas, Jakarta; 2004&lt;br /&gt;2. Sanit, Arbi dan M Rusli, “HMI MPO dalam Kemelut Modernisasi Politik di Indonesia”, 1997.&lt;br /&gt;3. Sanit, Arbi, “Pergolakan Melawan Kekuasaan Gerakan Mahasiswa Antara Aksi Moral dan Politik”, 1999.  &lt;br /&gt;4. Huda, Nurul, “PMII Kader Minoritas Progresif”.  Suara Merdeka, 31/06/2001. &lt;br /&gt;5. Rahmat, Andi dan Muhammad Najib, “Perlawanan dari Masjid Kampus”, 2001.&lt;br /&gt;6. Jurnal Pemikiran Islam Vol.I, No.2,Juni 2003, International Institute of Islamic Thought Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-6899194888681538403?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/6899194888681538403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=6899194888681538403&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/6899194888681538403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/6899194888681538403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/06/proposal-metode-penelitian-sosial.html' title='Proposal; Metodologi Penelitian Sosial'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-4829346953743279153</id><published>2009-06-10T10:24:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T10:35:06.655-07:00</updated><title type='text'>Review Film SICKO; Karya Michael Moore</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Review Film SICKO; &lt;br /&gt;Film dokumenter karya &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Michael Moore&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik dan mengherankan. Demikian ungkapan pertama kami dalam memandang film dokumenter garapan sutradara Michael Moore ini. Bagaiamana tidak, negara maju layaknya Amerika ternyata bobrok dalam system dan proses pemenuhan kesehatan atau jaminan kesehatan bagi rakyatnya. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam kepentingan birokasi, baik legislator, bisnisman dan para pemimpin perusahaan. Dengan keadaan tersebut kemudian Moore mencoba memaparkan fakta-fakta bahwa sekitar 250 juta masyarakat Amerika yang telah mempunyai asuransi kesehatan tidak semuanya mendapatkan hak menggunakan asuransi kesehatannya dengan baik dan layak. Dilain pihak, sekitar 50 juta rakyat Amerika belum mempunyai asuransi kesehatan dan masih harus menghadapi kesulitan-kesulitan untuk dapat mengakses layanan kesehatan yang diperlukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu film Sicko mengangkat realita mahalnya biaya kesehatan dan kebobrokan sistem pelayanan kesehatan di Amerika serta kejahatan asuransi kesehatan dalam berkelit dari tanggungjawab terhadap klien-kliennya. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai cara seperti menyewa detektif dan mendesak dokter yang bekerja pada asuransi tersebut agar tidak memberi pelayanan kesehatan pada klien atau mengeluarkan diagnosis dan statement palsu mengenai kesehatan klien. Moore menyoroti, memaparkan dengan cara melakukan survei lapangan dan interview langsung serta didukung dengan beberapa dokumen-dokumen penting yang berhubungan dengan realita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataan yang telah dipaparkan oleh film Moore ini kita tahu bahwa perawatan kesehatan di AS sulit, sangat mahla dan tentunya tidak gratis. Sementara di bebrapa negara seperti Kanada, Inggris, Prancis dan bahkan Kuba yang komunis dan dianggap rendah oleh AS justru menggratiskan biaya perawatan rumah sakit demikianpun termasuk operasi dan melahirkan. Mungkin dengan keadaan itulah kemudian yang menyebabkan pemerintah AS mengeluarkan �travel warning� bagi penduduknya ke negara Kanada dan Kuba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dilihat bahwa bukti lain buruknya sistem pelayanan kesehatan di AS juga tercermin dari praktek pembuangan pasien yang tidak memiliki asuransinya dan tidak mampu membayar tagihan biaya perawatan ke pinggir jalan dengan menggunakan taksi yang dibayar pihak rumah sakit. Ada juga satu �scene� tragis mengenai perlakuan tidak adil pemerintah AS terhadap para sukarelawan peristiwa WTC 9/11 yang sempat di elu-elukan sebagai pahlawan nasional yang sekarang ternyata diabaikan dengan keadaan kesehatan yang menyedihkan, sangat bertolak belakang dengan fasilitas kesehatan ekstra mewah yang disiapkan pemerintah AS bagi para �teroris� tersangka pelaku pengeboman WTC yang ditahan di penjara nomor wahid di dunia, Guantanamo, Kuba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemudian kita coba menengok negara kita Indonesia. Indonesia sendiri masih sangat jauh jika dibandingkan dengan pelayanan kesehatan di negara-negara yang ditampilkan dalam Sicko. Jangankan untuk mengasuransikan kesehatan, buruh yang sudah nyata-nyata bekerja dipabrik pun tidak pernah dikasih jaminan kesehatan dan kehidupan yang memadai. Pemerintah memang benar membuat kebijakan kesehatan gratis bagi rakyat miskin, namun hal demikian tidak mampu dimonitor dengan baik dan proporsional. Akibatnya banyak fakta dilapangan yang berbanding berbalik dari kebijakn itu. Susah dan rumit mungkin demikian kata yang tepat untuk potret pelayanan kesehatan negeri ini Indonesia. Padahal seharusnya jaminan dan pelayanan kesehatan dapat diakses dengan mudah dan berkualitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana contoh program layanan asuransi kesehatan di Indonesia dilakukan pemerintah melalui PT. Askes yang pada tahun 2006 masyarakat telah pemegang kartu Askeskin telah mencapai 60 juta jiwa. Namun pada tahun 2007 anggaran Askeskin naik menjadi Rp 4 triliun. Program pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dalam bentuk Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin (Askeskin) mulai 2008 diganti menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Namun jangan berharap bagi warga masyarakat Indonesia untuk mendapatkan layanan ini dengan mudah dan lancar. Karena cara mendapatkan asuransi ini dianggap sulit bagi masyarakat mengingat panjangnya prosedur untuk mendapatkannya. Masyarakat mesti mendapatkan surat keterangan miskin dari RT dan RW kemudian masih harus melewati saringan dari puskesmas. Ribet, susah dan berbelit-belit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-4829346953743279153?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/4829346953743279153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=4829346953743279153&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/4829346953743279153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/4829346953743279153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/06/review-film-sicko-karya-michael-moore.html' title='Review Film SICKO; Karya Michael Moore'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-4302735141226009942</id><published>2009-01-08T01:24:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T01:26:30.889-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Muhammad Iqbal; Pemikiran Tentang Pembaruan Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Islam merupakan agama komplek terhadap segala tuntunan-tuntunan maupun aturan-aturan yang bersifat normatik maupun humanistik. Berbagai macam keilmuan yang ada dalam Islam seperti halnya Fiqh, Tasawuf, Tauhid, Ilmu Kalam, Kedokteran dan lain sebagainya menjadi bentuk dari sari kompleksitas Islam itu sendiri. Munculnya ilmu-ilmu tentang Islam tak lepas dari pandangan-pandangan khas dari masing-masing pemikir pada zamannya. Iskandar Zulkarnain yang membawa Mantiq (logika Aristoteles) dalam ranah ilmu Islam, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, Imam Malik, Al Farobbi, Ibnu Shina, Ibnu Arabi, Imam Ghazali dan banyak lagi pemikir-pemikir Islam yang hebat masa lalu. Semua itu merupakan bentuk dari implementasi pemikiran yang terbias akibat daya nalar manusia untuk iqra’ segala hal yang ia ingin ketahui, termasuk yang bersifat ke-Tuhanan sekalipun.&lt;br /&gt;Namun, seiring pergolakan dunia global dan gejolak-gejolak pemikiran kaum barat yang di anggap progres dan rasional menjadikan elemen-elemen seluruh dunia ilmuan berlomba-lomba memberikan sumbangan intelektualnya pada dunia. Tak kalah juga hal demikian mendorong, memotivasi pemikir-pemikir Islam untuk terus berjaya dan membangkitkan nalar kritis pemikir-pemikir waktu itu dengan segenap kemampuan yang ia peroleh dari pengetahuan serta hasil pemikiran orisinilnya terhadap pandangan dan gejolak dunia. Mereka para pemikir Islam tak ketinggalan dalam merespon dunia, agama dan segala hal terkait kemanusian serta keilmuan yang berkembang. Mohammad Abid Al Jabiri, Muhammad Arkoun, Hasan Hanafi, Ali Syari’ti dan Muhammad Iqbal tak ketinggalan pula. Dalam makalah kali ini Muhammad Iqbal sebagai kajian kritis kami untuk mencoba mengatahui pemikiran-pemikirannya tentang upaya yang ia lakukan terhadap sumbangan intelektualnya kepada Islam. Penyair-filosof India awal abad ke-20 ini terkenal dengan sikap mandirinya yang menginginkan orang-orang Islam bangkit dan menemukan kreatifitas pada dirinya sendiri (Islam) tanpa harus bergantung pada pemikiran-pemikiran barat. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan di halaman berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Tentang Muhammad Iqbal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis biografi kontemporer Muhammad Iqbal memuji: “tidak ada manusia yang serbabisa, produktif, dan jenius dalam sejarah melebihi Iqbal. Dia bisa di sejajarkan dengan Michelangelo, Leonardo da Vinci, [Leon Battista] Alberti, dan [Rabindranath] Tagore.” Iqbal lahir di Punjab pada 1873 dari keluarga muslim, Iqbal sudah menunjukkan keistimewaansebagai pelajar dan penyair sebelum pergi ke Lahore pada 1895 untuk belajar di College Pemerintah. Disana dia belajar kebudayaan Islam dan kesusasteraan literatur Arab dari seorang orientalis Ingris terkemuka, Sir Thomas Arnold. Pada pergantian abad, dia berahsil meraih gelar master dalam filsafat dan mulai memberikan kuliah, akan tetapi dia menyadari keterbatasan kehidupan akademik, dan posisinya sebagai pegawai pemerintah telah mencampakan bakatnya di bidang kedokteran. Dalam masa-masa itu dia menulis”puisi bergaya tradisional tentang alam dan cintadalam lirik khas Urdu”. &lt;br /&gt;Tulisan-tulisannya mencerminkan pertumbuhannya sebagai seorang muslim, studinya tentang kebudayaan Islam, minatnya terhadap tasawuf melalui ayahnya, ketertarikannya terhadap kebangkitan Islam masa itu (Sayyid Ahmad Khan, Jamaluddin Al Afghani) dan komitmennya pada nasionalisme India berdasarkan solidaritas Muslim-Hindu.&lt;br /&gt;Iqbal berangkat belajar ke Eropa selam 3 tahun; pertama-tama di Cambridge bersama seorang filosof neo-Hegelian, J.ME.Mc Targgert, kemudian di Heidelberg dan terakhir di Munich. Dia keluar dari Eropa dengan gelar sarjana hukum dari Inggris dan gelar doktor dari Jerman denagn tesis tentang mistisisme Persia. Fakta yang lebih penting adalah dia mengguasahi pemikiran Eropa secara mendalam, sejak teologi Thomas Aquinas hingga filsafat Henri-Louis Bergson dan Nietzsche. Pesan-pesannya terungkap secara gamblang dengan dipublikasikannya Screts of the Self pada 1915.&lt;br /&gt;Meski sejak itu bekerja sebagai seorang ahli hukum, Iqbal lebih diakui sebagai seorang penyair, filosof, dan “nabi” zaman baru. Pengakuan ini datang dari dalam negri India maupun dunia luar. Dia diberi gelar kebangsawanan 1922, terpilih menjadi anggota Dewan Legislatif 1926, diangkat sebagai Presiden Liga Muslim 1930. dia menyerukan kerjasama antar kelompok-kelompok agama. “Mungkin kita tidak ingin mengakui bahwa setiap kelompok mempunyai hak untuk membangun menurut tradisi budayanya sendiri.”  Ide inilah yang akhirnya dikenal sebagai “Rencana Pakistan”, meskipun Iqbal sendiri tidak pernah mendukung nasionalisme sempit dalam bentuk apapun. Pihak-pihak lain memanfaatkan idenya itu untuk melahirkan negara muslim Pakistan, dan Iqbal diakui secara umum sebagai “Bapak Pakistan modern”. Dia sakit pada 1934, dan akhirnya meninggal pada 1938, hampir satu dekade sebelum India meraih kemerdekaan dan Pakistan memisahkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Pokok Bahasan&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;1. Pemikiran Pembaruan Islam Muhammad Iqbal&lt;br /&gt;Keautentikan, salah satu bentuk sebuah pemikiran Muhammad Iqbal tentang ide yang ikut menyinari pemikarannya. Penyair-filosof India ini terilhami oleh pemikiran Eropa dan Islam, Iqbal menolak baik konsepsi kemajuan Eropa maupun pola budaya Islam kontemporer di India. Dia mengajajk “kaum muslim sejati” untuk melawan mullahisme, mistisisme, dan monarki serta melawan cara-cara asing. Dalam konteks luas, dia menyeru kepada semua manusia untuk bangkit mengatasi cara-cara tradisional serta ide-ide dan teknologi Barat guna menemukan kreatifitas, semangat dan keautentiikan diri mereka sendiri. &lt;br /&gt; Sebuah cita-cita besar tentunya bagi Iqbal untuk menformulasikan dan menyerukan kepada seluruh umat muslim dimuka bumi ini, bahwa kemandirian hidup, berpikir, dan bertindak harus didasar atas kepercayaan dirinya agar mampu menemukan karakter dirinya sendiri serta menentukan nasip mereka sendiri dalam pergolakan dunia yang semakin kompleks ini. Penyempurnaan diri untuk metamorfosis menuju kehidupan mandiri yang sadar atas realita dirinya merupakan agenda besar cita-cita pemikiran Iqbal.&lt;br /&gt; Standar satu-satunya yang bisa dipakai untuk menilai Iqbal adalah standar universal; standar yang bukan hanya tidak ada, melainkan bahkan, menurut Iqbal, tidak bakal lahir dari penalaran Barat (“penyakit otak”) maupun mistisisme Timur (“penyakit hati”). Standar universal yang dicarinya itu sejenis standar yang akhirnya diajukan oleh Iqbal sendiri, yakni standar kebenaran individual yang pada akhirnya akan menyatu. Dia menyeru kepada seluruh manusia, khususnya di Dunia Ketiga, dalam usahanya untuk membantu mereka menemukan diri mereka sendiri dan menentukan nasib mereka sendiri. Fazlur Rahman menyimpulkan: “Ide utama Iqbal adalah regenerasi kemanusiaan melalui perjuangan individu tanpa henti untuk menyempurnakan realisasi diri”. Iqbal mengajukan suatu teori umum tentang keautentikan. &lt;br /&gt; Diri-autentik niscaya mencerminkan masa lalunya sebagai bagian dari wujud masa kininya. Kesadaran diri akan masa lalu itu muncul dari komunitas, Iqbal menyebutnya “pertalian antara apa yang akan dan telah terjadi”. Baginya komunitas adalah ummah, komunitas orang-orang beriman yang melampaui solidaritas keluhuran atau kewilayahan mereka. Jauh dari menekankan individualisme, komunitas yang dibangun oleh Muhammad membebaskan individu dari ketakutan dan mempercayai manusia dengan tanggungjawab penuh terhadap nasibnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Wilfred Cantwell Smith, Modern Islam in India: A Social Analysis, London, Victor Gollancz, 1946.&lt;br /&gt;2. Vahid, Iqbal, His Art and Thought, Bab 1.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-4302735141226009942?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/4302735141226009942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=4302735141226009942&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/4302735141226009942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/4302735141226009942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/01/muhammad-iqbal-pemikiran-tentang.html' title=''/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-8771308090174994784</id><published>2009-01-08T01:20:00.000-08:00</published><updated>2009-06-10T10:40:43.966-07:00</updated><title type='text'>IMAJINASI SOSIOLOGIS; C. WRIGHT MILLS</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Imajinasi Sosiologis; Sintesis Psikologi Sosial dengan Strukturalisme Konflik C. Wright Mills)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi merupakan salah satu cabang ilmu yang paling komplek substansinya dalam peradaban dunia keilmuan. Berbagai macam istilah keilmuan tentunya bisa bersanding atau dipersandingkan kepadanya. Sosiologi Hukum, Sosiologi Politik, Sosiologi Komunikasi, Sosiologi Pendidikan serta banyak lagi keilmuan lain yang bisa disandingkan termasuk juga Psikologi Sosial yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini. Namun, kekomplekan keilmuan sosiologi inilah yang semestinya harus menjadi pikiran utama para Sosiolog untuk mensinkronkan keilmuan sehingga tidak terjadi sebuah kerancuan pemikiran atau parahnya ketidakjelasan keilmuan sosial. Maka dari itulah sub-sub dari keilmuan itu muncul dipermukaan untuk menjelaskan keterkaitan problem masyarakat yang ada sesuai kebutuhan dan obyektifitasnya. &lt;br /&gt;Begitu pula hal ini sebagai sebuah paduan keilmuan yang diambil dari dua paradigma berbeda tergabung menjadi satu yakni Psikologi Sosial. Sebuah analisis menarik tentu nantinya ketika hal demikian bisa dipelajari dan dipahami secara mendalam dan sistematis. Belum lagi dua hal tadi di sintesiskan dengan dua teori yakni Strukturalisme Konflik yang juga digabung dalam sebuah kajian yang di gagas oleh C. Wright Mills. Kelihatannya menarik, tapi kayaknya cukup membingungkan dan rumit pula. Meski demikian kami mencoba untuk mempelajari, memahami dan membahas teori ini sebagai sebuah tanggungjawab keilmuan kami guna kemajuan dan daya nalar kritis untuk menjelaskan problem, problem solving terkait peristiwa demi peristiwa yang muncul di masyarakat. Artinya memang, karena keberlangsungan kehidupan masyarakat merupakan tanggungjawab bersama sebagai insan penerus cita-cita ke-rasulan. Mungkin untuk lebih jelasnya kami mencoba menguraikan meski dianggap tidak tepat dan sesempurna teoritisi maksudkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Sekilas Tentang C. Wright Mills &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dengan latar belakang keluarga kelas menegah konvensional: ayahnya seorang broker asuransi sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Mills lahir pada 28 Agustus 1916 di Waco, Texas. Ia kuliah di Universitas Texas dan menjelang 1939 dia mendapat gelar sarjana dan master. Mills adalah mahasiswa yang luar biasa, dimana sampai dia meninggalkan Texas dia telah mempublikasikan artikel-artikel di dua jurnal sosiologi utama. Mills mendapat gelar Ph.D. di Universitas Wisconsin. Dia mengajar pertama di Universitas Maryland, tetapi kemudian menghabiskan sebagian besar karirnya, dari 1945 sampai meninggal, di Universitas Columbia. Ia meninggal karena serangan jantung pada usia 45 tahun meski demikian ia sudah banyak memberikan kontribusi penting bagi sosiologi.&lt;br /&gt;Mills mempunyai kehidupan pribadi yang penuh gejolak, yang dicirikan oleh baynak jalinan asmara, tiga perkawinan dan seorang anak dari tiap-tiap perkawinannya. Dia juag menjalani kehidupan profesional yang penuh pertempuran. Dia kelihatannya bertikai dengan siapa saja dan dengan segala hal. Saat Mills masih mahasiswa di Wisconsin, dia kerap berselisih dengan banyak profesornya. Kelak dalam salah satu esainya, dia terliabat dalam kritik terselubung terhadap mantan ketua jurusan di Wisconsin. Dia menyebut teoritisi seniornya di Wisconsin, Howard Becker, sebagai “dungu banget” dan akhirnya ia pula berkonflik dengan Hanz Gerth, rekan penulisnya, yang menyebut Mills sebagain “operator hebat”, pemuda congkak yang menjanjikan dan koboi Texas. Mills terisolasi dan di asingkan oleh kolega-koleganya.meski ia seorang profesor ternama di Columbia. Mills menentang tidak hanya teoritisi dominan pada masanya Talcott Parsons, tetapi juga metodologis dominan, Paul Lazarsfeld, yang juga kolega di Columbia. Ia selalu bertentangan dengan orang; dia juga dengan masyarakat Amerika dan menantangnya dalam berbagai front. Tetapi barangkali yang paling menonjol adalah fakta bahwa ketika Mills mengunjungi Uni Soviet dan dihormati sebagai kritikus masyarakat utama, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang sensor di Uni Soviet denagn bersulang kepada seorang pemimpin Soviet awal yang dilenyapkan oleh Stalinis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Pemikiran Teori C. Wright Mills&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dengan imajinasi sosiologis seseorang dapat memahami pandangan historis yang lebih luas; dari segi pengertiannya terhadap hakikat kahidupan (inner life) dan kebutuhan kehidupan (external career) berbagai individu. Dengan menggunakan itu dia dapat melihat bagaimana individu-individu, dalam keruwetan pengalaman sehari-harinya sering mengisruhkan posisi sosial mereka. Dalam keruwetan itu dicari kerangka masyarakat modern dan dalam kerangka demikian psikologi berbagai manusia dirumuskan. Dengan sarana-sarana itu kegelisahan  pribadi para individu dipusatkan pada kesulitan-kesulitan eksplisit dan kesamaan-kesamaan publik diubah menjadi keterlibatan dengan isu publik (Mills1959:5). &lt;br /&gt;Demikian sebuah kutipan Mills yang sedikit mengungkapkan teorinya tentang psikologi sosial akibat kegelisahan dan problem individu yang sedang di hadapi sehingga mempengaruhi keadaan sosial yang ada dalam masyarakat. Di lain pihak keadaan struktur dalam lembaga atau organisasi masyarakat berada dalam keadaan kurang stabil sebagai akibat dari konstelasi konflik kepentingan yang berkepanjangan. Keadaan yang kurang kondusif dalam masyarakat dinilai sebagai pengaruh atau disebabkan oleh keadaan individu yang sedang gelisah/berada dalam tekanan dan keruwetan pengalaman yang dihadapi.&lt;br /&gt;Disamping itu ada dua model identifikasi penelitian sosiologis yang kemudian di sintesisikan oleh Mills yang disebut Imajinasi Sosiologis. Imanjinasi Sosiologis ini gabungan dari dua penelitian yang diidentifikasikan oleh Mills Makroscopik dan Molekular. Makroskopik, behubungan dengan keseluruhan struktur sosial dalam cara perbandingan; beruang lingkup sama dengan ruang lingkup ahli sejarah dunia, mencoba menampilkan tipe-tipe fenomena historis, dan secara sistematis menghubungkan berbagai lingkungan institusional masyarakat yang kenudian dikaitkan dengan tipe-tipe manusia yang ada. Molekular, ditandai dengan masalah-masalah berskala kecil dengan kebiasaan menggunakan model verifikasi statistik.&lt;br /&gt;Imajinasi sosiologi merupakan kemampuan untuk mengkap sejarah dan biografi serta daya gunanya dalam masyarakat. Mills menambahkan pada tekanan sosial psikologis terletak di dimensi sejarah dan kesadaran akan pengaruh kekuasaan terhadap struktur sosial. Kepercayaan terhadap kebebasan manusia untuk mengubah sejarah, menyebabkan dia menuntut pembaharuan sosiologi yang bermanfaat bagimasyarakat. &lt;br /&gt;Psikologi Sosial Mills didasarkan atas kecenderungan individu untuk terlibat dalam masyarakat dan struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial yang ada. Individu diasumsikan mampu untuk merubah pola-pola yang ada dalam struktur dengan kesadaran sejarah atau pengalaman yang ia refleksikan dalam kehidupanya. Artinay bahwa kebebasan individu dan kesadarannya pada masyarakat dan lembaga ditentukan oleh tingkah laku individu yang sedang dalam keadaan goncang atau kerumitan yang ia alami di lingkungannya.&lt;br /&gt;Sementara itu kekuasaan yang ada dalam lembaga tertentu di senantiasa berada dalam tingkat konflik yang terus berkepanjangan antara individu yang mempunyai tingkat sejarah dan pengalaman berbeda dalam refleksi problemnya, sehingga kekacauan yang ada dilembaga terletak pada individu itu sendiri yang mampu merubah dan menggeser struktur yang telah ada. Kerumitan dan kegoncangan yang telah ada pada masing-masing individu menjadi titik temu yang signifikan dalam perubahan lembaga tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Polloma, Margaret M. Sosiologi Kontemporer, Rajawali Pers, Jakarta, 2007&lt;br /&gt;- George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media, &lt;br /&gt;   Jakarta, 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-8771308090174994784?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/8771308090174994784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=8771308090174994784&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/8771308090174994784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/8771308090174994784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/01/teori-sosiologi-modern.html' title='IMAJINASI SOSIOLOGIS; C. WRIGHT MILLS'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-1522637169729542475</id><published>2009-01-08T01:02:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T01:09:01.554-08:00</updated><title type='text'>KEWIRAUSAHAAN</title><content type='html'>&lt;strong&gt;URGENSI JIWA INTERPRENEURSHIP BAGI MAHASISWA;&lt;br /&gt;SEBAGAI JALAN ALTERNATIF MENUJU KESUKSESAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Pendahuluan&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wirausahawan, betapa langka profesi ini dikalangan mahasiswa Indonesia. Wisudawan atau wisudawati dikalangan Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta lebih senang berorientasi menjadi pegawai atau pejabat pemerintahan. Padahal pendidikan soft skill dengan mengenyam matakuliah Kewirausahaan semisal atau juga dengan mengikuti seminar-seminar tentang Kewirausahaan bisa digunakan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa itu sendiri. Namun, hal demikian itu tidak semudah membalikkan telapak tangan tentunya. Matakuliah Kewirausahaan harus di desaign benar-benar menarik sehingga mahasiswa yang mengikuti matakuliah Kewirausahaan interest untuk menekuni dunia ini. Paling tidak, jiwa Kewirausahaan tumbuh dalam diri mahasiswa guna sebagai motivator atau jalan alternatif dalam berupaya mengangkat status sosialnya di masyarakat.&lt;br /&gt;Salah satu program strategis yang telah dikembangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mulai tahun 2008 lalu adalah program kewirausahaan mahasiswa. Program ini dimaksudkan untuk menjawab berbagai persoalan relevansi pendidikan tinggi yang terjadi saat ini. Salah satu problem terberat juga adalah problem ironi pendidikan Indonesia yang menunjukkan bahwa semakin lama seorang anak bersekolah semakin tidak mandiri (http://www.dikti.go.id). Opsi pengembangan kewirausahaan mahasiswa sebetulnya bukan tanpa preseden. Beberapa kampus, institusi, dan pihak yang peduli akan urgensi jiwa kewirausahaan ini tidak cukup hanya berhenti pada makna dari sekedar penjiwaan saja. Melainkan sudah memulai bagaimana menjadikan kewirausahaan sebagai suatu budaya yang menginternal pada setiap Perguruan Tinggi dan segenap civitas akademika, terutama mahasiswanya, jelas. Karena sampai saat ini pun, orientasi lulusan di Perguruan Tinggi yang banyak diketahui cuma itu-itu saja, yakni bagaimana cara melamar atau mencari pekerjaan. Semestinya dengan kemampuan pengalaman dan pengetahuan keilmuan yang ia peroleh tidak lagi hanya berorientasi mencari atau melamar kerja (job seeker), tapi bagaimana menciptakan lapangan kerja (job creator) sehingga dapat mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan nasional. &lt;br /&gt;Diskusi dan bincang-bincang mengenahi jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa sudah terlihat disetiap matakuliah Kewirausahaan ini yang mencoba diberi “virus”, bertujuan untuk menarik perhatian dan kesadaran akan pentingnya jiwa kewirausahaan dikalangan mahasiswa. Namun demikian pada kenyataannya tak gampang menular dan ditularkan. Itulah jiwa kewirausahaan. Berbagai cara sudah ditempuh untuk menularkan “virus kewirausahaan” ini. Anehnya virus ini tak juga menular dikalangan mahasiswa pada umumnya. Padahal, jiwa kewirausahaan atau enterpreneurship penting ditumbuhkan sejak awal agar dapat mendorong atau memotivasi suksesnya seseorang dalam hal ini mahasiswa sebagai subyek perubahan dalam masyarakat, bukan malah menjadi penyumbang angka kemiskinan dan pengangguran (penyumbang beban pembangunan nasional). &lt;br /&gt;Pada kenyataannya sampai sekarang pun masalah pengangguran memang masih menjadi kasus serius atau tema yang senantiasa selalu di gagas oleh setiap pelaku ekonomi, baik pemerintah, instansi pendidikan, pelaku usaha dan masyarakat. Sekarang saja angka pengangguran sudah mencapai 20 juta orang lebih. Belum ditambah setiap tahunnya angka pengangguran meningkat rata-rata dua juta per tahun. Angka pengangguran yang memang fantastis tersebut disumbang besar oleh tingginya jumlah setiap sekolah dan Perguruan Tinggi menelurkan lulusannya. Berbagai solusi dan kebijakan senantiasa diambil oleh pemerintah dan pelaku ekonomi untuk menekan laju angka pengangguran tersebut. Namun tetap saja angka pengangguran tetap tinggi dan akhirnya selalu menjadi Pekerjaan Rumah bagi bangsa ini. Kewirausahaan yang dapat menciptakan lapangan kerja sangat relevan di tengah tingkat pengangguran yang masih tinggi dan demikian ini merupakan jalan alternatif untuk meraih kesuksesan apalagi ditengah krisis global yang terjadi sekarang ini. Meskipun hal ini tergantung tingkat kreatifitas dari masing-masing entrepreneur untuk menggalinya sehingga produk yang dihasilkan relevan di market (marketable). Karena bukan tidak mungkin sekarang, bahwa mahasiswa bisa menjadi jutawan bahkan milyader yang tentunya tanpa meninggalkan nilai-nilai.&lt;br /&gt;Mahasiswa dianggap telah cukup mumpuni dan mempunyai skill, pengalaman dan pengetahuan yang di peroleh dari bangku kuliah. Artinya bahwa, mahasiswa seharusnya menjadi front-liner untuk menjawab tantangan atau masalah ini (pengangguran dan kemiskinan) dengan menumbuhkan, menerapkan dan mengejawantahkan jiwa enterpreneurshipnya dalam karya-karya nyata di masyarakat sebagai bentuk implementasi status dan prestisenya sebagai agent of social change. Salah satu cara paling sederhana yaitu sadar akan peran penting tumbuhnya semangat jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa dan masyarakat. Khususnya juga bagi lembaga pendidikan, tidak hanya sekedar menumbuhkan semangat atau jiwa kewirausahaan saja, tetapi bagaimana membangun konsep berfikir dan mendorong secara praktis kemampuan enterpreneurship lulusannya agar dapat sukses menempuh cita-cita dan tujuan hidupnya serta mampu ikut andil dalam merubah arus dan problem (kemiskinan dan pengangguran) yang terjadi di negaranya yakni dengan cara menciptakan lapangan-lapangan pekerjaan bagi pribadi dan masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Pembahasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Urgensi Jiwa Interpreneurship bagi Mahasiswa&lt;br /&gt;Sebagaimana statement di atas bahwa jiwa kewirausahaan penting bagi segenap mahasiswa sebagai jalan alternatif menuju kesuksesan mahasiswa yang sampai sekarang pun relatif minim. Kalau perlu jiwa kewirausahaan itu ditumbuhkan sejak dini guna mahasiswa agar tidak mudah mahasiswa terpengaruh atau iming-iming sebagai pegawai, politikus dan birokrat. Jiwa kewirausahaan bukan semata-mata merupakan ajaran pragmatis-materialis yang tak jarang di tolak mahasiswa. Namun pentingnya menumbuhkan jiwa kewirausahaan diidealkan guna menjawab tantangan kehidupan materialis baik masyarakat maupun mahasiswa dalam mengimbangi arus persaingan dan problem kemiskinan serta pengangguran yang terjadi dalam bagsa dan negara. Dilain pihak jiwa kewirausahaan juga merupakan alat untuk berdedikasi pada kemanusiaan apabila ia mampu mengejawantahkan jiwa enterpreneurshipnya dalam sumbangsihnya bagi bangsa dan negara. Jika ia kreatif dan sukses serta mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri yang diperuntukkan oleh segenap masyarakat yang membutuhkan maka ia telah berhasil dalam mengurangi problem sosial bangsanya demi kehidupan yang lebih baik tentunya.&lt;br /&gt;Jiwa kewirausahaan/kemampuan kewirausahaan tidak hanya dibutuhkan oleh pengusaha atau mereka yang terjung di dunia wiraswasta, tetapi diperlukan dalam profesi apapun. Karena seseorang dengan kemampuan wirausaha akan dapat menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri maupun orang lain. &lt;br /&gt;Jiwa kewirausahaan atau entrepreneurship penting ditumbuhkan sejak awal agar dapat mendorong suksesnya seseorang. Kewirausahaan yang dapat menciptakan lapangan kerja sangat relevan di tengah tingkat pengangguran yang masih tinggi. Hal ini mengemuka dalam Seminar Nasional "Success Story Alumni Undip" yang digelar Minggu (23/9). Hadir sebagai pembicara pemilik Penerbit Karya Toha Putra Hasan Toha, Wakil Ketua Kadin Jateng Dhodit LA Wardhana, dan Asisten Direktur Suara Merdeka Adi Ekopriyono. &lt;br /&gt;Namun juga peran penting Perguruan Tinggi dapat mengatasi jumlah penganguran intelek yang terus meningkat. Maka disamping Perguruan Tinggi mempunyai peran sangat penting sebagai institusi yang mencetak kader intelekual atau mencerdaskan anak bangsa, terutama mahasiswa yang memiliki pandangan jauh ke depan yang banyak didambakan amal baktinya oleh masyarakat. Pembelajaran untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di setiap bidang pendidikan menjadi sangat penting, jangan sampai setiap lulusannya hanya berharap menjadi sebagai karyawan, pegawai atau PNS (pegawai negeri sipil) saja melainkan Perguruan Tinggi diharapkan dapat menjadi satu alternatif untuk menciptakan situasi kondusif bagi penumbuhkembangan jiwa wirausaha di kalangan mahasiswa. &lt;br /&gt;Dari pembelajaran yang dilakukan di atas diharapkan memperoleh hasil berupa peningkatan jiwa kewirausahaan serta meningkatnya wawasan kewirausahaan yang lebih baik dan terciptanya lapangan pekerjaan yang baru. Kewirausahaan atau Entrepreneurship merupakan perilaku dinamis, berani mengambil risiko, reaktif dan berkembang. Pelaku entrepreneurship disebut entrepreneur. Sebagai mahasiswa yang memilki jiwa enterpreneur ia adalah seorang pengejar kesempatan dalam masalah atau ancaman. Dan ciri ciri seorang entrepreneur adalah sebagai berikut: Mengendalikan secara internal, sangat kuat, sangat ingin berprestasi, toleran, percaya diri, berorientasi kerja. &lt;br /&gt;Disamping itu menurut Ciputra  ada tiga hal penting yang menjadi ciri pembeda seorang wirausahawan yaitu pertama mampu menciptakan kesempatan (opportunity creator), mampu menciptakan hal-hal atau ide-ide baru yang orisinil (innovator) dan berani mengambil resiko dan mampu menghitungnya (calculated risk taker).&lt;br /&gt;Apalagi sebagai mahasiswa Islam yang secara doktrin telah mempunyai motivasi tinggi tentang enterpreneurship pendahulunya. Karena hal demikain telah dicontohkan oleh pendahulu kita yakni Muhammad ibn Abdillah sebagai pedagang atau saudagar yang jujur, amanah, tahan banting (tidak putus asa) dan sabar. Sebuah refleksi sejarah yang semestinya harus dicontoh oleh pengikut-pengikutnya.&lt;br /&gt;Fakta yang jelas memprihatinkan. Padahal, Clifford Geertz meyakini, para santri (muslim) Indonesia bakal menjadi elite pengusaha Indonesia di masa depan. Fakta ini merupakan hasil studi antropolog AS tersebut, terutama dalam bukunya “The Religion of Java” (1960), dalam upaya untuk menyelidiki siapa di kalangan muslim yang memiliki etos entrepreneurship. Dalam penelitian itu, Geertz menemukan, etos itu ada pada kaum santri yang ternyata pada umumnya memiliki etos kerja dan etos kewirausahaan yang lebih tinggi dari kaum abangan. &lt;br /&gt;Disamping mahasiswa dianggap telah cukup mumpuni dalam pengalaman, pengetahuan tentang keilmuan tertentu baik teoritis dan praksis, maka hal demikian tidak cukup dalam hal enterpreneurship. Dalam dunia enterpreneurship selain pengalaman, pengetahuan yang paling sangat dibutuhkan adalah skill mahasiswa dalam melakukan olah atau proses enterpreneurship. Skill merupakan hal yang sangat urgen untuk menentukan kelincahan dan keahlian seseorang. &lt;br /&gt;Kompetensi adalah seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan kualitas individu yang meliputi sikap, motivasi, nilai serta tingkah laku yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan/ kegiatan.....pemahaman wirausaha tidak hanya memerlukan pengetahuan tapi juga keterampilan. Keterampilan-keterampilan tersebut diantaranya keterampilan manajerial (managerial skill), keterampilan konseptual (conceptual skill) dan keterampilan memahami, mengerti, berkomunikasi dan berelasi (human skill) dan keterampilan merumuskan masalah dan mengambil keputusan (decicion making skill), keterampilan mengatur dan menggunakan waktu (time management skill) dan keterampilan teknik lainnya secara spesifik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal demikian juga ditegaskan oleh Bob Widyahartono MA. &lt;br /&gt;Kewirausahaan kolektif merupakan kombinasi dari berbagai sifat dan perilaku manusia, antara lain talenta, energi, komitmen berinovasi sebagai suatu tim. Dalam kewirausahaan kolektif, maka potensi dan keahlian, serta sifat dapat diandalkan (skill and credibility) individual secara mudah dapat diintegrasikan dalam suatu kelompok yang saling mencerahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Tujuan dan Manfaat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa harapan dan manifest yang diinginkan akan urgensi tumbuhnya jiwa kewirausahaan dikalangan mahasiswa baik yang telah lulus mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi maupun yang belum lulus dan yang akan segera lulus dengan planing-planing yang telah disiapkan jauh-jauh hari. Antara lain:&lt;br /&gt;1. Memberikan penyadaran akan pentingnya kontribusi dalam menanggulangi masalah pengangguran di Indonesia&lt;br /&gt;2. Menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan di dunia perguruan tinggi sebagai pilar ekonomi nasional demi terciptanya keadaan sosial yang baik&lt;br /&gt;3. Menumbuhkembangkan motivasi mahasiswa dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya pribadi maupun orang lain.&lt;br /&gt;4. Membuka peluang akan kreatifitas wirausaha bagi mahasiswa&lt;br /&gt;5. Dapat mengimplementasikan teori ke praktek di masyarakt, dan berkolaborasinya berbagai disiplin ilmu yang telah diperolehnya di Peeguruan tinggi dalam berwirausaha.&lt;br /&gt;6. Mahasiswa mempunyai semangat dan motivasi wirausaha yang tinggi sebagai jalan alternatif menuju sukses.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Melalui analisa mengenai urgensi dari jiwa kewirausahaan yang tumbuh dalam diri mahasiswa atau dalam lingkup pendidikan di perguruan tinggi, mudah-mudahan memberikan pemahaman kepada kita bahwa sikap kemandirian, pengetahuan manajerial, leadership, motivasi dan berbagai aspek yang berkaitan dengan technical maupun human skill merupakan satu mata rantai yang perlu dikembangkan menjadi suatu budaya dan paradigma berfikir dalam menyikapi tantangan akan tujuan hidup yang dicita-citakan.&lt;br /&gt;Dan juga semoga dapat menjadi kesadaran bersama bahwa mahasiswa mempunyai tanggungjwab moral dan sosial kepada masyarakat sebagai agent of social change yang tentunya dapat merealisasikannya dengan salah satu cara yakni enterpreneurship. Bukan semata-mata mengajarkan materialis. Tapi hal ini sebagai sebuah persembahan bagi masyarakat  tentang tanggungjawab mahasiswa sebagai insan cendikia yang mampu memberikan motivasi untuk meringankan beban bangsa dan negaranya dalam ranah sosial-ekonomi demi tercitanya pertumbuhan nasional yang merata.&lt;br /&gt;Sebagai insan cendikia tentunya, kemampuan mengeksplorasi sumber daya tidak akan serta merta terwujud jika tidak dibarengi dengan upaya kreativitas dan inovasi serta motivasi diri untuk menjadi yang lebih baik. Kesemua hal tersebut sebenarnya tertuang kedalam materi kewirausahaan-sebuah pengetahuan yang merupakan lintas disiplin ilmu dengan porsi pendekatan ekonomi dan manajemen yang dikemas dari berbagai pendekatan oleh berbagai para pakar dan praktisi. Sekali lagi upaya memahami konsepsi interpreneurship yang dilakukan banyak orang-termasuk mahasiswa, mudah-mudahan memberikan keyakinan dan paradigma baru tentang salah satu variabel konsep pertumbuhan ekonomi nasional. Dan semoga tidak cukup dalam jiwa saja melainkan benar-benar ter-ejawantahkan dalam ranah publik untuk menjawab problem sosial-ekonomi nasional sehingga terciptanya kehidupan sosial lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- http://www.uin-suka.info&lt;br /&gt;- http://www.kompas.com&lt;br /&gt;- http://kodirpetani.blogspot.com&lt;br /&gt;- http://www.dikti.go.id&lt;br /&gt;- Geertz, Clifford, The Religion of Java”; 1960&lt;br /&gt;- http://taufik79.wordpress.com&lt;br /&gt;- Geoffrey G. Meredith (Kewirausahaan : Teori dan Praktek) dan Prof. Dr. Mas’ud Macffoedz, MBA (Kewirausahaan : Suatu Pendekatan Kontemporer)&lt;br /&gt;- http://www.antara.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-1522637169729542475?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/1522637169729542475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=1522637169729542475&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1522637169729542475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1522637169729542475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/01/kewirausahaan.html' title='KEWIRAUSAHAAN'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-8723321091770003000</id><published>2009-01-08T00:53:00.002-08:00</published><updated>2009-01-08T00:58:51.586-08:00</updated><title type='text'>THE NEW RULES OF THE WORLD</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Review; The New Rules of the World&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang patut dan harus ditonton oleh dunia, sebuah ungkapan realita sosial mengenahi kondisi riil negri ini. Fakta yang tak elakkan lagi tentunya bagi dunia kaum buruh dan seluruh rakyat Indonesia yang menengadah mengais rizki dari lintah-lintah darat kaum borjuis-kapital pabrik. Film ini dibuat pada tahun 2002 dimotori oleh John Pilger seorang peneliti barat yang bekerja sama dengan IGJ (Institue for Global Justice) &amp; INFID dengan iring-iringan lagu Joan Baez yang menceritakan tentang penindasan buruh oleh mereka kaum pemilik kapital. Bagaimana pemerintah Indonesia yang semestinya memperhatikan nasip buruh justru berbalik merangkul memberi jalan bagi para kapitalis. Soeharto adalah pemimpin yang membuka kran kapitalis negri ini. Kerangka pembangunan yang ia canangkan berafiliasi dengan IMF dan World Bank yang disatu sisi memperkaya keluarganya sendiri dan mempertegas dan mempercuram jurang kemanusiaan antara si kaya dan si miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The New Rulers of the World lahir untuk meretas fakta terhadap eksploitasi kaum buruh pabrik yang terampas hak individu dan sosialnya. Ia terpasung teralienasi barang yang ia hasilkan dalam pabrik. Buruh yang semestinya mendapatkan hak jaminan kesehatan, kesejahteraan baik sosial maupun lingkungan harus tunduk dan sujud dibawah kungkungan tipu daya globalisasi dan eksploitasi oleh para kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi semakin memberondong keinginan kaum-kaum kapitalis untuk meraup keuntungan dengan cara apapun, termasuk mengeksploitasi pekerja pabrik dengan tanpa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan kemerdekaan pekerja. Globalisasi menjadikan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terperosok dalam jurang kenistaan dan ketertindasan ekonomi-sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, buruh pabrik yang bisa menghasilkan ribuan barang harus rela dan pasrah dibayar murah dengan gaji 1 dollar sehari oleh perusahaan-perusahaan multinasional yang sekarang tumbuh-subur menggurita. Perkasa menguasai pasar dunia. Mengeruk keuntungan milyaran dollar dari setiap hasil produksi buruh pabrik. Kondisi yang sungguh sangat tidak seimbang, GAP dengan bangga menikmati keuntungan bersihnya, 38 milyar dollar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dibuktikan dengan harga sepatu Adidas 1.4 juta rupiah ternyata hanya senilai 5000 rupiah bagi seorang buruh di Tangerang. Jelasnya, buruh itu dibayar 5000 rupiah atas keringatnya yang diperas selama 12 jam, 18 jam, 24 jam atau malah 36 jam sehari. GAP, NIKE, ADIDAS, OLD BRAND, dan banyak lagi merk-merk mendunia yang harganya selangit ternyata dibuat di Negara kaya  berkembang yang sekarang miskin seperti Indonesia. Sebuah negeri yang selayaknya tidak miskin dan menjadi pengemis.&lt;br /&gt;Film dokumentasi yang dibuat oleh seorang pengkritisi pembangunan dunia juga globalisasi ini mencoba menyadarkan dunia bahwa ada kebohongan dan kejahatan dibalik rayu IMF dan Bank Dunia. Kejahatan dan kebohongan yang dilakukan untuk menipu para buruh agar dapat dieksploitasi tenaga untuk kepentingan produksi pabrik kapitalis dan kerumunan kelompok-kelompok tertentu. Bisa dilihat code of conduct kerja yang semestinya diketahui semua pihak ternyata menipu para buruh dan ditutupi demi tujuan kapitalistik semata. Film tersebut dibuat di Indonesia, film yang menceritakan bagaimana negara di bawah kekuasaan Soeharto bumi Indonesia dikapling untuk investor asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana peristiwa pembantaian sekitar satu juta orang tak berdosa pada tahun 1965 oleh Soeharto yang ternyata disupport oleh Amerika dan Inggris, Indonesia kemudian dikapling dalam beberapa sektor. Jasa makanan, sektor keuangan, pertambangan juga perdagangan dibagi-bagi sesuai dengan keinginan para pengusaha asing dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh wakil Indonesia, dan pengusaha asing. Indonesia dibagi rata sesuai hasrat investor. Nixon menyebutnya, Upeti besar dari Asia.&lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara film ini, IMF menyadari bahwa sepertiga dari utang yang diberikan pada Indonesia hilang di tengah jalan. Dalam film tersebut dikatakan, uang-uang itu masuk ke dalam kantong keluarga dan kroni-kroni Soeharto. Tapi IMF tidak peduli. Karena menjerat Indonesia dengan utang adalah kesempatan yang bagus. Faktanya adalah yang dapat disebutkan adalah, bila Indonesia membayar utangnya pada IMF maka IMF akan bangkrut. Bahkan, kini, sumber pendapatan IMF turun hingga 30% karena Indonesia mempercepat pembayaran utangnya. Dan sekarang hutang-hutang IMF itu telah lunas tak menyisakan apa-apa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-8723321091770003000?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/8723321091770003000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=8723321091770003000&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/8723321091770003000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/8723321091770003000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/01/new-rules-of-world.html' title='THE NEW RULES OF THE WORLD'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-8872041778889646391</id><published>2009-01-08T00:48:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T00:52:39.930-08:00</updated><title type='text'>ELIZABETH; THE GOLDEN AGE</title><content type='html'>&lt;strong&gt;REVIEW FILM  “ ELIZABETH; THE GOLDEN AGE ”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tontonan menarik bahwa film Elizabeth; teh golden age ini merupakan representasi realita yang ada bahwa perempuan sebenarnya mampu memimpin sebuah pemerintahan. Jika selama ini perempuan di identikan dengan lemah sebuah ketidakmampuan maka hal itu di jawab salah besar oleh film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu dibuktikan oleh Elizabeth, pemimipin yang mempunyai kharisma tinggi di hadapan para pengikutnya, meski ia seorang perempuan tapi kebijaksanaan dan kepemimipinannya membuktikan bahwa perempuan mampu untuk memimpin pemerintahan. Kesejahteraan kerajaan dan rakyatnya berdasar atas kebijaksanaannya dalam problem solving semasa memerintah kerajaan Inggris. Tak heran jika sekarang pun orang-orang Inggris masih tetap mengenang masa kejayaannya. Sistem kepemimpinan yang dingin, terbuka-egaliter terhadap segala hal menjadikan ia sebagai sosok pemimpin yang di idamkan rakyatnya. Tegas dalam setiap making decision membuat ia di segani oleh orang-orang kerajaan. Seharusnya inilah sebuah pribadi yang dibutuhkan oleh Indonesia dalam pengambilan kebijakan namun tentunya tetap harus berdasar atas kepentingan orang banyak, artinya tidak sepihak dan tidak berdasar atas kepentingan-kepentingan tertentu yang mengintervensi dan mengintimidasi intern bangsa/kerajaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Elizabeth yang merasa terancam akibat intervensi dan intimidasi yang dilakukan oleh dua kerajaan besar Katolik; Maria Stuart; Ratu dari Skotlandia yang di bintangi oleh Samantha Morton dan Raja Philip II dari Spanyol yang dibintangi oleh Arief S Molla, yang merupakan bangunan kerajaan besar dengan armada yang begitu hebat ingin menantang dan menyerbu Inggris Raya. Sir Walter Raleigh yang di bintangi oleh Clive Owen bekerja tak kenal lelah untuk melindungi Elizabeth dari segala ancaman konspirasi yang berniat hendak menggulingkan Elizabeth Melalui jaringan dan kerja mata-matanya yang lihai, Walshingham yang juga seorang penasehat kerajaan berhasil membongkar adanya rencana pembunuhan yang dapat menggulingkan tahta kerajaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi seruan dari Philip II dan Maria, dengan nada tinggi Elizabeth menyerukan bahwa “kerajaannya tidak akan pernah kalah oleh kerajaan manapun, tentaraku lebih besar dan lebih hebat dari kerajaan Philip II” ia tak kan pernah takut dengan kerajaan manapun termasuk Philip II. Ia akan mati-matian membela kerajaan Inggris. Perang pun tak elakkan, sebagai pemimipn tertinggi Elizabeth tidak tinggal diam dan duduk di istana, sebagai pemimpin yang mempunyai tanggungjawab besar terhadap hidup mati kerajaan ia berada di garda depan memimpin barisan perang, ia tak pernah gentar apalagi takut. Dengan beribu-ribu pasukan dan armada laut Elizabeth dan Raleigh berhasil melumpuhkan kerajaan Spanyol Philip II, Raleigh sekaligus menjadi penasihat terpercaya dan otak dari strategi perang militer kerajaan Inggris waktu itu untuk bertempur melawan kerajaan Spanyol; Philip II. Dan berjayalah kerajaan Inggris di tangan Elizabeth.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-8872041778889646391?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/8872041778889646391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=8872041778889646391&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/8872041778889646391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/8872041778889646391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2009/01/elizabeth-golden-age.html' title='ELIZABETH; THE GOLDEN AGE'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-3316109330646123466</id><published>2008-05-30T22:10:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T22:13:02.688-07:00</updated><title type='text'>IMPERIALISME;</title><content type='html'>&lt;strong&gt;IMPERIALISME&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Imperialisme muncul pertama kali di Inggris pada akhir abad XIX. Disraeli, perdana menteri Inggris, ketika itu menjelmakan politik yang ditujukan pada perluasan kerajaan Inggris hingga suatu "impire" yang meliputi seluruh dunia. Politik Disraeli ini mendapat opisisi yang kuat. Golongan oposisi takut kalau-kalau politik Disraeli itu akan menimbulkan krisis-krisis internasional. Karena itu mereka menghendaki pemusatan perhatian pemerintah pada pembangunan dalam negeri dari pada berkecipuhan dalam sola-soal luar negeri. Golongan oposisi ini disebut golongan "Little England" dan golongan Disraeli (Joseph Chamberlain, Cecil Rhodes) disebut golongan "Empire" atau&lt;br /&gt;golongan "Imperialisme" . Timbulnya perkataan imperialis atau imperialisme, mula-mula hanya untuk membeda-bedakan golangan Disraeli dari golongan oposisinya, kemudian mendapat isi lain hingga mengandung arti seperti yang kita kenal sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal Mula Kata Imperialisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan imperialisme berasal dari kata Latin "imperare" yang artinya "memerintah" . Hak untuk memerintah (imperare) disebut "imperium".Orang yang diberi hak itu (diberi imperium) disebut "imperator". Yang lazimnya diberi imperium itu ialah raja, dan karena itu lambat-laun raja disebut imperator dan kerajaannya (ialah daerah dimana imperiumnya berlaku) disebut imperium. Pada zaman dahulu kebesaran seorang raja diukur menurut luas daerahnya, maka raja suatu negara ingin selalu memperluas kerajaannya dengan merebut negara-negara lain. Tindakan raja inilah yang disebut imperialisme oleh orang-orang sekarang, dan kemudian ditambah dengan pengertian-pengerti an lain hingga perkataan imperialisme mendapat arti-kata yang kita kenal&lt;br /&gt;sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti Kata Imperialisme&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imperialisme ialah politik untuk menguasai (dengan paksaan) seluruh dunia untuk kepentingan diri sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya. "Menguasai" disini tidak perlu berarti merebut dengan kekuatan senjata, tetapi dapat dijalankan dengan kekuatan ekonomi, kultur, agama dan ideologi, asal saja dengan paksaan. Imperium disini tidak perlu berarti suatu gabungan dari jajahan-jajahan, tetapi dapat berupa daerah-daerah pengaruh, asal saja untuk kepentingan diri sendiri. Apakah beda antara imperialisme dan kolonialisme ? Imperialisme ialah politik yang dijalankan mengenai seluruh imperium.&lt;br /&gt;Kolonilisme ialah politik yang dijalankan mengenai suatu koloni, sesuatu bagian dari imperium jika imperium itu merupakan gabungan jajahan-jajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam Imperialisme &lt;br /&gt;Lazimnya imperialisme dibagi menjadi dua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Imperialisme Kuno (Ancient Imperialism) . Inti dari imperialisme kuno adalah semboyan gold, gospel, and glory (penyebaran agama, kekayaan dan kejayaan). Suatu negara merebut negara lain untuk menyebarkan agama, mendapatkan kekayaan dan menambah kejayaannya. Imperialisme ini berlangsung sebelum revolusi industri dan dipelopori oleh Spanyol dan Portugal.&lt;br /&gt;2. Imperialisme Modern (Modern Imperialism) . Inti dari imperialisme modern ialah kemajuan ekonomi. Imperialisme modern timbul sesudah revolusi industri. Industri besar-besaran (akibat revolusi industri) membutuhkan bahan mentah yang banyak dan pasar yang luas. Mereka mencari jajahan untuk dijadikan sumber bahan mentah dan pasar bagi hasil-hasil industri, kemudian juga sebgai tempat penanaman modal bagi kapital surplus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-3316109330646123466?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/3316109330646123466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=3316109330646123466&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3316109330646123466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3316109330646123466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/imperialisme.html' title='IMPERIALISME;'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-1588328565033915308</id><published>2008-05-30T22:07:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T22:09:09.506-07:00</updated><title type='text'>GOA AKBAR</title><content type='html'>&lt;strong&gt;GOA AKBAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goa ini terletak tepat di bawah Pasar Baru Tuban, sudah tentu terletak di tengah kota Tuban.&lt;br /&gt;Sampai saat ini Goa Akbar sudah dikelola dengan sangat baik oleh pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Tuban, sehingga fasilitas untuk mengeksplorasi goa sangal lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dari perkiraan Anda tentang goa yang gelap dan berbau kotoran kelelawar, disini pengunjung akan mendapatkan suasana yang sangat berbeda; Saat Anda menuruni pintu goa, tengoklah keatas, maka Anda akan dapati suasana layaknya memasuki mall-mall di kota-kota besar. Ruang didalam goa menjadi semakin menarik dengan dekorasi lampu hias untuk membantu menampilkan sosok-sosok bebatuan yang ada di dalam goa, tentu dengan jaringan kabel listrik yang tidak tampak di pandang.&lt;br /&gt;"Salah satu sudut Goa Akbar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain suara tetesan air yang terdengar dan kadang mengenai kepala kita, pengunjung juga dapat mendengarkan lantuman musik dari perangkat sound system yang sudah terinstalasi sampai di kedalaman goa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan lain jika Anda ingin memasuki goa ini, stamina harus baik, karena Anda akan berjalan kurang lebih 30 menit untuk menyusuri kedalaman goa atau sampai 60 menit jika Anda ingin secara detail mengamati dan membaca nama-nama dan legenda dari masing-masing ruangan yang ada di dalam goa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-1588328565033915308?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/1588328565033915308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=1588328565033915308&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1588328565033915308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1588328565033915308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/goa-akbar.html' title='GOA AKBAR'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-737150155338228861</id><published>2008-05-30T22:01:00.000-07:00</published><updated>2008-07-08T20:59:26.151-07:00</updated><title type='text'>TUBANKU, TUBAN ANDA, TUBAN KITA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;BUPATI TUBAN DULU – KINI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Kyai Gede Papringan &lt;br /&gt;2.  Raden Aryo Ronggolawe &lt;br /&gt;3.  Raden Sirolawe &lt;br /&gt;4.  Raden Sirowenang &lt;br /&gt;5.  Raden Harioleno &lt;br /&gt;6.  Raden Aryo Adikara &lt;br /&gt;7.  Syeh Abdurrachman &lt;br /&gt;8.  Raden Aryo Wilotikto &lt;br /&gt;9. Kyai Ageng Ngraseh &lt;br /&gt;10. Kyai Ageng Gegilang &lt;br /&gt;11. Kyai Ageng Babatang &lt;br /&gt;12. Raden Balewot &lt;br /&gt;13. Pangeran Sekar Tanjung &lt;br /&gt;14. Pangeran Ngasar &lt;br /&gt;15. Pangeran Permalat &lt;br /&gt;16. Haryo Salampe &lt;br /&gt;17. Pangeran Dalem &lt;br /&gt;18. Pangeran Pojok &lt;br /&gt;19. Pangeran Anom &lt;br /&gt;20. Soejokopoero Joedonegoro &lt;br /&gt;21. Arya Balabar/Arya Blender &lt;br /&gt;22. Pangeran Soejonoputro &lt;br /&gt;23. Joedhonegoro &lt;br /&gt;24. R.Aryo Soero Diningrat &lt;br /&gt;25. R.Aryo Diposono &lt;br /&gt;26. Kyai Tumenggung Tjokronegoro &lt;br /&gt;27. Poerwonegoro &lt;br /&gt;28. Kyai Lilder Soerodinegoro &lt;br /&gt;29. R.Tumenggung Soeryodinegoro &lt;br /&gt;30. Pangeran Tjitrosomo I &lt;br /&gt;31. Pangeran Tjitrosomo II &lt;br /&gt;32. Pangeran Tjitrosomo III &lt;br /&gt;33. Pangeran Tjitrosomo IV &lt;br /&gt;34. R.Mas Somobroto &lt;br /&gt;35. Aro Koesoemodigdo&lt;br /&gt;36. 1911-1919 : R.Tumenggung Pringgowinoto &lt;br /&gt;37. 1919-1927 : RAA.Pringgodigdo Koesoemodiningrat &lt;br /&gt;38. 1927-1944 : RMAA.Koesoemobroto &lt;br /&gt;39. 1944-1946 : R.T.Soediman Hadiatmojo &lt;br /&gt;40. 1946-1956 : RH.Mustain &lt;br /&gt;41. 1956-1958 : R.Soendoroe &lt;br /&gt;42. 1958-1960 : R.Sanjaya &lt;br /&gt;43. 1960-1968 : M.Widagdo &lt;br /&gt;44. 1968-1970 : R.Soeparmo &lt;br /&gt;45. 1970-1975 : RH.Erchamni &lt;br /&gt;46. 1975-1980 : H.M.Masdoeki &lt;br /&gt;47. 1980-1985 : Soerati Moersam &lt;br /&gt;48. 1985-1991 : Drs.Djoewahiri Marto Prawiro &lt;br /&gt;49. 1991---- : Drs.H.Sjoekoer Soetomo &lt;br /&gt;50. ------ &lt;br /&gt;51. 1996-2001: Hindarto &lt;br /&gt;52. 2001-2006: Dra. Haeny Relawati Rini Widiastuti, M.Si&lt;br /&gt;53. 2006-2011: Dra. Haeny Relawati Rini Widiastuti, M.Si&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASAL-USUL TUBAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat Indonesia khususnya Jawa, nama mengandung makna dan merupakan suatu hal yang bersifat sakral. Oleh karena itu nama Raja raja dibedakan dengan nama rakyatnya dan bagi masyarakat nama kecil berbeda dengan nama sesudah kawin. Beberapa pendapat tentang pemberian nama sebuah desa / daerah dikaitkan dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. Berdasarkan legenda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam legenda mengenai asal usul “Tuban” terkait dua tempat yang penting yaitu Watu Tiban dan Bektiharjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Watu Tiban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kerajaan Majapahit jatuh, semua harta kekayaan dibawa ke Demak. Salah satu harta kekayaan Majapahit yang dibawa ke Demak adalah pusaka kerajaan yang berbentuk batu dan pemindahannya dipercayakan pada sepasang burung bangau. Sesampai disuatu daerah, burung bangau yang sedang membawa batu pusaka diolok olok oleh anak anak pengembala dan karena marah maka jatuhlah batu pusaka kerajaan Majapahit. Adapun tempat dimana batu pusaka itu jatuh, dinamakan Tuban. Dengan demikian nama Tuban berasal dari kata “Wa(tu) Ti(ban)”. Dan ternyata batu tersebut berupa sebuah Yoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Metu Banyu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan petunjuk yang di terima oleh Raden Dandang Wacono yaitu membuka hutan Papringan untuk dijadikan negara. Pada waktu pembukaan hutan papringan, keluarlah dengan tidak terduga sebuah sumber air. ari peristiwa”Me(tu) (Ban)yune” yang berarti keluar airnya, maka spontan Raden Aryo Dandang Wacono memberi naman tempat tersebut dinamakan Tuban. umber airnya sangat sejuk dan pada akhirnya tempat tersebut dinamakan “Bektiharjo’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Nges(Tu)ake kewaji(Ban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kebiasaan sehari hari masyarakat Tuban mudah diarahkan untuk melaksanakan yang bersifat membangun. Sifat demikian dalam bahasa Jawa dikatakan : “Nges(Tu) kewaji(Ban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. Berdasarkan Etimologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Jawa Kawi, Tuban berarti “Jeram’, sedangkan jeram itu sendiri adalah air terjun. Apabila kita lihat di Tuban terdapat air terjun yang terdapat di kecamatan Singgahan (air terjun nglirip) dan di kecamatan Semanding ( air terjun banyu langse ). ada kedua air terjun baik di nglirip maupun di air terjun banyu langse tidak ada data Arkeologi yang mendukung bahwa itu bekas suatu kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Data Arkeologi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ngerong kecamatan Rengel terdapat Arca Mahatula yang menunjukkan ciri jaman Singosari. Begitu pula terdapat pecahan keramik serta batu bata, selain itu wilayah kecamatan rengel di temukan pula prasasti Malengga dan Banjaran yang bertahun 1052 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Data Geografis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rengel terletak di tepi Sungai Bengawan Solo yang jaman dulu merupakan sarana penghubung utama. Ditepi sungai bengawan solo terdapat hamparan sawah yang subur serta pegunungan yang membujur dari arah utara sampai ke selatan. Hal ini sangat strategis ditinjau dari segi ekonomi maupun militer dalam mendukung pengembangan pusat pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BEBERAPA SUMBER - SUMBER TERTULIS YANG BERKAITAN DENGAN TUBAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung penelusuran kapan berdirinya Tuban sebagai desa atau wilayah yang setingkat dengan kabupaten sekarang ini perlu pengkajian sumber tertulis yang berupa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber tertulis berupa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Prasasti Kambang Putih &lt;br /&gt;2. Prasasti Malengga&lt;br /&gt;3. Prasasti Banjaran &lt;br /&gt;4. Prasasti Tuban &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber tertulis berupa. Tentara Tar Tar dibawah pimpinan komando Sih-pie, Kau Sing dan Ike Messe, sebagian mendarat di Tuban dan sebagian meneruskan ke Sedayu. Dengan bantuan Raden Wijaya, tentara Tar-Tar dapat mengalahkan Jayakatwang dari Kediri dan pada akhirnya tentara Tar-Tar dapat di hancurkan oleh Raden Wijaya dengan bantuan Arya Wiraraja dari Sumenep. Setelah hancurnya tentara Tar-Tar, Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja Mojopahit dengan gelar Sri Kertajasa Prawira. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Tertulis Berita Luar Negeri. Berita Cina yang sangat penting adalah uraian Ma Hua dalam bukunya Ying Yai Shing Lan. Ma Hua adalah orang Tionghoa yang beragama Islam, yang mengiringi perjalanan Cheng Ho dalam perjalanan ke daerah daerah lautan selatan ( 1413 M – 1425 M ).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-737150155338228861?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/737150155338228861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=737150155338228861&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/737150155338228861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/737150155338228861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/tubanku-tubanmu-tuban-kita.html' title='TUBANKU, TUBAN ANDA, TUBAN KITA'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-8721930820947087561</id><published>2008-05-22T20:50:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T11:30:44.756-07:00</updated><title type='text'>SISTEM SOSIAL INDONESIA; DAMPAK INDUSTRIALISASI</title><content type='html'>&lt;strong&gt;DAMPAK INDUSTRIALISASI; HASRAT PETANI DAN NELAYAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industrialisasi merupakan bentuk kecil dari modernitas akibat dari dinamika dunia. Bagaiamana tidak, Indonesia yang dulu kokoh dan kuat dalam hal pangan berdasar atas sistem agraria dan laut yang seharusnya menjadi kebutuhan pokok kerja warganya bergeser, beralih pada pekerja buruh pabrik dan TKI. Sampai saat ini pun buruh dan TKI belum jelas nasibnya dan pemerintah terkesan tutup mata. Hal itu didasari atas maraknya protes dan tuntutan demonstran 1 Mei 2008 (May Day) kemarin. Mereka hanya ingin hasil kerjanya pada kaum-kaum borjuis dianggap, dihargai sepantasnya demi sejahteranya seluruh buruh di negeri ini.&lt;br /&gt;Dampak industrialisasi menyebabkan tuntutan kehidupan yang lebih tinggi dalam proses mempertahankan hidup. Jelas nantinya menggeser sedikit, banyak daya nalar dan berpikir masyarakat. Masyarakat yang dulu nyaman dengan bertani dan nelayan (melaut) sebagai pekerjaan pokok kadang harus rela melihat generasinya (anaknya) ogah mengikuti jejak langkahnya. Takut hitam, iming-iming kota besar dengan bebagai macam fasilitas industri, gaji yang agak lumayan besar. Akibatnya, fakumnya pertanian dan nelayan yang menjadi sumber pokok indonesia (agraria dan bahari) harus merelakan pemudanya bersimpuh lutut pada kaum-kaum borjuis yang terus dengan angkuhnya memeras tenaga. &lt;br /&gt;Imbasnya Indonesia menjadi pemasok TKI paling besar, Malaysia, Arab Saudi, Brunei dan lain-lain. Data para TKI, diperkirakan tiga juta TKI bekerja di luar negeri lihat data di Depnakertrans Tahun 2002, ke seluruh dunia dikirimkan 480.393 orang TKI (116.779 laki-laki dan 363.614 wanita). Dari jumlah itu, yang ke negara-negara Timur Tengah 50 persennya ialah 241.961 orang (18.771 laki-laki dan 223.190 wanita). Negara-negara Timur Tengah yang paling banyak menerima TKI adalah Arab Saudi 213.603 (18.256 laki-laki dan 195.347 wanita), Uni Emirat Arab 7.7776 (332 laki-laki dan 7447 wanita), Kuwait 16.418 (37 laki-laki dan 16.381 wanita). TKW ke Timur Tengah itu adalah PRT. Di luar PRT, seperti perawat, sedikit sekali jumlahnya. Negara di luar Timur Tengah yang menerima banyak TKW ialah Singapura 16.071 orang (80 laki-laki dan 15.991 wanita) dan Malaysia 152.680 orang (wanita 65.114 orang dan 87.566 laki-laki). Tidak cukup disitu, hingga akhir September 2006, jumlah TKI yang bekerja di Korsel sebanyak 28.693 orang. Jumlah itu terdiri atas 141 TKI program penanaman modal asing, 5.360 program G to G, 2.510 TKI pelaut, dan 20.682 TKI program Korea Federation of Small and Medium Business/KFSB. (suarapembaruan.com). &lt;br /&gt;Data di atas menjadi bukti betapa besar paralihan daya nalar dan pikir masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Toh nyatanya, berbagi macam kasus terjadi seperti pemerkosaan, penganiayaan, pembunuhan [Institute for Migrant Workers (IWORK) mencatat 45 buruh migran Indonesia (BMI) meninggal dunia di berbagai negara sepanjang bulan Januari-April 2008]. Hal ini mengindikasikan perlindungan terhadap buruh masih sangat kurang (suaramerdeka.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. PEMBAHASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Kerangka Teori&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Teori Konflik&lt;br /&gt;Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial serta melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan. Teoritisi konflik apapun keteraturan yang terdapat dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada di atas dan menekankan pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. Masyarakat disatukan oleh ”ketidakbebasan yang dipaksakan”. Dengan demikian, posisi tertentu di dalam masyarakat mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain. &lt;br /&gt;Sosiologi Marx (1818-1883) tentang konflik didasarkan atas dua asumsi pokok: Pertama, ia memandang kegiatan-kegiatan ekonomi sebagai faktor-penentu utama semua kegiatan kemasyarakatan. Kedua, ia melihat masyarakat manusia terutama dari sudut konflk di sepanjang sejarah. Menurut Marx, motif-motif ekonomi dalam masyarakat mendominasi semua struktur lainnya. Ia menganggap cara produksi (mode of  production) di sepanjang sejarah manusia secara sedemikian rupa, sehingga sampai-sampai ia berpandangan sebagian besar sumber daya ekonomi sebagai dikuasai oleh segelintir orang tertentu, sementara golongan masyarakat lainnya sebagai ditakdirkan untuk bekerja demi mereka dan tetap bergantung pada kemurahan hati segelintir penguasa sebagian besar seumber daya itu. Karenanya, Marx melihat masyarakat terbagi menjadi dua kelas: 1). kelas pemilik yang selalu mengeksploitasi, 2). kelas buruh yang senantiasa tereksploitasi. Pengeksploitasian terus-menerus ini, menurut Marx, mengharuskan terjadinya revolusi-revolusi. Namun demikian, karena para pemimpin revolusi tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang cara produksi yang lain, kata Marx, maka mereka kemudian mengikuti sistem ekonomi yang sama, dengan menjadikan diri sebagai pemegang sebagian sumber daya ekonomi, dan sekali lagi menempatkan massa sebagai buruh yang terampas hak-haknya. Proses pengeksploitasian ini, demikian Marx kian menjadi-jadi seiring dengan gelombang industrialisasi dan matangnya kapitalisme di Eropa. &lt;br /&gt;Pendekatan konflik berpangkal pada anggapan-anggapan dasar sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Setiap masyarakat senantiasa berada didalam proses perubahan yang tidak pernah berakhir, atau dengan perkataan lain, perubahan sosial merupakan gejala yang melekat di dalam setiap masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Setiap masyarakat mengandung konflik-konflik di dalam dirinya, atau dengan perkataan lain, konflik adalah merupakan gejala yang melekat di dalam setiap masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Setiap unsur di dalam suatu masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya disintegrasi dan perubahan-perubahan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Setiap masyarakat terintegrasi di atas penguasaan atau dominasi oleh sejumlah orang atas sejumlah orang-orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik diyakini merupakan suatu fakta utama dalam masyarakat. Sejumlah tradisi intelektual, menyediakan perangkat analisis interpretasi terhadap masalah tersebut. Konflik merupakan suatu fakta dalam masyarakat industri modern. Meskipun ada pembahasan perihal sifat dan fungsi konflik tersebut, namun tidaklah mudah mengakui keberadaannya. Konflik lebih banyak dipahami sebagai keadaan tidak berfungsinya, komponen-komponen masyarakat sebagaimana mestinya atau gejala penyakit dalam masyarakat yang terintegrasi secara tidak sempurna. Tetapi, secara empiris konflik, tidak diakui karena, orang lebih memilih stabilitas sebagai hakikat masyarakat. Konflik merupakan realitas yang harus diahadapi oleh para ahli teori sosial dalam membentuk model-model umum perilaku sosial.&lt;br /&gt;Konflik mempunyai fungsi-fungsi positif. Salah satunya adalah, a). mengurangi ketegangan dalam masyarakat, b). juga mencegah agar ketegangan tersebut tidak terus bertambah dan menimbulkan kekerasan yang memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan. Dari sudut pandang ini, konflik sosial mempunyai fungsi katarsis. Karenanya konflik mempunyai dampak yang menyegarkan pada sistem sosial itu sendiri, namun konflik meciptakan perubahan-perubahan di dalam sistem, dan konsekuensinya sistem itu bisa lebih efektif. Tidaklah mudah menyamakan antara teori konflik dalam masyarakat dengan pandangan yang khas mengenahi masyarakat sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Analisis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bergesernya pemikiran masyarakat tentang bagaimana cara mempertahankan hidup untuk memenuhi kebutuhan pangan menjadi titik pokok bahasan kali ini. Hal ini disebabkan modernisasi dan industrialisasi yang terus menggerogoti indonesia. Meski memang modernisasi Barat didahului oleh komersialisasi dan industrialisasi, sedangkan di negara non-Barat, modernisasi didahului oleh komersialisasi dan birokrasi. Jadi, modernisasi dapat dilihat terlepas dari industrialisasi-di Barat modernisasi disebabkan oleh industrialisasi, sedangkan dikawasan lain modernisasi menyebabkan industrialisasi. Yang jelas, baik modernisasi maupun industrialisasi menyangkut unsur penting pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan ekonomi tak dapat terjadi terlepas dari industrialisasi, dan industrialisasi ini senantiasa menjadi bagian integral dari modernisasi. &lt;br /&gt;Dalam analisis ini, para petani yang dulunya banyak dan mampu menghasilkan hasil panen yang baik harus rela sebagian tanah yang ia miliki dijual kepada kaum-kaum borjuis. Sejak awal ingin memonopoli dan menindas serta mengeksploitasi besar-besaran negeri ini. Tak dielakkan lagi, kemudian muncullah kapitalisme yang jelas hanya ingin mengeksploitasi dan merusak Indonesia sebagai lahan subur dunia, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Belum lagi penciptaan mitos pasar-global yang selalu menghantui rakyat dan sistem perekonomian Indonesia. Kenyataan ini dilihat dalam kurun waktu yang cukup begitu singkat pada tahun ’90-an tanah persawahan yang dulu luasnya berhektar-hektar menyempit akibat dibangunnya pabrik-pabrik industri yang dalam taken kontraknya jelas-jelas kurang begitu menguntungkan pemerintah dan penduduk setempat terutama. &lt;br /&gt;Masalahnya adalah di negara-negara berkembang seperti Indonesia, masyarakat, termasuk dunia bisnis, justru sering menghendaki campur tangan pemerintah, walaupun dalam retorika, mereka menghendaki deregulasi. Antara deregulasi dan intervensi sering sangat kabur batas-batasnya. Sebagai contoh PP No.20/1994 yang dinilai bertentangan dengan UU PMA No.1/1967. Di satu pihak peraturan itu memang lebih memperlancar masuknya modal asing dan penanaman modal umumnya. Di lain pihak hal itu mengandung campur tangan pemerintah atau yang menguntungkan grup-grup bisnis besar tertentu. &lt;br /&gt;Sebelum itu, pada tahun '60-an pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kemerosotan sehingga menimbulkan krisis politik pada tahun 1965-1966. Higgins, ekonom yang pernah bekerja di Indonesia, juga menyebut perekonomian Indonesia hingga pertengahan ’60-an sebagai the chronic droup-out, belajar dari pengalaman itu pemerintah Orde Baru mengundang kembali modal asing untuk melaksanakan industrialisasi lewat UU No.1/1967. segera setelah membuka pintu kepada modal asing, pemerintah Orde Baru juga memberi kesempatan kepada modal dalam negeri untuk melaksanakan tugas yang sama melalui UU No.1/1968. Sebagaimana di duga dan telah di sadari, misalnya oleh Menteri EKUIN pada waktu itu, Sri Sultan H.B IX, pemodal dalam negeri yang telah siap adalah pengusaha non-pribumi. Sekali lagi, industrialisasi semasa Orde Baru mengahadapi ganjalan baru dalam sistem pemilikan. Pada dasawarsa ’80-an menjadi jelas bahwa golongan etnis inilah yang mendominasi perekonomian. Monopoli dan oligopoli dipersoalkan. Ini di ikuti dengan identifikasi gejala konglomerasi. Sebagian besar aset industri dan perusahaan-perusahaan besar pada awal ’90-an ternyata berada di tangan golongan etnis tersebut. &lt;br /&gt;Pemilikan pribadi modern ini sesuai dengan negara modern, yang pelan-pelan dibeli oleh orang-orang yang mempunyai milik dengan cara perpajakan--telah jatuh semuanya ke dalam tangan orang-orang ini lewat hutang nasional, dan kehadiran negara itu telah menjadi tergantung sepenuhnya kepada kredit komersial, yang diberikan kepada negara oleh para pemiliki-pemilik, yaitu kaum borjuis, sebagaimana tercerminkan oleh naik turunnya dana negara di bursa saham. &lt;br /&gt;Seperti halnya di Jepang pada awal tahun-tahun modernisasinya hasil pajak tanah merupakan bagian terbesar dari seluruh hasih pajak, yang bagi pemerintah Jepang merupakan biaya untuk usaha modernisasinya.  Pada tahun 1868 bagian itu adalah 68, 7 % dan pada tahun 1877 83,2%. Sementara itu ini berarti, mahwa petani di Jepang harus memikul korban yang berat untuk modernisasi yang dipaksakan itu. Ini terbukti dari kenyataan, bahwa selama periode 1868-1912 telah terjadi 210 kali pemberontakan petani. Dilihat dalam lingkup masyarakat pedesaan sendiri mungkin modernisasi itu dipandang sebagai suatu yang tidak menyenangkan, yang maunya sedapat mungkin hendak dihindari, atau sebagai sesuatu yang terpaksa harus diterima, suatu yang merugikan kehidupan dan tata cara sendiri.  Belum lagi para pemimpin negara yang feodalis terus menggerogoti tanah rakyat dengan segenap kekuasannya. &lt;br /&gt;Dilain pihak pandangan tentang kota-kota besar mengakibatkan daya pikir pemuda yang sekarang terkesan hura-hura (hedonis) belaka menjadi indikasi cukup signifikan dalam dunia pertanian. Mereka (pemuda) menganggap bahwa bekerja di kota lebih-lebih Jakarta sebagai kota metroplitan, di pabrik industri merupakan sebuah kebanggaan yang mahal harganya. Akibatnya sangat jelas mereka melakukan perpindahan dari desa ke kota (urbanisasi) hanya untuk mencari pekerjaan dikota dan berharap dengan mudah mendapatkannya. Dalam pandangan konflik ini, mungkin industrilisasi sebagai kepentingan para pemimpin/kaum-kaum borjuis untuk mengkosongkan lahan pertanian, membeli dengan uang yang ia miliki dan mengeruk habis/eksplotasi sumber daya alam di Indonesia, sebagai gantinya iming-iming gaji dan kahidupan kota yang hedonis belaka.&lt;br /&gt;Semua itu dimungkinkan oleh adanya uang. ”Barang siapa memiliki uang satu sen maka ia berdaulat (sejauh satu sen) atas seluruh manusia; memerintah para juru masak agar menyajikan santapan baginya, memerintah para bijak-cendikia untuk memberinya pelajaran, memerintah para raja untuk menjaganya--sejauh satu sen.” Carlyle dan Marx sepakat bahwa misteri uang, yakni transendensinya, sebagaimana terungkap melalui pakaian yang menandai perbedaan kelas dan perbedaan kekuasaan, menyangga tatanan sosial. Keduanya sama-sama &lt;br /&gt;berpendapat bahwa berbelanja untuk menjaga penampilan adalah sesuatu yang perlu, meskipun Karl Marx, tidak seperti Carlyle, mengangap keperluan semacam itu teramat sangat irasional. &lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang seolah-olah mengusir penduduk dari pedesaan, dan engganya untuk menjadi petani dan nelayan sehingga pertanian dan nelayan fakum tanpa orang. Ada faktor-faktor yang menyebabkan hal semacam itu, diantara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Jelas ada daya tarik ekonomi dari kota (industri), orang berharap akan mendapat pekerjaan di sana dan dengan demikian mendapat uang. Bagi banyak orang ini suatu keharusan, karena di desa-desa tidak ada mata pencaharian lagi atau tidak ada kesempatan untuk mencari uang. Orang-orang mencari perbaikan nasib di kota atau mencari kesempatan kerja yang dipandang lebih sesuai dengan pendidikannya di sekolah. Bertani (menjadi petani) dan nelayan menjadi hal yang dianggap level rendah, tidak sesuai dengan pendidikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Yang erat hubungannya dengan usaha mencari pekerjaan yang lebih sesuai dengan pendidikan, ialah usaha untuk mengangkat posisi sosialnya dengan cara pergi ke kota dan bekerja di pabrik sana. Pendidikan modern menciptakan pola nilai dan pola harapan baru. Anggapan kehidupan kotalah yang sesuai dengan pendidikannya itu. Akibatnya pertanian dan nelayan fakum tanpa perhatian.&lt;br /&gt;c. Kota-kota itu merupakan daya tarik, karena fasilitas pendidikan di situ di nilai lebih baik dari pada di pedesaan. Dilain pihak orang tua yang ingin agar anaknya dapat memanfaatkan kesempatan baru untuk naik tangga masyarakat, akan pindah ke kota. Daya tarik itu juga dapat timbul karena adanya fasilitas-fasilitas sosial lainnya, kemudian daya nalar anak akan terbiasa dengan kehidupan serta fasilitas di kota dan enggan kembali ke desa untuk meneruskan dan memberdayakan agraria dan lautnya (tani dan nelayan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Sepanjang masa kota-kota itu merupakan daya tarik sebagai pusat kesenangan dan hiburan dan sebagai tempat dimana orang dapat mencari pengalaman baru dalam bayangan suasana hangat dan meriah. Jelas daya tarik yang satu ini, kelap-kelip lampu kota hedonisitas kehidupan malam kota, hura-hura pemuda membuat miring pikiran pemuda, akhirnya kehidupan di desa dan menjadi petani dan nelayan merupakan hal yang dianggap menurunkan martabatnya sebagai pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Life style dan gengsi yang menjadi tren pemuda membuat fakumnya penerus pertanian bagi proses agraria negeri ini. Merupakan imbas dari adanya industrialisasi yang disebabkan oleh modernisasi yang merebak di desa-desa.. Hal ini diperparah lagi limbah pabrik yang meresahkan dan mampu mempengaruhi proses tumbuh berkembangnya tanaman padi, jagung dan lain-lian yang mengakibatkan merosotnya harga cukup jauh akibat dari bahan kimia yang ada pada limbah tadi. Belum lagi limbah yang dibuang ke laut, dan jelas akan merusak ekosistem yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Parahnya lagi, generasi muda petani ogah melanjutkan pekerjaan orang tuanya disebabkan adanya iming-iming atau tawaran gaji yang dianggap cukup menggiurkan dari pihak industri (pabrik) untuk menjadi buruh yang sampai saat ini tidak jelas diperhatikan nasibnya. Belum lagi pembagian kerja dan jabatan dalam produksi pabrik-pabrik industri yang nantinya akan menyebabkan stratifikasi antara orang yang atas dan bawah berdasar atas kepetingan-kepentingan semata.&lt;br /&gt;Menurut Marx, kelas-kelas akan timbul apabila hubungan-hubungan produksi melibatkan suatu pembagian tenaga kerja yang beraneka ragam, yang memungkinkan terjadinya surplus produksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Para anak nelayan takut pergi melaut. Daya nalar modernis yang telah merasuk dalam pikiran kaum pesisir. Alasan takut hitam merupakan jelas implikasi dari modernitas, lanjutnya orang senantiasa menjadi konsumen. Membeli produk pemutih wajah atau cream pemutih yang menjadikan hal itu sangat rawan terjadinya rasisme, etnosentris masyarakat untuk tidak mau mengikuti orang tua. Padahal melaut merupakan proses menghindari diri dari sifat arrogant dan hedonis dampak modernisasi, meski sangat sedikit presentasinya. Alasanya, ketika ia seharian melaut menangkap ikan, ia hanya akan menangkap modernitas yang ada secara parsial dan berdampak sedikit pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Selain itu alasan lain yang melatar belakangi adalah keinginan untuk terus bepergian (jawa; ngeluyur) karena ia mempunyai produk industri yang dihasilkan oleh produk asing tentunya, motor menjadi harga mati bagi para pemuda di desa-desa lain dan parahnya lagi ini jiga merebak di kubu orang-orang pesisir. Pemuda ynag semestinya membantu orang tuanya mencari penghidupan garus pergi dengan teman-temannya dan tidak tentu tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Dilain pihak, teman nelayan untuk melaut (jawa; belah) untuk melaut jelas mengalami kekurangan karena disebabkan urbanisasi yang dengan iming-iming gaji dan kehidupan kota tadi. Belum lagi harga ikan yang dulunya mahal sekarang harus turun murah karena alasan dari pabrik industri pemasok, jangan-jangan ada konspirasi untuk membeli murah ikan demi keuntungan besar oknum-oknum tertentu.&lt;br /&gt;Kemungkinan industrialisasi terus berjalan, berdasar logika industrialisme maka masyarakat industri akan mengikuti pola-pola tertentu sejalan dengan kebutuhan sistem industrial. Beberapa ciri yang lebih umum dari masyarakat industri adalah: 1) terjadinya kemerosotan pengaruh dan kewibawaan lembaga-lembaga keagamaan serta pemisahan urusan politik, ekonomi dan keduaniawian umumnya dengan masalah agama yang bersifat pribadi, 2) tumbuhnya masyarakat kota dengan perilaku yang mengikuti budaya kota, 3) masyarakat mudah bergerak dan berubah menurut tempat dan jenis pekerjaan, 4) proses politik menjadi semakin demokratis, 5) pecahnya ikatan kekeluargaan dan kekerabatan dan ikatan-ikatan primodial lainnya yang digantikan dengan ikatan-ikatan baru, dan 6) pudarnya hubungan-hubungan tatap muka, kebersamaan, alami, akrab atau paguyuban (gemeinshaft) digantikan dengan hubungan patembayan (gesellshaft) yang didasarkan kepada kepentingan dan konflik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Data Urbanisasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara meyakinkan penduduk di setiap daerah meningkat, khususnya Jakarta tiap tahunnya meningkat sekitar 200-250 ribu orang. “Kalau pertumbuhan penduduk tiap tahun 200-250 ribu orang, tiap gubernur yang jabatannya lima tahun tinggal kalikan lima saja, dan kalau tiga kali ganti gubernur, tinggal kalikan saja pertambahan penduduknya,” kata Sutiyoso ketika membuka seminar mengenai pengembangan kebijakan kependudukan era otonomi daerah di Balai Kota DKI. Saat ini, kepadatan penduduk di DKI sudah mencapai 15 ribu orang per kilometer persegi. Sementara lahan Jakarta sempit dan Pemda DKI belum mampu mengembangkan. Adapun laju penambahan penduduk dari urbanisasi selama lima tahun terakhir rata-rata 188 ribu orang yang datang. Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung pendatang terbanyak. &lt;br /&gt;Sebanyak 231.528 orang pendatang baru telah memasuki Jakarta bersamaan arus balik mudik setiap tahunnya. Jumlah tersebut merupakan data terakhir yang diperoleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemda DKI. Dibandingkan angka rata-rata pendatang ke Jakarta dalam lima tahun ke belakang yang mencapai 230.091 orang, jumlah pendatang tahun ini menunjukkan peningkatan lebih dari 1500 orang.&lt;br /&gt;Perhitungan jumlah tersebut adalah berdasarkan jumlah warga Jakarta yang melakukan mudik sebanyak 2.643.273 orang, sedangkan yang kembali ke Jakarta mencapai 2.874.801 orang, sehingga mengalami peningkatan 8,76 persen. (www.tempointeraktif.com)&lt;br /&gt;Telah jelas kiranya, bahwa beberapa faktor di atas merupakan indikator yang menunjukkan adanya beberapa efek atau dampak yang kurang baik bagi pertanian dan kelautan dalam hal ini petani dan nelayan. Pertanian harus sangat diperhatikan oleh negara dengan sistem agraria menggunakan konsep yang jelas dan yang paling penting adalah demi terciptanya kesejahteraan rakyat indonesia. Sebagaimana laut pun merupakan lahan yang sangat bagus untuk tetap terus menjadi perhatian pemerintah dalam memakmurkan rakyatnya ini. Indonesia sebagai negara yang mempunyai sumber daya alam yang sangat besar semestinya mampu mensejahteraan rakyatnya dan harus tetap melindungi tumpah darahnya, demi tercapai harapan-harapan bangsa dan negara sesuai pembangunan nasional yang direncanaka. Semoga tetap semangat Indonesiaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. PENUTUP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan kompleks di atas hasrat untuk bertani (petani) dan melaut (nelayan) menurun drastis baik dari pemuda maupun orang tua mereka. Tidak mempunyai penerus yang menghidupkan sawah atau ladanganya. Lama kelamaan tanah yang ia punya akan dijual dan kaum borjuis yang akan mengambil alih. Berbagai cara memperdaya, membius masyarakat dan meraup seganap keuntungan dengan skala besar. Kepentingan-kepentingan yang konspiratif dilakukan oleh para birokrasi pemerintahan guna mengeruk keuntungan besar dengan adanya lahan kosong yang ingin dijual oleh petani tersebut. Selanjutnya kemiskinan yang terus mengintai rakyat indonesia.&lt;br /&gt;Demikian pula para nelayan, kekuatan laut dalam mencari ikan menjadi kekuatan Indonesia dalam menentukan bagaimana rakyat mampu menghidupi dan mempertahankan hidup. Pengeboran minyak lepas pantai di laut, kadang juga mengganggu para nelayan dalam mencari ikan. Maklum, kalau minyaknya diperjalbelikan untuk kepentingan rakyat Indonesia. Sebaliknya, hal itu diambil dan diperuntukan perusahaan asing. Terbukti minyak Pertamina hanya disisakan untuk kita konsumsi, setelah para investor asing (exon-mobile) mengeksploitasi penuh Pertamina. Hal ini diperparah oleh Pertamina (pemerintah) tidak mampu mengolah minyaknya sendiri. Sangat mengesalkan dan merugikan rakyat tentunya. Kekayaaan yang begitu besar toh nyatanya pihak asing yang merasakan hasil alam nusantara kita, sangat dan sangat ironis.&lt;br /&gt;Maka industrialisasi merupakan hal yang seyogyanya dihindari [industrialisasi boleh ada, namun harus jelas bagaimana mensejahterakan (take and give) negara maupun buruh/pegawainya, sesuai UMK (upah minimum kerja), UMR (upah minimum regional) dan yang terpenting bukan orang-orang asing yang menguasainya, agar aset negara tidak dimonopoli dan di eksploitasi, serta para petani dan nelayan masih tetap eksis tanpa ada intervensi dari pihak industri maupun pabrik setempat] bagi kalangan pekerja tradisional seperti halnya petani dan nelayan, imbasnya jelas seperti di atas mulai dari hasil nelayan, lahan pertanian menyempit, kekurangan penerus, teman melaut (jawa; belah) kurang, sampai harga yang mengalami kongkalikong. Hal di atas bukan untuk pribadi tentunya, melainkan untuk kehidupan bangsa, negara, generasi selanjutnya dan kekuatan pangan di negeri indonesia baik agraria maupun bahari sebagaimana terciptanya swasembada pangan 1994.&lt;br /&gt;Selanjutnya, makalah ini kami dedikasikan buat para pejuang kemerdekaan dalam momen hari ”Kebangkitan Nasional 20 Mei 2008” sebagai bentuk penghormatan kami atas segenap pengorbanannya bagi negeri ini ”Indonesia”. Demikian makalah kami buat sebagai bentuk komitmen tinggi generasi bangsa terhadap nasionalisme negeri ini. Serta demi meneruskan perjuangan dan cita-cita luhur pahlawan dalam memperjuangkan serta memerdekakan NKRI. Hanya ada satu kata ”Bangkit Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lauer, Robert H., 2003, &lt;em&gt;Perspektif Tentang Perubahan Sosial&lt;/em&gt;, Rineka Cipta, Jakarta&lt;br /&gt;Prof. Dr. Schoorl, J.W 1982, &lt;em&gt;Modernisasi; Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Sedang Berkembang,&lt;/em&gt; Gramedia, Jakarta, &lt;br /&gt;www.suarapembaruan.com&lt;br /&gt;Prof Dr Bachtiar, Wardi MS., 2006, &lt;em&gt;Sosiologi Klasik,&lt;/em&gt; Rosdakarya, Bandung, &lt;br /&gt;www.suaramerdeka.com&lt;br /&gt;Dalziel Duncan, Hugh, 1997, &lt;em&gt;Sosiologi Uang,&lt;/em&gt; Pustaka Pelajar, Yogyakarta, &lt;br /&gt;www.tempointeraktif.com&lt;br /&gt;Ba Yunus, Ilyas-Ahmad, Farid 1996, &lt;em&gt;Sosiologi Islam dan Masyarakat Kontemporer&lt;/em&gt;, Mizan, Bandung, &lt;br /&gt;Dr. Nasikun, 2007, &lt;em&gt;Sistem Sosial Indonesia,&lt;/em&gt; Rajawali Perss, Jakarta, &lt;br /&gt;M. Dawam Raharjo, 1999, &lt;em&gt;Masyarakat Madani: Agama, Kelas Menengah dan Perubahan Sosial,&lt;/em&gt; LP3ES, Jakarta, &lt;br /&gt;Anthony Giddens, 1986, &lt;em&gt;Kapitalisme dan Teori Sosial Modern,&lt;/em&gt; UI-Press, Jakarta, &lt;br /&gt;Ritzer, George - Goodman, Douglas J., 2004, &lt;em&gt;Teori Sosiologi Modern,&lt;/em&gt; Prenada Media, Jakarta,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-8721930820947087561?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/8721930820947087561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=8721930820947087561&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/8721930820947087561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/8721930820947087561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/dampak-industrialisasi.html' title='SISTEM SOSIAL INDONESIA; DAMPAK INDUSTRIALISASI'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-1272993932939041461</id><published>2008-05-16T23:40:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T23:43:45.117-07:00</updated><title type='text'>MEI 1998; SOEHARTO</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mei 1998; Kronologi Lengsernya Soeharto &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5 Maret 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 20 Mahasiswa (UI) Universitas Indonesia mendatangi Gedung DPR/MPR menolak pidato pertanggungjawaban Presiden pada Sidang Umum MPR (Diterima Fraksi ABRI sekarang TNI), mereka menyerahkan agenda Reformasi Nasional.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;11 Maret 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Soeharto dan BJ Habibie disumpah menjadi Presiden dan Wakil Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Maret 1998&lt;br /&gt;Soeharto mengumumkan kabinet baru yang dinamai Kabinet Pembangunan VII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;15 April 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Soeharto meminta Mahasiswa mengakhiri protes dan kembali ke kampus, karena sepanjang bulan ini Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi swasta dan negeri berunjuk rasa menuntut reformasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;18 April 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal (Purn) Wiranto dan 14 Menteri Kabinet Pembangunan VII berdialog dengan Mahasiswa di Pekan Raya Jakarta. Namun, sebagian perwakilan Mahasiswa berbagai perguruan tinggi menolak dialog itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Soeharto melalui Menteri Dalam Negeri ”Hartono” dan Menteri Penerangan ”Alwi Dachlan” mengatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai pada 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu diralat dan kemudian dinyatakan bahwa Soeharto mengatakan reformasi bisa dilakukan sejak sekarang (1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa di Medan, Bandung, dan Jogjakarta menyambut kenaikan harga bahan bakar minyak (2 Mei 1998) dengan demo besar- besaran. Demo berubah menjadi kerusuhan saat para demonstran terlibat bentrok dengan petugas keamanan. Di Universitas Pasundan Bandung misalnya, 16 Mahasiswa luka akibat bentrokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi Mahasiswa besar-besaran terjadi di Medan yang berujung pada kerusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;9 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Soeharto berangkat ke Kairo, Mesir, untuk menghadiri pertemuan KTT G-15. Ini merupakan lawatan terakhirnya keluar negeri sebagai Presiden RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;12 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aparat keamanan menembak empat Mahasiswa Trisakti yang berdemonstrasi secara damai. Keempat Mahasiswa tersebut ditembak saat berada di halaman kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;13 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, datang ke Kampus Trisakti untuk menyatakan duka cita. Kegiatan itu diwarnai kerusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;14 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Soeharto seperti dikutip koran, mengatakan bersedia mengundurkan diri jika rakyat menginginkan. Ia mengatakan itu di depan masyarakat Indonesia di Kairo. Sementara itu, kerusuhan dan penjarahan terjadi di beberapa pusat perbelanjaan di Jabotabek seperti Supermarket Hero, Super Indo, Makro, Goro, Ramayana dan Borobudur. Beberapa dari bagunan pusat perbelanjaan itu dirusak dan dibakar. Sekitar 500 orang meninggal dunia akibat kebakaran yang terjadi selama kerusuhan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;15 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Soeharto tiba di Indonesia setelah memperpendek kunjungannya di Kairo. Ia membantah telah mengatakan bersedia mengundurkan diri. Suasana Jakarta masih mencekam. Toko-toko banyak di tutup. Sebagian warga pun masih takut keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;16 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Warga asing berbondong-bondong kembali ke negeri mereka. Suasana di Jabotabek masih mencekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;18 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mendatangi gedung DPR/MPR. Mereka mendesak Soeharto segera mundur dari jabatan Presiden. Mahasiswa juga meminta MPR segera mengadakan Sidang Istimewa. Sebagian besar Mahasiswa bahkan menginap di gedung tersebut selama unjuk rasa dilakukan. Harmoko yang ketika itu menjabat sebagai Ketua MPR/DPR meminta Soeharto mundur dari kursi kepresidenan. Menteri Pertahanan dan Keamanan/Pangab Wiranto mengatakan bahwa ”permintaan itu adalah permintaan pribadi Harmoko”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;19 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Soeharto memanggil sembilan tokoh Islam seperti Nurcholis Madjid, Abdurachman Wahid, Malik Fajar, dan KH. Ali Yafie. Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir 2,5 jam (molor dari rencana semula yang hanya 30 menit) itu para tokoh membeberkan situasi terakhir, dimana elemen masyarakat dan Mahasiswa tetap menginginkan Soeharto mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan tersebut ditolak Soeharto. Ia lalu mengajukan pembentukan Komite Reformasi. Pada saat itu, Soeharto menegaskan bahwa ia tak mau dipilih lagi menjadi Presiden. Namun, hal itu tidak mampu meredam aksi massa, mahasiswa yang datang ke Gedung MPR untuk berunjuk rasa semakin banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Amien Rais mengajak massa mendatangi lapangan Monumen Nasional untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;20 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jalur jalan menuju Lapangan Monumen Nasional diblokade petugas dengan pagar kawat berduri untuk mencegah massa masuk ke kompleks Monumen Nasional, namun pengerahan massa tak jadi dilakukan. Pada dinihari, Amien Rais meminta massa tak datang ke lapangan Monumen Nasional, karena ia khawatir kegiatan itu akan menelan korban jiwa. Sementara ribuan Mahasiswa tetap bertahan dan semakin banyak berdatangan ke gedung MPR/DPR. Mereka terus mendesak agar Soeharto mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;21 Mei 1998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di Istana Merdeka, Kamis, pukul 09.05 Soeharto mengumumkan mundur dari kursi Presiden dan BJ. Habibie disumpah menjadi Presiden RI ketiga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-1272993932939041461?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/1272993932939041461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=1272993932939041461&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1272993932939041461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1272993932939041461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/mei-1998-kronologi-lengsernya-soeharto.html' title='MEI 1998; SOEHARTO'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-1710899338881632302</id><published>2008-05-16T23:35:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T23:39:05.606-07:00</updated><title type='text'>AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR</title><content type='html'>&lt;strong&gt;AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;em&gt;Abdul Khalid&lt;/em&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahawasanya amar ma’ruf (menyuruh melakukan kebaikan) dan nahi mungkar (mencegah melakukan kejahatan) adalah puncak tertinggi dalam agama. Ia merupakan suatu soal yang amat penting sekali, yang kerananya Allah s.w.t. telah mengutuskan para Nabi sekalian. Andaikata tugas ini dilengahkan dan segala jentera amar ma’ruf dan nahi munkar itu dicuaikan, sama ada dalam ilmu pengetahuan mahupun amalan, tentulah kesesatan bermaharajalela dan kejahilan terus akan melanda setiap orang, dan ketika itu negara akan menjadi rosak binasa manakala rakyatnya menjadi kacau bilau.&lt;br /&gt;Oleh kerana itu maka sudah sepatutnya kita memohon perlindungan kepada Allah agar amar ma’ruf dan nahi mungkar ini tiada terlepas dari puncaknya, baik ilmu pengetahuan maupun amal perbuatan, sehingga hati manusia tiada terpengaruh oleh kekeliruan/kemunkaran, serta senantiasa hati itu ingat dan perhatian kepada Allah. Dan  jangan sampai manusia sewenang-wenang menuruti kemauan hawa nafsu dan syahwatnya laksana binatang. Namun, jika hal itu terjadi menjadi sukar sekali kiranya menemukan Mu’min di atas muka bumi ini dalam artian benar-benar beriman, yang nantinya tiada menghiraukan nasehat orang dalam berpegang yang benar dan hak. Tiada perlindungan melainkan kepada Allah saja dan tiada pengharapan melainkan hanya kepada-Nya. &lt;br /&gt;Sebagaimana kita lihat hari-hari ini, orang-orang yang suka melakukan kekerasan atas nama Islam selalu berlindung di balik slogan “amar ma’ruf nahi munkar”. Padahal apapun bentuk kekerasan dalam pandangan Islam tak bisa dibenarkan. Kekerasan hanya akan membuat citra Islam yang ramah menjadi seram dan menakutkan. Islam datang dengan damai, dan hanya mencita-citakan kedamaian, sehingga ajarannya bukanlah ajaran yang penuh acaman. Senada dengan hal ini, Muhammad Thahir ibn Asyur menyatakan bahwa syariat Islam bukankah syariat yang penuh dengan ancaman [Muhammad Thahir ibn Asyur, Maqâshid asy-Syarî’ah,] &lt;br /&gt;Berangkat dari sinilah, maka membuka kembali tentang konsep “amar ma’ruf nahi munkar” menjadi sebuah keniscayaan, agar konsep ini tak disalah pahami oleh sebagian kelompok Islam yang suka melakukan tindakan kekerasan atas nama Islam dengan berlindung di bawah slogan “amar ma’ruf nahi munkar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Definisi Amar Ma’ruf Nahi Munkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof Hamka berpendapat bahwa asas kepada amar ma'ruf adalah dengan cara mentauhidkan Allah dan asas nahi munkar adalah dengan mencegah syirik kepada Allah. Amar ma'ruf dan nahi munkar berasal daripada peristilahan Arab yang bermaksud “memerintah perkara-perkara yang baik dan menjauhi perkara-perkara yang tidak baik”. Sebagaimana firman Allah dalam Kitab-Nya “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, setengahnya menjadi penolong bagi setengahnya yang lain; mereka menyuruh berbuat kebaikan dan melarang daripada berbuat kejahatan dan mereka mendirikan sembahyang dan memberi zakat, serta taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” (at-Taubah: 71)&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur'an dijumpai lafaz "amar ma'ruf nahi munkar" beberapa kali seperti dalam surat [Ali Imran; 104] “Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam) dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji) dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya.”&lt;br /&gt;Secara prinsipnya pengamal agama Islam dituntut untuk menyampaikan kebenaran dan melarang perkara-perkara yang tidak baik (mungkar). Hadis Rasulullah "Barang siapa di antara kamu menjumpai kemunkaran maka hendaklah ia rubah dengan tangan (kekuasaan)nya, apabila tidak mampu hendaklah dengan lisannya, dan jika masih belum mampu hendaklah ia menolak dengan hatinya. Dan (dengan hatinya) itu adalah selemah-lemahnya iman". (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Berangkat dari sinilah, maka membuka kembali tentang konsep “amar ma’ruf nahi munkar” menjadi sebuah keniscayaan, agar konsep ini tak disalah pahami oleh sebagian kelompok Islam yang suka melakukan tindakan kekerasan atas nama Islam dengan berlindung di bawah slogan “amar ma’ruf nahi munkar”. &lt;br /&gt;Pada dasarnya, tak ada yang menyangkal kalau “amar ma’ruf nahi munkar” adalah prinsip dasar Islam (mabda` islâmiy) yang disandarkan pada beberapa ayat Al-Quran. Seperti ayat, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, meyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [QS. Ali Imrân: 104]. Dan dalam ayat lain dikatakan, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh pada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” [QS. Ali Imrân: 110].&lt;br /&gt;Bagi kalangan Muktazilah, “amar ma’ruf nahi munkar” dijadikan sebagai dasar kelima ideologi mereka. Tetapi pandangan mereka tentang “amar ma’ruf nahi munkar” berbeda dengan aliran Khawarij baik dalam memahami dan menjalankan konsep “amar ma’ruf nahi munkar” ini. &lt;br /&gt;Kalangan Khawarij menyatakan bahwa “amar ma’ruf nahi munkar” harus dilakukan oleh setiap orang muslim . Dalam mempraktekan konsep ini acap kali kali mereka menggunakan kekerasan lisan maupun fisik, baik pada rakyat biasa maupun penguasa. Sehingga mereka menjadikan pembrontakan pada penguasa sebagagai konsekwensi dari tuntuan “amar ma’ruf nahi munkar”. Akibatnya, yang disebut “ma’ruf “ adalah segala sesutu yang sesuai dengan pendapat mereka sendiri, sedang “munkar” adalah pandangan lawan mereka. &lt;br /&gt;Sedang kalangan Muktazilah berpendapat bahwa “amar ma’ruf nahi munkar” hanya menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifâyah). Artinya, jika sudah ada sebagian orang yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain, dan harus amar ma’ruf nahi munkar dilakukan tidak dengan cara-cara kekerasan. Sebab, jika denga cara kekerasan betentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri. &lt;br /&gt;Menurut Syeikh Abdul Qadir Jilani, yang disebut dengan “ma’ruf” adalah segala sesuatu yang selaras dengan Al-Quran, sunnah, dan nalar. Sedang “munkar” adalah sebaliknya [Syeikh Abadul Qadir Jilani, al-Ghuniyyah, jilid I,h. 53]. Dalam konteks ini, Al-Quran dan sunnah harus dipahami sebagai nilai-nilai univeral, seperti keadilan dan kemaslahatan publik. Sedang nalar mesti dipahami sebagai nalar publik. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Apa yang dipandang baik oleh orang muslim, maka baik pula di sisi Allah” [Jalaluddin as-Suyûthî, al-Asybâh wa an-Nazhâir, h.]&lt;br /&gt;Menarik untuk dicermati, ketika Syeikh Abdul Qadir Jilani memasukan nalar sebagai alat untuk mengatahui “ma’ruf” dan “munkar”. Dengan kata lain, Syeikh Abdul Qadir Jilani ingin menyatakan bahwa akal bisa mengetahui ma’ruf dan munkar. Pandangan ini tentu bersebrangan dengan kelompok yang menyatakan bahwa “ma’ruf” dan “munkar” hanya dapat diketahui melalui teks, yaitu Al-Quran dan Sunnah.&lt;br /&gt;Berangkat dari uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa yang “ma’ruf” adalah segala sesuatu yang tak bertentangan dengan nilai-nilai universal ajaran Islam dan nalar publik. Sedang yang “munkar” adalah sebaliknya. Inilah patokan yang harus dijadikan pegangan untuk menilai apakah sesuatu itu ma’ruf atau munkar.&lt;br /&gt;Dan hal yang mesti dipahami lebih lanjut adalah, bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak berlaku dalam persoalan-persoalan khilafiyah. Seperti, pernikahan tanpa wali, dan ziarah kubur. Kita tak boleh menganggap orang yang melakukan pernikahan tanpa wali atau orang yang berziarah kubur sebagai sesat, sehingga apa yang mereka lakukan harus dicegah. &lt;br /&gt;Lebih lanjut, menurut Syeikh Abdul Qadir Jilani syarat amar ma’ruf nahi munkar adalah mampu menjalanknnya, tetapi selama tak membahayakan diri, harta, dan keluarganya [Syeikh Abdul Qadir Jilani, al-Ghuniyyah, jilid, I, h. 50]. Bagi saya, ketiga hal ini saja tidak cukup, tetapi harus ditambahi dengan syarat tidak menodai agamanya. &lt;br /&gt;Demikian itu karena banyak sekali kita jumpai orang-orang yang berbuat kekerasan dengan mengatasanamakan agama dan berlindung di bawah slogan “amar ma’ruf nahi munkar”. Mereka meliki niat baik untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar, tetapi karena cara yang mereka tempuh tidak benar, maka akibatnya mereka justru menodai agamanya sendiri. Seperti kasus swiping orang-orang yang tidak berpuasa di Ciamis, yang dilakukan oleh salah satu ormas Islam. Cara yang mereka lakukan jelas akan merusak citra Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Syarat-syarat Amar Ma’ruf Nahi Munkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi merupakan hal urgen yang patut diketahui dan dipaparkan sebagai sebuah pemahaman sejauh mana seseorang memahami problem yang ia hadapi dan sebagai merupakan sudut pandang secara jelas bagaiamana seseorang tersebut berpikir serta menanggapi setiap problem yang ada, seperti misalnya kali ini dalam permasalahan amar ma’ruf nahi munkar.&lt;br /&gt;Agar doktrin amar a’ruf nahi munkar tidak gunakan dengan sewenang-wenang, maka harus ada batasan atau persyaratan bagi para penganjur kebaikan dan pelarang kemunkaran. Menurut Syeikh Abdul Qadir Jilani ada lima syarat yang mesti dipenuhi oleh para penganjur kebaikan dan pelarang kemunkaran. &lt;br /&gt;Pertama, ia harus mengetahui betul apa yang dia perintahkan dan apa yang dia larang. Dengan kata lain, seorang penganjur kebaikan dan pelarang kemunkaran harus benar-benar memahami dengan baik akar persoalannya, sehingga dalam bertindak penh dengan perhitungan matang. Kedua, apa yang dia lakukan harus karena Allah dan demi menjunjung tinggi kalimat-Nya. Jadi, bukan karena untuk mencari popularitas. &lt;br /&gt;Ketiga, anjuran kebaikan dan larangan kemunkaran yang dilakukan olenya haruslah dengan cara yang santun dan beradab bukan dengan cara kekerasan, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Islam tertentu. Allah berfirman pada Nabi, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya, kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentukah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” [QS. Ali Imrân: 159]. &lt;br /&gt;Sedang dalam hadits nabi dkatakan, “Seseorang tak layak untuk memerintahkan yang ma’ruf dan melaang yang munkar kecuali ia telah memeiliki tiga kualifikasi. Yaitu, mengetahui dengan baik apa yang dia perintah dan apa yang dia larang, bersikap lemah-lembut dalam menganjurkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar”. &lt;br /&gt;Keempat, sabar, bijak, rendah hati. Allah berfirman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar” [QS. As-Sajdah: 24]. Dan dalam kisah Lukam Allah berfirman, “Suruhlah manusia mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar da bersabarlah tehadap apa yang menimpa kamu” [QS. Luqmân: 17].&lt;br /&gt;Kelima, menjalankan apa yang dia sendiri perintahkan dan meninggalkan apa yang dia sendiri larang. Hal ini agar apa yang dia perintahkan dan apa yang dia larang dapat diterima oleh orang lain. begitu juga agar ia tidak dicela di sisi Allah. Dengan demikian, amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan cara-cara yang baik, bukan dengan cara-cara yang tidak terpuji.&lt;br /&gt;Berikut akan dibentangkan tujuan-tujuan dari kitab ini, iaitu amar ma’ruf dan nahi mungkar serta kewajiban menyempurnakannya, keutamaannya dan kecelaan dalam melalaikannya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;C. Wajib Menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar, iaitu menyuruh membuat kebaikan dan melarang dari membuat kejahatan menjadi wajib, ditilik dari beberapa ayat al-Quran al-Karim seperti berikut:&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Wajiblah ada di antara kamu suatu tempat (golongan) yang menyeru (manusia) kepada melakukan kebaikan, menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat yang jahat. Mereka itulah orang yang berjaya (bahagia).” (ali-Imran: 104)&lt;br /&gt;Ayat yang tersebut di atas jelas sekali menunjukkan kewajiban hukum amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebab perkataan waltakun yang bermaksud wajiblah ada merupakan suatu perintah, dan zahir sekali perintah itu menunjukkan kewajiban perkara yang disuruh. Kemudian dalam ayat itu diterangkan pula perkataan berjaya atau bahagia, yang mana pencapaian tingkat itu bergantung dengan melakukan perintah yang wajib tadi. Perhatikanlah firmanNya: Wa Ulaika Humul Muflihuun yang maksudnya: Mereka itulah orang yang berjaya (bahagia). Ternyata padanya bahwa tugas itu merupakan wajib fardhu Kifayah, bukannya fardhu ‘Ain, yang mana bila sesuatu ummat atau golongan menjalankan perintah atau tugas itu, maka gugurlah kefardhuannya ke atas seumum manusia yang lain.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan setengah  mereka menjadi pemimpin kepada setengah yang lain; mereka menyuruh mengerjakan yang baik dan melarang dari mengerjakan yang jahat dan mereka mendirikan sembahyang.” (at-Taubah: 71)&lt;br /&gt; Allah S.W.T telah mensifatkan orang-orang yang beriman itu sebagai orang-orang yang menyuruh mengerjakan kebaikan, maka dengan itu siapa saja yang meninggalkan tugas menyuruh membuat yang baik itu ia termasuk keluar dari golongan orang-orang yang disifatkan oleh Allah S.W.T dalam ayat tersebut sebagai orang yang beriman:&lt;br /&gt;“Allah telah meletakkan laknatNya ke atas orang-orang kafir dari kaum Bani Israel atas lisan (lidah) Daud dan Isa bin Maryam. Yang demikian disebabkan mereka menderhaka dan sering melanggar batas. Mereka itu selalunya tiada larang melarang terhadap kejahatan yang mereka lakukan. Alangkah buruknya perilaku yang mereka lakukan itu.” (al-Maidah 78-79)&lt;br /&gt;  Ayat tersebut merupakan kemuncak ancaman dan kemurkaan dari Allah Ta’ala kerana yang menyebabkan mereka ditimpa laknat itu ialah kerana mereka meninggalkan nahi mungkar; iaitu mencegah orang dari melakukan kejahatan.&lt;br /&gt;Allah berfirman S.W.T :&lt;br /&gt;“Kamu sekalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk kepentingan manusia, kamu menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan.” (ali-Imran : 110)&lt;br /&gt;Ayat tersebut menunjukkan bahwa tugas amar ma’ruf dan nahi mungkar itu paling utama sekali kerana Allah telah memberi kepujian kepada orang yang menjalankan tugas ini, sebagai sebaik-baik ummat di atas muka bumi ini.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Dan setengah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, kami pun menyelamatan orang-orang yang melarang dari membuat kejahatan dan kami menyiksa orang yang menganiaya itu dengan siksaan yang mengerikan tersebab mereka itu berbuat kejahatan.” (al-A’raf: 165)&lt;br /&gt;Ayat ini pula menerangkan, bahwa mereka itu mendapatkan keselamatan dikeranakan mereka mencegah dari melakukan kejahatan.&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;“Dan tolong-menolong kamu atas kebajikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong-menolong atas dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)&lt;br /&gt;Perintah ini adalah suatu kemestian dan maksud tolong-menolong itu ialah mengajak melakukannya dan mempermudahkan jalan kepada melakukan kebajikan serta menutup jalan-jalan yang boleh menyampaikannya kepada kejahatan, dan permusuhan sekadar kemampuan. &lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah;&lt;br /&gt;“Mengapa mereka tiada dilarang oleh ahli-ahli ilmu ketuhanan dan para pendita dari mengucapkan kata-kata dosa dan memakan makanan yang haram. Sungguh amat buruk segala apa yang mereka kerjakan.” (al-Maidah: 63)&lt;br /&gt;Ayat tersebut menyatakan betapa berdosanya mereka disebabkan mereka telah mengaibkan perintah melarang membuat kejahatan.&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;“Mengapa tidak diperdapat dari angkatan (turunan) yang terdahulu dari kamu orang-orang yang mempunyai kelebihan, yang akan melarang manusia dari mengerjakan keburukan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil saja di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan.” (Hud: 116)  &lt;br /&gt;Ayat ini telah menerangkan kepada kita, bahwa Allah Ta’ala telah memusnahkan semua mereka, kecuali sebahagian kecil saja dari orang-orang yang telah mencegah melakukan keburukan itu.&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam Kitab-Nya:&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman jadilah orang-orang yang kuat memegang keadilan menjadi saksi bagi Allah sekalipun ke atas diri kamu atau kedua ibu bapa dan kaum kerabat.” (an-Nisa’: 135) yaitu amar ma’ruf juga ditujukan kepada ibu bapa dan kaum kerabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya firman Allah:&lt;br /&gt;“Tiada mendatangkan kebaikan dalam banyaknya rapat-rapat rahasia mereka, melainkan yang mendatangkan kebaikan itu ialah bagi orang-orang yang menyuruh bersedekah, atau melakukan kebaikan, atau membuat perdamaian antara manusia. Barangsiapa yang mengerjakan itu kerana mengharapkan keredhaan Allah, akan Kami berikannya kepadanya pahala yang besar.” (an-Nisa’: 114)&lt;br /&gt;Adapun khabar atau Hadis yang memberitakan tentang amar ma’ruf dan nahi munkar ialah apa yang diriwayatkan dari Abu Bakar as-Siddiq r.a. dari Rasulullah s.a.w. sabdanya:&lt;br /&gt;“Tiada ada suatu kaum pun yang melakukan maksiat-maksiat, sedang dalam kalangan kaum itu ada orang yang mampu mencegah mereka dari perbuatannya itu tetapi ia tiada berbuat, tiadakah ia merasa bimbang bahwa Allah hampir-hampir akan menimpakan siksa-Nya atas mereka sekalian.”&lt;br /&gt;Selain ini, ada banyak lagi Hadis-hadis lain yang diriwayatkan dalam perkara ini, sampai tiada terkira banyaknya. Dalam dalil-dalil yang tersebut di atas, nyatalah bahwa tugas amar ma’ruf dan nahi mungkar itu menjadi seperkara yang wajib, dan kewajibannya pula tiada terluput sama sekali, selagi ada kemampuan untuk melaksanakannya, kecuali jika sudah ada orang lain yang memenuhi tugas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kategori Amar Ma'ruf Nahi Mungkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kewajiban-kewajiban terpenting adalah amar ma'ruf dan nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar." Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat ini, bahwa di antara sifat-sifat wajib kaum mukminin dan mukminat adalah menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Allah S.W.T berfirman; "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dan yang mungkar, dan beriman kepada Allah." Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman. [HR. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah Mahasiswa angkatan 2007 Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora yang sekarang aktif di PMII "Humaniora Park" RaFak Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-1710899338881632302?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/1710899338881632302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=1710899338881632302&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1710899338881632302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1710899338881632302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/amar-maruf-nahi-munkar.html' title='AMAR MA&apos;RUF NAHI MUNKAR'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-3842331551638735982</id><published>2008-05-16T23:30:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T00:18:06.508-07:00</updated><title type='text'>PERJUANGANKU</title><content type='html'>&lt;strong&gt;SYAHADAT PEMBEBASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asyhadu an lailaha illa Allah,&lt;br /&gt;Wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa ingin menindas orang lain&lt;br /&gt;Berarti ia ingin Menjadi Tuhan&lt;br /&gt;Padahal tiada Tuhan selain Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa ingin menjadi tiran&lt;br /&gt;Berarti ia Ingin menjadi Tuhan&lt;br /&gt;Padahal tiada Tuhan selain Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa ingin merendahkan orang lain&lt;br /&gt;Berarti ia ingin menjadi Tuhan&lt;br /&gt;Padahal Tiada Tuhan Selain Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasa yang ingin menindas rakyatnya&lt;br /&gt;Berarti ia ingin menjadi Tuhan&lt;br /&gt;Padahal tiada Tuhan selain Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita Menerima siapapun orangnya dan&lt;br /&gt;Dari manapun asalnya&lt;br /&gt;Asalkan bisa menjadi saudara bagi&lt;br /&gt;Sesamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SUMPAH MAHASISWA INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanah Air satu,&lt;br /&gt;Tanah Air tanpa Penindasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbangsa Satu,&lt;br /&gt;Bangsa yang gandrung akan Keadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahasa Satu,&lt;br /&gt;Bahasa Kebenaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mars PMII&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Cipt: &lt;em&gt;Mahbub Junaidi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kami Wahai Indonesia&lt;br /&gt;Satu barisan dan satu jiwa&lt;br /&gt;Pembela bangsa penegak agama&lt;br /&gt;Tangan terkepal dan maju ke muka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habislah sudah masa yang suram&lt;br /&gt;Selesai sudah derita yang lama&lt;br /&gt;Bangsa yang jaya Islam yang benar&lt;br /&gt;Maju serentak dari bumiku subur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Reff:&lt;/em&gt;  &lt;br /&gt;Denganmu PMII pergerakanku&lt;br /&gt;Ilmu dan bakti kuberikan&lt;br /&gt;Adil dan makmur kuperjuangkan&lt;br /&gt;Untukmu satu tanah airku &lt;br /&gt;Untukmu satu keyakinanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kami wahai Indonesia&lt;br /&gt;Satu angkatan dan satu jiwa&lt;br /&gt;Putra bangsa bebas merdeka&lt;br /&gt;Tangan terkepal dan maju ke muka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-3842331551638735982?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/3842331551638735982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=3842331551638735982&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3842331551638735982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3842331551638735982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/perjuanganku.html' title='PERJUANGANKU'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-3747529323694883083</id><published>2008-05-16T23:27:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T23:30:34.445-07:00</updated><title type='text'>SEJARAH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Sejarah  UPT UIN SuKija Yogyakarta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unit Pelaksana Teknis Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga merupakan sumber pembelajaran serta sumber intelektual yang amat penting dalam fungsinya sebagai pusat layanan informasi yangn diperlukan oleh sivitas akademika dalam mencapai program Tri Dharma Perguruan Tinggi.&lt;br /&gt;Keberadaan UPT Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga senantiasa tidak terpisahkan dengan institusi induknya, yaitu Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTAIN) yang didirikan pada tanggal 26 September 1951 berdasarkan PP No.34 Tahun 1950. kemudian penggabungan PTAIN Yogyakarta dengan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) “Al Jami’ah al Islamiyah al Hukumiyah” di Yogyakarta pada tanggal 24 Agustus 1960 berdasar PP No. 11 Tahun 1960. dalam perkembangannya IAIN Sunan Kalijaga mengalami perubahan dari Institute menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga pada tanggal 14 Oktober 2004 berdasar Keputusan Presiden No.50 Tahun 2004.&lt;br /&gt;Sejalan dengan perkembangan sejarah UIN Sunan Kalijaga tersebut, UPT Perpustakaan mengalami peningkatan status, terutama setelah diberlakukannya Keputusan Menteri Agama (KMA) No.14 Tahun 1988 tentang perubahan status yang semula Perpustakaan merupakan bagian dari Perpustakaan Pusat yang secara struktural berada di bawah Sekretaris Institut, menjadi Unit Pelaksana Teknis Perpustakaan yang secara struktural berada langsung di bawah Rektor.&lt;br /&gt;Unit Pelaksana Teknis Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga merupakan sumber pembelajaran serta sumber intelektual yang amat penting dalam fungsinya sebagai pusat layanan informasi yang diperlukan oleh sivitas akademika dalam mencapai program Tri Dharma Perguruan Tinggi.&lt;br /&gt;Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga didirikan seiring dengan berdirinya institusi induknya yaitu Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) pada tanggal 26 September 1951. Kemudian pada tanggal 24 Agustus 1960 PTAIN Yogyakarta digabung dengan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada tanggal 21 Juni 2004 IAIN Sunan Kalijaga berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-3747529323694883083?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/3747529323694883083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=3747529323694883083&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3747529323694883083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3747529323694883083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/sejarah.html' title='SEJARAH'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-5697116880381023503</id><published>2008-05-16T23:25:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T23:27:41.777-07:00</updated><title type='text'>TULISAN</title><content type='html'>SATU ABAD KEBANGKITAN NASIONAL&lt;br /&gt;;Sebuah Refleksi Kebangsaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;em&gt;Munir Boshe&lt;/em&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 agustus 1945, merupakan titik akumulasi beratus-ratus tahun perjuangan panjang rakyat Indonesia. Ada banyak titik sejarah dimana rakyat menginginkan kemerdekaan penuh dari penjajah. Awalnya, kemerdekaan yang diperjuangkan hanya parsial dan bersifat kedaerahan saja. Perjuangan kemerdekaan mulai menjadi gerakan nasional sejak munculnya Budi Utomo yang didirikan oleh para mahasiswa STOVIA pada 20 Mei 1908. Budi Utomo, kendatipun hanya berupa gerakan kultural, dinilai sebagai gerakan pertama menuju Indonesia Merdeka (Silalahi, 2001).&lt;br /&gt;Munculnya Budi Utomo tidak lepas dari fenomena kebangkitan yang terjadi di daratan Asia. Pada tahun 1905 Jepang berhasil mengalahkan tentara Rusia di Port Arthur dan Selat Tsushima. Sebelum kemenangan Jepang ini, masyarakat kulit berwarna diangggap masyarakat inferior dan selalu berada di bawah bayang-bayang orang-orang kulit putih. &lt;br /&gt;Pasca kemenangan Jepang ini kemudian muncul Revolusi Tiongkok tahun 1911, Marxisme, Pan Islamisme, Perjanjian Versailles, yang mengakui hak-hak bangsa untuk mengatur dirinya sendiri, berdirinya Volkenbold, Gerakan Irlandia, dan Gerakan Swadeshi (Civil Disobedience) di India, berperan besar dalam melahirkan Pergerakan Nasional di Indonesia.&lt;br /&gt;Muncullah kemudian organisasi-organisasi gerakan di Indonesia yang multidimensi. Jalan gerakan yang ditempuh waktu itu berbeda-beda. Ada yang memilih di jalur politik, jalur ekonomi, keagamaan, pendidikan dan lain-lain. Namun yang tidak dapat dilupakan oleh sejarah adalah pasang-surutnya organisasi gerakan di Indonesia. Tidak banyak organisasi gerakan yang dapat bertahan lama karena mendapat tekanan ataupun dilarang oleh pemerintah kolonial waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu Abad Kebangkitan, Sebuah Spirit Perjuangan&lt;br /&gt;Kebangkitan nasional telah sampai pada hitungan satu abad, terhitung sejak tahun 1908. Momentum ini akan menjadi sejarah baru bagi bangsa ini apabila bangsa ini mampu menempatkannya pada posisi analitik dan reflektif. Sebab melalui refleksi akan terlahir skenario baru demi perubahan bangsa Indonesia yang hingga hari ini mengalami krisis multidimensi.&lt;br /&gt;Sejak 1997, diawali dengan krisis moneter, ekonomi bangsa mulai carut marut. Krisis ini tidak an sich berpengaruh pada perokonomian semata, tetapi merambat pada aspek yang lain, seperti pendidikan, politik, pengelolaan sumber daya alam, bahkan pada tingkat kebijakan Negara yang bersifat prinsipil. Political will pemerintah untuk mengoptimalkan sumber daya ekonomi dalam negri hingga kini belum mampu melepas diri dari lilitan utang luar negri.&lt;br /&gt;Pada ranah politik, lahir berbagai ideologi politik sektarian yang—disadari atau tidak—dapat mengancam keutuhan NKRI. Panggung politik bangsa ini hanya menyajikan drama pertarungan antar kelompok yang sedang berebut kursi kekuasaan. Kepentingan-kepentingan bangsa yang semestinya menjadi front line hanya berada di last line. Teori politik kekuasaan Machiavellialistik (menghalalkan segala cara untuk meraih sebuah kepentingan politik kekuasaan) mengakar kuat dalam benak dan otak para politisi. &lt;br /&gt;Demikian pula dalam bidang hukum. Aparat bangsa ini mengalami impotensi dalam memutuskan kasus-kasus hukum. Banyak kasus korupsi, pelanggaran hak asasi manusia (HAM), maraknya mafia peradilan dan lain-lain menjadi tidak tersentuh dan mengambang dan akhirnyan hilang ditelan waktu. Benar kiranya pernyataan Whie Collar Criem bahwa keseriusan pemerintah dan aparat hukum di Indonesia untuk menegakkan supremasi hukum ada dibawah lampu remang-remang.&lt;br /&gt;Dalam bidang pendidikan, angka anak putus sekolah makin meningkat. Pendidikan yang seharusnya menjadi sarana umum(publik) tidak lagi bisa diakses oleh semua golongan. Dalam persoalan akses pendidikan, berbagai kebijakan pemerintah justru mempertegas garis demarkasi si miskin dengan si kaya. Pendidikan kemudian bersujud pada pada kepentingan market global yang ternyata membodohkan bangsa. Pengelolaan sebuah lembaga pendidikan dirangkai layaknya sebuah perusahaan yang mampu memproduksi manusia agen-agen global. &lt;br /&gt;Aspek ekonimi tidak jauh bernasib serupa. Penyediaan lapangan kerja mengalami jalan buntu. Tingginya angka pengangguran mencapai +40 ribu jiwa, proses privatisasi dan komersialisasi disegala bidang, tersendatnya iklim investasi, melemahnya nilai tawar usaha kecil menengah, serta menguatnya konglomeralisasi wajah baru, menandakan bahwa reformasi bangsa ini belum sepenuhnya maksimal. Sehingga tidak mustahil jika angka TKI dan TKW setiap tahunnya meningkat drastis.&lt;br /&gt;Dari sekian kondisi ini, dengan momentum satu abad kebangkitan, mampukah bangsa ini membuat skenario baru yang mempunyai visi-misi mengangkat bangsa dari krisis multidimensi serta membebaskan bangsa dari penjajahan bentuk baru? Duahal yang layak kita lakukan: refleksi dan merencanakan esok yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok bukanlah misteri bila hari ini kita mau berbuat yang terbaik untuk bangsa!&lt;br /&gt;(jangan lupakan ngopi bersama!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*Munir Boshe adalah Mahasiswa Prodi Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora yang sekarang aktif di PMII sebagai Ketua Umum "Humaniora Park" RaFak Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-5697116880381023503?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/5697116880381023503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=5697116880381023503&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5697116880381023503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5697116880381023503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/satu-abad-kebangkitan-nasional-sebuah.html' title='TULISAN'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-1157730314080042014</id><published>2008-05-16T23:21:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T23:25:00.611-07:00</updated><title type='text'>TULISAN</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Antara nilai dan 75 %&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;sebuah refleksi dan kegelisahan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : &lt;em&gt;Khirzul Muhammad*&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteraturan merupakan suatu hal yang diidamkan setiap manusia. Untuk mencapainya berbagai macam cara dilakukan, misalnya mempresser psikis mahasiswa demi mencapai target yang ditetapkan yakni 75%. Kebijakan tersebut telah diberlakukan pihak birokrasi baru-baru ini. Konon, kebijakan itu diberlakukan untuk mendisiplinkan mahasiswa dan mengejar sasaran mutu dengan lulus tepat waktu sesuai ketentuan yang ditargetkan yaitu minimal 80%. Namun, kebijakan itu sudah terlanjur diterapkan bagi mahasiswa. Apa jangan-jangan kebijakan ini hanya untuk menenangkan atau bahasa yang lebih sesuai membungkam lesu kreatifitas serta jam terbang mahasiswa yang katanya dieluh-eluhkan sebagai agent of sosial change. Kadang kebijakan semacam ini dianggap sebagai upaya yang bagus juga biasa oleh sekelompok mahasiswa dan segenap staf pengajar. Tekanan 75% yang terus menghantui mahasiswa tak terbendung bak air bah yang mengguyur Jakarta beberapa waktu lalu. Hasilnya bisa dilihat, budaya titip absen yang menjadi sebuah bentuk implikasi kabijakan tersebut yang mungkin bisa dianggap mencengangkan terjadi di civitas akademika. Parahnya lagi, fenomena semacam ini bahkan sudah menjadi rutinitas yang dianggap biasa dari sebuah ketakutan-ketakutan mahasiswa sebagai syarat nantinya ketika harus mengikuti UAS. Banyaknya mahasiswa yang melakukan hal itu mengindikasikan bahwa kebijakan 75% yang belum tepat diterapkan dalam kontek mahasiswa yang seharusnya ia jauh terbang dan berinteraksi langsung dengan kehidupan sosial, lebih-lebih FisHum yang katanya sebagai jargon serta pelopor perubahan sosial yang konstruktif dan edukatif harus merelakan banyak waktunya untuk bersinggungan langsung dengan masyarakat.&lt;br /&gt;Perlu adanya kontemplasi mendalam kiranya, bahwa tanggungjawab yang diemban mahasiswa bukan sekedar dalam ranah akademik yang terus menerus membentuk mainstream mahasiswanya tunduk dan patuh dan terkesan taken of granted. Tanggungjawab yang semestinya berada pada hal-ihwal sosial menjadi terabaikan. Sikap apatis dan masabodo yang pada akhirnya harus menjadi kontemplasi ulang mahasiswa secara keseluruhan. Namun, hal semacam ini sudah terlanjur mengeras, membeku dalam relung-relung otak mahasiswa. Ketika ia diwisuda ia baru sadar bahwa tugas mahasiswa tidak hanya berkutat di akademik saja, melainkan tugas sosial yang nantinya akan bersinggungan langsung dengan hidupnya. Anehnya lagi, hal seperti itu baru disadari hampir semua mahasiswa ketika ia sudah wisuda, itu pun yang sadar dan berpikir ulang. Pasalnya, dulu ia kuliah hanya berputar pada nilai yang harus dikejar. Katanya sih, biar nanti kalau lulus mudah dapat pekerjaan karena nilai IPKnya bagus atau kumlout. Hal ini pun dibenarkan, “kalau kalian disini (ruangan ini) kuliah itu cuma cari nilai saja, kalau mau cari ilmu di Perpus sana, pada umumnya kan seperti itu” cetus dosen FisHum waktu mengajar Sosiologi 07.&lt;br /&gt;Dulu, mahasiswa tidak masuk kuliah karena ia mengikuti seminar atau hal-hal lain yang bisa dianggap sebagai pengganti kuliah. Berbeda dengan sekarang mahasiswa tidak masuk kuliah karena ia tidur-tiduran di kos/kontrakan atau keluyuran dan terkesan kalu pun toh kuliah hanya sebatas kuliah-kos kuliah kos. cenderung lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah Mahasiswa angkatan 2007 Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora yang sekarang aktif di PMII sebagai Wakil Sekretaris Jendral "Humaniora Park" RaFak Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-1157730314080042014?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/1157730314080042014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=1157730314080042014&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1157730314080042014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1157730314080042014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/tulisan.html' title='TULISAN'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-3749659532322060008</id><published>2008-05-16T23:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T22:16:07.565-08:00</updated><title type='text'>KARL MARX</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC55SZe3uEI/AAAAAAAAAD8/pr7A_Y1_VvA/s1600-h/bralds_marx-s%2520(2)%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC55SZe3uEI/AAAAAAAAAD8/pr7A_Y1_VvA/s320/bralds_marx-s%2520(2)%5B1%5D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201227976644474946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Karl Marx&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karl Heinrich Marx (Trier, Jerman, 5 Mei 1818 – London, 14 Maret 1883) adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia. Walaupun Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai "Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas", sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Biografi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kehidupan awal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl Marx lahir dalam keluarga Yahudi progresif di Trier, Prusia, (sekarang di Jerman). Ayahnya bernama Herschel, keturunan para rabi, meskipun cenderung seorang deis, yang kemudian meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama resmi Prusia, Protestan aliran Lutheran yang relatif liberal, untuk menjadi pengacara. Herschel pun mengganti namanya menjadi Heinrich. Saudara Herschel, Samuel — seperti juga leluhurnya— adalah rabi kepala di Trier. Keluarga Marx amat liberal dan rumah Marx sering dikunjungi oleh cendekiawan dan artis masa-masa awal Karl.&lt;br /&gt;Marx terkenal karena analisis nya di bidang sejarah yang dikemukakan nya di kalimat pembuka pada buku ‘Communist Manifesto’ (1848) :” Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas.” Marx percaya bahwa kapitalisme yang ada akan digantikan dengan komunisme, masyarakat tanpa kelas setelah beberapa periode dari sosialisme radikal yang menjadikan negara sebagai revolusi keditaktoran proletariat(kaum paling bawah di negara Romawi).&lt;br /&gt;Marx sering dijuluki sebagai bapak dari komunisme, Marx merupakan kaum terpelajar dan politikus. Ia memperdebatkan bahwa analisis tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme. Di lain tangan, Marx menulis bahwa kapitalisme akan berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja internasional. “Komunisme untuk kita bukanlah hubungan yang diciptakan oleh negara, tetapi merupakan cara ideal untuk keadaan negara pada saat ini. Hasil dari pergerakan ini kita yang akan mengatur dirinya sendiri secara otomatis. Komunisme adalah pergerakan yang akan menghilangkan keadaan yang ada pada saat ini. Dan hasil dari pergerakan ini menciptakan hasil dari yang lingkungan yang ada dari saat ini. – Ideologi Jerman- Dalam hidupnya,Marx terkenal sebagai orang yang sukar dimengerti, ide-ide nya mulai menunjukkan pengaruh yang besar dalam perkembangan pekerja segera setelah ia meninggal. Pengaruh ini berkembang karena didorong oleh kemenangan dari Marxist Bolsheviks dalam Revolusi Oktober Rusia. Namun, masih ada beberapa bagian kecil dari dunia ini yang belum mengenal ide Marxian ini sampai pada abad ke-20. Hubungan antara Marx dan Marxism adalah titik kontroversi. Marxism tetap berpengaruh dan kontroversial dalam bidang akademi dan politik sampai saat ini. Dalam bukunya Marx, Das Kapital (2006), penulis biografi Francis Wheen mengulangi penelitian David McLellan yang menyatakan bahwa sejak Marxisme tidak berhasil di Barat, hal tersebut tidak menjadikan Marxisme sebagai ideologi formal, namun hal tersebut tidak dihalangi oleh kontrol pemerintah untuk dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marx menjalani sekolah di rumah sampai ia berumur 13 tahun. Setelah lulus dari Gymnasium Trier, Marx melanjutkan pendidikan nya di Universitas Bonn jurusan hukum pada tahun 1835 pada usia nya yang ke-17, dimana ia bergabung dengan klub minuman keras Trier Tavern yang mengakibatkan ia mendapat nilai yang buruk. Marx tertarik untuk belajar kesustraan dan filosofi, namun ayahnya tidak menyetujuinya karena ia tak percaya bahwa anaknya akan berhasil memotivasi dirinya sendiri untuk mendapatkan gelar sarjana. Pada tahun berikutnya, ayahnya memaksa Karl Marx untuk pindah ke universitas yang lebih baik, yaitu Friedrich-Wilhelms-Universität di Berlin. Pada saat itu, Marx menulis banyak puisi dan esai tentang kehidupan, menggunakan bahasa teologi yang diwarisi dari ayahnya seperti ‘The Deity’ namun ia juga menerapkan filosofi atheis dari Young Hegelian yang terkenal di Berlin pada saat itu. Marx mendapat gelar Doktor pada tahun 1841 dengan tesis nya yang berjudul ‘The Difference Between the Democritean and Epicurean Philosophy of Nature’ namun, ia harus menyerahkan disertasi nya ke Universitas Jena karena Marx menyadari bahwa status nya sebagai Young Hegelian radikal akan diterima dengan kesan buruk di Berlin.&lt;br /&gt;Pada tahun 1835, Marx mendaftar di Universitas Bonn untuk belajar hukum, dan di sana ia bergabung dengan Trier Tavern Club, dan sempat menjadi presiden Klub, sehingga prestasi sekolahnya buruk. Setahun kemudian, ayah Marx mendesaknya untuk pindah ke Universitas Friedrich-Wilhelms di Berlin, agar dapat lebih serius belajar. Di sini, Marx banyak menulis puisi dan esai tentang kehidupan, dengan menggunakan bahasa teologis yang diperolehnya dari ayahnya yang deis. Pada saat itulah ia mengenal filsafat atheis yang dianut kelompok Hegelian-kiri. Marx memperolehi doktorat pada tahun 1841 dengan tesis yang bertajuk "Perbedaan Filsafat Alam Demokritos dan Epikurus", tetapi beliau harus menyerahkan tesisnya kepada Universiti Jena kerana beliau diamarankan bahawa reputasinya di antara faculti sebagai seorang Hegelian-kiri akan menyebabkan penerimaan yang buruk di Berlin.&lt;br /&gt;Marx dan Pemuda Hegelian&lt;br /&gt;Di Berlin, minat Marx beralih ke filsafat, dan bergabung ke lingkaran mahasiswa dan dosen muda yang dikenal sebagai Pemuda Hegelian. Sebagian dari mereka, yang disebut juga sebagai Hegelian-kiri, menggunakan metode dialektika Hegel, yang dipisahkan dari isi teologisnya, sebagai alat yang ampuh untuk melakukan kritik terhadap politik dan agama mapan saat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-3749659532322060008?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/3749659532322060008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=3749659532322060008&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3749659532322060008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3749659532322060008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/karl-marx-karl-heinrich-marx-trier.html' title='KARL MARX'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC55SZe3uEI/AAAAAAAAAD8/pr7A_Y1_VvA/s72-c/bralds_marx-s%2520(2)%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-1099800131503118442</id><published>2008-05-16T23:14:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T22:16:07.797-08:00</updated><title type='text'>AUGUSTE COMTE</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC54PZe3uDI/AAAAAAAAAD0/5fUaYzTCyc4/s1600-h/Auguste+Comte.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC54PZe3uDI/AAAAAAAAAD0/5fUaYzTCyc4/s320/Auguste+Comte.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201226825593239602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AUGUSTE COMTE&lt;br /&gt;(1798-1857)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi Singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Lahir dari keluarga Katholik taat pada tahun 1798.&lt;br /&gt;· Mengenyam pendidikan di sekolah yang prestisius: Ecole Polytechnic.&lt;br /&gt;· Salah seorang pemimpin (aktivis) pemberontakan mahasiswa, yang membuatnya di black-list pihak universitas.&lt;br /&gt;· Bekerja sebagai sekertaris Saint-Simon selama enam tahun, sebelum kemudian memutuskan menjadi intelektual independent.&lt;br /&gt;· Sempat stres berat dan dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya ditolong oleh istrinya, seorang mantan pelacur yang hidup dengannya selama 16 tahun.&lt;br /&gt;· Menjalin “Platonic relationship” dengan Clothilde de Vaux yang yang berakhir dengan kematian setelah setahun.&lt;br /&gt;· Menerapkan pola hidup yang ia sebut sebagai “cerebral hygiene” menghindari segala bentuk kerja yang tidak disenangi, tidak hanya untuk menjaga kesehatan mentalnya tetapi juga sebagai aplikasi dari teori “positif”nya tentang hubungan antara jiwa dan raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Intelektual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Bisa dibagi menjadi 3 periode&lt;br /&gt;1. Selama berkerja dengan Saint-Simon melahirkan beberapa karya, yang terpenting adalah artikelnya tentang sistem politik baru dimana ilmuan akan menggantikan pendeta dan industrialis akan menggantikan tentara.&lt;br /&gt;2. Setelah proses penyembuhan mental      menghasilkan karya monumentalnya Course of Positive Philosophy (1830-1842)&lt;br /&gt;3. Antara 1851-1854, saat ia menuliskan A System of Positive Polity (4 jilid) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Sosiologi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Karena mengenalkan istilah “sosiologi”&lt;br /&gt;· Karena klaimnya bahwa kehidupan sosial punya karakteristik karenanya memiliki hukumnya sendiri dan harus diakui sebagai domain independent yang terpisah&lt;br /&gt;· Karena sumbangsihnya tentang metode-metode yang cocok bagi sosiologi dan hubungannya dengan disiplin ilmu lainnya&lt;br /&gt;· Menggagas social statics (struktur sosial) dan social dynamics (perubahan sosial) sebagai cabang utama dalam sosiologi&lt;br /&gt;· Kontribusinya tentang apa yang dikenal sebagai “law of the three stages”&lt;br /&gt;· Karena doktrinnya tentang hierarki ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;· Karena formula-formulanya tentang agama universal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide-ide Penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Law of Three Phases, bahwasannya perkembangan masyarakat meliputi tiga tahapan:&lt;br /&gt;1. Teologis Posisi seseorang dalam masyarakat dan aturan2 dimasyarakat didasarkan pada kuasa Tuhan (Supernatural Power): Fetisisme, Polytheisme, dan Monotheisme.&lt;br /&gt;2. Metafisika / Abstrak &gt;ide justifiksi terhadap hak2 universal diatas aturan2 manusia. Masyarakat mulai mempertanyakan tradisi2 yang ada.&lt;br /&gt;· Scientific / Ilmiah &gt;Masyarakat mampu menghadirkan solusi terhadap problem sosial dengan mendasarkan pada pengembangan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;· Teori ini merupakan salah satu teori pertama yang membahas tentang evolusi sosial.&lt;br /&gt;· Dalam Positive Philosophy, Comte memperkenalkan pentingnya hubungan antara teori, praktek, dan pemahaman manusia akan realitas.&lt;br /&gt;· Ia juga memperkenalkan kata “altruism” yang merujuk pada kayakinannya akan kewajiban moral setiap individual untuk melayani orang lain. &lt;br /&gt;· Teori ini merupakan salah satu teori pertama yang membahas tentang evolusi sosial.&lt;br /&gt;· Dalam Positive Philosophy, Comte memperkenalkan pentingnya hubungan antara teori, praktek, dan pemahaman manusia akan realitas.&lt;br /&gt;· Ia juga memperkenalkan kata “altruism” yang merujuk pada kayakinannya akan kewajiban moral setiap individual untuk melayani orang lain. &lt;br /&gt;· Mengembangkan klasifikasi yang sistematik dan hirarkis yang mencakup semua jenis ilmu dan menempatkan sosiologi sebagai ilmu terakhir sekaligus terbesar yang akan menaungi ilmu-ilmu yang lain.&lt;br /&gt;· Konsistensinya dalam penggunaan metode kuantitatif menjadi fondasi bagi positivisme modern, analisa statistik dan pengambilan keputusan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-1099800131503118442?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/1099800131503118442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=1099800131503118442&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1099800131503118442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/1099800131503118442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/auguste-comte.html' title='AUGUSTE COMTE'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC54PZe3uDI/AAAAAAAAAD0/5fUaYzTCyc4/s72-c/Auguste+Comte.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-3705183588804116684</id><published>2008-05-16T23:12:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T22:16:07.941-08:00</updated><title type='text'>EMILE DURKHEIM</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC53j5e3uCI/AAAAAAAAADs/8fTMbjNmic4/s1600-h/Emile+Durkheim.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC53j5e3uCI/AAAAAAAAADs/8fTMbjNmic4/s320/Emile+Durkheim.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201226078268930082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EMILE DURKHEIM&lt;br /&gt;(1858-1917)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIOGRAFI&lt;br /&gt;· Lahir 15 April 1858 di Epinal, Perancis.&lt;br /&gt;· Masa kecilnya dilalui dengan kehidupan keagamaan yang kuat, bahkan ia diarahkan oleh orang tuanya untuk menjadi seorang rabbi.&lt;br /&gt;· Mengenyam pendidikan di Perancis dan Jerman, dimana ia mempelajari filsafat, ilmu sosial, psikologi massa, dan antropologi &lt;br /&gt;· Dia merupakan sosiolog teoritis sekaligus pendidik praktis. &lt;br /&gt;· Dia merupakan orang pertama yang memegang gelar profesor pendidikan dan sosiologi.&lt;br /&gt;· Dia tercatat sebagai pegawai elit pemerintahan, yang mana ide-idenya tentang pendidikan diajarkan diseluruh sekolah dasar di Perancis.&lt;br /&gt;· Meninggal pada 15 November 1917.&lt;br /&gt;· (1893) The Division of Labor in Society &lt;br /&gt;· (1895) The Rules of Sociological Method &lt;br /&gt;· (1897) Suicide &lt;br /&gt;· (1912) The Elementary Forms of the Religious Life&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The Division of Labor in Society&lt;br /&gt;Dalam karya ini, Durkheim menganalisa secara komparatif mengenai apa yang membuat masyarakat bisa dikatakan primitif dan modern. Menurutnya, masyarakat primitif dipersatukan oleh fakta sosial non-material, khususnya oleh kuatnya ikatan moralitas bersama, atau oleh apa yang yang disebutnya sebagai kesadaran kolektif yang kuat. &lt;br /&gt;· Sementara masyarakat modern, karena kompleksitas yang dihadapinya, kesadaran kolektifnya itu mengalami penurunan. Ikatan utama dalam masyarakat modern adalah pembagian kerja yang ruwet, yang mengikat orang yang satu dengan orang yang lainnya dalam hubungan saling tergantung. &lt;br /&gt;· Solidaritas Mekanik Vs Solidaritas Organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Rule of Sociological Method&lt;br /&gt;· Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta-fakta sosial. &lt;br /&gt;· Dia mendefinisikan faktas sosial sebagai: (1) segala bentuk tindakan; (2) memiliki kekuatan yang memaksa individu; (3) bersifat umum dan keberadaannya terlepas dari manifestasi individu.&lt;br /&gt;· Bagaimana mempelajari fakta sosial?&lt;br /&gt;· Aturan Dasar: Anggaplah fakta sosial sebagai suatu benda (things)&lt;br /&gt;· Filsafat sosial, sebagaimana yang diusung Comte dan Spencer, menurutnya tidaklah ilmiah karena ia menggantikan realitas sosial dengan konsepsi tertentu tentang realitas tersebut. Karenanya sosiologi harus mengikuti aturan sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Buang segala bentuk pra-konsepsi (prasangka). Hal ini akan membawa kita pada pendekatan yang bebas-nilai dalam mengkaji fakta sosial.&lt;br /&gt;• Definisikan permasalahan dengan memasukkan semua fenomena yang saling berhubungan atau penentuan topik tidak tergantung pada sosiolog akan tetapi pada fakta sosial.&lt;br /&gt;• Fakta sosial dapat dikaji secara obyektif ketika ia dijauhkan dari kepentingan-kepentingan individu.&lt;br /&gt;· Beberapa kesimpulan penting:&lt;br /&gt;• Sosiologi bukanlah filsafat karena bersifat empiris dalam mengkaji sesuatu.&lt;br /&gt;• Metode sosiologi bersifat obyektif.&lt;br /&gt;• Metode sosiologi bersifat unik untuk kajian sosiologis karena fakta sosial bersiafat social&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suicide (bunuh diri)&lt;br /&gt;• Dia berpendapat bahwa menghubungkan perilaku individu seperti bunuh diri itu dengan sebab-sebab sosial (fakta sosial) maka ia akan dapat menciptakan alasan meyakinkan tentang pentingnya disiplin sosiologi.&lt;br /&gt;• Dia membedakan bunuh diri kedalam tiga kategori: egoistik, altruistik, dan anomik.&lt;br /&gt;• Egoistic suicide: &lt;br /&gt;• Tingkat integrasi dalam agama.&lt;br /&gt;• Tingkat integrasi dalam urusan domestik.&lt;br /&gt;• Tingkat integrasi dalam politik.&lt;br /&gt;• Altruistic suicide: bunuh diri yang didasarkan pada nilai atau kewajiban atau dipandang sebagai suatu keharusan.&lt;br /&gt;• Anomic suicide: bunuh diri sebagai akibat dari perubahan regulasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Elementary Forms of Religious Life&lt;br /&gt;• Durkheim menganggap maasyarakatlah yang menentukan bahwa sesuatu itu bersifat sakral dan profan, khususnya dalam kasus yang disebut totemisme. Kesimpulan Durkkheim, bahwa agama dan masyarakat (kesadaran kolektif) adalah satu dan sama. Agama adalah cara masyarakat memperlihatkan dirinya sendiri dalam bentuk fakta sosial non-material.  Durkheim telah meletakkan suatu konsep fakta sosial sebagai suatu landasan bagi analisa lembaga sosial, perubahan sosial dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG SOSIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Sosiologi?&lt;br /&gt;o Studi ilmiah tentang struktur sosial, interaksi sosial, dan faktor-faktor penentu perubahan dalam struktur sosial dan interaksi sosial. &lt;br /&gt;o Empat unsur penting dalam sosiologi:&lt;br /&gt;• Ilmu Pengetahuan : mengikuti prosedur ilmiah&lt;br /&gt;• Struktur Sosial : struktur mempengaruhi perilaku&lt;br /&gt;• Interaksi Sosial : adanya perbuatan dan respon&lt;br /&gt;• Perubahan Sosial : selalu hadir di masyarakat&lt;br /&gt;• Luasnya cakupan sosiologi yang mengerucut pada keempat unsur utama diatas menyebabkan munculnya berbagai variasi perspektif dalam khazanah disiplin ilmu sosiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Cara mengkategorisasikan teori:&lt;br /&gt;o Agensi-struktur&lt;br /&gt;o Makro-mikro&lt;br /&gt;o Ritzer : Fakta Sosial, Definisi Sosial, dan Behaviorisme Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Kelahiran Sosiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Enlightment, ditandai oleh:&lt;br /&gt;• Science (observasi), teurtama setelah muncul teori Newton&lt;br /&gt;• Dominasi reason (akal) dibandingkan tradisi atau keyakinan&lt;br /&gt;• Semangat untuk pencarian hukum-hukum alam&lt;br /&gt;• Aplikasi science dan reason di segala bidang&lt;br /&gt;• Merebaknya kritik sosial&lt;br /&gt;• Lebih memperhatikan kesejahteraan dan kebebasan individu&lt;br /&gt;• Keinginan untuk menciptakan sistem yang lebih demokratis&lt;br /&gt;• Percaya pada perubahan kearah yang lebih baik (progress)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Reaksi Konservatif terhadap Enlightment:&lt;br /&gt;• Lebih menekankan pada tatanan dan stabilitas&lt;br /&gt;• Masyarakat dipandang sebagai sebuah organisme&lt;br /&gt;• Realisme sosial&lt;br /&gt;• Masyarakat lebih penting dari pada individu&lt;br /&gt;• Menekankan unsur non-rasional, ex: tradisi, ritual, seremoni, dll.&lt;br /&gt;• Menekankan sub-sistem masyarakat, ex: keluarga, kelompok agama, dll.&lt;br /&gt;• Percaya akan pentingnya hirarki dalam masyarakat&lt;br /&gt;• Sosiologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang terakhir kali memisahkan diri dari Filsafat&lt;br /&gt;• Auguste Comte sebelum menggunakan istilah Sosiologi, menyebut ilmu ini dengan istilah Filsafat Positif&lt;br /&gt;• Kajian tentang tokoh klasik sosiologi sendiri seringkali mengerucut pada tiga figur: Marx, Durkheim, dan Weber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Sosiologi Klasik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Fungsionalisme Struktural&lt;br /&gt;· Tokoh  : Spencer, Durkheim, dan Pareto&lt;br /&gt;· Level analisis : Makro&lt;br /&gt;· Karakteristik : Sistem bagian-bagian (analogi organisme), kontribusi masing-masing bagian, konsensus, dan equilibrium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Konflik&lt;br /&gt;· Tokoh  : (Hegel), Karl Marx, dan Max Weber&lt;br /&gt;· Level analisis : Makro&lt;br /&gt;· Karakteristik : Kekuasaan sosial dan ketidakadilan, sumber-sumber ketegangan dan konflik di masyarakat, persaingan kepentingan,  cenderung menuju posisi materialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Interaksionisme Simbolik&lt;br /&gt;· Tokoh  :     George Simmel, Cooley, dan George H. Mead&lt;br /&gt;· Level analisis :     Mikro&lt;br /&gt;· Karakteristik : Pengembangan diri (self), sosialisasi, interaksi, penciptaan makna kecil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-3705183588804116684?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/3705183588804116684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=3705183588804116684&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3705183588804116684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3705183588804116684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/emile-durkheim-1858-1917-biografi-lahir.html' title='EMILE DURKHEIM'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC53j5e3uCI/AAAAAAAAADs/8fTMbjNmic4/s72-c/Emile+Durkheim.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-5427360237969021242</id><published>2008-05-16T23:02:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T22:16:08.132-08:00</updated><title type='text'>IBNU KHALDUN</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC51y5e3uBI/AAAAAAAAADk/qSS_uOEi9eY/s1600-h/Ibnu+Khaldun.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC51y5e3uBI/AAAAAAAAADk/qSS_uOEi9eY/s320/Ibnu+Khaldun.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201224136943712274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IDE-IDE SOSIOLOGIS&lt;br /&gt;”IBN-KHALDUN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Romantisisme Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISLAM &amp; YUNANI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Hasil Penerjemahan sekitar th. 750-800&lt;br /&gt;· Al-Kindi (800-865), Filusuf terkemuka (penggagas ide-ide tentang keilmuan; pengembang filsafat metafisika Yunani)&lt;br /&gt;· Al-Farabi (870-950) - bersama Aristotle dipandang sebagai “2nd teacher;” ahli filsafat Islam; menjelaskan konsep kenabian; meyakini wahyu dan filsafat sebagai jalan menemukan kebenaran; penggagas rekonsiliasi ide-ide Plato &amp; Aristotle&lt;br /&gt;· Ibn Sina (Avicenna) (980-1036) – al-Qonun (Canon of Medicine) yang menjadi buku rujukan ilmu kedokteran modern.&lt;br /&gt;· Al-Ghazali (1058-1111) – ahli hukum Islam dan teologi; pendukung logika, matematika, astronomi &amp; fisika; penentang metafisika of filsafat&lt;br /&gt;· Ibn-Rushd (Averroes) (1126-1198); komentator utama Aristotle; dipandang bertanggung jawab atas pandangan bahwa filsafat Islam bukanlah sesuatu yang original; tanda berakhirnya periode Islam klasik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBANGAN ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Ibn Haiyan (c. 776) – ahli kimia dan astronomi&lt;br /&gt;· Al-Harrani (826-901) – peletak dasar bagi non-Euclidean geometri, trigonometri bidang, integral calculus dan real numbers.&lt;br /&gt;· Al-Battani (868-929) – Astronomi, penggagas solar year (365 d 5 h 46 m 24 s)&lt;br /&gt;· Al-Zahrawi (Abulcasis) (936-1013) – kedokteran, ahli penyakit hemophilia, memperkenalkan teknik amputasi dan pembuatan gigi palsu, ahli operasi mata, telinga, dan tenggorokan, serta dikenal sebagai ahli serangga.&lt;br /&gt;· Al-Buzjani (940-998) – penemu ilmu trigonometri&lt;br /&gt;· Al-Haytham (alhazen) (965-1040) – ahli optik / lensa kacamata &lt;br /&gt;· Ibn Sina (980-10-37) – Ahli: kedokteran, matematika, fisika, filsafat, teologi, logika, dan metafisika&lt;br /&gt;· Al-Khawarizmi (1100-1166) – penulis Al-Jabrwa-al-Muqabilah  (ditemukannya aljabar); penemu nol, desimal, angka-angka Arab&lt;br /&gt;· Al-Baitar (1188-1248) – Ahli biologi dan farmasi&lt;br /&gt;· Al-Nafis (1210-1288) – circulatory system (rediscovered by Harvey 300 years later)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBN-KHALDUN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Nama lengkapnya: Abu Zaid Abdul-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun Wali al-Din al-Tunisi al-Hadrami. &lt;br /&gt;· Lahir di Tunisia, Afrika Utara, 27 Mei 1332 dari keluarga terpelajar.&lt;br /&gt;· Sejak kecil sudah menempuh studi tentang ilmu-ilmu pendidikan Islam (pelajaran Qur’an) dan kemudian mempelajari matematika dan sejarah&lt;br /&gt;· Dalam karir kehidupannya, Khaldun telah terlibat dalam berbagai kehidupan sosial politik, ia pernah membantu beberapa sultan yang berkuasa pada masa itu seperti di Tunisia, Maroko, Spanyol dan Aljazair sebagai Duta Besar, bendahara dan anggota dewan penasehat Sultan.&lt;br /&gt;· Ia pernah dipenjara selama dua tahun di Maroko karena keyakinannya bahwa penguasa negara bukanlah pemimpin yang mendapatkan kekuasaan dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Setelah kurang dari dua dekade aktif di bidang politik, Ibn Khaldun kembali ke Afrika Utara.&lt;br /&gt;· Di sana ia melakukan studi dan menulis secara intensif selama lima tahun. Karya yang dihasilkan selama lima tahun itu meningkatkan kemasyhurannya di Pusat Studi Islam Universitas Al-Azhar di Kairo.&lt;br /&gt;· Karya monumentalnya: Muqaddimah dan al-I’bar, serta Tasrif (autobiography). &lt;br /&gt;· Muqaddimah disejajarkan dengan the Prince-nya Machiavelli (ditulis satu abad setelahnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide-ide Sosiologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Netralitas ilmu pengetahuan Riset empiris yang dilakukannya dalam mengamati berbagai gejala sosial masyarakat urban dan nomaden sangat dihargai oleh sosiolog kontemporer: “Khaldun kini telah berpengaruh secara signifikan atas konsep, pemikiran, teori dan metodologi sosiologi klasik” (Ritzer, 1996: 7-8).&lt;br /&gt;· Dasar teori konflik: manusia pada dasarnya senantiasa berhadapan dengan konflik sebagai akibat dari perbedaan karakteristik dalam masyarakat.&lt;br /&gt;· Konsep tentang Ashabiyah atau solidaritas yang didasarkan pada kinship/pertalian darah.&lt;br /&gt;· Teori tentang Perubahan sosial yang didasarkan pada observasinya terhadap berbagai kesultanan pada masanya; teori Siklus Perubahan Sosial.&lt;br /&gt;· Konsep tentang Sosiologi Hukum, khususnya tentang keterkaitan antara kekuasaan raja dengan kontrak sosial (universalitas hukum/norma sosial)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide-ide Menarik Lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Hubungan antara ulama dan politik     ulama cenderung menjauhi politik (Fasal 34).&lt;br /&gt;· Diferensiasi sosial atau pembagian kerja    semakin tinggi peradaban masyarakat maka akan terjadi penyempurnaan di bidang profesi, ex: kursus musik, tari dan memainkan alat-alat perkusi (mu'allim al-ghina' wa al-raqs wa qar' al-thubul 'ala al-tauqi') (Fasal 17).&lt;br /&gt;· Mengkritisi anggapan bahwa bangsa taklukan cenderung akan meniru budaya penakluknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-5427360237969021242?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/5427360237969021242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=5427360237969021242&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5427360237969021242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5427360237969021242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/ide-ide-sosiologis-ibn-khaldun-sebuah.html' title='IBNU KHALDUN'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/SC51y5e3uBI/AAAAAAAAADk/qSS_uOEi9eY/s72-c/Ibnu+Khaldun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-4358921715666180505</id><published>2008-05-16T22:55:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T23:02:14.153-07:00</updated><title type='text'>SOSIOLOGI; NAHDLATUL ULAMA'; PERSPEKTIF FUNGSIONALISME</title><content type='html'>&lt;strong&gt;NAHDLATUL ULAMA; PERSPEKTIF FUNGSIONALISME*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beragama berkaitan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama telah menimbulkan khayalnya yang paling luas dan kadang juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling dalam dan sempurna, serta juga perasaan takut dan ngeri. Meskipun perhatian kita tertuju sepenuhnya kepada adanya suatu dunia yang tidak dapat dilihat [akhirat], namun agama (juga) melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari di dunia ini.&lt;br /&gt;Agama senantiasa dipakai untuk menanamkan keyakinan baru ke dalam hati sanubari terhadap alam gaib dan surga-surga yang telah didirikan di alam tersebut. Namun demikian agama juga berfungsi melepaskan belenggu-belenggu adat atau kepercayaan manusia yang sudah usang. Beribadat bersama-sama memakai lambang aliran keagamaan masing-masing telah mempersatukan kelompok-kelompok manusia dalam ikatan yang paling erat,  sehingga terjalinnya suasana dan interaksi fungsional yang kokoh. &lt;br /&gt;Sebagaimana di Indonesia saat ini, NU atau Nahdlatul Ulama’ yang dihuni oleh para Kiai-kiai yang dianggap orang suci merupakan salah satu dari berbagai macam aliran di indonesia. Masyarakat yang menganggap bahwa aliran sebagai sebuah prinsip dalam beragama, menentukan dan menjelaskan siapa yang dianut. Masyarakat desa yang cara berpikirnya lebih condong kepada tradisional lebih cocok dalam wadah aliran ini yang diklaim sebagai aliran tradisional. NU mempunyai andil besar terhadap pembentukan masyarakat serta mempertahankan eksistensi masyarakat tradisoanal yang banyak dihuni oleh masyarakat desa. Meski dalam realitanya banyak para generasi jauh berpikir moderat.&lt;br /&gt;Fatwa-fatwa/kebijakan kiai yang dianggap sebagai hal yang sakral dan sesuai dengan norma, nilai dan budaya merupakan keyakinan aliran ini. Para anggota beranggapan bahwa setiap kebijakan yang dikeluarkan merupakan suatu hal yang baik yang patut didukung dan dilaksanakan. Artinya memang teori ini (fungsional) pro-status quo kebijakan dianggap hal yang baik dan perubahan sosial yang cepat (revolutif) dianggap sebagai penyimpangan suatu sistem dan perlu pengembalian adanya sebuah stabilitas masyarakat. Dan selanjutnya akan kami bahas aliran ini (Nahdlatul Ulama) dengan meminjam perspektif teori fungsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II .PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Aliran-Aliran Keagamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah dalam Islam dan Protestan,* Lutheran,* Calvinism* dalam Kristen serta masih banyak lagi aliran keagamaan lain yang ada dimiliki masing-masing agama diberbagai penjuru dunia. Indonesia yang tingkat hiterogenitasnya tinggi merupakan wadah dimana aliran-aliran sewajarnya muncul sebagai sebuah upaya untuk mencita-citakan keadaan yang saling menguntungkan satu sama lain. Semisal Muhammadiyah, NU, Ahmadiyah dan lain-lain dalam hal beragama, baik beribadah, interaksi sosial dan tindakan sosial yang menyangkut kepercayaan dalam memuja Tuhan yang Agung yang masing-masing mempunyai keyakinan dan interpretasi sendiri-sendiri sebagai makhluk Tuhan yang berakal. Di dalam ajarannya mengajarkan sebuah ketenangan, keteraturan yang nantinya mampu menciptakan sebuah keseimbangan dalam masyarakat..&lt;br /&gt;Dalam ibadat keagamaan dihiasi dengan keindahan seni; [tetapi] juga berjalan baik dalam kehidupan yang paling sederhana sekalipun. Ide-ide tentang Tuhan membantu memberi semangat kepada manusia dalam menjalankan tugas-tugasnya sehari-hari, menerima nasibnya yang tidak baik, atau bahkan ”berusaha mengatasi kesukaran-kesukaran yang banyak dan berusaha mengakhirinya”.&lt;br /&gt; Berbagai macam aliran keagamaan mempunyai ciri dan bentuk ajaran sendiri dalam pencapaiannya terhadap Tuhan. Bentuk rutinitas dan ajaran aliran yang dianggap sebagai sebuah bentuk stabilitas keberlangsunngan ajaran/tradisi mereka dalam hal mematuhi ajaran aliran keagamaannya yang tentunya dipercayai oleh anggotanya. Taruhlah, NU dengan Tahlil, Yasinan serta Muhammadiyah dengan Majelis Tarjih dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NU atau Nahdlatul Ulama didirikan di Surabaya pada tanggal 1926 oleh sejumlah tokoh tradisional dan usahawan dari Jawa Timur. Sudah seringkali dinyatakan bahwa NU didirikan oleh kiai tradisionalis yang menyaksikan posisi mereka terancam dengan munculnya Islam reformis. Pengaruh Muhammadiyah dan Serikat Islam yang semakin meluas, demikian menurut argumen ini, telah memarginalisasikan kiai, yang sebelumnya merupakan satu-satunya pemimpin dan juru bicara komunitas muslim, dan ajaran kaum pembaru sangat melemahkan legitimasi mereka. Dikatakan NU didirikan untuk mewakili kepentingan-kepentingan kiai, vis a vis pemerintah dan juga kaum pembaru dan untuk menghambat perkembangan organisasi-organisasi yang hadir lebih dahulu&lt;br /&gt;Perbedaan mengenahi seputar persoalan-persoalan furu’iyah yang pada awalnya perbedaan dan pertentangan pendapat yang terjadi masih dalam batas wajar anatara pihak kelompok yang berpegang teguh pada tradisi ibadah dan ajaran madzhab dengan kelompok yang menghendaki adanya pembaruan dalam beragama tanpa terikat dengan madzhab.&lt;br /&gt;Selain alasan di atas, semangat nasionalisme, basis sosial Islam tardisional dan peristiwa internasional yang juga menjadi alasan lain melatar belakangi lahirnya aliran keagamaan (Nahdlatul Ulama) ini. Kelompok Islam tradisional, kebanyakan mempunyai latar belakang kehidupan pesantren bahkan ada diantara mereka yang memimpin pesanten dengan sejumlah santri. Antara Islam tradisional dengan pesantren mempunyai kaitan yang sangat kuat dan merupkan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain basis sosial Islam tradisional adalah pesantren.&lt;br /&gt;Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang dipimpin oleh kiai dan mempunyai pondok yang digunakan sebagai tempat tinggal santri. Kegitan dalam pesantren merupakan pendidikan dan pengajaran kitab-kitab klasik. Pesantren dalam pengertian diatas lah yang nampaknya mempunyai relevansi yang kuat dengan Islam tradisional yang pada umumnya terletak di pedesaan meski ada juga di daerah industri/perkotaan. &lt;br /&gt;Disamping itu di negeri Hijaz Ibn Sa’ud telah merebut kekuasan yang dulunya ditangan Syarif Husain dan bermaksud untuk membahsa pengaturan kota Makkah dan Madinah dan terjadinya polarisasi pandangan umat Islam indonesia khususnya Indonesia di Jawa. Sebab bagaimana pun juga Ibn  Sa’ud dan pengikutnya adalah penganut ajaran Wahabi. Kelompok Wahabi ini terkenal terhadap segala sesuatu yang berbau pemujaan kepada wali dan orang yang sudah meninggal,melakukan pegahancuran terhadap makam-makam keramat dan menghilangkan praktek-praktek keagamaan yang dianggap bid’ah dan tentu saja membuat cemas golongan Islam tradisional di Indonesia. Dilain pihak membawa angin segar bagi kaum pembaru. &lt;br /&gt;Abdul Wahab Hasbullah sebagai wakil dari kelompok Islam tradisional menghendaki agar delegasi yang dikirim ke Hijaz meminta jaminan Ibn Sa’ud untuk mneghormati madzhab-madzhab fiqh dan memperbolehkan praktek keagamaan secara tradisional. Demikian pula untuk meniadakan pelarangan terhadap tarekat dan ziarah ke makam orang-orang suci di Makkah dan sekitarnya, usulan ini dilontarkan oleh Abdul Wahab Hasbullah dalam pertemuan-pertemuan dengan ulama lain namun kurang mendapat sambutan bahkan kongres yang selalu didominasi oleh kaum modern ini tidak begitu menghiraukan usulan Abdul Wahab Hasbullah. Mereka lebih mendukung Raja Ibn Sa’ud. &lt;br /&gt;Oleh karena Abdul Wahab Hasbullah beserta kelompok Islam lain tradisional semakin tidak mendapat tempat dalam berbagai forum, maka Abdul Wahab Hasbullah mengambil inisiatif untuk mengadakan pertemuan sendiri. Akhirnya sebelum kongres Al-Islam ke-5 di Bandung yang sedianya akan dilaksanakan pada tanggal 6 Pebruari 1926, Abdul Wahab Hasbullah dan para ulam di Surabaya mengadakan pertemuan dengan tujuan membahas pengiriman delegasi ke Kongres Islam Internasional di Hijaz (Makkah). Pertemuan tersebut terlaksana pada tanggal 31 Januari 1926 di rumah Abdul Wahab Hasbullah, atas undangan Komite Hijaz.&lt;br /&gt;Atas undangan disampaikan oleh Komite Hijaz, maka berkumpullah para ulama pada tanggal 31 Januari 1926 di kampung Kertopaten Surabaya, yaitu di rumah Abdul Wahab Hasbullah. Tugas utama Komite Hijaz ini adalah mempersiapkan pengiriman delegasi yang akan dikirim ke Muktamar Alam Islami Makkah dan mempersiapkan pertemuan para ulama terkemuka se Jawa dan Madura.&lt;br /&gt;Tugas yang diamanatkan kepada komite Hijaz ini ternyata dapat dijalankan dengan baik. Artinya, pertemuan ulama dapat dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 1926. Dalam petemuan tersebut menghasilkan dua keputusan penting. Petama, mengirim Abdul Wahab Hasbullah dan Ahmad Ghana’im al Mishri untuk menghadap Raja Ibn Sa’ud, penguasa yang baru di Hijaz untuk memberikan kebebasan beribadah menurut madzhab empat. Kedua, mendirikan suatu Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Konon ketika itu ada dua pilihan nama untuk organisasi yang didirikan tersebut, yaitu Nadhudul Ulama dan Nahdlatul Ulama. Namun yang menjadi kesepakatan bersama adalah nama Nahdlatul Ulama (NU).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Definisi Aliran Keagamaan; Teori Fungsionalisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah fungsi, seperti kita ketahui menunjuk kepada sumbangan yang diberikan agama (dalam pembahasan ini aliran agama) atau lembaga sosial yang lain untuk mempertahankan [keutuhan] masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan terus-menerus. Dengan demikian perhatian kita adalah peranan yang telah dan masih dimainkan oleh atau aliran keagamaan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup masyarakat-masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;Sarjana Amerika semua sependapat untuk menentang pendapat positivistis lama yang menyatakan bahwa agama muncul dalam kondidsi-kondisi kebodohan dan ketidakcakapan intelektual tertentu yang tidak akan bisa bertahan selama-lamanya. Mereka ingin menunjukkan bagaimana sifat kemanusian esensial tertentu seharusnya muncul dalam gejala-gejala keagamaan, dan untuk melakukan hal itu mereka menyatakan bahwa agama-agama berfungsi mendukung nilai-nilai dan aturan-aturan sosial. Sebagai kerangka acuan penelitian empiris, ”teori fungsional”  memandang masyarakat sebagai suatu lembaga sosial yang berada dalam keseimbangan; yang memolakan kegiatan manusia berdasarkan norma-norma yang dianut bersama serta dianggap sah dan mengikat peran serta manusia itu sendiri. Lembaga-lembaga yang kompleks ini secara keseluruhan merupakansistem sosial yang sedemikian rupa dimana setiap bagian (masing-masing unsur kelembagaan itu) saling tergantung dengan semua bagian yang lain, sehingga perubahan salah satu bagian akan mempengaruhi kondisi sistem keseluruhan.&lt;br /&gt;Perlu ditegaskan bahwa menurut teori fungsional, masyarakat sebagai suatu sistem memiliki struktur yang terdiri dari banyak lembaga, dimana masing-masing lembaga memilki fungsi sendiri-sendiri. Struktur dan fungsi, dengan kompleksitas yang berbeda-beda ada pada setiap masyarakat baik masyarakat modern maupun masyarakat primitif. Contoh lembaga keagamaan berfungsi membimbing pemeluknya menjadi anggota masyarakat yang baik dan penuh pengabdian untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sejauh mana aliran keagamaan dapat menarik perhatian dan terus eksis untuk diburu penduduk bumi, dan seberapa stabil teori fungsionalis mencita-citakan adanya aliran keagamaan sebagai sebuah pandangan adanya keseimbangan? hal ini hanya bisa dijawab tergantung anggota perseorangan yang menganggap aliran keagamaan mempunyai dedikasi besar terhadap proses beragama dan masyarakat, serta sadar akan kesinambungan berbagai macan aliran keagamaan. Namun jika tidak maka prediksi yang sangat jelas sesuai dengan teori fungsional bahwa aliran keagamaan nantinya akan ditinggalkan oleh para pengikutnya. Untuk lebih jelasnya kita lihat pembahasan dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Fungsi Aliran Keagamaan (Nahdlatul Ulama) bagi Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut analisis pribadi ada beberapa hal fungsi yang melatar belakangi kenapa aliran keagamaan (Nahdlatul Ulama) ini di ikuti oleh masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan yang kental dengan kultur tradisional dan mitos-mitos serta mistiknya. Adapun fungsi-fungsinya antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Dapat membimbing untuk mencapai sebuah ikatan batiniyah terhadap Tuhan&lt;br /&gt;b. Fans pada tokoh-tokoh tertentu (kiai) dan kharismatik kiai-kiai&lt;br /&gt;c. Kesamaan cara berpikir dan problem solvingnya (pada kiai)&lt;br /&gt;d. Ajaran keilmuannya menekankan atas hormat pada hal-hal yang dianggap sakral (wali, kiai dll)&lt;br /&gt;e. Sebagai backing masyarakat kelak ketika di akhirat (yang salah dan benar)&lt;br /&gt;f. Sebagai pedoman dalam bertindak maupun berpikir&lt;br /&gt;g. Sebagai pendidik dalam sebuah wadah yang dianggap representatif terhadap keilmuan atau kultur setempat&lt;br /&gt;h. Guna mengingatkan dalam berbuat, serta mematuhi atau taat pada orang yang lebih tua yang dianggap pernah maupun berjasa pada dirinya&lt;br /&gt;i. Dianggap mampu mengotrol segala tindakan yang dianggap melanggar dari aliran yang dianut (NU)&lt;br /&gt;j. Juga mengembangkan landasan keilmuan dengan metode tertentu yang dimiliki (karena relevan)&lt;br /&gt;k. Tempat sharing terhadap permasalahan yang dihadapi maupun keilmuan yang sesuai dipelajari&lt;br /&gt;l. Meningkatkan keyakinan sesuai kepercayaan alirannya&lt;br /&gt;m. Membantu menyelesaikan problem serta sebagai menambah jaringan sosial dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kategori diatas kiranya begitu jelas apa fungsi aliran keagamaan. Dalam hal ini Nahdlatul Ulama sebagai sebuah wadah dimana para pengikutnya merasakan fungsi yang telah diberikan. Ketika Nahdlatul Ulama dianggap memberikan fungsi terhadap anggotanya maka aliran keagamaan ini akan terus eksis sebagaimana kuatnya anggapan anggotanya terhadapa fungsi yang telah diberikan dan itupun sebaliknya.&lt;br /&gt;Nahdlatul Ulama dikatakan sebagai aliran keagamaan terbesar saat ini. Aliran ini hanya ada di Indonesia yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat. Ciri khas aliran ini seperti halnya yang diyakini oleh para pengikutnya dengan konsep sentral kharismatik para kiai-kiai dan fatwa kiai dianggap harga mati yang harus ditaati. Salah satu kemungkinan inilah yang dianggap sesuai atau relevan dengan kultur Indonesia yang lebih kepada mitos-mitos, tradisional dan mistisistik semisal, slametan orang meniggal dan ritual-ritual lain yang memang dulunya berasal dari agama Hindu menjadi konstruksi kultur mitos, tradisional dan mistik inilah yang mungkin menjadi alasan kenapa aliran ini (NU) diikuti. &lt;br /&gt;Kharismatik seorang tokoh kiai merupakan ciri-khas aliran Nahdlatul Ulama sebagai wadah keagamaan masyarakat. Dalam konsep Weber karakter kharisma hanya mengenal determinasi batin dan batasan  batin. Pemegang kharisma menyambar tugas yang layak baginya dan menghendaki kesetiaan dan pengikut berdasarkan misinya. Keberhasilannya menentukan didapat atau tidaknya hal-hal yang ia kehendaki itu. Klaim kharismatik menemui kegagalan bila misinya tidak diakui oleh orang-orang yang yang ia merasa di utus bagi mereka. Jika mereka mengakuinya, maka dialah tuan mereka-sejauh ia tahu bagaimana merawat pengakuan itu dengan ”membuktikan” dirinya. Tetapi ia tidak mendapatkan ”haknya” dari kehendak mereka, seperti yang terjadi dalam sebuah Pemilu. Justru sebaliknya yang berlaku: adalah kewajiban mereka yang menjadi sasaran misinya untuk mengakui sebagai pemimpin mereka yang memenuhi syarat kharismatis.&lt;br /&gt;Para kiai kharismatik harus menunjukkan bagaiamana seorang kiai itu menjadi teladan contoh dan misi keagamaan atau dakwah yang baik bagi pengkutnya. Jika hal ini tidak mampu dibuktikan oleh para kiai yang ada di aliran keagamaan ini (NU), maka para kiai ini akan ditinggalkan dan tidak akan dipercaya atau tidak diakui kharisma kiainya oleh segenap pengikutnya. Artinya para kiai harus menunjukkan kharismatiknya sebagai kiai agar dipercaya.&lt;br /&gt;Pemimpin kharismatik memperoleh dan mempertahankan otoritasnya semata-mata dengan mebuktikan ketangguhannya dalam hidup. Jika ia ingin menjadi Nabi, ia harus menampilkan mukjizat, jika ingin menjadi pengliama perang, ia harus melakukan tindakan heroik. Tapi yang paling penting, misi ilahiyahnya harus ”membuktikan” diri bahwa mereka yang pasrah sepenuh hati padanya akan tercukupi. Jika mereka tidak tercukupi, jelas ia bukan maharesi yang dikirim para dewa.  &lt;br /&gt;Lebih-lebih di Pulau Jawa yang memang konstruksi kultur tradisional dengan mistik atau mitosnya yang kuat. Selain itu desakan dan wajah pendidikan yang memang juga mampu mempengaruhi aliran ini untuk diikuti misalnya, Pesantren merupakan basis utama Nahdlatul Ulama berjuang dan berkembang juga hubugan yang sangat menonjol yang dicontohkan antara santri dan kiai yang menempatkan kiai sebagai pemimpin sentral khususnya pedesaan, merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hadirnya seorang kiai ditengah-tengah masyarakat dianggap mempunyai kekuatan dan dapat melindungi serta membawa kepada keselamatan. &lt;br /&gt;Dengan demikian kiai menjadi pemimpin dan tokoh dalam kehidupan santri dan juga masyarakat pedesaan. Merekalah yang menjadi kekuatan utama bagi aliran tradisonal ini. Selain Pesantren pendidikan formal yang dibungkus dalam sebuah kultur pesantren (MA swasta) juga menjadi alasan, kenapa aliran ini di amini sampai sekarang disamping itu juga LP Ma’arif NU merupakan bentuk kerjasama yang dilakuakan oleh pendidikan tersebut, dan wadah-wadah kepemudaan yang juga dianggap cukup representatif oleh kalangan pemuda (IPNU-IPPNU). Namun, lambat laun ketika nanti dunia sudah beralih dan mainstream manusia mulai tergeser sedikit maupun banayak dengan gempuran modernitas-globalisasi maka tradisionalitas akan luntur serta kepercayaan terhadap sebuah hal mistik atau berbau mitos akan beralih kepada ilmu pengetahuan. Dan inilah yang mungkin akan menyebabkan dan dipandang bahwa aliran keagamaan tidak memberikan sumbangan apapun terhadap masyarakat dan nantiya aliaran ini akan ditinggalkan karena mereka mendasarkan kepercayaannya terhadap Tuhan dengan agenda dunia yakni ilmu pengetahuan (deisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Nahdlatul Ulama, Perspektif Fungsionalisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga bentuk dasar/prinsip teori fungsional dalam hal memandang suatu permasalahan yang menjadi acuan dalam menganggapi suatu problem yakni tentang aliran keagamaan khususnya, antara lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø &lt;em&gt;Pertama,&lt;/em&gt; Masyarakat dipandang sebagai suatu organisme yang terdiri dari bagian-bagian saling bergantung/terkait dan bekerjasama untuk sistem yang ada serta seluruh struktur sosial atau setidaknya yang diprioritaskan, menyumbangkan terhadap integrasi dan adaptasi sistem yang berlaku.&lt;br /&gt;Bahwa aliran keagamaan (NU) merupakan sebuah bagian-bagian dari agama tertentu yang satu sama lain saling bergantung atau berkaiatan sesuai fungsinya. Karena NU punya kelompok kiai-kiai masing-masing aliran mempunyai ciri kekhasannya sendiri-sendiri maka ciri/khas yang berbeda inilah berguna untuk saling sharing/berfungsi tambal-sulam apa yang belum dimiliki oleh kelompok kiai-kiai lain. Contoh, dalam diri NU ada berbagai macam massa kelompok kiai yang dalam setiap pengambilan keputusan pasti selalu merujuk pada sebuah pertimbangan yang ada karena ada unsur keseimbangan, dan hasilnya jelas tidak menguntungkan salah satu pihak dan bergantung satu-sama lain. Masing-masing kelompok kiai-kiai ini berfungsi atau bekerjasama untuk menjalankan maksud/tujuan masing-masing sehingga tercapainya sebuah keadaan stabil yang diinginkan anggota aliran Nahdlatul Ulama tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø &lt;em&gt;Kedua,&lt;/em&gt; kelangsungan struktur atau Eksistensi atau pola yang telah ada dijelaskan melalui konsekuensi-konsekuensi atau efek-efek yang keduanya diduga perlu atau bermanfaat terhadap permasalahan masyarakat (tanpa adanya fungsi bagi sistem maka struktur akan hilang dengan sendirinya). Terletak pada besar kecilnya fungsi sistem.&lt;br /&gt;Bahwa jika eksistensi maupun fungsi instansi dari aliran keagamaan itu dirasa kurang/tidak memberikan manfaat/dedikasi terhadap anggotanya, maka aliran keagamaan (NU) ini akan hilang dengan sendirinya, dan itu pun sebaliknya jika eksistensi maupun fungsi instansi dari NU sebagai aliran keagamaan dirasa memberikan manfaat/dedikasi terhadap anggotanya, maka NU sebagai aliran keagamaani akan terus eksis dengan sendirinya (perspektif fungsional). Contoh, jika Nahdlatul Ulama dianggap memberikan dedikasi buat anggotanya maka aliran ini akan terus eksis dengan sendirinya, dan sebaliknya, jika Nahdlatul Ulama dipandang kurang bahkan tidak maka NU akan hilang dengan sendirinya, tergerus oleh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø &lt;em&gt;Ketiga,&lt;/em&gt; Pencapaian equilibrium atau harmonis dilaksanakan melalui sosialisasi nilai dan norma yang didapatkan melalui konsensus. Sifat homeostatic­ dari sistem sosial: bahwa sistem sosial bekerja untuk menjaga stabilitas dan mengembalikannya setelah adanya perubahan dari luar.  Konsensus memandang norma dan nilai sebagai landasan masyarakat aliran keagamaan dalam pembahasan ini tentunya, memusatkan perhatian kepada keteraturan sosial berdasarkan atas kesepakatan diam-diam dan memandang perubahan sosial terjadi secara lambat dan teratur.&lt;br /&gt;Dalam pandangan teori fungsional ini, sebuah konsensus dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat dari orang yang berada diatasnya (pemerintah maupun intistusi lain) yang diperuntukan bagi anggota aliran keagamaan itu semisal, dipandang sebagai upaya untuk berpikir (positive thinking) dan berbuat hal baik (do positive) yang jelas berdasar atas berdasar atas nilai, norma, budaya yang ada dan dibangun didalam aturan yang disepakati itu serta dianggap sebagai sebuah upaya baik untuk menciptakan keseimbangan dalam lairan keagamaan, dan inilah teori fungsional yang dianggap pro-status quo yaitu siapa yang mempunyai hegemoni tinggi dianggap sebagai sebuah upaya perbaikan dan perwujudan berdasar atas nilai, norma budaya yang ada, karena kebudayaan dalam pengertian ini merupakan suatu sistem makna-makna simbolis (symbolic system of meanings) yang sebagian diantaranya menentukan realitas sebagaimana diyakini, dan sebagian lain  menentukan harapan-harapan normatif yang dibebankan pada manusia. &lt;br /&gt;Dan jika dalam diri aliran Nahdlatul Ulama’ terjadi perubahan sosial yang cepat (revolutif) baik pengaruh dari luar maupun dalam, dianggap sebagai sebuah penyimpangan suatu sitem dan perlu adanya penjagaan serta pengembalian sebuah stabilitas. Contoh, jika Yasinan yang telah menjadi anjuran atau perintah kiai-kiai merupakan rutinitas dari Nahdlatul Ulama’ sebagai aliran keagamaan dan sekarang hampir sudah ditinggalkan oleh para pengikutnya dianggap penyimpangan maka dalam teori fungsional ini aliran ini (NU) akan menjaga stabilitas, rutinitas Yasinan ini akan terus diikuti dan mengembalikan stabilitasnya setelah ada perubahan dari luar (ditinggalkan). Juga setiap kebijakan  yang ditetapkan oleh kiai-kiai (pemimpin) merupakan sebuah pandangan yang dianggap baik berdasar norma, nilai dan bidaya yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III .PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aliran Nahdlatul Ulama menurut pandangan fungsional merupakan sebuah proses untuk mempertahankan [keutuhan] masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan terus-menerus serta bersifat evolutif. Setiap ada perubahan yang terjadi (revolutif) dianggap sebagai penyimpangan terhadap sistem dan aturan yang ada, segala bentuk apapun suatu fatwa/kebijakan dalam diri aliran ini (Nahdlatul Ulama) yang ditentukan oleh pemimpin (Kiai), intitusi dipandang sebagai sebuah tata nilai, norma dan budaya yang ada terdapat dalam sebuah kebijakan yang dibuat diperuntukkan para pengikutnya daipandang sebagai aturan yang baik (positive thinking).&lt;br /&gt;Sebagai perspektif dalam memandang setiap gejala sosial, teori fungsional memandang masyarakat atau aliran keagamaan sebagai suatu lembaga sosial yang berada dalam keseimbangan; yang memolakan kegiatan manusia berdasarkan norma-norma yang dianut bersama serta dianggap sah dan mengikat peran serta manusia itu sendiri. Lembaga/organ-organ yang kompleks ini termasuk lembaga aliran keagamaan yakni Nahdlatul Ulama secara keseluruhan merupakan sistem sosial yang sedemikian rupa dimana setiap bagian (masing-masing unsur kelompok kiai itu) saling tergantung dengan semua bagian yang lain, sehingga perubahan salah satu bagian akan mempengaruhi kondisi sistem keseluruhan serta perubahan yang diinginkan tidak revolutif melainkan perubahan yang bersifat evolutif. Perubahan yang bersifat evolutif sangat mempengaruhi teori ini dalam memandang suatu perubahan sosial secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Dalam NU ada berbagai macam massa kelompok kiai yang dalam setiap pengambilan keputusan pasti selalu merujuk pada sebuah pertimbangan yang ada karena ada unsur keseimbangan/equilibrium, dan hasilnya jelas tidak menguntungkan salah satu pihak dan bergantung satu-sama lain. Masing-masing kelompok kiai-kiai ini berfungsi atau bekerjasama untuk menjalankan tujuan masing-masing sehingga tercapainya sebuah keadaan stabil yang diinginkan anggota aliran Nahdlatul Ulama tersebut.&lt;br /&gt;Eksistensi maupun fungsi instansi dari aliran keagamaan itu dirasa kurang/tidak memberikan manfaat/dedikasi terhadap anggotanya, maka aliran keagamaan (NU) ini akan hilang dengan sendirinya, dan itu pun sebaliknya sebagai sudut pandang yang selalu melihat sebuah aturan, kebijakan sebagai sebuah tata norma dan nilai yang mengajarkan pada kebaikan dan stabilitas serta masyarakat dipandang sebagai konsensus-konsesus dengan persetujuan yang selalu dianggap ”ya’, sangat berbalik arah dengan teori lawannya yakni konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zainal Arifin, Ahmad, Sosiologi 2007, Handout Teori Sosiologi Klasik, &lt;br /&gt;O’dea, Thomas F., 1986, Sosiologi Agama; suatu pengenalan awal, Rajawali, Jakarta&lt;br /&gt;Nottingham, Elizabeth K., 1994, Agama dan Masyarakat; suatu pengantar sosiologi agama, Rajawali Pers, Jakarta&lt;br /&gt;Ritzer, George-Goodman, Douglas J. 2004, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media, Jakarta&lt;br /&gt;Dr Zamroni, 1992, Pengantar Pengembangan Teori Sosial, Tiara Wacana, Yogyakarta&lt;br /&gt;Scharf, Betty R. 1995, Kajian Sosiologi Agama, Tiara Wacana, Yogyakarta, &lt;br /&gt;Bruinessen, Martin van, 1994, NU Tradisi Relasi-Relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru, LKis, Yogyakarta&lt;br /&gt;Amin, M. Mansyhur, 1996, NU &amp; Ijtihad Politik Kenegaraannya, Al-Amin Press, Yogyakarta&lt;br /&gt;Max Weber, 2006, Sosiologi, terjemahan dari ”Essays in Sosiology”, Pustaka Pelajar, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*hasil revisi dari judul aslinya "Aliran keagamaan; Perspektif Fungsionalisme" atas dasar masukan-masukan guna memperbaiki makalah ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-4358921715666180505?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/4358921715666180505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=4358921715666180505&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/4358921715666180505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/4358921715666180505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/sosiologi-nahdlatul-ulama-perspektif.html' title='SOSIOLOGI; NAHDLATUL ULAMA&apos;; PERSPEKTIF FUNGSIONALISME'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-2697151846601536083</id><published>2008-05-16T22:50:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T22:53:05.688-07:00</updated><title type='text'>ANTROPOLOGI; MALIOBORO</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MALIOBORO; TROTOAR DAN PEDAGANG KAKI LIMA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai data yang ada pada kami, selaku kelompok empat tinjauan kami lebih mengarah kepada pedagang-pedaganag yang ada ditrotoar jalan malioboro, tidak termasuk yang ada di depan toko-toko besar. Beberapa wawancara yang telah kami lakuakan sebaai kerja tim, kami mencoba melontarkan beberapa macam pertanyaan yang masing-masing anggota mempunyai ciri dan independensi pertanyaan masing-masing sebgai sebuah upaya kemandirian yang telah menjadi dasar sebuah analisis.&lt;br /&gt;Angkringan dalam bahasa Jawa berarti nangkring atau nongkrong. Dan nasi kucing adalah nasi seukuran porsi kucing yakni sekepalan tangan (sego sak kepel) ditambah sak ipit sambel bandeng, sambel teri atau oseng tempe . Porsinya pancen mungil tapi rasanya, mak nyusss! Enak tenaaan!&lt;br /&gt;Lauknya bermacam sate, seperti sate telur puyuh, sate usus, sate kikil dll. Ada juga bacem tahu tempe , bacem kepala dan ekor, eh ceker ayam, tempe mendoan, goreng pisang dan tahu goreng. Minuman juga beraneka, ada teh panas, wedang jahe, kopi jahe, susu jahe, wedang kopi, kopi susu, wedang tape, wedang jeruk.&lt;br /&gt;Sate-sate ataupun bacem-bacem bisa langsung disantap bersama nasi kucing. Namun kalau kita ingin sate atau bacem itu berasa nanas (panas), kita bisa minta tolong Lik Agus, Lik Joko, Lik Beni dan Jeng Beni atau Jeng Ambar, sing jogo warung, untuk membakarnya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Suasananya ditanggung Jogya banget. Kita bisa nangkring atau lesehan sebetah-betahnya, boleh sendiri, boleh berdua atau berombongan tanpa khawatir diusir. Warung Angkringan buka hingga larut malam kok.&lt;br /&gt;Nyantai dan nyantap, enak dan murah, Wiiih, siapa yang tak suka? Harga makanan cukup murah, sebungkus nasi kucing Rp 1.000,- Setusuk sate Rp 2.000,- Sepotong bacem atau gorengan Rp 5.00,- Segelas minuman sekitar Rp 1.000,-&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, anda dapat bernostalgia dan mendengarkan keluh kesah pedagang ini langsung. Suasana yng begitu nyaman setting bentuk angkringan yang agak tertutup menjadi salah satu cirri khas angkringan ini.&lt;br /&gt;Ada juga para penjual makanan lesehan Malioboro, membangun warungnya hanya dengan memasang tenda plastik warna seragam kuning. Keberadaan warung lesehan ini cukup menambah keramaian dan maraknya Malioboro di malam maupun siang hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sekilas Malioboro&lt;br /&gt;Kawasan Malioboro sebagai salah satu kawasan wisata belanja andalan kota Jogja, ini didukung oleh adanya pertokoan, rumah makan, pusat perbelanjaan, dan tak ketinggalan para pedagang kaki limanya. Untuk pertokoan, pusat perbelanjaan dan rumah makan yang ada sebenarnya sama seperti pusat bisnis dan belanja di kota-kota besar lainnya, yang disemarakan dengan nama-merk besar dan ada juga nama-nama lokal. Barang yang diperdagangkan dari barang import maupun lokal, dari kebutuhan sehari-hari sampai dengan barang elektronika, mebel dan lain sebagainya. Juga menyediakan aneka kerajinan, misal batik, wayang, ayaman, tas dan lain sebagainya. Terdapat pula tempat penukaran mata uang asing, bank, hotel bintang lima hingga tipe melati.&lt;br /&gt;Keramaian dan semaraknya Malioboro juga tidak terlepas dari banyaknya pedagang kaki lima yang berjajar sepanjang jalan Malioboro menjajakan dagangannya, hampir semuanya yang ditawarkan adalah barang/benda khas Jogja sebagai souvenir/oleh-oleh bagi para wisatawan. Mereka berdagang kerajinan rakyat khas Jogjakarta, antara lain kerajinan ayaman rotan, kulit, batik, perak, bambu dan lainnya, dalam bentuk pakaian batik, tas kulit, sepatu kulit, hiasan rotan, wayang kulit, gantungan kunci bambu, sendok/garpu perak, blangkon batik [semacan topi khas Jogja/Jawa], kaos dengan berbagai model/tulisan dan masih banyak yang lainnya. Para pedagang kaki lima ini ada yang menggelar dagangannya diatas meja, gerobak adapula yang hanya menggelar plastik di lantai. Sehingga saat pengunjung Malioboro cukup ramai saja antar pengunjung akan saling berdesakan karena sempitnya jalan bagi para pejalan kaki karena cukup padat dan banyaknya pedagang di sisi kanan dan kiri.&lt;br /&gt;Dan ini juga perlu di waspadai atau mendapat perhatian khusus karena kawasan Malioboro menjadi rawan akan tindak kejahatan, ini terbukti dengan tidak sedikitnya laporan ke pihak kepolisian terdekat soal pencopetan atau penodongan, dan tidak jarang pula wisatan asing juga menjadi korban kejahatan dan ini sangat memalukan sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Analisis&lt;br /&gt;Kawasan Malioboro yang tidak pernah sepi masih menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat, khususnya wisman (wisatawan mancanegara) yang datang, sehingga belum lengkap kalau jalan jalan di Jogja belum menyusuri kawasan Malioboro. Banyak komunitas pedagang kecil termasuk angkringan dan pedagang kaki lima menyatu dengan pemilik toko besar di kawasan ini. semuanya hidup rukun dan saling toleransi. Pak Hadi Pranoto atau Rukino sapaan akrabnya termasuk sosok lelaki yang gigih berjuang untuk mempertahankan hidup dan mengais rejeki sebagai pedagang angkringan di malioboro. Maka gerobak dorongnya sejak pukul 8 pagi hingga 5 sore selalu on time mangkal di depan Kantor Gubernur DIY.&lt;br /&gt;Di Malioboro.ia tidak sendirian, ia bersama teman-temannya yang sudah sangat begitu akrab senatiasa menemani dan sesekali membantunya ketika ada masalah. Sebagai kepala rumah tangga dirinya tak gentar untuk mengais rezeki, sudah menjadi rutinitas tentunya sebagai upaya mempertahanakann hidup ditengah-tengah pergolakan dunia yang sudah sangat maju ini.&lt;br /&gt; Beliau mangkal jualan dari pagi sampai sore. Setelah lewat jam itu, giliran komunitas pedagang lesehan hingga larut malam bahkan mendekati pagi hari. Dirinya berharap meski makin marak dan banyaknya saingan ia semoga tetap laku dan eksis jualannya serta selalu berharap dagangan angkringannya jangan asmpai di gusur. Karena dirinya yakin, malioboro tanpa angkringan tidak akan hidup dan pasti kehilangan salah satu ciri khasnya.&lt;br /&gt;Hal senada juga diungkapkan Presiden Komunitas malioboro Sujarwo Putera dan Ketua K4 Tri Dharma , Budiarto menurut keduanya, komunitas para pedagang kecil termasuk angkringan, kakilima dan sebagainya harus dipertahankan.fakta membuktikan belum lama ini, ketika ribuan anggota pedagang se- malioboro urun rembug soal penetapan Sultan dan paku alam, kawasan malioboro sepi total selama 24 jam. Orang jadi takut mau lewat malioboro, begitu juga dengan para pedagang toko, mall mereka miris dan takut kalau buka karena malioboro seperti kota mati. Ini bukti dan fakta para pedagang kecil kaki lima ini justru memiliki 'bargaining kuat' soal pariwisata Jogja.&lt;br /&gt;Seperti kita lihat, sebuah komunitas yang ssngat alamiah karena mempunya cita-cita sama. Rutinitas seperti yang telah tercantum menurut wawancara yang terlampir, mengindikasikan sebuah komunitas yang terbangun dari upaya yang bersifat alamiah meski juga ada intervensi pemerintah untuk menertibkan jalannya komunitas ini. Rutinitas tersebut seperti pergantian jam kerja yang satru pagi satunya lagi sore merupakan sekelumit contoh bentuk keteraturan yang ada.&lt;br /&gt;Keteraturan yang dibungkus dalam agenda PEMDA merupakan indikasi upaya perbaikan yang sedang berlanjut, meski demikian ada yang bermain untuk salinh menguasai dan merekayasa sebagaimana penentuan tenpat dimana ia harus berjualan. Hal ini tidak bias dipisahkan falam proses pencarian tempat yang dianggap strategis tentunya. Demikian ini mungkin yang memicu adanya perebutan tempat.&lt;br /&gt;Banyka yang sudah menyadari bahwa kinerja Pemda agak sedikit berjalan lambat dalam proses perpanjangan surat izin berjualan, karena ini juga akan mengganggu eksisitensi pedagang selanjutnya ketika ada terjadi keslahpahaman SatPol PP seumpama ketika ada penertiban.&lt;br /&gt;Manusia dan kelompok tertentu banyak menghiasi pinggiran jalan Malioboro. Adanya para komunitas pedaganag sebagai sebuah perlindungan hidup terhadap ancaman yang ada seperti halnya penggusuran yang dapat merugikan anggota-anggotanya. Ada semacam iuran yang dibangun dan tentunya diperintukkan demi kesejahteraan anggota merupakan bentuk yang konkrit dari kesadaran dalam sebuah komunitas tertentu. Iuran yang ditarik tidak memberatkan anggota seperti halnya hasil wawancara terlampir, ada kelompok PEMALNI dan Tri Dharma yang masing-masing anggotanya dikenahi iuran untuk kesejahteraan diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Meski banyak sekali kelompok-kelompok yang terbagi beberapa bagian, toh nyatanya mereka akur-akur saja dalam hal apapun terutama bersaing dalam mencari pelanggan. Jumlah anggota yang berbeda tidak mempengaruhi mereka (komunitas) dalam berjualan. &lt;br /&gt;Sepertyi kita lihat sekaranag, Malioboro Yogya kini sudah sangat padat. Saya sedikit kecewa melihat bagaimana Malioboro yang asri dengan pepohonan hijau kini menjadi terlihat berasap disiang hari dan semakin sempit jalannya.&lt;br /&gt;Kiri kanan jalan pertokoan tertutup dengan pembatas jalan yang menambah sempitnya jalan. Ah berbeda sekali dengan bayangan dulu ketika Malioboro asri dan tenang. Tampaknya tranportasi jalan sudah menghabiskan badan jalan menambah suasana bising dan polusi. Mungkinkah Malioboro bisa menjadi jalan bebas polisi, bebas motor dan mobil? Kalau ini bisa dikembalikan, Malioboro dengan lesehan dan pusat kerajinan akan menambah nilai pariwisata Yogya.&lt;br /&gt;Ada yang menarik dalam analisis kami, bahwa ketika kami mengawasi bentuk bangunan yang tentunya banyak dari peni ggalan zaman dulu menghiasi Malioboro. Tingginya rumah ada mitos tersendiri yang tersembunyi disana, menurut keterangan yang ada dan inio juga hasil dari wawancara kami bahwa tingkat tingginya rumah di Malioboro tidak boleh melebihi dari tiga tingkat, karena alasannya menurut mitos, dibawah ini (jalan Malioboro) merupakan aliran kawah gunung yang terlihat jelas dan pas ditengah (menghadap) keratin jogjakarta ketika dilihat di jalan Malioboro. Ini menunujukkan bahwa mitos yang ada di Mlaioboro masih kental dan sulit untuk dihilangkan. Berbagai saksi sejarah senantiasa menghiasi Malioboro sebgai sebuah peradaban jogjakarta. Sebuah pusat dimana berbagai macam etnis, suku, golongan ada di jalan ini (Malioboro)&lt;br /&gt;Keramaian dan semaraknya Malioboro juga tidak terlepas dari banyaknya pedagang kaki lima yang berjajar sepanjang jalan Malioboro menjajakan dagangannya, hampir semuanya yang ditawarkan adalah barang/benda khas Jogja sebagai souvenir/oleh-oleh bagi para wisatawan. Mereka berdagang kerajinan rakyat khas Jogjakarta, antara lain kerajinan ayaman rotan, kulit, batik, perak, bambu dan lainnya, dalam bentuk pakaian batik, tas kulit, sepatu kulit, hiasan rotan, wayang kulit, gantungan kunci bambu, sendok/garpu perak, blangkon batik [semacan topi khas Jogja/Jawa], kaos dengan berbagai model/tulisan dan masih banyak yang lainnya. Para pedagang kaki lima ini ada yang menggelar dagangannya diatas meja, gerobak adapula yang hanya menggelar plastik di lantai. Sehingga saat pengunjung Malioboro cukup ramai saja antar pengunjung akan saling berdesakan karena sempitnya jalan bagi para pejalan kaki karena cukup padat dan banyaknya pedagang di sisi kanan dan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malioboro sebagai landmark kota jogja yang merupakan suatu kawasan pusat perdagangan sejak jaman Belanda. Hal ini dapat dilihat dari bentukan-bentukan bangunan bergaya kolonial yang masih tersisa di kawasan tersebut. Selain itu juga dapat dilihat pengaruh pecinan pada bentukan bangunan di kawasan tersebut. Kawasan Malioboro hingga kini berkembang menjadi pusat perbelanjaan yang cukup signifikan di Jogjakarta. Malioboro telah menjadi icon yang dapat menarik pengunjung baik dari dalam maupun luar negri dengan beragamnya barang yang dijual, baik khas lokal maupun modern. Ada kekurangnyamanan visual dikarenakan kawasan tersebut cukup panas dan ”kering”. &lt;br /&gt;Meski demikian, daya tarik Malioboro bagi wisatawan, harus diakui, salah satunya karena keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang berjajar di sepanjang jalan sejauh hampir dua kilometer ini. Sejak pagi hingga pertokoan Malioboro tutup pukul 21.00 WIB, para PKL menggelar barang dagangannya. Bermacam barang jualan khas Yogya, seperti kerajinan kulit, wayang, sandal, sepatu, perhiasan perak, pakaian batik, blangkon penutup kepala, dan jenis suvenir macam gantungan kunci, batu akik, hingga keris pun dijual di trotoar pertokoan Malioboro. &lt;br /&gt;Para PKL ini menggelar dagangannya menempati kiri-kanan trotoar pertokoan Malioboro. Mereka menggunakan peralatan gerobak, sebagian meja, dan ada yang hanya beralaskan plastik untuk tempat menggelar barang jualannya, sehingga tampak ramai dan kadang harus berdesak-desakan, terutama pada musim liburan sekolah atau bertepatan dengan libur panjang nasional. &lt;br /&gt;Perkembangan perdagangan dan pariwisata yang pesat di Malioboro, menurut dia, berakibat pada tumbuhnya toko dan hotel di kawasan tersebut. Peluang ini dimanfaatkan PKL yang memadati kedua sisi Jalan Malioboro tersebut. PKL di Malioboro memang punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik dari luar negeri maupun domestik. "Ini tentu saja memberi peluang bagi pedagang dari luar kota Yogya, seperti dari Madura, Palembang, Lampung, Jambi, Riau, dan Minangkabau serta dari Wonosari (Gunungkidul) untuk mengadu nasib di Malioboro,"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-2697151846601536083?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/2697151846601536083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=2697151846601536083&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/2697151846601536083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/2697151846601536083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/malioboro-trotoar-dan-pedagang-kaki.html' title='ANTROPOLOGI; MALIOBORO'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-7704583614480144764</id><published>2008-05-16T22:45:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T22:49:54.185-07:00</updated><title type='text'>SOSIOLOGI; ALIRAN KEAGAMAAN</title><content type='html'>&lt;strong&gt;ALIRAN KEAGAMAAN; PERSPEKTIF FUNGSIONALISME&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama berkaitan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama telah menimbulkan khayalnya yang paling luas dan kadang juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling dalam dan sempurna, serta juga perasaan takut dan ngeri. Meskipun perhatian kita tertuju sepenuhnya kepada adanya suatu dunia yang tidak dapat dilihat [akhirat], namun agama (juga) melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari di dunia ini.&lt;br /&gt;Agama senantiasa dipakai untuk menanamkan keyakinan baru ke dalam hati sanubari terhadap alam gaib dan surga-surga yang telah didirikan di alam tersebut. Namun demikian agama juga berfungsi melepaskan belenggu-belenggu adat atau kepercayaan manusia yang sudah usang.&lt;br /&gt;Beribadat bersama-sama memakai lambang aliran keagamaan masing-masing telah mempersatukan kelompok-kelompok manusia dalam ikatan yang paling erat,  sehingga terjalinnya suasana dan interaksi fungsional yang kokoh. Akan tetapi kadang perbedaan aliran keagamaan ini telah membantu timbulnya beberapa pertentangan yang paling hebat diantara kelompok-kelompok itu.&lt;br /&gt;Sebagaimana di Indonesia saat ini ada berbagai macam aliran keagamaan yang muncul sebagai sebuah bentuk kreasi intelektual manusia yang menginginkan adanya sebuah rahmatan lil alamin (fungsional) antara aliran satu dengan aliran lain. Sangat sesuai sekali kiranya pendekatan fungsional dijadikan sebagai sebuah pisau analisis, karena teori ini lebih kepada keseimbangan antara kedua belah pihak (equilibrium) yang patut dijadikan refleksi segenap aliran keagamaan yang ada di Indonesia khususnya dan dunia global pada umumnya. &lt;br /&gt;Meski kita tahu sebagaimana di agama Kristen ada beberapa aliran keagamaan yang dimiliki seperti halnya Protestan, Lutheran, Calvinism dan Ascetism, kita tahu aliran ini, namun kita belum pernah dengar hal-hal yang terjadi diluar aturan main pandangan secara fungsional, karena dalam teori ini (fungsional) pro-status quo dan perubahan sosial yang cepat (revolutif) dianggap sebagai penyimpangan suatu sitem dan perlu pengembalian adanya sebuah stabilitas masyarakat. Dan selanjutnya akan kami bahas dengan detail aliran keagamaan dengan meminjam perspektif teori fungsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Aliran-Aliran Keagamaan&lt;br /&gt;Aliran-aliran keagamaan (Syiah, Khawarij, Qadariah dll) dalam Islam dan (Protestan,* Lutheran,* Calvinism* dll) dalam Kristen serta masih banyak lagi aliran keagamaan lain yang ada dimiliki masing-masing agama diberbagai penjuru dunia. Indonesia yang tingkat hiterogenitasnya tinggi merupakan wadah dimana aliran-aliran sewajarnya muncul sebagai sebuah upaya untuk mencita-citakan keadaan yang menguntungkan satu sama lain semisal Muhammadiyah, NU, Ahmadiyah dan lain-lain dalam hal beragama, baik beribadah, interaksi sosial dan tindakan sosial yang menyangkut kepercayaan dalam memuja Tuhan yang Agung yang masing-masing mempunyai keyakinan dan interpretasi sendiri-sendiri sebagai makhluk Tuhan yang berakal. Didalam ajarannya mengajarkan sebuah ketenangan, keteraturan yang nantinya mampu menciptakan sebuah keseimbangan dalam masyarakat..&lt;br /&gt;Dalam ibadat keagamaan dihiasi dengan keindahan seni; [tetapi] juga berjalan baik dalam kehidupan yang paling sederhana sekalipun. Agama memberi lambang-lambang kepada manusia. Dengan lambang-lambang tersebut mereka dapat mengungkapkan hal-hal yang susah diungkapkan, meski hakikat pengalaman keagamaan selamanya tidak dapat diungkapkan. Ide-ide tentang Tuhan membantu memberi semangat kepada manusia dalam menjalankan tugas-tugasnya sehari-hari, menerima nasibnya yang tidak baik, atau bahkan ”berusaha mengatasi kesukaran-kesukaran yang banyak dan berusaha mengakhirinya”.&lt;br /&gt; Berbagai macam aliran keagamaan mempunyai ciri dan bentuk ajaran sendiri dalam pencapaiannya terhadap Tuhan. Bentuk rutinitas dan ajaran aliran yang dianggap sebagai sebuah bentuk stabilitas keberlangsunngan ajaran/tradisi mereka dalam hal mematuhi ajaran aliran keagamaannya yang tentunya dipercayai oleh anggotanya. Dan juga bagaimana dalam ajaran aliran keagamaan lain seperti Muhammadiyah yang dikenal dengan kelompok modernis serta NU (Nahdlatul Ulama’) sebagai kelompok tradisional telah menunjukkan kekhasan masing-masing. Taruhlah, NU dengan Tahlil, Bahtsu Masail serta Muhammadiyah dengan Majelis Tarjih dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Definisi Aliran Keagamaan Teori Fungsional &lt;br /&gt;Istilah fungsi, seperti kita ketahui menunjuk kepada sumbangan yang diberikan agama (dalam pembahsan ini aliran agama) atau lembaga sosial yang lain untuk mempertahankan [keutuhan] masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan terus-menerus. Dengan demikian perhatian kita adalah peranan yang telah dan masih dimainkan oleh atau aliran keagamaan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup masyarakat-masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;Sarjana Amerika semua sependapat untuk menentang pendapat positivistis lama yang menyatakan bahwa agama muncul dalam kondidsi-kondisi kebodohan dan ketidakcakapan intelektual tertentu yang tidak akan bisa bertahan selama-lamanya. Mereka ingin menunjukkan bagaimana sifat kemanusian esensial tertentu seharusnya muncul dalam gejala-gejala keagamaan, dan untuk melakukan hal itu mereka menyatakan bahwa agama-agama berfungsi mendukung nilai-nilai dan aturan-aturan sosial. Sebagai kerangka acuan penelitian empiris, ”teori fungsional”  memandang masyarakat sebagai suatu lembaga sosial yang berada dalam keseimbangan; yang memolakan kegiatan manusia berdasarkan norma-norma yang dianut bersama serta dianggap sah dan mengikat peran serta manusia itu sendiri. Lembaga-lembaga yang kompleks ini secara keseluruhan merupakansistem sosial yang sedemikian rupa dimana setiap bagian (masing-masing unsur kelembagaan itu) saling tergantung dengan semua bagian yang lain, sehingga perubahan salah satu bagian akan mempengaruhi kondisi sistem keseluruhan.&lt;br /&gt;Perlu ditegaskan bahwa menurut teori fungsional, masyarakat sebagai suatu sistem memiliki struktur yang terdiri dari banyak lembaga, dimana masing-masing lembaga memilki fungsi sendiri-sendiri. Struktur dan fungsi, dengan kompleksitas yang berbeda-beda ada pada setiap masyarakat baik masyarakat modern maupun masyarakat primitif. Contoh lembaga keagamaan berfungsi membimbing pemeluknya menjadi anggota masyarakat yang baik dan penuh pengabdian untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sejauh mana aliran keagamaan dapat menarik perhatian dan terus eksis untuk diburu penduduk bumi, dan seberapa stabil teori fungsionalis mencita-citakan adanya aliran keagamaan sebagai sebuah pandangan adanya keseimbangan? hal ini hanya bisa dijawab tergantung anggota perseorangan yang menganggap aliran keagamaan mempunyai dedikasi besar terhadap proses beragama dan masyarakat, serta sadar akan kesinambungan berbagai macan aliran keagamaan. Namun jika tidak maka prediksi yang sangat jelas sesuai dengan teori fungsional bahwa aliran keagamaan nantinya akan ditinggalkan oleh para pengikutnya dan bukan dipandang sebagai sebuah stabilitas masyarakat. Untuk lebih jelasnya kita lihat pembahasan dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Aliran Keagamaan, Perspektif Fungsionalisme&lt;br /&gt;Ada tiga bentuk dasar/prinsip teori fungsional dalam hal memandang suatu permasalahan yang menjadi acuan dalam menganggapi suatu problem yakni tentang aliran keagamaan khususnya, antara lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, Masyarakat dipandang sebagai suatu organisme yang terdiri dari bagian-bagian saling bergantung/terkait dan bekerjasama untuk sistem yang ada serta seluruh struktur sosial atau setidaknya yang diprioritaskan, menyumbangkan terhadap integrasi dan adaptasi sistem yang berlaku.&lt;br /&gt;Bahwa aliaran keagamaan merupakan sebuah bagian-bagian dari agama tertentu yang yang satu sama lain saling bergantung atau berkaiatan sesuai fungsinya. Karena masing-masing aliran mempunyai ciri kekhasannya sendiri-sendiri maka ciri/khas yang berbeda inilah berguna untuk saling mengisi/berfungsi tambal-sulam apa yang belum dimiliki oleh aliran-aliran lain. Contoh, dalam diri MUI ada berbagai macam aliran keagamaan yang dalam setiap pengambilan keputusan pasti selalu merujuk pada sebuah pertimbangan yang ada karena ada unsur keseimbangan, dan hasilnya jelas tidak menguntungkan salah satu pihak dan bergantung satu-sama lain. Masing-masing aliran keagamaan ini berfungsi atau bekerjasama untuk menjalankan maksud/tujuan masing-masing sehingga tercapainya sebuah keadaan stabil yang diinginkan anggota aliran keagamaan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø &lt;em&gt;Kedua,&lt;/em&gt; kelangsungan struktur atau Eksistensi atau pola yang telah ada dijelaskan melalui konsekuensi-konsekuensi atau efek-efek yang keduanya diduga perlu atau bermanfaat terhadap permasalahan masyarakat (tanpa adanya fungsi bagi sistem maka struktur akan hilang dengan sendirinya). Terletak pada besar kecilnya fungsi sistem.&lt;br /&gt;Bahwa jika eksistensi maupun fungsi instansi dari aliran keagamaan itu dirasa kurang/tidak memberikan manfaat/dedikasi terhadap anggotanya, maka aliran keagamaan ini akan hilang dengan sendirinya, dan itu pun sebaliknya jika eksistensi maupun fungsi instansi dari aliran keagamaan itu dirasa memberikan manfaat/dedikasi terhadap anggotanya, maka aliran keagamaan ini akan terus eksis dengan sendirinya (perspektif fungsional). Contoh, jika aliran keagamaan seperti halnya Ahmadiyah dianggap memberikan dedikasi buat anggotanya maka aliran ini akan terus ekssi dengan sendirinya, dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø &lt;em&gt;Ketiga,&lt;/em&gt; Pencapaian equilibrium atau harmonis dilaksanakan melalui sosialisasi nilai dan norma yang didapatkan melalui konsensus. Sifat homeostatic­ dari sistem sosial: bahwa sistem sosial bekerja untuk menjaga stabilitas dan mengembalikannya setelah adanya perubahan dari luar.  Konsensus memandang norma dan nilai sebagai landasan masyarakat aliran keagamaan dalam pembahasan ini tentunya, memusatkan perhatian kepada keteraturan sosial berdasarkan atas kesepakatan diam-diam dan memandang perubahan sosial terjadi secara lambat dan teratur.&lt;br /&gt;Dalam pandangan teori fungsional ini, sebuah konsensus dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat dari orang yang berada diatasnya (pemerintah maupun intistusi lain) yang diperuntukan bagi anggota aliran keagamaan itu semisal, dipandang sebagai upaya untuk berpikir (positive thinking) dan berbuat hal baik (do positive) yang jelas berdasar atas berdasar atas nilai, norma, budaya yang ada dan dibangun didalam aturan yang disepakati itu serta dianggap sebagai sebuah upaya baik untuk menciptakan keseimbangan dalam lairan keagamaan, dan inilah teori fungsional yang dianggap pro-status quo yaitu siapa yang mempunyai hegemoni tinggi dianggap sebagai sebuah upaya perbaikan dan perwujudan berdasar atas nilai, norma budaya yang ada, karena kebudayaan dalam pengertian ini merupakan suatu sistem makna-makna simbolis (symbolic system of meanings) yang sebagian diantaranya menentukan realitas sebagaimana diyakini, dan sebagian lain  menentukan harapan-harapan normatif yang dibebankan pada manusia. Dan jika dalam diri aliran keagamaan terjadi perubahan sosial yang cepat (revolutif) baik pengaruh dari luar maupun dalam, dianggap sebagai sebuah penyimpangan suatu sitem dan perlu adanya penjagaan serta pengembalian sebuah stabilitas. Contoh, jika Yasinan merupakan rutinitas juga anjuran dari aliran keagamaan tertentu dan sekarang hampir sudah ditinggalkan oleh para pengikutnya makadalam teori fungsional ini instansi ini akan menjaga stabilita rutinitas Yasinan ini akan terus diikuti dan mengembalikannya setelah ada perubahan dari luar (ditinggalkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aliran keagamaan menurut pandangan fungsional merupakan sebuah proses untuk mempertahankan [keutuhan] masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan terus-menerus serta bersifat evolutif. Setiap ada perubahan yang terjadi (revolutif) dianggap sebagai penyimpangan terhadap sistem dan aturan yang ada, segala bentuk apapun suatu kebijakan yang ditentukan oleh pemerintah, intitusi atau lembaga aliran keagamaannya dipandang sebagai sebuah tata nilai, norma dan budaya yang ada terdapat dalam sebuah kebijakan yang dibuat diperuntukkan para pengikutnya daipandang sebagai aturan yang baik (positiv thinking).&lt;br /&gt;Sebagai perspektif dalam memandang setiap gejala sosial, teori fungsional memandang masyarakat atau aliran keagamaan sebagai suatu lembaga sosial yang berada dalam keseimbangan; yang memolakan kegiatan manusia berdasarkan norma-norma yang dianut bersama serta dianggap sah dan mengikat peran serta manusia itu sendiri. Lembaga-lembaga yang kompleks ini termasuk lembaga aliran keagamaan secara keseluruhan merupakan sistem sosial yang sedemikian rupa dimana setiap bagian (masing-masing unsur kelembagaan itu) saling tergantung dengan semua bagian yang lain, sehingga perubahan salah satu bagian akan mempengaruhi kondisi sistem keseluruhan serta perubahan yang diinginkan tidak revolutif melainkan perubahan yang bersifat evolutif. Perubahan yang bersifat evolutif sangat mempengaruhi teori ini dalam memandang suatu perubahan sosial secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Perlu ditegaskan bahwa menurut teori fungsional, masyarakat sebagai suatu sistem memiliki struktur yang terdiri dari banyak lembaga, dimana masing-masing lembaga memilki fungsi sendiri-sendiri. Struktur dan fungsi, dengan kompleksitas yang berbeda-beda ada pada setiap masyarakat baik masyarakat modern maupun masyarakat primitif. Sebuah keteraturan yang selalu menjadi tumpuan dan alasan tentang teori ini, fungsional sebagai sudut pandang yang selalu melihat sebuah aturan, kebijakan sebagai sebuah tata norma dan nilai yang mengajarkan pada kebaikan dan stabilitas serta masyarakat dipandang sebagai konsensus-konsesus dengan persetujuan yang selalu dianggap ”ya’, sangat berbalik arah dengan teori lawannya yakni konflik.&lt;br /&gt;Mungkin demikian dan kurang begitu sempurna kiranya makalah ini, kekhilafan yang patut dimaklumi sebagai manusia tentunya. Rangkaian maaf dan terimakasih atas atensi dan apresiasi semuanya. Semoga gerak langkah keilmuan dan tanggungjawab sosial kita sebagai agent of sosial change senantiasa dalam bimbingan-Nya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zainal Arifin, Ahmad, Sosiologi 2007, Handout Teori Sosiologi Klasik, &lt;br /&gt;O’dea, Thomas F., 1986, Sosiologi Agama; suatu pengenalan awal, Rajawali, Jakarta&lt;br /&gt;Nottingham, Elizabeth K., 1994, Agama dan Masyarakat; suatu pengantar sosiologi agama, Rajawali Pers, Jakarta&lt;br /&gt;Gerge Ritzer-Douglas J. Goodman, 2004, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media, Jakarta&lt;br /&gt;Dr Zamroni, 1992, Pengantar Pengembangan Teori Sosial, Tiara Wacana, Yogyakarta&lt;br /&gt;Scharf, Betty R. 1995, Kajian Sosiologi Agama, Tiara Wacana, Yogyakarta,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-7704583614480144764?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/7704583614480144764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=7704583614480144764&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/7704583614480144764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/7704583614480144764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/aliran-keagamaan-perspektif.html' title='SOSIOLOGI; ALIRAN KEAGAMAAN'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-4429282592929779835</id><published>2008-05-16T22:37:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T22:43:29.992-07:00</updated><title type='text'>HADITS PERGAULAN</title><content type='html'>ETIKA BERGAUL; ORANG TUA, TETANGGA DAN SUAMI ISTERI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sebagai makhluk sosial, bukan saja berhubungan dengan manusia yang lain tetapi harus mengadakan hubungan itu dengan baik. Jelasnya, sesuai etika atau tatanan yang disepakati oleh masyarakat sebagai sebuah bentuk konsensus bersama dalam hidup dengan penuh kebersamaan. Hubungan antara satu sama lain itulah yang dinamakan sebagai pergaulan. Dalam pergaulan berbagai macam bentuk interaksi yang dilakukan oleh manusia sebagai makhluk sosial. Percakapan, jual beli dan saling pandang antara yang satu dengan yang lain itu merupakan sebagian bentuk dari pergaulan yang biasa dilakukan oleh anggota masyarakat, meski kadang kurang begitu menyenangkan dan terkesan kurang sopan. Namun juga kadang dianggap baik dan biasa oleh sebagian pihak dengan sudut pandang yang berebda tentunya. Akibatnya ada indikasi keretakan dan perpecahan diantara anggota masyarakat yang berebeda perspektif, karena sampai saat ini pun perbedaan yang berdasar atas kemajemukan merupakan hal yang belum bisa menciptakan suasana harmonis, toleran, kondusif sesuai yang dicita-citakan Islam dengan cita-citanya  “rahmatan lil alamin”.&lt;br /&gt;Masyarakat yang kental dengan norma dan nilai yang berbeda itu seharusnya memiliki patokan nilai yang sama yang bisa diterima oleh segenap kalangan. Walau kadang tidak sama, paling tidak setiap anggota masyarakat mampu toleran dan beradaptasi dengan sesama agar semua hal yang berbeda secara prinsipil dapat terakomodasi dan terciptanya kehidupan yang saling toleran, harmonis, dan sesuai cita-cita bersama baik agama maupun masyarakat.&lt;br /&gt;Sebagai patokan yang jelas, masing-masing masyarakat mempunyai pedoman hidup sendiri-sendiri dalam bergaul dan menentukan sikapnya dengan masyarakat seperti halnya agama, adat dan budaya yang terbentuk atas kriteria masing-masing dan yang paling tentunya mengedepankan toleransi dan saling menghormati terhadap sesama. Hal ini yang kemudian menjadikan proses bergaul di masyarakat mengalami sebuah keunikan tersendiri dalam setiap dinamika sosial. Sebagai konsekunsinya pergaulan yang baik sesuai etika masyarakatlah yang nantinya dapat diterima dan kiranya menjadi parameter masing-masing anggota masyarakat dalam setiap tindakan sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergaulan merupakan bentuk dari tindakan sosial yang pada dasarnya jelas mempunyai pengaruh terhadap masyarakat sekitar. Pargaulan yang baik sesuai etika yang ada di masyarakat sekitar merupakan hal yang patut diperhatikan dan sudah menjadi konsensus bersama, maka dengan demikian dalam bergaul manusia sebagai bagian dari masyarakat kiranya harus sesuai dengan apa yang telah disepakati.&lt;br /&gt;Pergaulan yang baik akan dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat, dan itu pun sebaliknya pergaulan yang kurang baik dan dianggap menyimpang oleh masyarakat lebih-lebih masyarakat yang majemuk dalam ras, suku, adat, budaya maupun agama akan membuat semacam stereotip masyarakat terhadap dirinya sendiri, serta memungkinkan untuk dialienasi dari keanggotaan masyarakat. Maka kehati-hatian dalam berinteraksi/bergaul dengan masyarakat merupakan hal pokok yang perlu diingat dan diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Bergaul Dengan Masyarakat;&lt;br /&gt;Masyarakat yang begitu banyak klasifikasinya merupakan bentuk bukti betapa heterogennya esensi masyarakat itu. Orang tua, tetangga dan suami isteri lingkup paling kecil dari masyarakat jadi bukti adanya. Masyarakat terdiri dari dua orang atau lebih yang berkumpul dan melakukan interaksi dengan sering, demikian definisi dari masyarakat itu sendiri. Untuk lebih fokus dan meminimalisir kompleksnya masyarakat itu kemudian kami mencoba kelompokkan menjadi beberapa bagian sebagaimana di atas.&lt;br /&gt;Bagaimana bergaul dengan orang tua, tetangga dan bergaul antara suami isteri yang dalam hal ini akan menjadi sebuah kajian kami kali ini sebagai bentuk kesadaran akademik yang patut dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bergaul dengan Orang Tua&lt;br /&gt;Dalam bergaul dengan orang tua haruslah dengan baik dan sopan tentunya karena bergaul dengan orang tua merupakan hal pokok yang harus ditaati oleh anak sebagai bentuk terimakasihnya kepada orang tua mengandung, melahirkan, mendidik dan menafkahi yang mungkin tidak akan mampu dilakukan oleh anak. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad S.A.W sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Dari Abu Abdur Rahman Abdullah bin Mas’ud r.a. beliau berkata: Saya menanyakan Rasulullah SAW. Apakah amal yang paling baik dicintai oleh Allah? Beliau (Nabi)  menjawab: Shalat pada waktunya; Saya bertanya lagi: kemudian apa? Beliau menjawab: berbakti kepada kedua orang tua. Saya bertanya lagi: Kemudan apa lagi? Beliau menjawab: Jihad membela agama Allah”&lt;/em&gt; (Muttafaq ’alaih)&lt;br /&gt;Dalam hal berjuamg membela agam Allah itu juga, anak harus minta izin terlebih dulu kepada kedua orang tua. Hal ini berdasar pada hadits Nabi SAW:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Dari Abu Sa’id r.a.: Sesungguhnya ada seorang laki-laki berhijrah (datang) kepada Nabi dari Yaman, lalu Nabi bertanya kepadanya: Apakah kamu masih mempunyai seorang keluarga di Yaman? Dia menjawab: kedua orang tuaku. Beliau bertanya lagi: Apakah keduanya mengizinkan kamu (untuk berjuhad)? Dia menjawab: belum. Beliau bersabdaA: pulanglah kepada keduanya, lalu mintalah izin terlebih dahulu kepadanya. Jika keduanya mengizinkan kamu, maka boleh kamu berjihad, tapi jika tidak, maka berbaktilah kamu kepada keduanya”. &lt;/em&gt;(HR. Abu Daud)&lt;br /&gt;Dalam hadits tersebut kita mendapat petunjuk bahwa dalam mengahadapi suatu problem, anak harus berterus terang kepada kedua orang tua, meminta pertimbangan lebih dahulu kepada orang tua. Terutama anak putri bilamana sudah mempunyai pilihan seorang pria sebagai calon suami, harus segera minta pertimbangan orang tua sebelum terlalu intim hubungan. Jangan melaporkan kepada kedua orang tua setelah terjadi kecelakaan,seperti kebanyakan anaka putri saat ini, karena cara semacam itu hanya dan pasti menyusahkan hati orang tua padahal menyusahkan hati orang tua itu termasuk dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah S.W.T. Seperti sabda Nabi berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Dari Abdu Rahman nbin Abu Bakar dari ayahnya r.a. beliau berkata: Rasulullah bersabda: maukah saya beritahukan kamu sekalian tentang sebesar-besarnya dosa besar? Kami menjawab: tentu saja ya Rasulullah. Beliau bersabda: mempersekutukan Allah dan menyakiti (durhaka) kepada kedua orang tua.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Bergaul dengan Tetangga (muslim dan bukan)&lt;br /&gt;Tetangga adalah orang tinggal dekat dengan rumah kita,di muka dan di belakang, maupun yang ada disebelah kanan dan kiri rumah kita. Tetangga itulah yang kita mintai pertolongan dikala kita dalam kesusahan; bahkan tetangga itulah yang lebih cepat menolong kita daripada keluarga kita sendiri apabila kita ditimpa musibah. Tetangga juga dapat menjadi sumber keresahan dan dan celaka, sebagaimana dalam suatu riwayat tersurat dalam hadits:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Bahagia dan celaka itu ada pada wanita, rumah tempat tinggal dan kendaraan. Kebahagiaan dari wanita itu ringan mas kawinnya, mudah menikahinya dan baik akhlaknya. Sedangkan kecelakaan dari dari wanita itu mahal mas kawinya, sullit menikahinya dan jelek akhlaknya. Kebahagiaan dari tempat tinggal itu ialah luasnya dan baik tetangga d isekitarnya. Sedangkan celaka dari rumah tempat tinggal itu, adalah sempitnya, dan jelek tetangga sekitarnya. Dan kebahagiaan dari  kendaraan itu ialah kepatuhannya dan baik perangainya; sedangkan celaka dari kendaraan itu ialah sulit menaikinya dan jelek perangainya”.&lt;/em&gt; (HR. Muslim dan Ibn Umar, dan oleh Tirmidzi dari Hakim bin Muawiyah).&lt;br /&gt;Adapula hadits yang dengan jelas menerangkan begitu besar koonskuensi menyakiti hati tetangga karena disebabkan pergaulan yang tidak baik. Dalam hadits sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Pernah dikatakan kepada Rasulullah saw.: sesungguhnya si Fulan perempuan yang rajin puasa sunnat pada siang hari dan bangun shalat malam, tetapi dia menyakiti hati tetangganya; lalu Rasulullah saw. Bersabda: dia bakal menjadi penghuni neraka.”&lt;/em&gt; (HR. Ahmad dan Al Hakim dari Abu Hurairah, dan Al Hakim meilainya shahih)&lt;br /&gt;Dalam hadits lain Rasulullah saw. Bersabda&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sungguh pencurian seseorang dari sepuluh rumah yang lain lebih ringan dosanya daripada dia mencuri dari tetangganya.”.&lt;/em&gt; (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;Maksudnya ialah, bahwa orang mencuri barang tetangganya itu termasuk orang yang jelek dan dosanya lebih berat daripada mencuri kekayaan sepuluh orang yang bukan tetangganya. Mengapa demikian? Karena teangga dengan tetangga itu seharusnya saling menjaga keamanan tetangganya, saling menghormati dan saling menolong; sebagaimana yang dapat dipahami dari hadits yang menjelaskan tentang hah-hak tetangga berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Rasulullah saw. Bersabda: tahukah kamu sekalian, apakah hak tetangga itu? Haknya ialah jika ia meminta bantuannmu, maka bantulah dia, jika dia meminta tolong padamu, maka tolonglah dia, jika dia berutang padamu, maka utangilah dia, jika dia membutuhkan miliknya padamu, maka kembaliknlah miliknya itu, jika dia sakit, maka jenguklah dia, jika dia mati, maka hantarkan jenazahnya (hingga kekuburnya), jika dia memperoleh nasib baik, maka ucapkan selamat kepadanya, jika dia ditimpa musibah, maka hiburlah hatinya, janganlah kamu meninggikan tembok bangunanmu sehingga angin tertutup dari dia, kecuali dengan seizinnya, janganlah kamu menyakitinya, apabila kamu membeli buah-buahan, maka berikanlah sebagiannya pad tetanggamu. Jika tidak, maka masukkanlah dengan sembunyi dan jangan sampai dibawa keluar oleh anakmu agar tidak menimbulkan kemarahan anaknya (karena iri), janganlah kamu menyakiti tetanggamu dengan bau masakan, melainkan kamu berikan sebagiannya kepadanya. Kemudian beliau bertanya lagi: tahukah kamu apakah kewajiban tetanggamu itu? Beliau bersabda: demi Allah yang jiwaku ditangan-Nya, tidak akan menyampaikan hak tetangga itu kecuali orang yang di sayangi oleh Allah.&lt;/em&gt; (HR. Al Khara’ithi dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya dari kakeknya)&lt;br /&gt;Piagam Madinah ayat 40 menyatakan: &lt;em&gt;”tetangga itu seperti halnyadiri sendiri, selama tidak merugikan dan berbuat dosa”.&lt;/em&gt; Tetangga mempunyai hak sama dalam hukum, karene  tidak memandang sebelah mata baik sebuah keperayaan ata yang lain.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Barang siapa beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berbuat baik pada tetangganya.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Dan apabila engkau memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan bagi-bagikanlah pada tetanggamu.”&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;Namun kadang dalam bergaul dengan tetangga ada semacam perbuatan yang kurang berkenan dibenak maupun dihati mereka, meski sama-sama satu kepercayan dalam beragama. Lebih-lebih pergaulan yang memang tingkat kemajemukan masyarakat yang lumayan tinggi mempunyai konsekuensi yang lebih besar terhadap proses keberlanjutan dan eksistensi kita sekalian terutama, karena dalam hal prinsipil beragama merupakan sebuah bentuk apresiasi dan pilihan masing-masing individu untuk menentukan dan memilih jalan kepercayaan kepada Tuhan. Padahal dalam sebuah hadits Qudsi Nabi sudah sangat begitu jelas dan semestinya menjadi bahan refleksi serta pedoman yang harus diamalkan dalam bergaul dengan masyarakat yang lain kepercayaan. Sebagaimana hadits qudsi:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Telah datang dalam hadits qudsi ini bahwa sesungguhnya Allah SWT. Telah memberikan barakah berkata: Allah telah mewahyukan kepada ibrahim: ”wahai kekasih-Ku! Berakhlaklah yang baik walaupun terhadap orang-orang kafir, niscaya engkau termasuk golongan orang-orang yang baik. Karena Aku telah pernah mengucapkan kata-kata terhadap orang yang berakhlak baik, bahwa Aku (Allah) akan menaunginya dalam arasy-Ku; Aku tempatkan dalam surga-Ku dan Aku akan dekatkan dia disamping-Ku.” &lt;/em&gt;HR. Hakim dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;Bahwa meski berbeda keyakinan, kita tetap harus memberikan hak-hak yang memang harus ia peroleh. Sopan santun terhadapnya, berbicara yang baik tidak menyakiti hati sesama walau berbeda keyakinan. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam hadits qudsi di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Bergaul dengan Suami Isteri&lt;br /&gt;Suami dan isteri, sepasang pria dan wanita yang semula dua jenis kelamin haram dalam berhubungan seksual, menjadi halal setelah berlangsungnya aqad-nikah sesuai dengan syariat Islam. Setelah dihalalkan itu, syariat Islammasih mengaturnya dengan menetapkan adab pergaulan antara suami isteri untuk menjamin pergaulan yang mesra dan memberikan kebahagiaan di dunia. Wanita pada umumnya menurut sementara pandangan orang merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan, maka untuk menghindarai malapetaka itu Rasulullah memberikan tuntutan praktis. Tuntunan beliau dapat dibaca dalam beberapa hadits. Diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. Beliau bersabda : barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kenudian (kiamat), maka tidak boleh dia menyakiti tetangganya. Nasihatilah isterimu dengan baik, karena sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok itu adalah yang paling atas, jika kamu ingin meluruskannya maka kamu mematahkannya, tapi jika jika kamu biarkan saja maka ia selalu bengkok. Nasehatilah isteri-isterimu dengan baik.”&lt;/em&gt; (HR. Muttafaq ’alaih dan susunan lafadnya dari Bukhari)&lt;br /&gt;Dalam hadits lain yang telah di sabdakan Nabi saw. Sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Dari Abu Said al Khudri r.a. beliau berkata: Rasulullah saw. Bersabda: sesungguhya sejelek-jeleknya orang di sisi Allah pada hari kiamat kelak ialah suami yang sudah mencurahkan segala kasih sayangnyakepada isterinya dan isterinya pun sudah menyerahkan semua kasih sayangya kepadanya, kemudian dia (suami) menyebarkan rahasia isterinya(dan isterinya membuka rahasia suaminya).”&lt;/em&gt; (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Dalam hadits tersebut terkandung pelajaran penting yang harus diingat oleh suami dan isteri, yaitu:&lt;br /&gt;1. antara suami dan isteri pasti terjadi hubungan yang sangat intim yang hanya diketahui oleh kedua belah pihak itu.&lt;br /&gt;2. apabila ada cacat kedua belah pihak, baik cacat lahir maupun batin,maka kedua belah pihak harus mampu merahasiakannya; tidak boleh diberitahukan kepada orang lain.&lt;br /&gt;3. suami isteri yang membuka rahasia runah tangga kepada orang lain, termasuk manusia paling jelek, atau paling jahat.&lt;br /&gt;4. dalam hadits tersebut terkabdung kemurkaan Allah terhadap suami yang menyebarkan rahasia isterinya dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergaulan berbagai macam bentuk interaksi yang dilakukan oleh manusia sebagai makhluk sosial. Percakapan, jual beli dan saling pandang antara yang satu dengan yang lain itu merupakan sebagian bentuk dari pergaulan yang biasa dilakukan oleh anggota masyarakat, meski kadang kurang begitu menyenangkan dan terkesan kurang sopan. Namun juga kadang dianggap baik dan biasa oleh sebagian pihak dengan sudut pandang yang berebda tentunya. Akibatnya ada indikasi keretakan dan perpecahan diantara anggota masyarakat yang berebeda perspektif, karena sampai saat ini pun perbedaan yang berdasar atas kemajemukan merupakan hal yang belum bisa menciptakan suasana harmonis, toleran, kondusif sesuai yang dicita-citakan Islam dengan cita-citanya  “rahmatan lil alamin”.&lt;br /&gt;Pergaulan merupakan bentuk dari tindakan sosial yang pada dasarnya jelas mempunyai pengaruh terhadap masyarakat sekitar. Pargaulan yang baik sesuai etika yang ada di masyarakat sekitar merupakan hal yang patut diperhatikan dan sudah menjadi konsensus bersama, maka dengan demikian dalam bergaul manusia sebagai bagian dari masyarakat kiranya harus sesuai dengan apa yang telah disepakati.&lt;br /&gt;Pergaulan yang baik akan dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat, dan itu pun sebaliknya pergaulan yang kurang baik dan dianggap menyimpang oleh masyarakat lebih-lebih masyarakat yang majemuk dalam ras, suku, adat, budaya maupun agama akan membuat semacam stereotip masyarakat terhadap dirinya sendiri, serta memungkinkan untuk dialienasi dari keanggotaan masyarakat. Maka kehati-hatian dalam berinteraksi/bergaul dengan masyarakat merupakan hal pokok yang perlu diingat dan diperhatikan.&lt;br /&gt;Masyarakat yang kental dengan norma dan nilai yang berbeda itu seharusnya memiliki patokan nilai yang sama yang bisa diterima oleh segenap kalangan. Walau kadang tidak sama, paling tidak setiap anggota masyarakat mampu toleran dan beradaptasi dengan sesama agar semua hal yang berbeda secara prinsipil dapat terakomodasi dan terciptanya kehidupan yang saling toleran, harmonis, dan sesuai cita-cita bersama baik agama maupun masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi, Riaydhus Shalihin,&lt;br /&gt;Drs. Muhammad, Abu Bakar 1995, Hadits Tarbiyah, Al Ikhlas, Surabaya&lt;br /&gt;Al Ghazali, Ihya’ Ulumuddin II,&lt;br /&gt;KH. A.N,  Firdaus, 325 Hadits Qudsi Pilihan Jalan Ke Surga, 1990, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta&lt;br /&gt;Drs. Hamid, Shalahuddin, Hak Asasi Manusia dalam Perspektif  Islam, 2000, Amisco, Jakarta,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-4429282592929779835?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/4429282592929779835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=4429282592929779835&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/4429282592929779835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/4429282592929779835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/hadits-pergaulan.html' title='HADITS PERGAULAN'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-5093484195593886954</id><published>2008-05-16T22:33:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T22:44:46.769-07:00</updated><title type='text'>FIQH_USHUL FIQH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;SEJARAH KEMUNCULAN, &lt;br /&gt;PERKEMBANGAN MADZHAB DAN USHUL FIQH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madzhab adalah sebuah pilihan hidup dalam menentukan dan bersinggungan langsung dengan sebuah pilihan akan hukum-hukum yang diinginkan dalam proses ia ber Tuhan. Keberadaan madzhab dan berbagai macamnya merupakan hal yang patut disyukuri sebagai sebuah khazanah intelektual manusia dalam proses pengejawantahan kreasi dari ciptaan Tuhan yang Maha dahsyat dan manusia adalah representasi Tuhan menurut perspektif Al-Farabi, serta bagiamana manusia harus meneruskan cita-cita Tuhan dalam proses dinamika di dunia ini sebagai khalifah fil alam.&lt;br /&gt;Keanekaragaman bentuk madzhab dalam menentukan pandangan hukumnya dan pengambilan hukum-hukumnya dengan berbagai jalan serta syarat yang ia harus tempuh merupakan keagungan Tuhan yang tidak bisa dipungkiri. Para madzhab-madzhab lain, baik Hanafi, Maliki, Syafi’i maupun Hanbali adalah putra-putra agung yang dimiliki orang Islam sebagai waratsatul anbiya’ penerus perjuangan lewat ajaran-ajaran hukumnya dalam menfsiri kehebatan nash-nash Tuhan dan hadits-hadits Nabi.&lt;br /&gt;Eksistensinya sangat terasa dan tak akan terlupakan dalam pergolakan sejarah dunia Islam secara menyeluruh, siapapun mengakui kehebatan madzhab ini. Daya nalar, tafsir dan pengambilan hukum yang begitu hebat dengan melibatkan seluruh aspek keilmuan yang dimilikinya merupakan bentuk dedikasi yang sangat-sangat hebat.&lt;br /&gt;Keadaan hukum yang kurang begitu jelas dapat terselesaikan dengan dasar-dasar bagiamana hukum itu di ambil dengan mengunakan metode-metode ijtihad, ushul fiqh atau yang lain yang dibentuk atau yang sudah dibukukan oleh para pendahulu kita, Imam Syafi’i sebagai pelaksana pembukuan terhadap metode-metode ushul fiqh pada waktu itu.&lt;br /&gt;Ushul fiqh merupakan dasar hukum yang sangat urgen sebelum menentukan langkah kedalam pengambilan hukum fiqh, bahan mentah atau dasarnya ada di ushul fiqh. Perkembangan yang mencengangkan kiranya dalam perkembangan ushul fiqh sendiri yang sampai saat ini tetap eksis sebagai ilmu atau kaedah dalam pengambilan setiap keputusan yang berkenaan dengan hukum sekitar.&lt;br /&gt;Namun, berbagai macam perspektif pasti terus mewarnai setiap kebijakan hukum yang ada, tergantung cara pengambilan dan madzhab apa atau siapa yang ia jadikan sebagai hujjah dalam pengambilan kebijakan tadi. Meski demikian, kiranya menjadi pelajaran dan renungan bahwa keberagaman perspektif yang dianut tidaklah menjadi stereotype yang membayangi dalam pengambilan kebijakan itu, karena pelangi tak kan tampak indah jika ia tak berwarna-warni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MADZHAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madzhab merupakan bentuk independensi manusia sebagai makhluk Tuhan yang dengan hebatnya menginterpretasikan sebuah nash-nash maupun sunnah/hadits dengan koleksi keilmuannya yang dimiliki dengan sempurna dengan jalan ijtihad sebagai khazanah intelektual dan bentuk apresiasi seorang terhadap hukum-hukum yang belum ada atau pun bentuk kurangsetujunya ia terhadap pendapat-pendapat yang dilontarkan atau yang dicetuskan oleh para pendahulunya, karena mungkin dianggap kurang representatif serta belum mampu menjawab problem-problem yang terus berkembang sesuai dinamika zaman yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sejarah Kemunculan&lt;br /&gt;Berawal dari sebuah perbedaan pendapat dikalangan sahabat dan tabiin dalam furu’ dan belum terbukukannya fiqih pada waktu itu. Pemahaman hukum waktu itu tidak seperti pembahasan para fuqaha’ yang dengan segenap kemampuannya berusaha menjelaskan beberapa rukun, syarat, dan adab, membedakan suatu hal dari yang lain berdasarkan dalil-dalil, memperkirakan dan membicarakan peristiwa-peristiwa yang yang akan terjadi, lengkap dengan hukum-hukumnya, membatasi susuatu hal yang dapat dibatasi dan lain-lain. &lt;br /&gt;Sebagaimana mereka menyaksikan Rasul shalat, mereka langsung mengikuti shalat, serta ketika Rasulullah wudlu dan disaksikan oleh para sahabat lalu mereka mengikuti tanpa menunggu penjelasan yang ini rukun yang ini adab. Beliau melaksanakan haji mereka mengikutinya. Walhasil, mereka berbuat seperti apa yang diperbuat oleh Rasul tanpa disertai penjelasan bahwa fardlu wudlu itu enam atau empat tidak pula diperkirakan muwalah sehingga dihukumi sah atau tidak, dan sedikit sekali mereka bertanya tentang hal semacam itu.&lt;br /&gt;Perbedaan dari sebuah penalaran dan perbedaan pula dalam memahami sebuah ‘illat hukum merupakan beberapa akar kemunculan madzhab. Serta perbedaan penafsiran terhadap nash-nash al-Quran karena jelaslah berlainannya akal yang memahaminya. Hal ini yang menyebabakan atau merupakan indikasi munculnya madzhab dan berbagai penafsiran yang berbeda itu juga mengakibatkan muncul beberapa aliran madzhab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Perkembangan Madzhab&lt;br /&gt;Madzhab yang dulunya hanya ada di beberapa negara tertentu saja seperti halnya Irak, Arab dan sekelumit dari negara-negara Timur yang belum banyak dikenal oleh banyak kalangan sekarang madzhab terus berkembang diberbagai negara di belahan dunia, baik Timur maupun Barat, sesuai siapa yang membawa. &lt;br /&gt;Demikian halnya di Indonesia, perkembangan madzhab mengalami kemajuan seiring proses penyebaran Islam sebagai sebuah ajaran normatif yang dianut dan dipercaya oleh sebagian penduduk dunia pada umumnya. Perkembangan madzhab tidak jauh dari mana Islam itu dan oleh siapa Islam itu sebagai agama dibawa dan dipelajari bahkan dianut oleh penduduk mayoritas di Indonesia. Hal inilah yang mungkin melatar belakangi proses berkembangnya madzhab di Indonesia yang pada umumnya penduduk dan sistem hukum maupun ajaran fiqih di Indonesia menganut salah satu madzhab empat yakni Imam Syafi’i sebagai pedoman. Karena hal itu tidak jauh dari orang-orang Arab dan India Selatan pada waktu itu, berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam di Indonesia yang dulu orang India Selatan ini menganut madzhab Syafi’i, akibat pengaruh yang dibawa oleh pedagang dan para mubaligh Arab yang menyiarkan ajaran Islam, sehingga Indonesia (pasai) yang menjadi tempat persinggahan para pedagagang Arab dan India, juga berpaham Syafi’i.sebagai bukti Sultan al Malikus Sahir raja pertama menganut paham Syafi’I diantara raja-raja Samudera Pasai. Kemudian pada perkembangannya, paham Syafi’I banyak berkembang diseluruh pelosok Indonesia yang dibawakn oleh para Wali di Indonesiayang terkenal dengan “wali songo”, mereka pun dalam pengajarannya berpedoman pada madzhab Syafi’i.&lt;br /&gt;Dari jasa para wali yang gigih didalam mengajarkan Islam dengan berbagai cara yang sesuia dengan situasi dan kondisi pada waktu itu, maka lahirlah ulama’-ulama’ Jawa yang duduk dipesantren dan berperan serta dalam perjuangan bangsa, negara dan agama, dengan gayanya yang khas pesantren ala Syafi’i dengan bukti bahwa hampir seluruh kitab-kitab fiqih yang disajika sebagi pegangan adalah kitab fiqih yang bermadzhab Syafi’i. Hal demikian itu berkembang dan berlanjut sampai sekarang ini sebagai sebuah pilihan dalam bermadzhab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. USHUL FIQIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sejarah Kemunculan&lt;br /&gt;Pada waktu Nabi Muhammad SAW masih hidup, segala segala persoalan hokum yang timbul langsung ditanyakan kepada beliau. Beliau memberikan jawaban hokum dengan menyebutkan ayat-ayat al-Quran. Dalam keadaan tertentu yang tidak ditemukan jawabannya dalam al-Quran, beliau memberikan jawaban melalui penetapan beliau yang disebut Hadits atau Sunnah. Al-Quran dan penjelasannya dalam bentuk hadits disebut “Sumber Poko Hokum Islam”.&lt;br /&gt;Al-Quran turun dalam bahasa arab. Demikian pula hadits yang disampaikan Nabi, juga berbahasa arab. Para sahabat Nabi mempunya I pengetahuanyang luas tentang bahasa Arab itu sebagai bahasa ibunya. Mereka mengetahui secara baik arti setiap lafadznya dan maksud dari setiap ungkapanya. Pengalaman mereka dalam menyertai kehidupan NAbi dan pengetahuan mereka tentang sebab-sebab serta latar belakang turunnya ayat-ayat hukum memungkinkan mengetahui rahasia dari setiap hokum yang ditetapkan Allah. Karenanya, mereka tidak merasa memerlukan sesuatu di balik itu dalam usaha mereka dalam menformulasikan hokum dari sumbernya yang telah ada, sebagaimana mereka tidak memerlukan kaedah bahasa dalam memahami al-Quran dan hadits Nabi yang berbahasa Arab itu.&lt;br /&gt;Bila para sahabat Nabi menemukan kejadian yang timbul dalam kehidupan mereka dan memerlukan ketentuan hukumnya, mereka mencarai jawabannya dalam al-Quran. Bila tidak menemukan jawabannya secara harfiah dalam al-Quran, mereka mencoba mencarinya dalam koleksi hadits Nabi. Bila dalam hadits Nabi tidak juga mereka temukan jawabannya, mereka mneggunakan daya nalar yang dinamakan ijtihad. Dalam berijtihad itu mereka mereka mencari titik kesamaan dari suatu kejadian yang dihadapinya itu dengan apa-apa yang telah ditetapkan dalam al-Quran dan hadits. Mereka selalu mendasarkan pertimabangan pada usaha”memelihara kemaslahatan umat” yang menjadi dasar penetapan hukum syara’.&lt;br /&gt;Dengan cara sepeti itulah Muaz ibn Jabal memberikan jawaban kepada Nabi dalam dialog diantara keduanya sewaktu Muaz diutuis Nabi ke Yaman untuk menduduki jabatan qadhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi    : “Bagaimana cara anda menetapkan hukum bila kepada anda dihadapkan&lt;br /&gt;              perkara yang memerlukan ketetapan hukum?”&lt;br /&gt;Muaz    : “Aku menetapkan hukum berdasarkan kitab Allah.”&lt;br /&gt;Nabi     : “Bila anda tidak menemukan jawabannya dalam kitab Allah?”&lt;br /&gt;Muaz     : “Aku menetapkan hukum dengan sunnah Nabi.”&lt;br /&gt;Nabi     : “Bila dalam sunnah, anda juga tidak menemukannya?”&lt;br /&gt;Muaz     : “Aku melakukan ijtihad dan aku tidak akan gegabah dalam ijtihadku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Muaz dengan urut-urutan seperti itu mendapat pengakuan dari Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam kitab-Nya:&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, pastuhlah kamu kepada Allah dan patuhlah kamu kepada Rasul dan orang-orang yang memimpin urusanmu. Bila kamu berselisih pendapat sesuatu, kembalikanlah kepada Allal dan Rasul.” [surat al-Nisa’ (4): 59]&lt;br /&gt;Suruhan Allah dalam ayat ini untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya berarti perintah untuk mengikuti apa-apa yang terdapat dalam al-Quran dan hadits Nabi. Suruhan untuk mentaati ulil amri berarti perintah untuk mengikuti kesepakatan para ulama’ mujtahid dalam menetapka hukum, karena mereka adalah orang-orang yang mengurus kepentingan umat Islam dalam bidang hukum.suruhan untuk memulangkan hal dan urusan yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul berarti perintah untuk menggunakan qiyas dalam hal-hal yang tidak ditemukan jawabannya dalam al-Quran, hadits dan tidak ada pul ijma’ atau kesepakatan ulama’ mujtahid.dengan demikian dalil hukum syara’ yang disepakati dikalangan ulama’ jumhur adalah empat yaitu al-Quran, Hadits atau Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.&lt;br /&gt;Setelah masa gemilang itu berlalu, datanglah suatu masa dimana umat Islam sudah bercampur baur antara orang-orang yang berbahasa Arab dan memahaminya secara baik. Waktu itu bahasa Arab menjadi sesuatu yang harus dipelajari untuk memahami hukum-hukum Allah. Karenanya para ahli berusaha menyusun kaedah-kaedah untuk menjaga seseorang dari kesalahan dalam memahami al-Quran dan hadits yang keduanya adalah sumber pokok ajaran Islam.&lt;br /&gt;Kemudian para ulama’ mujtahid merasa perlu menetapkan dan menyusun kaedah atau aturan permainan yang dijadiak pedoman dalam merumuskan hukum dari sumber-sumbernya dengan memperhatikan asasa dan kaedah yang ditetapkan ahli bahasa yang memahami dan mengguanakan bahasa Arab secara baik. Disamping itu, juga memperhatikan jiwa syariah dan tujuan Allah menempatkan mukallaf dalam tanggungjawab hukum. Kaedah dalam memahami hukum Allah dari sumbernya itulah yang disebut ushul fiqh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Perkembangan Ushul Fiqh&lt;br /&gt;1. Periode Sahabat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu ushul fiqih bersamaan munculnya dengan ilmu fiqih meskipun dalam penyusunannya ilmu fiqih dilakukan lebih dahulu dari ushul fiqih. Sebenarnya keberadaan fiqih harus didahului oleh ushul fiqih, karena ushul fiqih itu adalah ketentuan atau kaedah yang harus diikuti mujtahid pada waktu menghasilkan fiqihnya. Namun dalam perumusannya ushul fiqih datang belakangan.&lt;br /&gt;Perumusan sebenarnya sudah dimulai langsung sesudah Nabi wafat yaitu pada periode sahabat. Pemikiran dalam ushul fiqih telah ada pada waktu perumusan fiqih itu. Para sahabat diantaranya Umar ibn Khattab, Ibnu Mas’ud, Ali ibn Abi Thalib umpamanya pada waktu mengemukakan pendapatnya tentang hukum, sebenarnya sudah menggunakan aturan atau pedoman dalam merumuskan hukum, meskipun secara jelas mereka tidak mengemukakan demikian.&lt;br /&gt;Sewaktu Ali ibn Abi Thalib menetapkan hukum cambuk sebanyak 80 kali terhadap peminum khamar, beliau berkata, “Bila ia minum akan mabuk dan bila ia mabuk, ia akan menuduh orang berbuat zina secara tidak benar; maka kepadanya diberikan tuduhan berbuat zina.” Dari pernyataan Ali itu, akan diketahui bahwa Ali rupanya mengguankan kaedah “sad al-dzari’ah”&lt;br /&gt;Abdullah ibn Mas’ud sewaktu mengemukakan pendapatnya tenyang wanita hamil yang kematian suami iddahnya adalah melahirakan anak, mengemukakan argumennya dengan firman Allah dalam surat al-Thalaq (85) ayat 4, meskipun juga ada firman Allah dalam surat al-Baqarah (2) yang menjelaskan bahwa isteri yang kematian suami iddahnya empat bulan sepuluh hari. Dalam menetapkan pendapat ini beliau mengatakan bahwa ayat 4 surat al-Thalaq datang sesudah ayat 234 surat al-Baqarah (2).&lt;br /&gt;Dari tindakan Ibnu Mas’ud tersebut kelihatan bahwa dalam menetapkan fatwanya ia menggunakan kaedah ushul tentang “naskh-mansukh”,. Dari apa yang dilakukan Ali dan Ibnu Mas’ud contoh diatas kita dapat memahami bahwa para sahabat dala melakukan ijtihad mengikuti suatu pedoman tertentu meskipun tidak dirumuskan secara jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Periode Tabiin&lt;br /&gt;Pada periode tabiin lapangan istinbath atau perumusan hukum semakin meluas karena begitu banyaknya peristiwa hukum yang bermunculan. Dalam masa itu beberapa orang ulama’ tabiin tampil sebagai pemberi fatwa hukum terhadap kejadian yang muncul; umpamanya Sa’id ibn Musayyab di Madinah dan Ibrahim al-Nakha’i di Irak. Masing-masing ulama’ ini mengetahui secara baik ayat-ayat hhukum dalam al-Quran dan mempunayai koleksi yang lengkap tentang hadits Nabi. Jika mereka tidak menemukan jawaban hukum dalam al-Quran atau hadits, sebagian mereka mengikuti metode maslahat dan sebagian mengikuti metode qiyas. Usaha istinbath hukum yang dilakukan Ibrahim al-Nakha’I dan ulama’ Irak lainnya mengarah kepada mengeluarkan ‘illat hukum dari nash dan menetapkannya terhadap peristiwa yang sama yang baru bermunculan dikemudian hari.&lt;br /&gt;Dari keterangan diatas jelaslah bahwa metode yang digunakan dalam merumuskan hukum syara’ semakin memperlihatkan bentuknya. Namun, perbedaan metode yang digunakan menyebabkan timbulnya perbedaan aliran dalam fiqih.&lt;br /&gt;Sebagaimana Abu Hanifah dengan menggunakan qiyas dan istihsan dalam menggali hukum, sedangkan Imam Malik menempuh metode ushuli yang lebih jelas menggunakan tradisi yang hidup dikalangan penduduk Madinah, Imam Malik yang dianggap pantulan dari aliran Hijaz menggunakan maslahat mursalah yang tidak digunakan ulama’ jumhur sebagai imbangan dari istihsan yang digunakan Abu Hanifah sebagai pantulan dari aliran Irak. Hal ini berlanjut setelahnya, Imam Syafi’i penerus selanjutnya sebagai tokoh yang dianggap penggagas peletak pedoman dalam metode berpikir yang disebut “ushul fiqih”. Yang kitab pertama di karang adalah Ar-Risalah sebelum kitab itu belum ada kitab ushul fiqih. Dan dipergunakan sebagai sumber-sumber penetapan hukum setelahnya, yaitu pada masa tabi tabi’in, yang dulu hanya diketahui dan berkembang di negara-negara tertentu sekarang sudah merambah di berbagai negara-negara belahan dunia dan di Indonesia khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Periode Sekarang&lt;br /&gt;Ushul fiqih merambah diberbagai belahan negara didunia sebagai ilmu yang mengantarkan pada sebuah jalannya hukum yang akan ditentukan. Meski ushul fuqih dulunya dipelajari sedikit atau sebagian dari jumlah negara Islam di dunia ini, karena memang persebaran Islam pada waktu itu masih kurang menyeluruh. Namun, lambat laun peersebaran Islam mengalami peningkatan dan memicu akan perkembangan dalam mempelajari ushul fiqih, baik negara maupun umat Islam umumnya.&lt;br /&gt;Perkembangan ushul fiqih dalam periode sekarang lebih kami fokuskan pada perkembangan ushul fiqih di tanah air sebagai bentuk analisis kepedulian kami terhadap Indonesia. Perkembangan ushul fiqih sudah sangat menjamur dikalangan pesantren-pesantren tradisional yang masih memegang teguh ciri khas tradisionalitasnya dengan setiap sub-sub dari pelajaran yang wajib dikaji. Berbagai ajang adu argumen dan musyawarah tentang ushul fiqih maupun fiqih pada umumnya diselenggarakan untuk mengkaji dan menggali hukum baik dengan dengan Bahtsu Masail, Tarjih, Hisbah atau pun yang lain. &lt;br /&gt;Tidak ketinggalan pula sekolah-sekolah agama di tanah air sebagai materi pelajaran yang diajarkan oleh guru-guru pembimbing, baik itu ditingkatan dasar, menengah maupun atas, tidak hanya tiga dilokus sentral tadi saja, bahkan hal demikian diajarkan pula ditingkatan perguruan tinggi yang berbasis ke-Islaman.&lt;br /&gt;Perkembangan demikian itu tidak luput dari peran aktif setiap anggota terkait dalam mengembangkan khazanah-khazanah pengetahuan yang dimiliki Islam sebagai sebuah entitas ajaran yang penuh dan kental dengan keilmuan Timurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K.H Abbas, Siradjuddin, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i, Pustaka Tarbiyah, Jakarta; 1995&lt;br /&gt;Prof. Dr. H. Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh jilid 1, Logos wacana ilmu, Jakarta; 1997&lt;br /&gt;Al-Dahlawi, Syah Waliyullah, Lahirnya Madzhab-madzhab Fiqh, Rosda Karya, Bandung; 1989&lt;br /&gt;Djamaluddin, A. Syinqithy, Sejarah Legislasi Islam, Al-Ikhlas, Surabaya; 1994&lt;br /&gt;Hasan, M. Ali, Perbandingan Madzhab, Rajawali Pers, Jakarta; 1996&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-5093484195593886954?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/5093484195593886954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=5093484195593886954&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5093484195593886954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5093484195593886954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/sejarah-kemunculan-perkembangan-madzhab.html' title='FIQH_USHUL FIQH'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-5172309416665513800</id><published>2008-05-16T22:27:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T22:33:28.754-07:00</updated><title type='text'>JIHAD</title><content type='html'>AYAT-AYAT JIHAD; DEFINISI DAN PENJELASANNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad merupakan bentuk aktifitas yang dilakukan dengan penuh kesungguhan sebagai bagian dari masyarakat yang sanggup dalam mengarungi dinamika hidup bermasyarakat dari sebuah ekspresi pertahanan, atau pembelaan terhadap diri sendiri, keluarga, akidah dan lain-lain sebagai makhluk yang mempunyai integrasi kuat dengan lingkungan sekitar dengan berbagai macam ancaman dan bahaya yang selalu mengintai, yang kadang membuat resah dan was-was diri serta masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;Berbagai macam ancaman, godaan baik materi, jasmani maupun rohani sering merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari manusia sebagai bagian dari masyarakat-masyarakat yang tinggal di negara-negara maupun komunitas tertentu. Lebih-lebih di Indonesia dengan berbagai macam kebudayaan, adat, suku atau etnis yang begitu besar juga kadang rawan akan terjadinya konflik. Upaya-upaya demikianlah yang disebut dengan jihad sebagai dasar pembelaan dari pihak luar yang tidak diinginkan. &lt;br /&gt;Sejak dahulu hingga sekarang, jihad merupakan diskursus yang paling dilazimi baik oleh kalangan pro dan kontra syari’at. Juga di lazimi oleh kalangan luar Islam, serta paling disalahtangani [baca; salahpahami] pula oleh kaum orientalis Barat dan organisasi Islam sendiri. Kesalahpahaman ini timbul pertama dan terutama dari pencampur-adukan antara jihad dan qital [perang], serta pencitraannya sebagai satu tema, bahkan pendominasian perang atas jihad dan penyikapan jihad sebagai perang lebih dari yang semestinya.&lt;br /&gt;Ini merupakan kesalahan fatal. Jihad adalah terminologi yang memiliki akar kata dan derifasi bahasa yang menunjukkan muatan tertentu, dan lebih lanjut memiliki sarana serta target yang menunjukkan atau diingini muatannya. Sementara qital [perang] merupakan akar kata dan derifasi bahasa yang menunjukkan muatan tertentu yang berbeda dengan asal kata ‘jihad’ begitu juga sarana dan targetnya.&lt;br /&gt;Jihad tidak selalu beriringan dengan perang, meskipun terkadang dalam kasus tertentu juga beriringan. Masing-msing memiliki pendekatan dan target yang berbeda. Dan jihad merupakan hal pokok dalam kajian ini, sementara qital hanya sekedar aksidental yang mendesak dilakukan jika memang diperlukan sekali. Sebagaimana sejarah dan realitas yang telah dicontohkan Rasulullah serta sahabatnya dengan melakukan jihad di Makkah selama 13 tahun dengan menggunakan sarana-sarana jihad yang mengandung pendekatan hikmah, amar ma’ruf, nahi munkar, mau’idlah hasanah, kesabaran, dan militansi hingga mengungsi ke Ethiopia serta masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir seluruh kitab-kitab klasik atau salaf yang dipelajari oleh kalangan pesantren orentasi jihad lebih kepada arah peperangan dalam mempertahankan eksistensi sebuah agama atau sebagai tindakan melindungi serta mempertahankan keberadaan sebuah keyakinan maupun kepercayaan yang ada pada periode dulu. Karena dulu peperanganlah yang menentukan eksis atau tidaknya sebuah kelompok dalam pembelaan terhadap agama, diri sendiri maupun yang lain. &lt;br /&gt;Demikian pula Islam sebagai agama rahmatan lil alamin mencoba melakukan hal yang sama dengan alasan dan sebab yang melatar belakangi untuk melakukan jihad dengan arti diatas. Orang-orang muslim yang dipimpin Nabi tidak akan mengawali sebuah peperangan tanpa ada serangan atau tekanan dari kelompok lain yang mengancam diri Nabi dan umat Islam demi mempertahankan agama yang diyakini. Dan mungkin dengan adanya indikasi demikianlah jihad diartikan sebagai perang. Untuk mengetahui arti jihad lebih lanjut akan kami bahas definisi jihad secara panjang lebar, jelas dan komprehensif agar tidak diartikan secara mono-perspektif, yang pada akhirnya memunculkan stereotip yang meresahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Definisi Jihad &lt;br /&gt;Kata jihad atau juhd artinya kekuatan, kekuasaan atau kesanggupan. Ia juga berarti masyaqah (kesukaran atau kesulitan). Kata jahd sama dengan kata thaqah dan wus’ (kekuatan dan kesanggupan). Kata jahada-yajhadu-jahdan, dan ijtahada, maknanya sama dengan kata jada (bersungguh-sungguh)&lt;br /&gt;Dalam sebuah pendapat, kata jihad memiliki dua definisi atau dua pengertian: secara etimologi dan secara terminologi. Secara etimologi, jihad artinya berjuang atau perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Atau dengan kata lain, jihad adalah pengerahan segenap kekuatan, baik berupa perkataan maupun perbuatan, dalam peperangan. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah pernah bersabda, “tidak ada lagi hijrah setelah penaklukan Makkah, kecuali jihad dan niat”. Maksudnya adalah, bahwa setelah peristiwa penakluakan Makkah tidak ada lagi peristiwa hijrah. Demikian itu karena Makkah telah menjadi negara Islam. Yang ada hanyalah jihad dan mengikhlaskan niat dalam berjihad untuk menegakkan kalimat Allah.&lt;br /&gt;Kemudian, ketika kata jihad itu dikaitkan dengan kata fi sabilillah, maka masuklah definisi terminologis. Menurut terminologis, jihad adalah memerangi kaum kafirin yang memerangi Islam dan umat Islam dalam rangka menegakkan kalimat Allah. Itulah definisi jihad secara etimologi.&lt;br /&gt;Menurut M. Halaby Hamdy (2000), dalam banyak kasus, jihad sering dikaitkan dengan perang agama (holy war), yakni perang kaum muslimin melawan orang-orang kafir, musyrik dan munafik. Sampai disini, jihad kemudian dipresentasikan sebagai kata kunci (key word) yang menjadi indikasi dan legitimasi bagi munculnya fundamentalisme dalam Islam. Artinya, fundamentalisme, sebagai model gerakan perlawanan, pada akhirnya mendapatkan infus dengan hadirnya kata jihad dan “perintah perang”dalam al-Quran. Akhir pun bisa ditebak, bahwa tidak ada gerakan fundamentalisme tanpa menyertakan kata politis paling penting dan sekaligus mejadi arus utamanya, yakni jihad atau perang agama (membela Tuhan). Sedemikian rupa, tidak ada kata jihad yang tidak melibatkan gerakan keagamaan.&lt;br /&gt;Sejatinya, secara etimologis jihad merupakan isim masdar dari kata kerja jahada-yujahidu adalah berarti mencurahkan segala kemampuan untuk bekerja dalam menegakkan “kebenaran” yang diyakini berasal dari Tuhan. Muasal derifatif kata ini adalah jahada-yajhudu yang artinya bersungguh-sungguh dalam sutu masalah. Hanya saja, dalam beberapa kesempatan kata jihad sendiri memiliki makna yang khusus, yaitu peperangan untuk menjaga eksistensi agama. Atau dengan perkataan lain, seperti halnya fenomena yang tampak sangat populer hingga kini, jihad dimaknai sebagai upaya “melenyapkan kebatilan dan menegakkan kalimat Tuhan (li i’lai kalimatillah) di muka bumi”. Perwajahan konsep inilah yang kemudian melahirkan suatu image yang seolah-olah telah mencitrakan jihad dalam Islam bermakna sebagai “berperang demi agama”.&lt;br /&gt;Dilain pihak, jihad juga bisa dimaknai sebagai proses metamorfosis dari jihad kecil ke jihad besar. Konsep ini memungkinkan bagi munculnya pemahaman bahwa ukuran jihad bersifat fleksibel; bisa menyusuaikan diri dengan apa yang dilakukan seseorang, serta seberapa besar bobot persoalan yang dihadapinya. Ini berarti pula, bahwa segala usaha manusia, dari yang paling kecil sampai yang paling besar apabila dilakukan secara sungguh-sungguh demi kehidupan yang lebih manusiawi dan kebaikan cita Islami-dapat dikategorikan sebagai jihad. Sedemikian rupa, jihad dari awalnya memiliki makna, operasi, dan sifat yang sangat luas. Ia meliputi seluruh rangkaian kerja manusia yang amat sangat mulia.&lt;br /&gt; Hanya saja, dalam sejarahnya, gagasan tersebut selalu dihubungkan dengan model peperangan yang dilalukan oleh Nabi Muhammad saat mempertahankan diri dari orang-orang non-Muslim. Sehingga gagasan yang sebetulnya bermakna luas itu kini telah menyeret kelompok-kelompok Islam (yang memenag berhaluan keras) menafsirkan jihad sebagai tipologi perjuangan yang berorientasi dar al-Islam, atau dar al-harb (negeri yang layak diperangi). (Sugiyarto Az)&lt;br /&gt;Dengan demikian, perlunya reinterpretasi atau tefsir kembali terhadap jihad, agar tidak terjadi politisasi sebuah kelompok maupun gerakan yang mengatas namakan jihad yang ditangkap sebagai usaha kebencian, pengerusakan dan peperangan yang ditangkap dari kehidupan sehari-hari untuk melawan kelompok-kelompok yang [dianggap] memusuhi Islam. Padahal seharusnya jihad ditafsirkan sebagai upaya atau usaha-usaha menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk kesanggupan ia dalam proses kehidupan bermasyrakat disekitar hingga terciptanya rahmatan lil alamin yang dicita-citakan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tipologi Jihad&lt;br /&gt;Jihad mempunyai makna dan tipe yang sangat kompleks sebagai sebuah paradigma pegangan hidup berbangsa dan bernegara. Berbagai upaya atau tindakan yang semestinya juga memang patut dianggap sebagai bentuk jihad, kemudian mereduksi menjadi makna tertentu yang sempit dan kaku. Akibatnya muncul tindakan-tindakan tertentu yang keluar dari tatanan kemanusiaan dengan mengatasnamakan jihad sebagai sebuah tindakan.&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa, jihad tidak terpaku dan tidak selalu berarti peperangan yang terus dilakukan untuk mempertahankan eksistensi diri maupun kepercayaan. Segala bentuk tindakan yang dilakukan secara sungguh-sungguh sebagai konsekuensi logis dari kehidupan dan bertujuan pada Tuhan juga merupakan jihad yang patut dikatakan juga sebagai jihad. Ada beberapa macam tipe jihad yang diklasifikasikan Nabi sebagai berikut:&lt;br /&gt;- amar ma’ruf (perintah kebajikan)&lt;br /&gt;- nahyu ‘anil munkar (mencegah/melarang kemungkaran)&lt;br /&gt;- jujur dalam kesabaran&lt;br /&gt;- dan membenci kemunafikan&lt;br /&gt;Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda:&lt;br /&gt; “Jihad itu ada 4 jenis: Amar ma’ruf (perintah kebajikan), nahyu ‘anil munkar (mencegah/melarang kemungkaran), jujur dalam kesabaran dan membenci kemunafikan”.&lt;br /&gt;Namun juga tidak menafikan tindakan lain yang selain empat diatas, ada berbagai macam kegiatan yang tentunya juga bisa dikategorikan jihad.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW. bersabda: &lt;br /&gt;“Berjihadlah terhadap orang-orang musyrik baik dengan hartamu, jiwamu, maupun dengan lidahmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berangkatlah kalian baik dengan perasaan ringan maupun berat. Dan berjighadlah dengan harta dan jiwamu dijalan Allah” (at Taubah: 41)&lt;br /&gt; Bahwa jihad tidak hanya menggunakan satu atau dua cara yang ditempuh, melainkan banyak cara untuk melakukannya, sebagaimana hadits yang telah disebutkan diatas.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW. bersabda: &lt;br /&gt;“Seorang mujahid (orang yang berjihad) adalah orang yang memerangi hawa nafsunya karena Allah”. &lt;br /&gt;Sangat jelas ketika seseorang mengartikan jihad sebagai perang, namun yang kadang sangat tidak diterima banyak kalangan ialah makna perang secara tekstual (fisik). Padahal perang meliputi banyak hal seperti yang telah dicontohkan Nabi di atas, dan itu jelas merupakan suatu praktek dari pada jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Amar ma’ruf&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah dituangkan dalam Kitab-Nya bahwa amar ma’ruf merupakan anjuran yang diperuntukkan  segenap umat mukmi di muka bumi ini. Sebgaimana firman-Nya;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, meyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [QS. Ali Imrân: 104]. &lt;br /&gt;Namun amar ma’ruf pun tidak semena-mena untuk dilakukan ada cara yang ditempuh ketika seseorang melakukannya. Dengan perkataan yang baik, jika ia menolak bantah dengan cara yang baik pula. Demikianlah Islam mengajarkan dengan asas kemanusiaan yang ada. firman Allah;&lt;br /&gt;“Serulah (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan cara hukmah dan mau’idzah hasanah, dan banthlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapakah yang tersesat dari jalan-Nya. Dia mengetahui orang yang mendapat petunjuk” (al-Nahl: 125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Nahyu ‘anil munkar&lt;br /&gt;Meninggalkan hal-hal yang mungkar juga merupakan tindakan yang disebut dengan jihad. Karena begitu luasnya arti jihad. Seperti halnya firman Allah dibawah ini;&lt;br /&gt;“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh pada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” [QS. Ali Imrân: 110].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Jujur dalam kesabaran&lt;br /&gt;Integritas tinggi merupakan bagian terkecil dari bentuk jihad yang kadang sering dilanggar umat manusia di jagad raya ini. Lebih-lebih ketika ia dalam keadaan jengkel terhadap seseorang inilah tantangan yang sangat berat tentunya. Firman Allah;&lt;br /&gt;“Mereka itu diberi pahala dua kali* disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang Telah kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan”. (al Qashas; 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Membenci kemunafikan&lt;br /&gt;Sudah sepatutnya bahwa kemunafikan merupakan hal yang dibenci seseorang, meski juga kadang tidak menutup kemungkinan sering dilakukan dengan berbagai alasan-alasan tertentu yang ia gunakan. Dan ternyata menbenci kemunafikan merupakan salah satu jenis jihad yang sebagaimana firman-Nya;&lt;br /&gt;“Hai nabi, berjihadlah (melawan)* orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya”. (at Taubah; 73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tafsir Jihad&lt;br /&gt;Sebagaimana menurut Madzhab Hanafi dalam “fathul qadir” oleh Ibn Hammam, “al jihad ialah mengundang orang kafir kepada agama Allah dan memerangi mereka kalau mereka menolak undangan tersebut”. al Kasani (al Badi’ 9/4299) “al jihad ialah berjuang dengan segala daya dan upaya, berperang di jalan Allah ‘Azza wa Jalla dengan jiwa dan harta, lisan dan lain-lain”.&lt;br /&gt;Demikian pula madzhab Maliki, “al jihad ialah memerangi orang kafir yang yang tidak terikat perjanjian demi meninggikan kalimatullah atau menghadirkan-Nya, atau menaklukan negerinya demi memenangkan agama-Nya”. Begitu juga dengan madzhab Syafi’i, al Bajuri berkata, “al ijhad artinya berperang dijalan Allah”. Ibn Hajar mengatakan bahwa menurut syariat, “al jihad adalah berjuang dengan sekuat-kuatnya untuk memerangi kaum kafir (Al Fatah 6/3)”. Madzhab Hanbali, “al jihad adalah memerangi kaum kafir (Mathalibu Ulin Nahyi, 2/497) atau menegakkan kallimat Allah (Muntahal Iradat, 1/302)”. &lt;br /&gt;Allah mengizinkan jihad dalam arti perang bukan tanpa alasan yang jelas. Namun, peperangan yang mengatas namakan jihad diperbolehkan ketika individu ataupun kelompok diserang/dianiyaya lebih dulu karena untuk mempertahankan diri dan eksistensinya. Firman Allah;&lt;br /&gt;“Telah di izinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, Karena mereka telah dianiyaya. Dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk menolong mereka” (al-Haj: 39)&lt;br /&gt;Bagi orang-orang yang berjihad dijalan-Nya, ia akan dijunjung derajatnya oleh Allah dan Ia akan selalu mendampingi orang-orang yang senantiasa berbuat kebijakan. Firman Allah dalam Kitab-Nya;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang berjihad dijalan Kami, niscaya Kami akan menjunjung jalan Kami kepada mereka. Dan sesungguhnya Allah  benar-benar selalu bersama orang-orang yang berbuat kebijakan” (al-Ankabut: 69)&lt;br /&gt;Seruan untuk berjihad dijalan Allah merupakan bentuk dasar dari sebuah jihad yang diinginkan. Jihad dijalan Tuhan adalah satu-satunya jalan dimana ia mengabdikan diri pada Tuhan. Mengajar, mencari ilmu memberi nafkah keluarga adalah contoh konkrit dari sebuah makna jihad dijalan Tuhan. Sebgaimana firman Allah;&lt;br /&gt;“Dan berjihadlah di jalan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (al-Baqarah: 244)&lt;br /&gt;“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”. (al-Baqarah: 216)&lt;br /&gt;Ayat (diatas) selanjutnya inilah yang menjadi harga mati bagi setiap gerakan keagamaan yang hari-hari ini terjadi di berbagai belahan dunia. Mereka memandang seakan-akan hal ini merupakan wajib ‘ain yang memang pada dasarnya harus dilakukan sebagai sebuah aturan agama. Padahal, arti wajib disini bukan yang berarti “fardhu ‘ain” melainkan wajib yang mempunyai makna “kifayah” . Sebagaimana demikian hukumnya adalah fardhu kifayah serta juga diterangkan sebagamana diatas bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah yakni yang cukup dilakukan oleh sebagian umat muslim di muka bumi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;III. PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Jihad sekarang bukan bagaimana mati di jalan Allah, &lt;br /&gt;melainkan bagaimana hidup di jalan Allah” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Jamal Al Bana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditegaskan lagi, bahwa jihad bukan semata-mata pengerusakan,  peperangan fisik yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi sebuah keyakinan [agama]. Sebagai sebuah bentuk kesungguhan komitmen hidup dan dedikasi perjuangan manusia untuk meneruskan cita-cita ketuhanan atau khalifah fil alam jihad tak semestinya bermakna demikian. Memproses bagaimana sesuatu dapat menjadikan rahmatan lil alamain bagi umat manusia di muka bumi ini.&lt;br /&gt;Maka reinterpretasi jihad merupakan sebuah disiplin intelektual manusia untuk menciptakan sebuah makna/tafsir maupun iklim yang kondusif, kontekstual sesuai dinamika sosial masyarakat saat ini. Meski dulunya jihad diinterpretasikan sebagai sebuah peperangan (fisik) yang terkesan sadis dan tidak manusiawi. &lt;br /&gt;Pemikiran semacam inilah yang kiranya perlu dirombak kembali untuk mewujudkan paradigma baru guna menyongsong peradaban yang lebih humanis dan konstruktif tentunya. Reinterpretasi jihad sendiri bertujuan guna merubah mainstream manusia yang begitu lama membelenggu, dulunya sempit dan terkesan kaku sebagai pegangan hidup. Sekarang peradaban yang begitu kompleks, berkembang dan maju dalam bungkus globalisasi pergolakan dunia yang sekarang dengan mudah dapat berdampingan/berhadapan langsung dengan berbagai macam kultur, adat, bangsa dan negara, bahkan agama, lebih-lebih di negara yang mempunyai tingkat hiterogenitas tinggi seperti Indonesia.&lt;br /&gt; Demikian, refleksi keilmuan kami sebagai bentuk konsistensi dan komitmen terhadap dedikasi pendahulu kami yang begitu gagah berani merelakan segenap kemampuan, kreatifitas dan tetes darah perjuangannya guna merebut kemerdekaan NKRI. Juga merupakan bentuk upaya kami demi mengisi kemerdekaan serta menginterpretasikan satu abad kebangkitan nasional. Mungkin kurang begitu sempurna kiranya makalah ini, kekhilafan yang patut dimaklumi sebagai manusia tentunya. Rangkaian maaf dan terimakasih atas atensi dan apresiasi teman-teman sekalian. Semoga gerak langkah keilmuan dan tanggungjawab sosial kita sebagai agent of sosial change senantiasa dalam bimbingan-Nya. Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamal Albana, 2005, Revolusi Sosial Islam (dekonstruksi Jihad dalam Islam), Pilar Media, Yogyakarta; &lt;br /&gt;Ibn Al Manshur, Lisanul-Arab, Juz ke-4&lt;br /&gt;Abdul Baqi Ramdhun, 2002, Jihad Jalan Kami, Era Inter Media, Solo, &lt;br /&gt;Al Bajuri ala ibn Qasim Baerut, Juz ke-2&lt;br /&gt;Dr. Abdullah Azzam, 1994, Perang Jihad di Jaman Modern, Gema insani Pers, &lt;br /&gt;Ibn Rusyd, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtasid, Baerut, Darul Kutub&lt;br /&gt;Zainuddin Abdul Aziz al Milibari, Fathul Mu’in, Toha Putra, Semarang,&lt;br /&gt;Ahmad ibn Husain as Syuhair ibn Syuja’, Fathul Qarib,  Hidayah, Semarang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-5172309416665513800?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/5172309416665513800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=5172309416665513800&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5172309416665513800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/5172309416665513800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/ayat-ayat-jihad-definisi-dan.html' title='JIHAD'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-3441600992650738700</id><published>2008-05-04T06:43:00.000-07:00</published><updated>2008-05-04T06:48:10.871-07:00</updated><title type='text'>SYAIR-SYAIR</title><content type='html'>&lt;strong&gt;BILA KUTITIPKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kutitipkan dukaku pada langit &lt;br /&gt;Pastilah langit memanggil mendung&lt;br /&gt;Bila kutitipkan resahku pada angin&lt;br /&gt;Pastilah angin menyeru badai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kutitipkan geramku pada laut&lt;br /&gt;Pastilah laut menggiring gelombang&lt;br /&gt;Bila kutitipkan dendamku pada gunung&lt;br /&gt;Patilah gunung meluapkan api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akan kusimpan sendiri mendung dukaku&lt;br /&gt;Dalam langit dadaku&lt;br /&gt;Kusimpan sendiri badai resahku&lt;br /&gt;Dalam angin desahku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusimpan sendiri gelombang geramku &lt;br /&gt;Dalam laut fahamku&lt;br /&gt;Kusimpan sendiri api dendamku&lt;br /&gt;Dalam gunung gersangku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUSIMPAN SENDIRI……1415 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KAU INI BAGAIMANA ATAU AKU HARUS BAGAIMANA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ini bagaimana ……&lt;br /&gt;Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya&lt;br /&gt;Kau suruh aku, berfikir aku berfikir kau tuduh aku kafir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus bagaimana……&lt;br /&gt;Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai&lt;br /&gt;Kau bilang jangan banyak tingkah aku diam saja kau waspadai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ini bagaimana……&lt;br /&gt;Kau suruh aku memegang prinsip, Aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku&lt;br /&gt;Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus bagaimana……&lt;br /&gt;Aku kau suruh maju, aku mau maju kau srimpung kakiku&lt;br /&gt;Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ini bagaimana……&lt;br /&gt;Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membutku sakit jiwa&lt;br /&gt;Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus bagaimana……&lt;br /&gt;Aku kau suruh menghormati hokum, kebijaksanaamu menyepelekannya&lt;br /&gt;Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ini bagaimana……&lt;br /&gt;Kau bilang tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat&lt;br /&gt;Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus bagaimana……&lt;br /&gt;Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya&lt;br /&gt;Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau Ini bagaimana……&lt;br /&gt;Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah&lt;br /&gt;Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus bagaimana……&lt;br /&gt;Aku kau larang berjudi, permainan sepekulasimu menjadi-jadi&lt;br /&gt;Aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bi as Showab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ini bagaimana……&lt;br /&gt;Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku&lt;br /&gt;Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus bagaimana……&lt;br /&gt;Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu&lt;br /&gt;Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ini bagaimana……&lt;br /&gt;Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis&lt;br /&gt;Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kua tuduh aku apatis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus bagaimana……&lt;br /&gt;Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah&lt;br /&gt;Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendekte saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ini bagaimana……&lt;br /&gt;Aku bilang terserah kau, kau tidak mau&lt;br /&gt;Aku bilang terserah kita, kau tak suka&lt;br /&gt;Aku bilang terserah aku, kau memakiku&lt;br /&gt;Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana……1987&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2970007734211116792-3441600992650738700?l=khirzulmuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/feeds/3441600992650738700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2970007734211116792&amp;postID=3441600992650738700&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3441600992650738700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2970007734211116792/posts/default/3441600992650738700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khirzulmuhammad.blogspot.com/2008/05/syair-syair.html' title='SYAIR-SYAIR'/><author><name>Khirzul Alim Mohammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07484347293328133542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_CkUc1GUqlaE/Si_q9RlU7RI/AAAAAAAAAHo/gkOMW2CXwhY/S220/100_0301.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2970007734211116792.post-5301194102581983091</id><published>2008-05-02T23:12:00.000-07:00</published><updated>2008-05-02T23:16:42.236-07:00</updated><title type='text'>Sosiologi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;PERLUNYA REORIENTASI SOSIOLOGI DI INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;em&gt;Prof. Dr. Sediono MP Tjondronegoro, Ketua Ikatan Sosiologi&lt;br /&gt;Indonesia (ISI) Pusat, 1999 - 2003.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Apabila Sosiologi difahami sebagai ilmu sosial yang paling komprehensif dan dapat menarik generasasi paling luas, karena mempelajari dan menemukan hubungan antara pelaku sosial yang berkelompok, maka Sosiologi dapat seakan-akan memanyungi ilmu ilmu sosial lain. Dalam ranah ilmu Ekonomi telah dikembangkan falsafah dasar mengenai penguasaan, pemanfaatan/ eksploatasi dengan tujuan produksi dan konsumsi sumberdaya, baik alam maupun manusia, menurut perinsip kegunaan (utilitarianisme). Karena itu Ekonomi modern, menyimpang dari falsafah semasa Ekonomi Klasik Adam Smith, mengabstraksikan dimensi keadilan dan pemerataan (Gouldner, 1973). Itu pula yang mendekatkan sifat Ekonomi ke ilmu alam diera neo-klasik. Bersebrangan dengan itu Etnologi memusatkan studi deskriptifnya pada budaya kelompok-kelompok etnis, terutama yang berada dalam tahap perkembangan pra-sejarah dan/atau pra-aksara. Ilmu Antropologi yang sudah mulai menjembatani dua ranah tersebut dengan mempelajari, baik aspek manusia sebagai organisme (Physical Antrhopology) maupun perilaku dalam lingkungan kebudayaan (Ethology Cultural/Social Antrhopology) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu politik memusatkan perhatian pada hubungan dan interaksi yang berkaitan dengan pembagian dan pertukaran kekuasaan (power). Sejarah menjadi sangat relevant dalam menekuni Sosiologi karena menunjukkan kecenderungan (trends) dan membuka peluang, baik untuk memahami proses perubahan, bertahap atau sebagai loncatan, maupun membuka peluang untuk membanding gejala sosial/ kemasyarakatan. Beberapa cabang kelompok ilmu lain yang sering di acu sebagai kelompok Humaniora seperti Hukum, Pendidikan dan Komunikasi pun menunjang dan memberi pengetahuan sangat berharga untuk Sosiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam zaman penjajahan Belanda masyarakat Indonesia yang belum dipersepsikan sebagai satu kesatuan, lebih dipelajari dari sudut pandang Etnologi dan Antropologi Budaya. Berkaitan dengan itu juga Hukum Adat sangat diminati baik oleh sarjana Belanda maupun Indonesia, dan banyak diantara mereka bergelar Sarjana Hukum. Mungkin minat tersebut juga merupakan kebutuhan pemerintah Hindia-Belanda yang ingin menghayati sifat dan tata kehidupan terutama suku-suku bangsa yang berperan di Nusantara. Nama-nama besar seperti Krom, Veth, dan Snouch Hurgronje boleh dikatakan perintis ilmu-ilmu sosial ini di Indonesia sejak akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1920-an timbullah minat sarjana-sarjana Belanda untuk memahami masyarakat lebih luas, karena gejala-gejala sosial yang disoroti tidak terbatas pada lingkungan suku bangsa atau group etnis. Di antaranya adalah B. Schrieke (1890-1945) yang menulis karangan-karangan etnografis dan sejarah, sehingga gabungan kedua konteks itu bercorak Sosiologi. Salah satu variabel yang jelas mencerminkan ilmu Sosiologi yang menjadi garapan Schrieke adalah Akulturasi. Misalnya Shcrieke mengulas "Pergeseran kekuasaan Politik dan Ekonomi di Nusantara antara abad ke-16 sampai abad ke-17". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sebab mengapa Schrieke kurang dikenal dan tulisannya kurang dibaca ialah karena beliau menulis dalam bahasa Belanda. Baru setelah tahun 1955 beredarlah kumpulan karangan Schrieke yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris (2 jilid. 1955). Tokoh Belanda lain yang melalui karangan sejarah melukiskan mayarakat Indonesia adalah J.C. van Leur (1934-1942). Jelas konteks makronya tercermin dari judul-judul karangan seperti a.l. Indonesian Trade and Society. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Sarjana Hukum lain yang dikenal dan menulis tentang Indonesia masa kini (kontemporer), bahkan juga meletakkan Indonesia dalam konteks lebih luas lagi adalah Prof. W.F. Wertheim (1899-2001) yang pernah mengajar di Rechts Hogeschool di Jakarta (1936) dan menjadi guru besar tamu di Fakultas Pertanian, UI (Bogor) 1957. Karena Wertheim mengalami pendudukan Jepang di Indonesia dan sempat mengamati kebangkitan Nasional Indonesia pula, beliau, dapat merekam perubahan sosial dalam bukunya "Indonesia Society in Transition" dari daerah jajahah menjadi Republik yang berdaulat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PERKEMBANGAN TEORI SOSIOLOGI&lt;br /&gt;Sarjana-sarjana Belanda yang meminati Sosiologi dahulu banyak bergelar Sarjana Hukum, dan aspek-aspek Sosiologi juga diajarkan di Fakultas Hukum, mungkin warisan dari periode mempelajari Hukum Adat yang masih diminati. Ini sebabnya mengapa baik di Universitas Indonesia dan di Universitas Gadjah Mada dosen-dosen Indonesia banyak bergelar SH. Seperti misalnya Soelaeman Soemardi, Soerjono Soekanto, Soetandiyo Wignyo Soebroto, Satjipto Raharjo dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Sosiologi Eropa memang juga menggali dan dari pemikir-pemikir falsafah a.l. Bapak Sosiologi August Comte (1798-1857). Pendekatan yang agak ethno-Antropologis tercermin juga dalam buku Emile Durkheim tentang agama, tetapi buku-buku lain seperti mengenai "Pembagian Kerja" (1966) dan "Bunuh Diri" sudah jelas dikarang dalam konteks makro Sosiologi. Memang penyebaran teori-teori klasik Sosiologi di Indonesia tidak terlalu luas, nama-nama seperti Pitirim Sorokin, Max Weber, Znaniecki, Karl Marx, Von Wiese, George Simmel, T. Shanin dan banyak lagi kurang mengisi bahan kuliah para dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertengahan 1950-an Indonesia mulai mengirimkan mahasiswa untuk berbagai ilmu sosial keluar negeri, tetapi ada kecenderungan lebih banyak ke Amerika Serikat daripada ke Eropa. Antara lain Soedjito Djojohardjo dikirim ke Inggris, tetapi lebih banyak lagi yang belajar di Amerika dan menghasilkan tesis Ph.D. seperti Prof. Selo Soemardjan, Mely Tan APU, Prof. Hasyah Bachtiar (hanya sebentar di Universitas Amsterdam sebelum ke Harvad) dan lain-lain. Perlu dipahami bahwa pengembangan dan perkembangan teori yang digubah pakar Sosiologi 
